Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Mindful Parenting Based on Family Life Cycle [Mengasuh Berkesadaran Berdasarkan Tahap Perkembangan Keluarga] Arri Handayani; Padmi Dhyah Yulianti; Ngurah Ayu Nyoman M.; Agus Setiawan
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v35i1.2882

Abstract

Mindful parenting is marked by listening with full attention, speaking with full empathy, not being judgmental of the child, having emotional intelligence, being prudent and not behaving in an excessive fashion, and having welas asih (Javanese term for “compassion”). A style of mindful parenting assists in the formation of the early foundations of the life of a child, and gives rise to an optimal generation. The desired goal in this research was to determine a profile of mindful parenting, based upon the stages of family development. The data collection method used was exploratory interview, using a research and developmental approach. The participants in the research numbered 19 persons, consisting of 16 mothers and three fathers. The research results indicated that families in the stages from early child-raising (the eldest child being a newborn to 30 months of age), to that of the family with adolescent children (the eldest child being aged between 13 and 20 years) have applied mindful parenting. Application of mindful parenting to families at a number of stages has made a contribution to the psychological conditions of both parents and children. The positive contribution appears to be the attention and empathy of the parents to the children, so that the parents better comprehend the condition of the children. This emotional awareness, on the part of the parents, and also the children, also causes the emergence of attachment which becomes the foundation of social and emotional competence, when the child grows to maturity. This research also discovered that the extended family has an important role in supporting mindful parenting. Pola asuh berkesadaran ditandai dengan mendengarkan dengan penuh perhatian, berbicara dengan penuh empati, tidak menghakimi anak, memiliki kecerdasan emosional, bijaksana dan tidak berlebihan, serta memiliki welas asih (istilah Bahasa Jawa untuk “kasih sayang” atau “rasa iba”). Pola asuh berkesadaran membantu terbentuknya fondasi awal kehidupan anak dan memunculkan generasi yang optimal. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk mengetahui profil pola asuh berkesadaran berdasarkan tahap perkembangan keluarga. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara eksploratori dengan pendekatan riset dan pengembangan. Partisipan penelitian berjumlah 19 orang yang terdiri dari 16 orang ibu serta tiga orang ayah. Hasil wawancara menunjukkan keluarga yang sedang berada pada tahap mengasuh anak (anak tertua adalah bayi sampai umur 30 bulan) hingga keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13 hingga 20 tahun) telah menerapkan pola asuh berkesadaran. Penerapan pola asuh berkesadaran pada keluarga di berbagai tahapan perkembangan memberikan kontribusi positif bagi kondisi psikologis orang tua dan anak. Kontribusi positif tersebut tampak dari adanya perhatian dan empati dari orangtua terhadap anak sehingga orangtua lebih memahami kondisi anaknya. Kesadaran emosional ini dari pihak orangtua dan anak juga mendorong munculnya kelekatan yang menjadi fondasi kompetensi sosial dan emosional saat anak bertumbuh dewasa. Penelitian ini juga menemukan bahwa extended family memiliki peran penting dalam mendukung pengasuhan berkesadaran. Received 21 April 2017; Accepted 7 September 2018; Published 25 October 2019.
Mental Healthy Literacy of Teachers: a Systematic Literature Review Padmi Dhyah Yulianti; Endang Retno Surjaningrum; Dwi Yuwono Puji Sugiharto; Nurul Hartini
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 10 No 2 June 2021
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.v10i2.20512

Abstract

School is a protective factor to improve and promote mental health. Many mental health problems are experienced by school learners. From various interactions with the learners, teachers are expected capable to prevent and identify school learners’ mental health problems. Although the human-teacher sources are high but they are not completely used to support learners’ mental health problems. This research aims to find out the mental health literacy operational definition and the urgency of mental health literacy of the teachers. This research applied a systematic literature review from five search engines. They were Spingerlink, Science Direct, Jstor, Eric, and Pubmed. The applied keywords were “mental health literacy”, “school”, and “teacher”. The taken references are from 1997 - 2020.  Six hundred and thirty three articles were obtained from five search engines.  From the systematic review, seven articles were obtained.  An expanding concept of mental health definition was found from the initial concept proposed by Jorm. Clear concept definition influenced the measurement. Teachers must be aware of mental health literacy because they are the first lines to identify mental health problems of the learners, mostly found on 12 - 25 years-old learners. Low teacher literacy at school about mental health problems experienced by learners led to serious impacts for them.
PROFIL ASERTIVITAS MAHASISWA Padmi Dhyah Yulianti
Empati-Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 6, No 1 (2019): Empati
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/empati.v6i1.4116

Abstract

Abstrak. Mahasiswa perguruan tinggi, sebagian besar dapat dikategorikan dalam batasan remaja akhir. Namun demikian dalam kenyataannya masih banyak remaja akhir yang kurang mampu mengenali diri dengan baik serta kurang mampu bersikap tegas ketika mengadapi situasi.Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif terhadap 130 mahasiswa dalam kategori remaja akhir. Subyek penelitian terdiri dari 35 laki – laki dan 95 perempuan. Berdasarkan hasil peneltian diperoleh hasil bahwa dari 130 orang mahasiswa memiliki tingkat asertivitas dalam kategori sedang sebanyak 67 orang, mahasiswa yang memiliki asertivitas agak rendah sebanyak 7 orang, mahasiswa yang memiliki asertivitas cukup tinggi sebanyak 50 orang dan yang memiliki asertivitas tinggi sebanyak 6 orang. Pada kedua jenis kelamin tidak terdapat perbedaan asertivitas, baik laki – laki maupun perempuan memiliki asertivitas yang berada dalam kategori sedang.Kata kunci: Asertivitas, remaja akhir
MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL MELALUI LAYANAN PENGUASAAN KONTEN DENGAN MEDIA PUZZLE PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 SEMARANGTAHUN PELAJARAN 2014/2015 Yanuar Brasista Amar Faishal; Heri Saptadi Ismanto; Padmi Dhyah Yulianti
Empati-Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 1, No 1 (2014): Empati
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/empati.v1i1/oktober.662

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi kurangnya interaksi sosial yang dimiliki siswa. Kurangnya interaksi sosial akan menghambat siswa dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya terutama dibidang pribadi. Permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah Apakah Layanan Penguasaan Konten Menggunakan Media Puzzle Efektif Untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa? Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektifitas Layanan Penguasaan Konten Menggunakan Media Puzzle Untuk Meningkatkan Interaksi Sosial Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Semarang Tahun Pelajaran 2014/2015. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 01 Semarang Tahun Pelajaran 2014/2015 dengan jumlah 441 siswa. Sampel yang diambil 30 siswa dengan menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui skala interaksi sosial. Desain penelitian yang digunakan adalah one group pre-test post-test design.Berdasrkan ujia validitas diperoleh 30 soal valid, sedangkan pada uji reliabilitas diperoleh hasil r11> rtabel ,0,917 > 0,361 dengan demikian instrumen skala interaksi sosial reliabel.Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang dilakukan dari data awal skor rata-rata sebesar 74,67, sedangkan hasil dari data akhir diketahui skor rata-rata sebesar 90,8. Rata-rata nilai hasil interaksi sosial siswa menunjukkan adanya selisih skor sebesar 15,8 yang berarti interaksi sosial siswa meningkat. Berdasarkan hasil perhitungan analisis rumus uji t diperoleh thitung sebesar 4,563 sementara ttabel dengan db N-1 = 30-1 = 29, dengan taraf signifikansi 0,05 sebesar 2,045. Karena t-hitung >t-tabel, atau 4,563 >2,045, sehingga hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi layanan penguasaan konten dengan menggunakan media puzzle efektif untukmeningkatkan interaksi sosial siswa kelas X SMA Negeri 1 Semarang tahun pelajaran 2014/2015diterima pada taraf signifikansi 0,05. Dari hasil penelitian disarankan siswa memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling. Bagi Guru bimbingan dan konseling agar dapat memprogramkan dan melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan siswa. Bagi Kepala sekolah supaya dapat merumuskan kebijakan dalam memberikan dua jam pelajaran efektif masuk kelas untuk layanan bimbingan dan konseling agar dapat mencapai pelayanan terhadap peserta didik secara optimal. Kata Kunci: Layanan Penguasaan Konten Dengan Menggunakan Media Puzzle, Interaksi Sosial.
LAYANAN KONSELING KELOMPOK RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY TERHADAP HARGA DIRI SISWA KORBAN SELF INJURY Terisa Sari Ulum; Wiwik Kusdaryani; Padmi Dhyah Yulianti
Empati-Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 6, No 2 (2019): Empati
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/empati.v6i2.4279

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh layanan konseling kelompok rational emotive behavior therapy terhadap harga diri siswa korban self-injury. Jenis penelitian ini adalah penelitian desain eksperimen semu (pre eksperimental design). Populasi dalam penelitian ini adalah 271 siswa kelas VII, sampel yang  digunakan adalah purposive sampling, dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 6 siswa dengan kategori siswa korban self-injury dengan harga diri yang rendah. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, penyebaran angket kebutuhan peserta didik, dan angket harga diri siswa korban self-injury,serta menggunakan skala psikologis harga diri siswa korban self-injury. Desain penelitian yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design. Hasil analisis uji-t harga diri siswa korban self-injury menunjukan mencapai thitung= 6,475> ttabel= 2,200, maka HO ditolak dan Ha diterima dengan db=n+n-1, dan α=5%, artinya ada pengaruh layanan konseling kelompok rational emotive behavior therapy terhadap harga diri siswa korban self-injury kelas VII SMP Negeri 32 Semarang. Kata kunci: Layanan konseling kelompok rational emotive behavior therapy, Harga diri, Self-Injury.
Pengaruh Konseling Kelompok Cognitive Behavior Therapy Teknik Stress Inoculation Training Terhadap Stres Ulangan Siswa Astrit Wironika; Padmi Dhyah Yulianti; Retnaningdyastuti Retnaningdyastuti
Indonesian Journal of Learning Education and Counseling Vol. 2 No. 1 (2019): September
Publisher : ILIN Institute Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.234 KB) | DOI: 10.31960/ijolec.v2i1.150

Abstract

This study aims to determine the effect of groups counseling cognitive behavior therapy approach with stress inoculation training techniques on tests stress experienced by students. This type of research is quantitative research with a true experimental design, research method with a pretest posttest control design. The sample in the study was 18 students of class VIII SMP N 4 Semarang who were taken using purposive sampling technique. The data collection tool used is stress scale. Based on the results of the calculation of the hypothesis test results obtained t count = 3.78. Then consulted with t table with a significance level of 5% which is 2.120 it shows that t count = 3.78 > t table = 2.120.
FAKTOR KEDISIPLINAN BELAJAR PADA SISWA KELAS X SMK LARENDA BREBES Ahmad Pujo Sugiarto; Tri Suyati; Padmi Dhyah Yulianti
Mimbar Ilmu Vol. 24 No. 2 (2019): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/mi.v24i2.21279

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya kedisiplinan belajar siswa. Faktor kedisiplinan belajar siswa antara lain: Faktor internal adalah faktor yang ada dalam dirinya sendiri antara lain meliputi kesadaran diri, motivasi belajar, dan tidak mampu menyesuaikan diri dalam belajar. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar yang meliputi faktor keluarga, lingkungan sekolah, teman sebaya dan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan atau memaparkan fakta-fakta atau data-data yang diperoleh dari sumber data. Data-data tersebut bersifat kualitatif karena tidak berupa angka, tetapi berupa kalimat-kalimat atau pernyataan-pernyataan yang berasal dari hasil metode observasi dan wawancara. Data-data tersebut selanjutnya dianalisis atau diuraikan untuk menemukan faktor kedisiplinan belajar siswa siswa. Berdasarkan data yang diperoleh dari subjek penelitian, menunjukan bahwa faktor kedisiplinan belajar siswa ada dua yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor yang berasal dari dirinya sendiri yaitu siswa yang malas, malas untuk belajar, tidak pernah mengerjakan PR atau tugas, malas untuk mencatat dan membaca buku pelajaran,kurangnya kesadaran untuk belajar, belum terbiasa dengan disiplin belajar. Kedua adalah faktor ekstrinsik merupakan faktor yang berasal dari luar individu berupa lingkungan keluarga, orangtua yang tidak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap anak mengakibatkan anak menjadi tidak disiplin belajar, selain itu pendidikan orang tua juga mempengaruhi kedisiplinan belajar siswa, faktor lain adalah dari guru, guru yang galak dan cara mengajar yang membosankan menyebabkan siswa malas belajar, dan faktor terakhir yang mengakibatkan siswa tidak disiplin belajar karena faktor lingkungan seperti teman bergaul di rumah dan lingkungan sekolah. Kata-kata kunci : Kedisiplinan Belajar, Siswa, Studi Kasus AbstractThis research is motivated by the importance of student learning discipline. Factors of student learning discipline include: Internal factors are factors that exist in themselves include self-awareness, motivation to learn, and not being able to adjust to learning. While external factors are external factors which include family, school environment, peers and the community. This research uses a case study approach which is done by describing or describing facts or data obtained from data sources. The data is qualitative because it is not in the form of numbers, but in the form of sentences or statements derived from the results of observation and interview methods. These data are then analyzed or elaborated to find the factors of student learning discipline. Based on data obtained from research subjects, it shows that there are two factors for student learning discipline namely intrinsic factor and extrinsic factor. Intrinsic factor is a factor that originates from itself, namely students who are lazy, lazy to learn, never do homework or assignments, lazy to take notes and read textbooks, lack of awareness to learn, not accustomed to the discipline of learning. Second is the extrinsic factor is a factor that comes from outside the individual in the form of a family environment, parents who never give attention and affection towards children cause children to become undisciplined in learning, in addition to that parental education also affects student learning discipline, other factors are from the teacher, teachers who are fierce and boring teaching methods make students lazy to learn, and the last factor that causes students to be undisciplined in learning because of environmental factors such as friends hanging out at home and school environment. Keywords: Learning Discipline, Students, Case Studies
LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK SELF-MANAGEMENT TERHADAP PROKRASTINASI AKADEMIK Hadei Yoga Swara; Supardi .; Padmi Dhyah Yulianti
Indonesian Journal Of Educational Research and Review Vol. 3 No. 1: April 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.925 KB) | DOI: 10.23887/ijerr.v3i1.24885

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik self-management terhadap prokrastinasi akademik. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif melalui metode penelitian True Experimental Design dengan model Pre-test Post-test Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA N 11 Semarang dengan jumlah 252 siswa. Kelas XI IPA 2 adalah kelas yang dipergunakan untuk tryout sebanyak 36 siswa. Sampel dalam penelitian yaitu 20 siswa kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 yang diambil dengan menggunakan teknik sampling cluster random sampling. Alat pengumpul data yang dipergunakan adalah skala prokrastinasi akademik. Berdasarkan hasil analisis data uji hipotesis diperoleh thitung =Selanjutnya dikonsultasikan dengan ttabel dengan taraf signifikansi 5% (0,05) yaitu 2,101. Hal tersebut menunjukan bahwa thitung =  > ttabel =  2, 101. Atas dasar perhitungan tersebut maka hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “ada pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik self-management terhadap prorastinasi akademik siswa kelas XI IPA SMA N 11 Semarang” diterima kebenarannya pada taraf signifikansi 5%. Dengan demikian menunjukan bahwa ada pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik selft-management terhadap prokrastinasi akademik.
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN PENYESUAIAN DIRI SISWA KELAS X SMA N 1 SEMARANG Shella Novitasari; Suhendri Suhendri; Padmi Dhyah Yulianti
Jurnal Ilmiah Bening : Belajar Bimbingan dan Konseling Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Jurusan Bimbingan dan Konseling, FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bening.v6i2.24386

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan penyesuaian diri siswa kelas X MIPA SMA N 1 Semarang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional. Subjek dalam penelitian ini bejumlah 105 siswa. Pengumpulan data menggunakan skala kepercayaan diri dan skala penyesuian diri. Hasil analisis deskriptif menunjukan bahwa kepercayaan diri dan penyesuaian diri siswa berada pada kategori rendah. Berdasarkan uji korelasi product moment, diperoleh nilai korelasi rhitung 0,793. Sedangkan nilai r tabel untuk jumlah sampel 105 dengan taraf signifikan 5% sebesar 0,195. Oleh karena itu rhitung > rtabel atau 0,793 > 0,195, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepercayaan diri dengan penyesuaian diri siswa kelas X SMA N 1 Semarang. Hubungan tersebut menunjukan hubungan yang positif, karena nilai rhitung yang didapat bertanda positif. Hubungan positif tersebut memiliki arti semakin tinggi kepercayaan diri, maka semakin tinggi juga penyesuain diri yang dimiliki oleh siswa.
HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 31 SEMARANG Estur Septinityas; Dini Rakhmawati; Padmi Dhyah Yulianti
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 6 No. 2 (2022): G-Couns Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g.couns.v6i2.3458

Abstract

Penelitian hubungan efikasi diri dengan kemandirian belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Semarang ini dilatar belakangi oleh kurangnya rasa percaya akan kemampuan diri sendiri dan kurangnya kemandirian belajar yang dimiliki siswa sehingga menghambat proses pembelajaran dan nilai akademik siswa. Permasalahan dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana kondisi efikasi diri siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Semarang ? 2) Bagaimana kondisi kemandirian belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Semarang ? 3)Apakah ada hubungan efikasi diri dengan kemandirian belajar pada kelas VIII SMP Negeri 31 Semarang ? Tujuan yang hendak di capai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi efikasi diri dan kemandirian belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 31 Semarang dan untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan kemandirian belajar pada kelas VIII SMP Negeri 31 Semarang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode ex-post facto. Populasi data penelitian ini sejumlah 172 siswa, meliputi kelas VIII A, VIII B, VIII C, VIII D, VIII E, VIII F, VIII G, VIII H. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 118 yang diambil dengan teknik propotional random sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala efikasi diri dan skala kemandirian belajar. Berdasarkan hasil dari penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan efikasi diri dengan kemandirian belajar siswa. Maka hal ini berarti semakin tinggi efikasi diri maka semakin tinggi pula kemandirian belajar, sebaliknya semakin rendah efikasi diri maka semakin rendah pula kemandirian belajar.Â