Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pengembangan Sistem Pendukung Keputusan Berbasis Web Untuk Pengendalian Persediaan Produk Gearbox Menggunakan Metode Peramalan, ABC dan Min-Max Di Industri Akuakultur Lifia Citra Ramadhanti; Pepi Susanti; Rakay Edhiargo Toyosito
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 2 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i2.1048

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi overstock dan stockout pada beberapa produk Gearbox akibat pengendalian persediaan yang masih dilakukan secara manual, sehingga proses pengolahan data dan pengambilan keputusan pengadaan belum berjalan secara sistematis. Rumusan masalah penelitian ini meliputi analisis kondisi aktual persediaan, penerapan metode peramalan, analisis ABC, dan Min-Max dalam pengendalian persediaan, serta pengembangan sistem pendukung keputusan berbasis Web untuk membantu pengelolaan stok. Metode penelitian yang digunakan meliputi peramalan dengan metode Moving Average (MA), Weighted Moving Average (WMA), dan Holt-Winter; analisis ABC untuk menentukan prioritas pengendalian persediaan, serta metode Min-Max untuk menentukan safety stock, minimum stock, maximum stock, dan reorder point (ROP). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa produk Gearbox 9S Nylon, Gearbox 4S Nylon, dan Gearbox 4S Besi mengalami overstock, sedangkan Gearbox 9S Besi mengalami stockout. Hasil analisis ABC mengklasifikasikan Gearbox 9S Nylon ke dalam kategori A dan Gearbox 9S Besi ke dalam kategori C. Metode Holt-Winter terpilih sebagai metode peramalan terbaik dengan tingkat kesalahan peramalan terendah (MAPE sebesar 29,93% pada Gearbox 9S Nylon dan 14,79% pada Gearbox 9S Besi) dibandingkan metode MA dan WMA. Sistem pendukung keputusan berbasis Web yang dikembangkan berhasil mengintegrasikan proses peramalan , analisis ABC, dan Min-Max, dengan hasil validasi yang konsisten dengan perhitungan manual menggunakan Microsoft Excel, serta mampu mengurangi tahapan proses sebesar 50,00% pada peramalan  dan masing-masing 40,00% pada analisis ABC dan Min-Max. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu membantu pengendalian persediaan produk Gearbox, mengurangi risiko overstock  dan stockout, serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan persediaan di Industri Akuakultur.
ANALISIS RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) AKIBAT PAPARAN DEBU TEPUNG PADA LINI PROSES MIXING INDUSTRI BISKUIT MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIRARC DAN FMEA (STUDI KASUS PT XYZ) Ade Purnama; Abimanyu Abimanyu; Rakay Edhiargo Toyosito
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 4 (2026): August 2026 (1)
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i4.6936

Abstract

Abstract: Flour dust exposure in the mixing process of the biscuit manufacturing industry is a significant occupational hazard that may lead to occupational diseases and workplace accidents if not effectively controlled. This study aims to identify occupational safety and health (OSH) hazards, analyze the level of risk associated with flour dust exposure, prioritize risks using the Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) method, and develop risk control recommendations for the mixing area at PT X. The study employed a mixed-methods approach with a case study design. Data were collected through field observations, semi-structured interviews, flour dust concentration measurements, documentation, and company document reviews. Risk analysis was conducted using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC) method, while improvement priorities were determined using the Risk Priority Number (RPN) derived from FMEA. The results revealed that flour bag opening, raw material loading into the mixer, and the mixing process were the primary sources of flour dust exposure with the highest risk levels. HIRARC identified four high-risk activities and three medium-risk activities. FMEA analysis indicated that inadequate ventilation, workers' exposure to flour dust, and non-compliance with personal protective equipment (PPE) use had the highest RPN values, making them the top priorities for risk control. Recommended control measures include optimizing local exhaust ventilation (LEV), improving the effectiveness of the dust collector system, strengthening administrative controls, providing regular OSH training, and increasing compliance with the use of N95 respirators. These findings are expected to serve as a reference for implementing OSH risk management in the food manufacturing industry. Keyword: occupational safety and health, flour dust exposure, HIRARC, Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), mixed methods, biscuit manufacturing industry.   Abstrak: Paparan debu tepung pada lini proses mixing industri biskuit merupakan salah satu sumber bahaya yang berpotensi menyebabkan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja apabila tidak dikendalikan secara efektif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3), menganalisis tingkat risiko paparan debu tepung, menentukan prioritas risiko menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), serta menyusun rekomendasi pengendalian risiko pada area mixing PT X. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, pengukuran konsentrasi debu, dokumentasi, dan telaah dokumen perusahaan. Analisis risiko dilakukan menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control (HIRARC), sedangkan prioritas perbaikan ditentukan melalui perhitungan Risk Priority Number (RPN) pada metode FMEA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas pembukaan karung tepung, penuangan bahan baku ke dalam mixer, dan proses mixing merupakan sumber paparan debu dengan tingkat risiko tertinggi. HIRARC mengidentifikasi empat aktivitas berisiko tinggi dan tiga aktivitas berisiko sedang. Analisis FMEA menunjukkan bahwa ventilasi yang belum optimal, paparan debu terhadap pekerja, dan ketidakpatuhan penggunaan alat pelindung diri memiliki nilai RPN tertinggi. Rekomendasi pengendalian meliputi optimalisasi local exhaust ventilation (LEV), peningkatan efektivitas dust collector, penguatan pengendalian administratif, pelatihan K3 secara berkala, serta peningkatan kepatuhan penggunaan respirator N95. Temuan ini diharapkan menjadi acuan dalam penerapan manajemen risiko K3 pada industri makanan. Kata kunci: keselamatan dan kesehatan kerja, debu tepung, HIRARC, FMEA, mixed methods, industri biskuit.
Analisis Deviasi Jadwal Produksi Menggunakan Critical Path Method (CPM), Line Balancing Dan Schedule Performance Index (SPI) Pada Proses Produksi PT Adil Makmur Fajar Rakay Edhiargo Toyosito; Nabila Alifia; Angga Widyas Swara
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1087

Abstract

Penjadwalan produksi merupakan aspek penting dalam menjamin kelancaran proses produksi agar target perusahaan dapat tercapai sesuai rencana. PT Adil Makmur Fajar masih menghadapi permasalahan berupa deviasi jadwal produksi yang ditandai dengan keterlambatan penyelesaian pekerjaan, ketidakseimbangan beban kerja antar stasiun, serta pencapaian target produksi yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deviasi jadwal produksi menggunakan metode Critical Path Method (CPM), Line Balancing, Schedule Performance Index (SPI), dan Fishbone Diagram. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer berupa observasi dan wawancara serta data sekunder berupa jadwal produksi, laporan aktual produksi, data downtime mesin, dan data defect periode Januari–Mei 2026. Hasil analisis CPM menunjukkan bahwa seluruh aktivitas produksi pada proses packing berada pada jalur kritis sehingga setiap aktivitas harus diselesaikan sesuai urutan untuk menghindari keterlambatan. Hasil Line Balancing menunjukkan masih terdapat ketidakseimbangan beban kerja yang menyebabkan bottleneck dan idle time pada beberapa stasiun kerja. Perhitungan SPI menghasilkan nilai kurang dari satu pada sebagian besar periode pengamatan, yang menunjukkan bahwa pelaksanaan produksi belum sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Analisis Fishbone Diagram mengidentifikasi bahwa deviasi jadwal dipengaruhi oleh faktor manusia, mesin, metode, material, lingkungan, dan pengukuran. Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan disarankan melakukan preventive maintenance secara berkala, meningkatkan kompetensi operator melalui pelatihan, melakukan pemerataan beban kerja, serta menerapkan pemantauan kinerja jadwal menggunakan SPI secara rutin. Penerapan rekomendasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketepatan jadwal produksi, mengurangi keterlambatan, dan meningkatkan efisiensi proses produksi.
Pengembangan Sistem Monitoring Efektivitas Mesin Berbasis Define, Measure, Analyze, Improve, Control (DMAIC) Untuk Mendukung Preventive Maintenance Di PT Adil Makmur Fajar Ajeng Lidia Bian Meifenni; Mochamad Eko Nugroho; Lifia Citra Ramadhanti; Rakay Edhiargo Toyosito; Angga Widyas Swara
Science and Education Journal (SICEDU) Vol 5 No 3 (2026): Science and Education Journal 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/sicedu.v5i3.1091

Abstract

PT Adil Makmur Fajar Manufaktur mengalami permasalahan tingginya downtime pada Mesin  1 Liter yang berdampak pada menurunnya efektivitas mesin serta belum optimalnya pelaksanaan preventive maintenance. Selain itu, proses monitoring kinerja mesin masih dilakukan secara manual sehingga informasi kondisi mesin belum tersaji secara cepat dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas mesin menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE), menganalisis penyebab rendahnya efektivitas mesin dengan pendekatan Define, Measure, Analyze, Improve, Control (DMAIC), serta mengembangkan sistem monitoring berbasis Spreadsheet untuk mendukung preventive maintenance. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan DMAIC. Pengukuran efektivitas mesin dilakukan menggunakan OEE, sedangkan analisis penyebab permasalahan menggunakan Pareto, 5  Why, Mean Time Between Failure (MTBF), dan Mean Time To Repair (MTTR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem monitoring yang dikembangkan mampu mengintegrasikan data produksi, downtime, kualitas, dan aktivitas maintenance dalam satu media, sehingga proses pemantauan menjadi lebih cepat, akurat, dan terstruktur. Sistem ini juga mendukung pengambilan keputusan preventive maintenance serta penerapan continuous improvement dalam meningkatkan efektivitas mesin.
Penerapan HIRADC, BBS, Dan HFACS Untuk Mengurangi Kecelakaan Kerja Di PT Ledeng Cabang Citra Raya Febri Kosasi; Rakay Edhiargo Toyosito; Angga Widyas Swara
Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge Vol. 3 No. 3 (2026): IJISK 2026
Publisher : Fakultas Pendidikan Ilmu Keguruan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ijisk.v3i3.307

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, menganalisis perilaku keselamatan pekerja, serta mengidentifikasi faktor manusia dan organisasi yang berkontribusi terhadap kecelakaan kerja pada aktivitas perbaikan jaringan pipa di PT Ledeng Cabang Citra Raya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan mengintegrasikan Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC), Behavior Based Safety (BBS), dan Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan data kecelakaan kerja tahun 2025. Populasi terdiri atas 30 pekerja lapangan, dengan 120 pengamatan perilaku menggunakan Critical Behavior Checklist dan wawancara terhadap 5 informan secara purposive. Hasil menunjukkan 21 potensi bahaya pada enam aktivitas utama. Sebanyak 4 bahaya (19,05%) termasuk risiko tinggi dan 17 bahaya (80,95%) termasuk risiko sedang. BBS menemukan 69 perilaku tidak aman (57,50%) dan 51 perilaku aman (42,50%). Ketidakpatuhan prosedur dan pemasangan barikade menjadi indikator unsafe behavior tertinggi sebesar 66,67%. HFACS menunjukkan Unsafe Acts sebagai faktor dominan sebesar 61,90%. Integrasi ketiga metode menghasilkan pengendalian yang mencakup aspek teknis, perilaku, pengawasan, dan organisasi.
Perbaikan Kualitas Produk Creamy Latte Dengan Pendekatan TPM Berbasis Dashboard Digital Pada Pilar Planned Maintenence Dengan Menggunakan Siklus PDCA Di PT Torabika Eka Semesta Rakay Edhiargo Toyosito; Agus Hermawan; Lifia Citra Ramadhanti
Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge Vol. 3 No. 4 (2026): IJISK 2026
Publisher : Fakultas Pendidikan Ilmu Keguruan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ijisk.v3i4.539

Abstract

Persaingan di sektor makanan dan minuman menuntut perusahaan menjaga kualitas produk melalui proses produksi yang efektif dan andal. PT Torabika Eka Semesta masih menghadapi permasalahan tingginya produk cacat pada proses pengemasan Creamy Latte menggunakan mesin three side seal. Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan jenis-jenis cacat mendominasi, mengevaluasi penyebabnya, serta merumuskan peningkatan yang disarankan menggunakan pendekatan Total Productive Maintenance (TPM) pada pilar Planned Maintenance yang dipadukan menggunakan siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA)berbasis dashboard digital. Metode analisis deskriptif kuantitatif digunakan. dengan data produksi periode Agustus–November 2025. Diagram Pareto dan lembar cek digunakan untuk melakukan analisis., Fishbone Diagram, Scatter Diagram, dan Regresi Linear. Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa cacat slitter tidak nampak merupakan defect dominan, disusul timbangan tidak stabil dan kemasan bocor. Perbaikan yang diusulkan meliputi penerapan checklist maintenance digital, penjadwalan perawatan terencana, peningkatan kompetensi operator, serta sistem monitoring mesin berbasis digital. Implementasi usulan tersebut diharapkan mampu menekan jumlah produk cacat, meningkatkan efektivitas mesin, dan menjaga konsistensi kualitas produk.
PRIORITAS PERBAIKAN KUALITAS LAYANAN PENGIRIMAN SPX EXPRESS MENGGUNAKAN INTEGRASI E-SERVQUAL, FMEA, DAN AHP Alvera Yulia Putri; Rakay Edhiargo Toyosito; Lifia Citra Ramadhanti
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 4 (2026): August 2026 (1)
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i4.6955

Abstract

Abstract: Delivery service quality is a crucial aspect of maintaining customer satisfaction with e-commerce services, including SPX Express. However, issues such as delivery delays, difficulty contacting customer service, and suboptimal complaint handling persist. This study aims to analyze SPX Express's delivery service quality, identify service failure risks, and determine improvement priorities. The research employs the E-SERVQUAL method, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), and the Analytic Hierarchy Process (AHP). E-SERVQUAL analysis results reveal the three attributes with the largest gaps: ease of accessing customer service when needed (-0.301), ease of contacting customer service (-0.216), and handling of service errors (-0.209). FMEA analysis indicates that the failure mode with the highest Risk Priority Number (RPN) is the lengthy resolution of customer complaints (RPN 336). Furthermore, AHP results identify the primary improvement priority as enhancing sorting processes at Hubs and Distribution Centers (DCs) with a global weight of 0.390, followed by providing more accurate delivery time estimates and optimizing shipment monitoring/tracking, each with a weight of 0.305. These findings can serve as a basis for SPX Express to establish improvement priorities focused on increasing distribution speed and enhancing customer service quality.   Keywords: SPX Express; E-SERVQUAL; FMEA; AHP; service quality   Abstrak: Kualitas layanan pengiriman adalah aspek penting dalam menjaga kepuasan pelanggan terhadap layanan e-commerce, termasuk SPX Express. Akan tetapi, masih ditemukan permasalahan seperti keterlambatan pengiriman, kesulitan menghubungi Customer Service, serta penanganan keluhan yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas layanan pengiriman SPX Express, mengidentifikasi risiko kegagalan layanan, serta menentukan prioritas perbaikan. Penelitian dilakukan menggunakan metode E-SERVQUAL, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis E-SERVQUAL menunjukkan tiga atribut dengan kesenjangan terbesar, yaitu kemudahan Customer Service diakses ketika dibutuhkan sebesar −0,301, kemudahan menghubungi Customer Service sebesar −0,216, dan penanganan terhadap kesalahan layanan sebesar −0,209. Analisis FMEA menunjukkan failure mode dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi adalah penyelesaian komplain pelanggan yang membutuhkan waktu lebih lama dengan RPN 336. Selanjutnya, hasil AHP menunjukkan prioritas perbaikan utama adalah peningkatan proses sortir pada Hub dan Distribution Center (DC) dengan bobot global 0,390, diikuti pemberian estimasi waktu pendistribusian yang lebih akurat dan optimalisasi monitoring/tracking pengiriman dengan bobot masing-masing 0,305. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi SPX Express dalam menentukan prioritas perbaikan yang berfokus pada peningkatan kecepatan proses distribusi dan kualitas pelayanan pelanggan.   Kata Kunci:  SPX Express; E-SERVQUAL; FMEA; AHP; kualitas layanan
OPTIMASI PENGENDALIAN PENYIMPANAN DI GUDANG BAHAN BAKU BISKUIT MENGGUNAKAN DEDICATED STORAGE DAN POKA YOKE DENGAN PENDEKATAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) DAN HUMAN RELIABILITY ANALYSIS (HRA) Lifia Citra Ramadhanti; Yuni Pratiwi; Muhammad Nur Ikhsan; Angga Widyas Swara; Rakay Edhiargo Toyosito
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 4 (2026): August 2026 (1)
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i4.6956

Abstract

Abstract: A total of 41 picking error incidents were recorded at PT XYZ’s biscuit raw material warehouse between January and June, with operator inaccuracy identified as the primary cause (43.9%). These errors were driven by a wide variety of raw materials, similarities in physical product characteristics, and the absence of a structured error-prevention mechanism. This study integrates Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), Human Reliability Analysis (HRA) using the HEART method, Dedicated Storage, and Poka-Yoke to identify, quantify, and mitigate picking error risks. FMEA was used to prioritize risks based on the Risk Priority Number (RPN), while HRA-HEART was employed to measure the Human Error Probability (HEP). FMEA results revealed four high-priority failure modes: retrieving expired materials (RPN 400), placing materials in incorrect locations (RPN 392), selecting the wrong raw materials (RPN 392), and non-compliance with FIFO procedures (RPN 378). HRA results indicated the highest HEP values ​​in the tasks of issuing materials to production (72.8%), raw material retrieval (65.9%), and material placement (53.8%). Improvements were implemented using Dedicated Storage—based on the throughput-to-space requirement ratio—and Poka-Yoke measures, including barcode verification, a FIFO physical lock system, and a color-coded visual management system. These improvements reduced the RPN of all high-priority failure modes to below 100 and lowered the raw material retrieval HEP from 65.9% to 13.2%. Thus, the integration of FMEA, HRA, Dedicated Storage, and Poka-Yoke proved effective in mitigating picking error risks and enhancing warehouse operational reliability. Keyword: Picking error, FMEA, HRA, Dedicated Storage, Poka Yoke. Abstrak: Kesalahan pengambilan barang (picking error) di gudang bahan baku biskuit PT XYZ tercatat sebanyak 41 kejadian selama Januari–Juni, dengan ketidaktelitian operator sebagai penyebab dominan sebesar 43,9%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya variasi bahan baku, kemiripan karakteristik fisik produk, serta belum adanya mekanisme pencegahan kesalahan yang terstruktur. Penelitian ini mengintegrasikan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), Human Reliability Analysis (HRA) dengan metode HEART, Dedicated Storage, dan Poka Yoke untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengurangi risiko picking error. FMEA digunakan untuk menentukan prioritas risiko berdasarkan Risk Priority Number (RPN), sedangkan HRA-HEART digunakan untuk mengukur Human Error Probability (HEP). Hasil FMEA menunjukkan empat failure mode prioritas tinggi, yaitu pengambilan bahan kedaluwarsa (RPN 400), penempatan bahan tidak sesuai lokasi (RPN 392), salah pengambilan bahan baku (RPN 392), dan ketidaktaatan FIFO (RPN 378). Hasil HRA menunjukkan HEP tertinggi pada tugas pengeluaran bahan ke produksi sebesar 72,8%, pengambilan bahan baku 65,9%, dan penempatan bahan 53,8%. Perbaikan dilakukan melalui Dedicated Storage berdasarkan rasio throughput/kebutuhan ruang dan Poka Yoke berupa verifikasi barcode, FIFO Physical Lock System, serta Visual Management System berbasis kode warna. Hasil perbaikan menurunkan seluruh failure mode prioritas tinggi menjadi RPN <100 dan menurunkan HEP pengambilan bahan baku dari 65,9% menjadi 13,2%. Dengan demikian, integrasi FMEA, HRA, Dedicated Storage, dan Poka Yoke efektif dalam mengurangi risiko picking error dan meningkatkan keandalan operasional gudang. Kata kunci: picking error, FMEA, HRA, dedicated storage, poka yoke
Penerapan Metode DMAIC Untuk Pengendalian Varians Defect Adonan WIP Sereal Di PT Nusantara Pangan Sejahtera Santy; Mochamad Eko Nugroho; Rakay Edhiargo Toyosito
Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge Vol. 3 No. 4 (2026): IJISK 2026
Publisher : Fakultas Pendidikan Ilmu Keguruan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ijisk.v3i4.547

Abstract

PT Nusantara Pangan Sejahtera menghadapi fluktuasi varians defect pada proses produksi adonan Work In Process (WIP) Sereal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi baseline, menentukan CTQ dominan, mengidentifikasi akar penyebab, serta mengevaluasi perbaikan berbasis DMAIC yang diperkuat Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi terstruktur terhadap tujuh narasumber, serta data historis produksi periode September 2025-Februari 2026 dengan total sampling. Hasil menunjukkan persentase defect rata-rata sebesar 2,97%. CTQ kadar air menjadi penyumbang terbesar sebesar 47,82%, dengan DPMO 14.191,191 dan nilai sigma 3,69. Homogenitas memiliki DPMO 8.206,862 dan sigma 3,90, sedangkan tekstur memiliki DPMO 7.276,998 dan sigma 3,94. FTA menemukan sembilan basic event yang menjadi akar penyebab pada CTQ kadar air dan homogenitas. FMEA menetapkan FM-A6 dengan RPN 245 dan FM-B3 dengan RPN 210 sebagai mode kegagalan prioritas. Perbaikan dilakukan melalui pemasangan flowmeter otomatis, penerapan One Point Lesson (OPL) standar waktu pengadukan, dan revisi SOP mixing. Evaluasi Maret-Juni 2026 menunjukkan defect total turun menjadi 1,59%. Nilai sigma meningkat menjadi 3,99 untuk kadar air, 4,08 untuk homogenitas, dan 4,11 untuk tekstur. Hasil tersebut menunjukkan DMAIC yang diperkuat FTA dan FMEA efektif menurunkan defect dan meningkatkan kapabilitas proses.
Evaluasi Kinerja Sistem Pengukuran dan Root Cause Reject Kemasan Sekunder Produksi Wafer Coating Coklat Menggunakan Metode RCA Dan MSA Pada FMCG Lifia Citra Ramadhanti; Dyah Ajeng Kartika; Rakay Edhiargo Toyosito
Indonesian Journal of Innovation Science and Knowledge Vol. 3 No. 4 (2026): IJISK 2026
Publisher : Fakultas Pendidikan Ilmu Keguruan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ijisk.v3i4.550

Abstract

Tingginya reject kemasan sekunder (pouch) pada produk Wafer Coating Coklat di perusahaan FMCG meningkatkan pemborosan material, aktivitas repacking, dan ketidakefisienan proses. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keandalan sistem pengukuran dan mengidentifikasi akar penyebab reject sebagai dasar perbaikan. Data reject periode April–September 2025 diperoleh dari laporan produksi, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan melalui diagram Pareto untuk menentukan reject dominan, Gage Repeatability and Reproducibility (Gage R&R) untuk mengevaluasi sistem pengukuran, serta fishbone dan 5 Why untuk mengidentifikasi akar penyebab. Hasil menunjukkan reject isi kurang mencapai 147.383 pouch atau 79,56% dari total reject. Hasil MSA menghasilkan %EV 3,93%, %AV 85,63%, %GRR 85,71%, %PV 51,55%, dan NDC 1. Sistem pengukuran belum layak karena %GRR melebihi 30% dan NDC kurang dari 2. Akar penyebab reject isi kurang terutama berasal dari belum tersedianya hopper, conveyor transfer, visual marking, standar gap produk, dan standar timing delay pusher. Variasi inspeksi reject sealer terutama berasal dari kompetensi operator dan metode inspeksi. Implementasi perbaikan menurunkan persentase reject isi kurang dari 16,95% menjadi 4,38% dan reject sealer dari 5,17% menjadi 2,10%. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi MSA dan RCA dapat digunakan sebagai dasar perbaikan proses dan standardisasi inspeksi.