Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Kurios

Teologi hospitalitas dalam pendidikan seksualitas: Pendekatan Pedagogi Kristen untuk meningkatkan efikasi diri seksual remaja Bara Pa, Hemi Damnosel; Leobisa, Jonathan
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1020

Abstract

Sexuality education in Christian institutions still faces significant challenges due to the normative approach that often causes stigma and fear among adolescents. Hospitality theology provides a more reflective and inclusive approach to sexuality education, grounded in Christian Pedagogy. This model emphasizes dialogue, contextual theological reflection, and charity-based mentoring to improve students' sexual self-efficacy. By creating a safe space for exploring sexual identity in the light of faith, this approach helps adolescents build a more mature moral and spiritual awareness. This study uses a conceptual analysis method to develop a model of hospitality-based sexuality education that can be implemented in Christian institutions. The results show that hospitality-based education is more effective in fostering reflective awareness, promoting healthy decision-making, and cultivating a more supportive community in understanding responsible sexuality.   Abstrak Pendidikan seksualitas dalam institusi Kristen masih menghadapi tantangan besar akibat pendekatan normatif yang sering kali menimbulkan stigma dan rasa takut di kalangan remaja. Teologi hospitalitas menawarkan pendekatan yang lebih reflektif dan inklusif dalam pendidikan seksualitas berbasis Pedagogi Kristen. Model ini menekankan dialog, refleksi teologis yang kontekstual, serta pendampingan berbasis karitas untuk meningkatkan efikasi diri seksual peserta didik. Dengan menciptakan ruang aman untuk eksplorasi identitas seksual dalam terang iman, pendekatan ini membantu remaja membangun kesadaran moral dan spiritual yang lebih matang. Penelitian ini menggunakan metode analisis konseptual untuk mengembangkan model pendidikan seksualitas berbasis hospitalitas yang dapat diimplementasikan dalam institusi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis hospitalitas lebih efektif dalam membangun kesadaran reflektif, meningkatkan pengambilan keputusan yang sehat, serta menciptakan komunitas yang lebih mendukung dalam pemahaman seksualitas yang bertanggung jawab.
Dari lokalitas ke universalitas: Pengembangan model pendidikan kristiani berbasis kearifan lokal sebagai fondasi solidaritas dan tanggung jawab sosial-teologis Baun, Soleman; Leobisa, Jonathan
KURIOS Vol. 11 No. 2: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i2.1183

Abstract

This research explores the development of a Christian education model that integrates local wisdom as a foundation for building solidarity and socio-theological responsibility. Through a comprehensive literature study approach with a hermeneutical-critical analysis of theological and pedagogical sources, this research identifies how local values can serve as a bridge to a universal understanding of human solidarity. The findings suggest that integrating local wisdom into Christian education not only enriches theological understanding but also enhances pedagogical relevance and effectiveness in the Indonesian context. The developed model offers a transformative framework that connects locality with universality through a contextual educational praxis while remaining faithful to fundamental Christian values.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi pengembangan model pendidikan Kristiani yang mengintegrasikan kearifan lokal sebagai fondasi untuk membangun solidaritas dan tanggung jawab sosial-teologis. Melalui pendekatan studi literatur komprehensif dengan analisis hermeneutis-kritis terhadap sumber-sumber teologis dan pedagogis, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana nilai-nilai lokal dapat menjadi jembatan menuju pemahaman universal tentang solidaritas kemanusiaan. Temuan menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam pendidikan Kristiani tidak hanya memperkaya pemahaman teologis tetapi juga meningkatkan relevansi dan efektivitas pedagogis dalam konteks Indonesia. Model yang dikembangkan menawarkan kerangka kerja transformatif yang menghubungkan lokalitas dengan universalitas melalui praxis pendidikan yang kontekstual namun tetap setia pada nilai-nilai Kristiani fundamental.
Koinonia posdigital sebagai upaya moralisasi homo digitalis Leobisa, Jonathan; Paat, Anggreani Norma
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.385

Abstract

This research aims to analyze the function of social media in forming the character of Christian youth leaders. The method used in this research is descriptive-qualitative with observational data collection techniques at the GMIT locus of the Mawar Saron Liliba Congregation, as well as literature studies that strengthen theories about digital world phenomena. The research results show that young people use social media at the GMIT Mawar Saron Liliba Congregation. This highly impacts behavior and characterless respect of worship services, such as listening to sermons. This condition triggers the urgency of character formation and moralization in groups of teenagers who are often identified as homo digitalis or people who live in a digital world. In conclusion, the church, through its leaders, must be able to moralize congregation members, especially youth who are often referred to as homo digitalis.AbstrakTujuan penelitian ini adalah menganalisis fungsi media sosial dalam pembentukan karakter pemimpin pemuda-remaja Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi pada lokus GMIT Jemaat Mawar Saron Liliba, serta studi literatur yang memperkuat teori tentang fenomena dunia digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial oleh para pemuda-remaja GMIT Jemaat Mawar Saron Liliba sangat tinggi, sehingga berdampak pada perilaku dan karakter yang kurang menghormati pelayanan ibadah, seperti mendengarkan khotbah. Kondisi ini memicu urgensitas pembentukan karakter dan moralisasi pada kelompok remaja yang kerap diidentifikasi sebagai homo digitalis atau orang-orang yang lekat dengan dunia digital. Simpulannya, gereja, melalui para pemimpinnya, harus mampu melakukan moralisasi kepada anggota jemaat, khususnya pemuda-remaja yang kerap disebut sebagai homo digitalis.
Dekolonialisasi servant leadership: Karakter, kritik, dan rekonstruksi tata kelola eklesial dalam konteks indonesia Leobisa, Jonathan
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1500

Abstract

The "servant leadership" discourse has achieved quasi-dogmatic status in contemporary Christian leadership, yet rarely undergoes critical interrogation of its epistemological assumptions and political implications. This article argues that the uncritical adoption of servant leadership in Indonesian church governance perpetuates colonial patterns through the depoliticization of biblical servanthood, the domestication of service rhetoric that conceals untransformed hierarchical power relations, and the reproduction of Western governance models as universal templates while marginalizing indigenous communal wisdom. Through critical analysis, this study identifies four constitutive characteristics of servant leadership discourse: individualization, moralization, leader-centrism, and ahistoricity. The reconstructive section develops an alternative paradigm of "Participatory-Communal Governance" that integrates early church practices (Acts 2:42-47; 1 Corinthians 12:12-27) with Indonesian indigenous wisdom—gotong royong, tepo seliro, and musyawarah-mufakat—proposing a distributed authority based on charismata, facilitative rotation, and communal deliberation.   Abstrak Diskursus "servant leadership" telah mencapai status quasi-dogmatis dalam kepemimpinan Kristiani kontemporer, namun jarang mengalami interogasi kritis atas asumsi epistemologis dan implikasi politisnya. Artikel ini mengargumentasikan bahwa adopsi tanpa kritik terhadap servant leadership dalam tata kelola gereja Indonesia melanggengkan pola-pola kolonial melalui depolitisasi servanthood biblika, domestikasi retorika pelayanan yang menyembunyikan relasi kekuasaan hierarkis yang tidak tertransformasi, dan reproduksi model governansi Barat sebagai template universal dengan memarjinalkan kearifan komunal indigenous. Melalui analisis kritis, studi ini mengidentifikasi empat karakter konstitutif diskursus servant leadership: individualisasi, moralisasi, leader-sentrisme, dan ahistorisitas. Bagian rekonstruktif mengembangkan alternatif paradigma "Governansi Partisipatif-Komunal" yang mengintegrasikan praktik gereja mula-mula (Kis 2:42-47; 1 Kor 12:12-27) dengan kearifan indigenous Indonesia—gotong royong, tepo seliro, dan musyawarah-mufakat—mengusulkan distribusi otoritas berbasis charismata, rotasi fasilitatif, dan deliberasi komunal.