Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengaruh Lama Fermentasi Dan Pengunaan Kapang Rhizopus Oligosporus Dan Khamir Saccharomyces Cerevisiae Terhadap Virgin Coconut Oil (VCO) saniar fauza; Fauza, Saniar; Hakim, Syahirman
Jurnal Sains Pertanian Vol. 8 No. 2: June 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Bireuen Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51179/jsp.v8i2.2615

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk membuat minyak kelapa murni (VCO) dengan menggabungkan bakteri kapang dan khamir secara fermentasi dan menganalisa kadar air, PH yang terkandung dalam minyak kelapa murni (vco) yang di hasilkan. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2023, Penelitian ini bertempat di labolatorium MIPA Universitas Almuslim. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan menggunakan dua faktor. Faktor I yaitu jenis ragi, terdiri dari 2 konsentrasi (ragi roti dan ragi tempe) dan faktor II yaitu lama fermentasi, terdiri dari 3 tahap (24 jam, 36 jam, dan 48 jam) sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan dan di lakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga di proses 18 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masing-masing jenis ragi, apabila semakin lama fermentasinya maka rendemen VCO semakin menurun. Enzim yang dihasilkan akan digunakan untuk mengkonversi gula menjadi etanol. Pada masing-masing jenis ragi, apabila semakin lama fermentasinya maka rendemen VCO semakin menurun.Hal ini dikarenakan tingginya kadar air dalam minyak dapat memicu reaksi hidrolisis yang menyebabkan penurunan mutu minyak menyatakan bahwa semakin tinggi kandungan air pada minyak maka akan semakin besar pula kemungkinan minyak tersebut terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Nilai pH dari produk VCO pada semua variabel menunjukan nilai terbesar pada ragi tempe pada lama fermentasi 24, 36, 48 jam dengan nilai PH 6 dan nilai terendah pada fermentasi di tunjukan pada lama fermentasi 24, 36 dan 48 jam Hal tersebut dipengaruhi oleh senyawa penyusun VCO yang berupa senyawa asam lemak dengan komponen utamanya berupa sehingga nilai pH dari VCO adalah <7.
Pengaruh Lama Fermentasi Dan Pengunaan Kapang Rhizopus Oligosporus Dan Khamir Saccharomyces Cerevisiae Terhadap Virgin Coconut Oil (VCO) saniar fauza; Fauza, Saniar; Hakim, Syahirman
Jurnal Sains Pertanian Vol. 8 No. 2: June 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Bireuen Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51179/jsp.v8i2.2615

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu untuk membuat minyak kelapa murni (VCO) dengan menggabungkan bakteri kapang dan khamir secara fermentasi dan menganalisa kadar air, PH yang terkandung dalam minyak kelapa murni (vco) yang di hasilkan. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2023, Penelitian ini bertempat di labolatorium MIPA Universitas Almuslim. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan menggunakan dua faktor. Faktor I yaitu jenis ragi, terdiri dari 2 konsentrasi (ragi roti dan ragi tempe) dan faktor II yaitu lama fermentasi, terdiri dari 3 tahap (24 jam, 36 jam, dan 48 jam) sehingga diperoleh 6 kombinasi perlakuan dan di lakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga di proses 18 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masing-masing jenis ragi, apabila semakin lama fermentasinya maka rendemen VCO semakin menurun. Enzim yang dihasilkan akan digunakan untuk mengkonversi gula menjadi etanol. Pada masing-masing jenis ragi, apabila semakin lama fermentasinya maka rendemen VCO semakin menurun.Hal ini dikarenakan tingginya kadar air dalam minyak dapat memicu reaksi hidrolisis yang menyebabkan penurunan mutu minyak menyatakan bahwa semakin tinggi kandungan air pada minyak maka akan semakin besar pula kemungkinan minyak tersebut terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Nilai pH dari produk VCO pada semua variabel menunjukan nilai terbesar pada ragi tempe pada lama fermentasi 24, 36, 48 jam dengan nilai PH 6 dan nilai terendah pada fermentasi di tunjukan pada lama fermentasi 24, 36 dan 48 jam Hal tersebut dipengaruhi oleh senyawa penyusun VCO yang berupa senyawa asam lemak dengan komponen utamanya berupa sehingga nilai pH dari VCO adalah <7.
Pengaruh Lama Pengomposan Jerami Padi Sebagai Bahan Pembawa Terhadap Populasi Azospirillum sp Fauza, Saniar; Munawar; Marlina
Jurnal Sains Pertanian Vol. 9 No. 1: February, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Bireuen Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51179/jsp.v9i1.3061

Abstract

Bakteri Azospirillum sp, merupakan salah satu bakteri penambat nitrogen bebas yang bersifat non simbiotik, bakteri ini hidup di daerah perakaran tanaman dan berkembang biak membentuk koloni terutama pada daerah perpanjangan akar dan pangkal bulu akar. Bakteri ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hayati yang membantu penambatan nitrogen di udara. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan aplikasi bakteri pemfikasi nitrogen adalah bahan pembawa atau carrier. Bahan pembawa berperan menjaga viabilitas dan efektivitas mikroba dalam pupuk hayati sebelum diaplikasikan. Bahan pembawa yang sering digunakan yaitu kompos. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama pengomposan jerami padi terhadap populasi bakteri Azospirillum sp. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari empat perlakuan yaitu lama pengomposan jerami padi 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama pengomposan jerami padi satu minggu menghasilkan jumlah populasi tertinggi yaitu 21,13x106 CFU/g, dan Kandungan C/N terbaik 25,11 yaitu pada perlakuan dengan lama pengomposan 4 minggu.
Chemical Analysis of Kawista Fruit-Based Rujak Seasoning as a Traditional Local Fruit Food Product Hayati, Masrura; Afrinanda, Cut; Fauza, Saniar
Jurnal Sains Pertanian Vol. 9 No. 1: February, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Bireuen Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51179/jsp.v9i1.3131

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas kimia dan sensori bumbu rujak berbasis buah kawista (Limonia acidissima) sebagai inovasi pangan tradisional berbasis bahan lokal. Kawista dipilih karena kandungan bioaktifnya, seperti flavonoid, tanin, asam organik, dan gula alami, yang berkontribusi pada cita rasa khas serta manfaat kesehatan. Parameter kimia yang dianalisis meliputi kadar air, total gula, total asam, dan pH, sedangkan parameter sensori mencakup uji hedonik terhadap rasa, aroma, tekstur, dan warna. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor, yakni jenis gula merah (aren, kelapa, tebu) dan konsentrasi kawista (2%, 4%, 6%, 8%, 10%, 12%). Hasil menunjukkan bahwa gula aren memberikan stabilitas terbaik pada kadar gula, pH, dan tekstur, serta menghasilkan nilai hedonik tertinggi, khususnya pada konsentrasi kawista 8%. Sebaliknya, gula tebu menunjukkan performa terendah, terutama pada konsentrasi tinggi, akibat ketidakstabilannya terhadap asam organik. Studi ini menegaskan potensi gula aren sebagai bahan utama dalam pengembangan bumbu rujak berbasis kawista. Penelitian ini mendukung diversifikasi pangan berbasis buah lokal, sekaligus memberikan peluang inovasi produk tradisional yang mampu bersaing di pasar lokal dan global. This study aims to analyze the chemical and sensory qualities of rujak seasoning based on kawista fruit (Limonia acidissima) as an innovative traditional food product utilizing local ingredients. Kawista was selected for its bioactive compounds, such as flavonoids, tannins, organic acids, and natural sugars, which contribute to its unique flavor and health benefits. The chemical parameters analyzed included moisture content, total sugar, total acidity, and pH, while sensory parameters encompassed hedonic tests for taste, aroma, texture, and color. The research employed a Randomized Block Design with two factors: types of palm sugar (aren, coconut, and cane) and kawista concentrations (2%, 4%, 6%, 8%, 10%, 12%). Results showed that aren sugar provided the best stability in sugar content, pH, and texture, and achieved the highest hedonic values, particularly at 8% kawista concentration. Conversely, cane sugar exhibited the lowest performance, especially at higher concentrations, due to its instability against organic acids. This study underscores the potential of aren sugar as the primary ingredient in developing kawista-based rujak seasoning. It supports the diversification of local fruit-based foods and provides opportunities for innovative traditional products to compete in local and global markets.
The water quality and biological indicators of estuarine and marine waters affected by shrimp farming effluents in Bireuen Regency, Aceh Izwar, Akmal; Fauza, Saniar; Muktitama, Asih Makarti; Nugrahawati, Anis; Azhar, Rossy; Putra, Dani Pratama; Hakim, Syahirman; Musarady, Yoga
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica, Vol. 12: No. 3 (December, 2025)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v12i3.24729

Abstract

Intensive whiteleg shrimp farming has the potential to degrade water quality through the accumulation of organic matter and nutrients in coastal ecosystems. This study aimed to evaluate differences in water quality between estuarine and marine waters in Bireuen Regency, Aceh, and to associate them with plankton and bacteria as ecological indicators. The research was conducted from July to August 2025 at three estuarine and three marine stations, analyzing physical, chemical, and biological parameters. Results showed that estuarine waters had higher TSS (9–16 mg/L), NH₃ (0.80 mg/L), BOD (4.6–7.1 mg/L), and COD (32–33 mg/L) than marine waters, associated with the presence of Nitzschia spp., Ceratium hirundinella, Brachionus rotundiformis, Aeromonas hydrophila, and Vibrio parahaemolyticus. In marine waters, although DO and salinity were more stable, eutrophication indicators included Noctiluca spp., copepods (Acartia, Oithona), V. alginolyticus, and Photobacterium damselae. These findings indicate that estuaries act as pollution hotspots while marine waters are also affected, emphasizing the need for ecosystem-based management of shrimp aquaculture effluents. Keywords: Estuary; Marine Waters; Plankton; Vibrio spp; Water Quality; Whiteleg Shrimp
Analisis kadar kafein, total padatan terlarut, dan total asam bubuk kopi Arabika Gayo pada tingkat sangrai medium melalui proses Mosto Fauza, Saniar; Syahirman; Izwar, Akmal
Agrium Vol. 23 No. 1: March 2026
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v23i1.26437

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama fermentasi melalui proses Mosto terhadap kadar kafein, total padatan terlarut, dan total asam bubuk kopi Arabika Gayo pada tingkat sangrai medium. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan lama fermentasi, yaitu 0 hari, 20 hari, 25 hari, dan 30 hari. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Nilai kadar kafein menurun dari 1,12% (0 hari) menjadi 0,97% (30 hari), sedangkan total padatan terlarut meningkat dari 1,29% menjadi 1,48%, dan total asam meningkat dari 0,54% menjadi 1,82%. Perlakuan 30 hari fermentasi memberikan hasil terbaik dengan keseimbangan komposisi kimia yang mendukung mutu cita rasa kopi yang kompleks dan seimbang secara sensori. Fermentasi selama 30 hari pada proses Mosto direkomendasikan sebagai durasi optimum untuk meningkatkan kualitas kimia dan citarasa bubuk kopi Arabika Gayo.