Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGGUNAAN LIMBAH RUMAH TANGGA DALAM MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN LESTARI SKALA PEKARANGAN PADA KELOMPOK DASAWISMA RT 32 KELURAHAN SEMPAJA TIMUR Lisnawati, Andi; Hidayah, Wardatul; Jamaluddin, Jamaluddin; Sardianti, Andi Lelanovita; Abidin, Zainal; Bustomi, Muhamad Yazid
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 3 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v6i3.14814

Abstract

Pengelolaan sampah rumah tangga menjadi permasalahan yang sulit untuk diselesaikan di setiap daerah. Setiap hari rumah tangga selalu menghasilkan sampah yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan banyak permasalahan baik kaitannya dengan lingkungan maupun kesehatan masyarakat yang ditimbulkan dari sampah. Sampah/limbah organik dapat diolah menjadi pupuk cair dan pupuk kompos. Sementara sampah anorganik dapat dimanfaatkan sebagai media tanam dalam pekarangan atau lahan yang terbatas, sehingga dapat mengurangi kuantitas sampah anorganik. Pemanfaatan limbah sampah organik maupun anorganik dapat diaplikasikan untuk budidaya tanaman pangan di lahan sekitar rumah. Tujuan adanya budidaya tanaman pangan di sekitar rumah yaitu untuk penguatan dan penyediaan pangan dalam kebutuhan rumah tangga. Fokus kegiatan ini yaitu (1) mendorong masyarakat untuk dapat memanfaatkan limbah rumah tangga yang dapat digunakan sebagai media dan bahan baku untuk penyediaan pangan rumah tangga, (2) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengoptimalkan lahan pekarangan yang terbatas untuk menanam tanaman pangan. Hasil pelaksanaan dari kegiatan pengabdian ini berupa peningkatan softskill pemahaman manfaat limbah rumah tangga 84%, pemahaman cara pengolahan menjadi pengolahan limbah rumah tangga menjadi water infus, pupuk cair dan pupuk kompos serta RPL 86%, pemahaman sebagai pelatihan yang mampu merangsang pikiran untuk melakukan pemanfaatan limbah rumah tangga 86%, pemahaman pemanfaatan limbah rumah tangga sehingga dapat mengajak keluarga dan masyarakat lain untuk melakukan pemanfaatan limbah rumah tangga 86%, Pemahaman pengolahan limbah rumah tangga menjadi water infus sebagai peluang bisnis yang menjanjikan 84%, Pemahaman harga jual pupuk dan pangsa pasar 80% serta pemahaman pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai ramah lingkungan dan peluang bisnis 76%.
Pemanfaatan Limbah Ampas Tahu Menjadi Pupuk Organik Padat Menggunakan Bioaktivator Mikroorganisme Lokal Nasi Basi: Utilization of Tofu Dregs Waste to Become Solid Organic Fertilizer Using Local Microorganism Bioactivator Stale Rice Daryono Daryono; Rusmini; Nur Hidayat; Yuanita; Riama Rita Manullang; Zainal Abidin; Rusli Anwar; Silvi Dwi Mentari; Roby; La Mudi; Faradilla; Anis Syauqi
Jurnal Loupe Vol 19 No 01 (2023): Edisi Juni 2023
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v19i01.2440

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi banyaknya limbah ampas tahu yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat hannya sebagai limbah yang terbuang, dengan adanya penelitian ini mencoba menggunakan bioaktivator mikroorganisme nasi basi sebagai bahan fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah: 1).Mengamati sifat fisik pembuatan pupuk organik padat (Kompos). 2).Menganalisa kandungan unsur hara pupuk organik padat N, P, K, C-organik, C/N Rasio dan pH. 3).Membandingkan hasil unsur hara Standar Mutu Pupuk Organik padat Peraturan Menteri Pertanian syarat kompos nomor 261/Permentan/SR.310/4/2019SNI 2019. 4).Penghitungan lama waktu jadinya pupuk organik padat dari limbah ampas tahu. Dari hasil penelitian ini Sifat fisik pupuk organik padat setelah matang adalah: suhu mencapai 26◦C, terjadi perubahan warna yang awalnya putih berubah menjadi coklat tua serta tidak beraroma menyerupai warna tanah. Hasil analisis kandungan unsur hara makro untuk perlakuan T1 adalah sebesar N 2.123 %, C-Organik 41.768, C/N rasio 19.675 % pH.5.69 dan Unsur hara perlakuan T2 yaitu C-Organik 44.304, C/N rasio 23.344% dan pH.5.78, sudah memenuhi Standar Mutu Pupuk Organik padat Peraturan Menteri Pertanian syarat kompos nomor 261/Permentan/SR.310/4/2019, sedangkan unsur hara perlakuan T1 yaitu P 0.034 %, K 0.033 %, dan unsur hara perlakuan T2 yaitu N 1.898 %, P 0.029 %, K 0.019 % belum memenuhi standar Permentan pupuk kompos padat nomor 261/Permentan/SR.310/4/2019. Lama waktu proses pembuatan pupuk organik padat limbah ampas tahu T2 matang di hari ke-15 lebih cepat dari T1 yang matang di hari ke-18.
Synergy of Golden Snail Local Microorganism (LMO) and Seed Age in Optimizing Rice Seed Germination Zainal Abidin Zainal; mujibu Rahman; Moch. Bintoro; Suwardi; Rusmini; La Mudi; Yuanita; Roby; Daryono; Faradilla; F. Silvi Dwi Mentari
Jurnal Loupe Vol 20 No 02 (2024): December 2024
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v20i02.3230

Abstract

This research aims to synergize local microorganisms (LMO) of golden snails (Pomacea canaliculata) and seed age in optimizing rice seed germination (Oryza sativa L.). Golden snail LMO, which is rich in organic nutrients and beneficial microorganisms, has the potential to improve seed quality and viability. The study used a factorial randomized block design (RBD) with two factors: golden snail LMO concentration (Control, 20 ml/L water, 40 ml/L water) and seedling age (7 days, 11 days, and 15 days after sowing). The variables observed included seed germination, simultaneity grows and growth speed. The results showed that the golden snail LMO concentration of 20 ml/L and seed age of 11 days after sowing gave the highest results for the observed variables, namely seed germination and growth speed while the interaction between golden snail LMO concentration mas 40 ml/L and seed age of 15 days after sowing gave the highest results for the variable observing growth synchrony. The combination of the two factors showed a positive interaction that supported the germination process effectively. This study concludes that the use of golden snail LMO and selecting the right seed age can be an ecological and efficient approach to increasing rice seed productivity, supporting sustainable agriculture.
Strategy For Developing The Transformation of Traditional Farmers in Samarinda Towards Future Agriculture F. Silvi Dwi Mentari; Yuanita; Nur Hidayat; Daryono; Zainal Abidin; Roby; Ita Merni Patulak Merni; Zahrotul Isti'anah
Jurnal Loupe Vol 21 No 02 (2025): Desember 2025
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v21i02.3544

Abstract

The knowledge of farming methods and various traditional agricultural tools owned by the ancestors of the people of East Kalimantan has been passed down to their descendants, remaining simple and used by a group of people from generation to generation, forming part of their technological system, according to their cultural conceptions. However, the current agricultural transformation in Samarinda shows a clear shift from traditional to modern farming systems, evident in the application of modern technology in agricultural activities. This study examines the transformation process, its driving factors, socio-economic impacts, and challenges and development strategies. Data were collected through literature review and interviews with local farmers. The results indicate that modern agriculture increases productivity and work efficiency, attracts younger generations, and supports food security in the region. However, limited land and access to technology are key challenges. The study concludes that agricultural modernization in Samarinda must be supported by inclusive policies that integrate technology, strengthen farmer institutions, and empower young people.