Claim Missing Document
Check
Articles

Perubahan Struktur Internasional dan Normalisasi Hubungan Indonesia-Cina pada Akhir Perang Dingin Dhamayanti, Amitha Mustika; Pradana, Hafid Adim
Sospol Vol. 12 No. 1 (2026): Januari-Juni
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jurnalsospol.v12i1.43616

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis latar belakang kebijakan normalisasi hubungan luar negeri Indonesia-Cina yang secara resmi terealisasi pada 8 Agustus 1990, setelah lebih dari dua dekade hubungan diplomatik terputus. Berbeda dari sebagian besar literatur terdahulu yang menekankan faktor politik domestik seperti konflik elite, persepsi anti-komunisme, atau dinamika militer, penelitian ini berfokus pada mengapa dan bagaimana perubahan struktur internasional justru menjadi faktor penentu dalam keputusan normalisasi Indonesia-Cina pada masa pemerintahan Presiden Suharto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, serta analisis deduktif berbasis teori realisme neoklasik. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan terhadap buku, artikel jurnal, dokumen kebijakan, dan sumber sekunder lain yang relevan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa normalisasi hubungan Indonesia-Cina berlangsung melalui dua tahap utama, yakni peresmian hubungan dagang (1985) dan pembukaan kembali hubungan diplomatik (1990). Kedua tahap tersebut terutama dipengaruhi oleh perubahan struktur internasional selama akhir Perang Dingin. Perubahan struktur ini kemudian diterjemahkan oleh elite pengambil kebijakan Indonesia, termasuk ABRI dan Presiden Suharto, menjadi kebijakan luar negeri yang lebih pragmatis terhadap Cina. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan realisme neoklasik dengan menunjukkan bahwa dalam konteks negara berkembang, struktur internasional tidak hanya membatasi pilihan kebijakan, tetapi juga mampu menggeser preferensi aktor domestik yang sebelumnya bersifat ideologis.
PENGUATAN KETAHANAN PANGAN BERBASIS KOMUNITAS SEBAGAI UPAYA LANJUTAN PENCEGAHAN STUNTING Haryo Prasodjo; Hafid Adim Pradana; Mohd. Agoes Aufiya; Najamuddin Khairur Rijal; Hutri Agustino
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.39431

Abstract

Abstrak: Program pengabdian masyarakat ini merupakan lanjutan dari upaya pencegahan stunting di Kabupaten Malang, dengan fokus pada masalah keterbatasan akses pangan bergizi dan rendahnya pendapatan keluarga. Kegiatan ini bermitra dengan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Kabupaten Malang dengan diikuti sebanyak 19 orang peserta yang merupakan ibu rumah tangga anggota UPPKS. Aktivitas yang dilakukan adalah sosialisasi edukasi gizi, pelatihan produksi produk berbasis pangan sehat untuk meningkatkan pendapatan keluarga, serta pendampingan pemasaran produk. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta, dari rata-rata 45% pada pre-test menjadi rata-rata 91% pada post-test, serta adanya keterampilan mitra dalam memanfaatkan bahan pangan lokal seperti daun kelor, dan mengembangkan praktik pengolahan pangan yang bernilai ekonomi.Abstract: This community service program is a continuation of stunting prevention efforts in Malang Regency, focusing on limited access to nutritious food and low family income. This activity is a partnership with the Malang Regency Family Welfare Income Improvement Program (UPPKS) and was attended by 19 participants who are housewives who are members of UPPKS. Activities carried out include nutrition education outreach, training in the production of healthy food-based products to increase family income, and product marketing assistance. The results showed an increase in participants' knowledge and understanding, from an average of 45% in the pre-test to an average of 91% in the post-test, as well as the partners' skills in utilizing local food ingredients such as Moringa leaves, and developing food processing practices that have economic value.