Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Metode Bukhari dalam al-Jami‘ al-Sahih Masrukhin Muhsin
Al-Fath Vol 5 No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v5i2.3257

Abstract

Bukhari adalah satu-satunya ahli hadits yang sangat hati-hati dalam menerima hadits, karena ia dikenal sangat teliti dan ketat dalam menverikasi hadits (al-Tashih wa al-Tadh’if). Baginya tidak cukup dikatakan sebuah hadits itu shahih jika tidak menjumpai langsung (al-Liqa’) dengan sumber asalnya (rawi atau gurunya). Metode yang dikembangkan Bukhari demikian menjadikan karya tulisnya al-Jami’ al-Shahih ditempatkan pada peringkat pertama dari kitab-kitab hadits lainnya. Metode yang dikembangkan Imam Bukhari dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, dilihat dari penamaan kitabnya al-Jami’ al-Shahih, dan Kedua, langkah-langkah Bukhari dalam melakukan kajian dan penelitian (al-Istiqra) terhadap hadits. Bukhari hanya mengambil para perawi tingkatan pertama dari lima tingkatan murid al-Zuhri untuk diambil haditsnya. Dengan demikian baik syarat (syuruth al-Shihhah) hadits maupun tingkatan perawinya Bukhari tampaknya selalu mengambil kriteria yang tertinggi.
PEREMPUAN DAN PERIWAYATAN HADITS Masrukhin Muhsin; Inah Inah
Al-Fath Vol 8 No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v8i1.3055

Abstract

Perempuan pada masa sebelum dan awal mula Islam datang mendapatkan pengucilan dan diskriminasi, baik dalam kehidupan sosial maupun kekeluargaan. Datangnya Islam menjadi bukti peningkatan harkat martabat perempuan, dengan berbagai keterbatasan dan lingkupan budaya, sosial serta hukum Islam, para perempuan terus membuktikan ke-ikutseraannya dalam menegakan syari’at Islam. Salah satu peran perempuan adalah berperan aktif dalam periwayatan hadits Nabi saw. Jalur periwayatan perawi perempuan kebanyakan berkembang melalui jalur kekeluargaan dan kekerabatan, dan sosial. Aisyah bint Abu Bakar Ash-Shiddiq, istri dari Rasulullah saw, banyak hal yang dapat dicontoh dari berbagai segi kehidupan Beliau, Aisyah adalah perempuan yang mempunyai intelektual yang tinggi dan menjadi panutan bagi para kaum perempuan, dan beliau meriwayatkan hadits sebanyak 2.210 hadits.
Hadis Syafa’at ; Rasulallah SAW Masrukhin Muhsin
Al-Fath Vol 4 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v4i1.3355

Abstract

Semua sepakat bahwa syafa'at itu ada, syafa'at Allah SWT. Permasalahannya sekarang adalah selain dari Allah SWT, termasuk di dalamnya syafa'at Nabi Muhammad SAW, apakah Nabi Muhammad SW bisa memberi syafa'at kepada umatnya nanti di hari kiamat? menurut golongan Ahl al-Sunnah bisa berdasar Al-Qur'an dan Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW bisa memberi syafa'at kepada umatnya dengan seizin dari Allah berdasarkan firman Allah: "man dzal Ladzi Yashfa'u 'indah Illa bi Idznih." sedang menurut golongan Mu'tazilah dan Khawarij, pada masa lalu, atau Musthafa Mahmud, pada masa sekarang, berpendapat bahwa hanya Allahlah yang berhak memberi syafa'at, sedang selain-Nya termasuk Nabi Muhammad SAW, tidak bisa, berdasar firman Allah "qul lillah al-Syafa'ah Jami'an"
GENDER MENURUT IMAM NAWAWI DALAM TAFSIR MUNIR Masrukhin Muhsin; Ahmad Husin
Al-Fath Vol 7 No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v7i1.3087

Abstract

Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Nawawi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Nawawi dalam menafsirkan ayat-ayat al- Qur’an berdasarkan kontek tradisional, baik dari kepemimpinan, pendidikan dan kesaksian, dalam menerapkan metodenya, Nawawi menggunakan perpaduan antara metode tahlili dan ijmali. Sedangkan dalam memahami ayat-ayat gender sangat bertentangan dengan zaman pada sekarang ini. Metode yang digunakan dalam persoalan ini adalah kajian studi pustaka (library research) dengan menggunakan metode deduktif denganlangkah-langkah sebagai berikut. Pertama, pengumpulan data yang diambil dari data primer dan sekunder, kedua, pengolahan data yang sudah terkumpul dan terinventarisir dan, ketiga, analisis data , keempat mengambil kesimpulan.
Hadis Menurut Musthafa Al-Siba’i dan Ahmad Amin (Suatu Kajian Komparatif) Masrukhin Muhsin
Al-Fath Vol 6 No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v6i1.3208

Abstract

Keyakinan umat Islam terhadap posisi dan oten-sitas Hadis atau sunnah pada masa Nabi SAW tidak terdapat persoalan, karena jika mereka menemukan sesuatu yang meragukan atau yang belum jelas bisa langsung melakukan konfirmasi kepada Nabi SAW. Lain halnya pasca wafatnya beliau sampai sekarang, prob-lematika Hadis sudah sedemikian rupa, yang berujung kepada terbukanya tabir untuk melihat keberadaannya sebagai otoritas keagamaan. Seperti halnya dilakukan oleh Ahmad Amin dalam bukunya Fajr al-Islam, yang melakukan kritik terhadap beberapa hal tentang Hadis. Menurutnya, orisinalitas Hadis pasca wafatnya Nabi SAW patut dipertanyakan. Sementara Musthafa al-Siba’i melakukan counter terhadap pemikiran Ahmad Amin dengan mengemukakan bukti-bukti historis orisinalitas Hadis. Dalam pandangan Musthafa al-Siba’i, kiritk Ahmad Amin terhadap Hadis kurang didasari oleh argu-mentasi yang kuat, bahkan argumentasi yang dibangun lebih bersifat asumtif, generalisasi dan tekstual.
TATA CARA PELAKSANAAN SHALAT JUM'AT (Studi Naskah “Sulûk Al-Jâddah Fî Bayân Al-Jum’ah” Karya Syeikh Nawawi al-Bantani) Masrukhin Muhsin
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 9 No. 2 (2012)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v9i2.159

Abstract

Makalah ini merupakan hasil penelitian naskah “Sulûk al-Jâddah Fî Bayân al-Jum’ah” Karya Syeikh Nawawi al-Bantani. Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi. Dalam penelitian filologi dikenal dua perlakuan terhadap naskah. Pertama, memperlakukan satu naskah sebagai bagian dari naskah-naskah lainnya yang sejudul. Dalam hal ini semua naskah yang sejudul dikumpulkan di manapun adanya, dengan tujuan mendapatkan naskah asli atau dianggap paling mendekati asli. Kedua, memperlakukan naskah sebagai naskah tunggal. Dalam hal ini peneliti mengesampingkan naskah lain yang kemungkinan ada di tempat lain. Dari dua model tersebut, penelitian ini menggunakan model kedua. Alasannya, naskah Sulûk al-Jâddah fî Bayân al- Jum’ah untuk sementara dinyatakan sebagai naskah tunggal dengan indikasi tidak ditemukan naskah lain. Untuk menganalisa data naskah, dilakukan pembacaan dua tahap, heuristik dan hermeneutik. Adapun pokok-pokok bahasan yang ada dalam naskah Sulûk al-Jâddah fî Bayân al-Jum’ah adalah berisi tentang masalah shalat Jumát dan permasalahan-perasalahan yang dihadapi oleh masyarakat seputar shalat Jum’at dan shalat Jum’at yang diulang.
JAVANESE TRANSLATION OF ANÂ ALLÂH: STUDY ON THE JAVANESE TRANSLATION IN QS. THAHA/20:9-15 Fauzan, Aris; Wibowo, Safrudin Edi; Muhsin, Masrukhin; Rohmansyah, Rohmansyah; Ismail, Nawari
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v21i2.9676

Abstract

The purpose of this article is to reveal the Javanese translation of the word Anâ Allâh in QS. Taha/20: 9-15. To discuss the issue the author uses a critical content analysis and comparative analysis approach. The findings in this qualitative research are: first, the translators agreed to use Ingsun to translate Anâ Allâh. Second, they use Ingsun for Anâ Allâh because they want to dwell and honor Allah above everything, the Almighty. It is related to their understanding, awareness, and implementation of Javanese culture, unggah-ungguh (honorific speech). Third, they chose Ingsun to translate Anâ Allâh: philosophically, Ingsun is the Essence and Existence of God. Culturally ethically, Ingsun is only used by high-class people. An ordinary man who pronouns Ingsun for himself, shows that he is involved in conflict or doesn’t understand unggah-ungguh. Sufistically, Ingsun is a perfect word that represents a person's spiritual experience of uniting with his God. This research significantly contributes to the body of knowledge on ethical linguistics in religious texts, especially from a Javanese perspective which is relatively understudied by scholars of Islamic studies.
Tradisi Ngabungbang Pada Masyarakat Sunda : Studi Living Hadis Pada Tradisi Ngabungbang di Kampung Pendeui Ciomas Serang Ikhsan, Khaerul; Firmansyah, Diky; Alif, Muhammad; Muhsin, Masrukhin
Jurnal Penelitian Multidisiplin Bangsa Vol. 1 No. 8 (2025): Januari
Publisher : Amirul Bangun Bangsa Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpnmb.v1i8.174

Abstract

Jurnal ini ditulis berawal dari ketertarikan penulis untuk melihat begitu banyak masyarakat dari berbagai daerah Sunda, Jawa Barat dan Banten, yang datang ke Desa Pendeui, Desa Sukadana, Kecamatan Ciomas Serang - Banten untuk mengikuti kegiatan dalam tradisi ngabungbang, khususnya pembacaan tawashul, sholawat fatih, jauharatul kamal syekh At-tijani, kegiatan tersebut dilaksanakan setiap tahun di bulan ke-12 Mawlid, kegiatan ini biasanya diisi oleh jemaah haji yang ingin mengikuti ngabungbang dan haji ke makam pendiri Pondok Pesantren Tamamut Tijaniyah yaitu Kh.Tamimi dan H.Surya serta pembawa tradisi bungbang dari daerah  di Jawa Barat pada tahun 1984 dan disiarkan ke jamaah Pondok Pesantren Tamamut Tijaniyah pada awalnya, sebelum disiarkan ke masyarakat Peundei pada tahun 2019. Artikel ini akan fokus pada makna dan apa yang akan dilakukan dalam tradisi bungbang, pada artikel ini kami akan menjelaskan hasil pengamatan daerah yang telah kami lakukan.
Secret To Riches Dalam Perspektif Hadis: Studi Hadis Tematik Pajriah Pajriah; Muhammad Alif; Masrukhin Muhsin
Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Jurnal Miftahul Ilmi: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/miftahulilmi.v2i2.91

Abstract

This article discusses the secret to wealth from the perspective of the Hadith of Prophet Muhammad (peace be upon him), emphasizing the importance of understanding wealth both spiritually and physically. In society, many questions arise regarding how to become wealthy according to Islamic teachings, especially based on the Prophet's hadiths. Therefore, this article aims to provide a Sharia-compliant guide on how to acquire wealth and how to distribute it properly. The discussion focuses on four main points: (1) understanding true wealth that has eternal value in the hereafter, (2) motivation to pursue wealth, (3) factors that attract sustenance, and (4) factors that hinder sustenance. The author highlights the issue that many people desire wealth but pursue it through means prohibited in Islam, such as stealing, engaging in usury, or seizing others' rights. In this context, the hadiths serve as the main foundation for explaining the principles of blessed and lawful wealth. Through this article, the author hopes to provide society with the correct understanding of how to seek worldly wealth while upholding Islamic values. This article is also expected to serve as a guide to build spiritual awareness and ethical conduct in striving for success, and to offer a reflection for both the author and readers on the journey toward halal and blessed wealth.
Living Hadis Tasyakuran Khatam Al-Qur’an di Yayasan Nuzhatul Muttaqien Tangerang Arbi Nazhief Fauzan; Muhammad Alif; Masrukhin Muhsin
Al-Mu'tabar Vol. 4 No. 2 (2024): Al-Mu'tabar
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to explain how the tradition of Tasyakuran khataman Al-Qur'an in the community, especially in the Nuzhatul Muttaqien foundation. And also analyze what hadiths related to the tasyakuran khataman and the process of implementation, as well as analyzing the values contained therein such as religious values, friendship, charity and so on. This research uses a case study method, such as how the tasyakuran khatmil Qur'an is used in the community, as well as the hadith analysis method to find out the teachings of the Prophet about the appreciation of the Qur'an and its practice. The result is that each region's interpretation of the hadith reading is different, not fixed to just one feast. The most important thing is that the Muslim community can appreciate the Qur'an more because it is a gathering witnessed by thousands of angels and also the descent of Allah's Grace.