Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Mengapa Punya Sifat Malu Tetapi Melakukan Perilaku Kerja Kontraproduktif?: Peran Moderasi Iklim Etik di Tempat Kerja Hijriyati Cucuani Cucuani; Marina Sulastiana; Diana Harding; Hendriati Agustiani
JURNAL PSIKOLOGI Vol 17, No 2 (2021): Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jp.v17i2.14407

Abstract

Sifat malu (shame-proneness) menjadi salah satu sifat terpuji dalam masyarakat berbudaya kolektif. Individu yang memiliki sifat malu cenderung memperlihatkan tindakan yang sesuai dengan harapan sosial. Namun, perilaku kerja kontraproduktif masih terus terjadi bahkan pada pekerja dengan budaya yang menekankan malu. Iklim etik sebagai faktor situasional yang sering dikaitkan dengan perilaku etik di tempat kerja menjelaskan permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah iklim etik memoderasi pengaruh sifat malu terhadap perilaku kerja kontraproduktif. Berdasarkan uji structural equation modelling terhadap data 404 Pegawai Negeri Sipil di kota Pekanbaru didapatkan Chi-square= 540.04 (df= 191), p= 0.000, CFI= 0.98, NNFI= 0.98, RMSEA= 0.067, dan SRMR= 0.012. Hasil menunjukkan bahwa ada interaksi sifat malu dengan iklim etik dalam mempengaruhi perilaku kontraproduktif pegawai sebesar 0.53 (t-value= 9.56). Dengan demikian, pengaruh sifat malu dalam menurunkan perilaku kerja kontraproduktif diperkuat oleh iklim etik yang positif. Trait activation theory memberikan penjelasan bagaimana faktor situasional turut menentukan bagaimana sifat individu diekspresikan dalam perilaku dibahas di dalam tulisan ini.
Adaptasi Employee Well-Being Scale (EWBS) Versi Bahasa Indonesia Tuti Rahmi; Hendriati Agustiani; Diana Harding; Efi Fitriana
JURNAL PSIKOLOGI Vol 17, No 2 (2021): Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jp.v17i2.13112

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi Employee Well-Being Scale (EWBS) ke dalam versi Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Terdapat 201 orang karyawan dari perusahaan perkebunan di Indonesia yang mengisi skala penelitian ini. Validitas konstrak dilakukan dengan confirmatory factor analysis dengan menggunakan lisrel 8.8. Validitas konvergen diuji dengan mengkorelasikan EWBS dengan Utrecht Work Engagement Scale (UWES) sedangkan validitas diskriminan diuji dengan mengkorelasikan EWBS dengan Perceived Stress Scale (PSS). Reliabilitas alat ukur menggunakan nilai CR (Constract Reliability). Hasil confirmatory factor analysis menunjukkan bahwa model pengukuran fit dengan data. Begitu juga dengan reliabilitas dari alat ukur ini. Employee well-being berhubungan positif dengan work engagement sebaliknya berhubungan negatif dengan perceived stress. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa EWBS memiliki validitas dan reliabilitas yang cukup baik dan dapat digunakan di Indonesia.
Developing the UNPAD SAS (Universitas Padjajaran Statistical Analysis Series) Software Ratna Jatnika; Mustofa Haffas; Hendriati Agustiani
SISFORMA Vol 5, No 1 (2018): May 2018
Publisher : Soegijapranata Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.059 KB) | DOI: 10.24167/sisforma.v5i1.1172

Abstract

Student in Faculty of Psycho­logy think that Statistics is very difficult for them, because Statistics is viewed as a hard science than Psychology which is viewed as a soft science. Various attempts have been made to improve student atti­tudes toward statistics, so that student ha­ve more positive attitudes. One of the ef­forts is to transform the curiculum of Sta­tistics in Faculty of Psychology UniversitasPadjadjaran by adding SPSS (Statistical Packages for Social Sciences) practicum courses since 2009. There are a variety of data analysis con­tained in SPSS can be used for data pro­cessing. However, there are still some sta­tistical data analysis used by students of the Faculty of Psychology that is not ava­ilable in SPSS. The aimed of this research is to develop software namely UniversitasPadjadjaran Statistical Analysis Series, which is statistical data analysis software that consist analysis that does not exist in SPSS or other data analysis software. In this preliminary research, modules are de­veloped only for Database Management and Descriptive Statistics.The software development will be carried out by (SDLC = Software Development Li­fe Cycle). SDLC is a series of step or phase that presents a model for development and lifecycle management software or applica­tions.The resulting software is tested on 144 stu­dents in Psychology Faculty in UniversitasPadjadjaran. The trial results showed that the software is most appropriate and "user friendly" software.
Psychometrical of Future Orientation Education Domain Measurement : a Reliability of Future Orientation Questionner Yanti Rubiyanti; Hendriati Agustiani; Ahmad Gimmy Prathama Siswadi; Ratna Jatnika
Sociometry Journal of Social Science, Art and Humanity Vol 1 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sociometry.v1i2.1341

Abstract

To go to life in the future, Seginer (2009) illustrates in the question "how should we get out of here?" And "where do we go to get what we want?" Seginer develops the conceptual framework of future orientation as to where we want And how we should go there, also related to the purpose and fear of reaching the place and how the route to achieve it. Their construction of the concept of future orientation are the result from interacting interactions between individual needs and individual interpretations of socio-economic reality values ​​as well as the development of opportunities afforded through their social cultural setting. (Seginer, 2008)
Adaptasi Alat Ukur Dukacita untuk Remaja Indonesia dengan Keluarga yang Meninggal Mendadak Prudentia Kirana Gunawan; Hendriati Agustiani; Laila Qodariah
JKI (Jurnal Konseling Indonesia) Vol. 7 No. 1 (2021): Jurnal Konseling Indonesia
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jki.v7i1.5818

Abstract

An abnormal form of grief, prolonged grief disorder (PGD), most common cause are sudden deaths of immediate family members. The latest and most developed assessment of prolonged grief disorder (PGD) is the PG-13; available in adult and child form. This research adapts PG-13 children form to the appropriate context of Indonesian adolescence. As supplementary, adaptation was also done on the People Places and Things You Miss Inventory (PPTIM). Adaptation process follows the steps of adaptation proposed by Beaton D. E. This process focuses on the appropriateness of language, maintenance of the content, also the understandability and practicality of the adapted self-report measure through pretesting process. Pretesting was done on 46 adolescence that has lost an immediate family member due to sudden death. Cause of death are not limited as long as it is sudden; time of death is limited however to minimal of 6 months prior pretesting.
PELATIHAN PADJADJARAN-MAYEROFF CARING PRINCIPLES (PMCP) UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN IBU MENGENAI PRINSIP-PRINSIP PENDAMPINGAN TERHADAP ANAK MILD INTELLECTUAL DISABILITY USIA 7-10 TAHUN Vindya Anjar Pramesti; Langgersari Elsari Novianti; Hendriati Agustiani
Journal of Psychological Science and Profession Vol 3, No 3 (2019): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.082 KB) | DOI: 10.24198/jpsp.v3i3.23468

Abstract

Penelitian ini dilakukan guna memperoleh rancangan dan melaksanakan ujicoba program pelatihan Padjadjaran-Mayeroff Caring Principles (PMCP) yang mampu meningkatkan pengetahuan ibu mengenai prinsip pendampingan terhadap anak mild intellectual disability usia 7-10 tahun. Penelitian ini menggunakan teori dasar pendampingan yang disampaikan oleh Milton Mayeroff (1971) sebagai bahan acuan untuk pembuatan modul. Pelatihan dirancang menggunakan pendekatan instructional design, proses validasi dilakukan melalui review oleh dua orang psikolog. Ujicoba pada penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan rancangan one group pretest posttest. Ujicoba dilakukan guna memperoleh hasil jika modul yang telah dibuat mampu untuk meningkatkan pengetahuan ibu yang memiliki anak mild intellectual disability. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling; terdapat empat orang ibu yang menjadi responden penelitian ini. Alat ukur yang digunakan adalah prinsip pendampingan yang diturunkan dari teori Milton Mayeroff (1971). Alat ukur ini sudah divalidasi oleh dua orang psikolog, diujicoba, dan nilai reliabilitasnya α = 0.904. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai selama mengikuti pelatihan yang ditunjukkan dari nilai pretest dan posttest. Ibu-ibu responden mengalami peningkatan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pendampingan anak dengan mild intellectual disability sebanyak 21%.
ADAPTASI ALAT UKUR PERSPECTIVE TAKING PADA REMAJA Ni Putu Ayu; Hendriati Agustiani; Langgersari Elsari Novianti
Journal of Psychological Science and Profession Vol 1, No 3 (2017): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.054 KB) | DOI: 10.24198/jpsp.v1i3.15229

Abstract

Saat menjalani masa perkembangannya, remaja lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya dibandingkan dengan keluarga inti. Ketika berinteraksi, individu dapat menemukan beragam macam sudut pandang. Kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain disebut kemampuan perspective taking. Kemampuan perspective taking yang matang dapat membantu individu untuk menciptakan relasi yang positif mengingat individu mampu memahami sudut pandang orang lain yang dapat saja berbeda dari dirinya. Untuk mengetahui kemampuan perspective taking matang atau tidak, peneliti memerlukan alat ukur. Namun, berdasarkan penelusuran jurnal dan buku, peneliti tidak menemukan alat ukur perspective taking yang sesuai mengukur remaja di Bandung. Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud untuk mengadaptasi alat ukur perspective taking. Alat ukur yang diadaptasi adalah panduan wawancara yang dibuat oleh Selman pada tahun 1977 (Selman, 1980). Dalam proses adaptasi, peneliti mengalihbahasakan dan menyusun alat ukur yang sesuai dengan situasi dan kondisi remaja yang ada di Bandung. Responden penelitian ini sebanyak 55 orang yang berasal dari salah satu SMPN yang ada di bandung dengan kisaran usia 12-14 tahun. Hasil penelitian menjelaskan proses adaptasi dan hasil olah data dengan alat ukur perspective taking. Proses adaptasi meliputi (1) menjelaskan konsep karakteristik setiap level menjadi indikator yang lebih konkret dan mudah; (2) mengalihbahasakan alat ukur; (3) membuat administrasi  alat ukur; (4) menyesuaikan cerita dan pertanyaan dengan karakteristik subyek penelitian, dan(5) membuat penilaian. Hasil olah data menunjukkan alat ukur ini memenuhi uji reliabilitas dan memiliki bukti validitas. Reliabilitas alat ukur menggunakan Intraclass Corelation Coefficient sebesar 0.96 (r = .96) dan bukti validitas alat ukur dengan bukti validitas konten. Dengan demikian, adaptasi alat ukur perspective taking mampu mengukur kemampuan perspective taking pada remaja usia 12-14 tahun di SMP Negeri XXX di Bandung. Kata kunci: Kemampuan Perspective Taking, Alat Ukur, Panduan Wawancara, Reliabilitas Interrater.
INTENSI SEKSUAL REMAJA: APA SAJA FAKTOR PEMBEDANYA? Rahmi Lubis; Zahrotur Rusyda Hinduan; Ratna Jatnika; Hendriati Agustiani
Journal of Psychological Science and Profession Vol 5, No 3 (2021): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.832 KB) | DOI: 10.24198/jpsp.v5i3.32773

Abstract

Perilaku seksual dini menimbulkan dampak yang merugikan bagi remaja. Perilaku seksual remaja dapat diprediksi melalui intensi seksual. Salah satu faktor yang mempengaruhi intensi seksual remaja adalah keyakinan mengenai hubungan seksual yang bersumber dari pengetahuan, pengalaman, dan ketersediaan sarana di lingkungan. Namun, beberapa penelitian menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi intensi seksual remaja dan membutuhkan penyelidikan lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor demografi dan perilaku yang membentuk intensi seksual pada 1,006 siswa SMA di Medan. Penelitian ini menggunakan Skala Intensi Seksual Remaja Indonesia untuk mengukur intensi seksual remaja dan uji beda non- parametrik Kruskall-Wallis dan Mann Whitney U sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, pengalaman seks pertama, pengalaman seksual, status hubungan romantis, dan sumber informasi seksual menyebabkan perbedaan intensi seksual. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menyusun program pencegahan dan penanganan masalah hubungan seksual dini yang diarahkan pada pemberian edukasi seksual sedini mungkin, pelibatan teman sebaya dan media dalam komunikasi seksual yang sehat, serta penguatan fungsi pengawasan orang tua.
Eksplorasi dan Edukasi pentingnya Orientasi Masa Depan Remaja di Kaki Gunung Haruman, Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung Yanti Rubiyanti; Hendriati Agustiani; Ratna Jatnika
SINAR SANG SURYA Vol 7, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sss.v7i1.2539

Abstract

ABSTRAKRemaja adalah aset bangsa. Salah satu kontribusi remaja dalam membangun bangsa adalah melalui pendidikan dan pengembangan potensi.  Kesadaran akan pentingnya pendidikan masih menjadi salah satu masalah yang cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Banyak daerah di mana kondisi pendidikan remajanya belum baik, termasuk di provinsi Jawa Barat yang termasuk provinsi dengan jumlah sekolah yang tinggi. Kabupaten Bandung merupakan kabupaten besar yang masyarakatnya belum banyak yang memiliki pendidikan yang tinggi. Salah satu daerah di Kabupaten Bandung, yang tidak terlalu jauh dari kota dengan perjalanan melalu tol, yaitu desa di sekitar kaki gunung Haruman di mana masih memiliki angka kesadaran terhadap pendidikan yang rendah. Hal ini merupakan ancaman bagi bangsa karena remaja merupakan generasi penerus bangsa. Selain kurangnya kesadaran akan pendidikan yang dapat mengimplikasi kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat, pengembangan desa yang belum optimal bisa menjadi salah satu hambatan yang terdapat di desa di kaki gunung Haruman, seperti Warjabakti. Oleh sebab itu, untuk mendalami potensi yang dimiliki oleh desa di kaki gunung Haruman ini, khususnya remaja, dilakukanlah sebuah pengamatan dan survey yang bertujuan untuk menganalisis gambaran dan pengembangan potensi berdasarkan konsep orientasi masa depan remaja. Metode dalam penulisan artikel ini adalah metode kualitatif dengan melakukan wawancara secara mendalam kepada narasumber. Hasil data dari survey, observasi dan  wawancara diolah menggunakan teknik coding dengan membuat kategori tertentu pada setiap aspek kemudian didiskusikan bersama hingga didapatkan hasil dan kesimpulan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa remaja di Kaki Gunung Haruman, Desa Warjabakti, memiliki berbagai macam potensi. Namun umumnya, orientasi masa depan yang mereka rencanakan hanya sampai pada tahap motivasi.Kata kunci: Potensi, orientasi masa depan, remaja, Gunung HarumanABSTRACTTeenagers are a nation's asset. One of the contributions of youth in building the nation is through education and potential development. Awareness of the importance of education is still one of the most worrying problems in Indonesia. There are many areas where the condition of youth education is not good, including in West Java province which is a province with a high number of schools. Bandung Regency is a large district where not many people have higher education. One of the areas in Bandung Regency, which is not too far from the city by traveling via the toll road, is the village around the foot of Mount Haruman where there is still a low level of awareness of education. This is a threat to the nation because youth are the next generation of the nation. In addition to the lack of awareness of education which can have implications for the welfare and quality of life of the community, village development that is not yet optimal can be one of the obstacles found in villages at the foot of Mount Haruman, such as Warjabakti. Therefore, in order to explore the potential of this village at the foot of Mount Haruman, especially youth, an observation and survey was carried out with the aim of analyzing the description and development of potential based on the concept of youth's future orientation. The method in writing this article is a qualitative method by conducting in-depth interviews with sources. The results of data from surveys, observations and interviews were processed using coding techniques by creating certain categories for each aspect and then discussing them together to obtain results and conclusions. The results of the interviews show that teenagers at the foot of Mount Haruman, Warjabakti Village, have various potentials. But generally, the future orientation they plan only reaches the motivational stage. Keywords: Potential, future orientation, youth, Mount Haruman
Gambaran Kecanduan Gadget Anak Usia 9-12 Tahun Suci Rachmayanti; Hendriati Agustiani; Langgersari Elsari Novianti; Laila Qodariah
Jurnal Studia Insania Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jsi.v10i2.7296

Abstract

The development of gadget is rapidly growing and started to be used by early child makes the usage of gadget increased and could issue an addiction. This study aims to see the description of gadget addiction in children age 9-12 years in Bandung. The sample technique used in this study is purposive sampling. Participant in this study is children age 9-12 years old in Bandung that is fit into the criteria that is using one or more gadget. The total amount of participant is 90 children who is permitted by parents to take part in the study. The measurement used in this study is a Digital Addiction Scale for Children (DASC). The result of this study shows that there is no gadget addiction in children age 9-12 years (significance 0.000 < α = 0,05), and there is no difference between boys and girls in the degree of gadget addiction (significance 0.418 > α = 0,05).