Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan beban kerja dengan stres kerja pada pekerja usaha kain pantai Idha Kumala Sari; Sheena Ramadhia Asmara Dhani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2766

Abstract

Background: In the workplace, high workload is a common problem. Furthermore, the added pressure to complete a large amount of work can cause stress and anxiety among employees. Work-Related Stress (WRS) is a person's response when faced with work demands and pressures that are inconsistent with their abilities and knowledge and challenge their ability to cope. Work stress worsens when workers receive little support from superiors or coworkers and little control over their work processes. Purpose: To determine the relationship between workload and job stress among workers in the coastal textile industry. Method: This descriptive quantitative study used a total sampling technique. The study was conducted from November to December 2025 in the Coastal Textile Industry in Mojolaban District, Sukoharjo Regency. The population consisted of 62 coastal textile industry workers. The instruments used were the Job Stress Scale questionnaire and the NASA Task Load Index (TLX) questionnaire. Data were processed using SPSS version 26 software with bivariate analysis. Computerized bivariate analysis calculations, interpreted using a p-value of 0.05 with 5% precision, indicate an effect if the p-value is ≤ 0.05. Results: The significance value obtained was 0.033 (significance < 0.05), proving a relationship between the variables. The two variables also had a correlation coefficient of 0.271, indicating a low-level relationship. This correlation coefficient also showed positive results. The higher the workload received by workers, the greater the perceived work stress. Conversely, the lower the workload, the lower the perceived work stress. This indicates that an appropriate workload impacts employee work stress. Conclusion: There is a significant relationship between workload and work stress among workers in the beachwear business. Suggestion: Future researchers are expected to add other variables that influence work stress, such as the work environment or leadership style.   Keywords: Beachwear Business; Employees; Workload; Work Stress.   Pendahuluan: Dalam dunia kerja, beban kerja yang tinggi merupakan permasalahan yang sering dijumpai. Selain itu, dengan ditambahnya tekanan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang banyak membuat para karyawan tertekan dan stres. Stres kerja (Work-Related Stress) merupakan respon yang dimiliki seseorang ketika dihadapkan dengan tuntutan dan tekanan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan pekerja serta menantang kemampuan pekerja untuk mengatasinya. Stres kerja menjadi lebih buruk ketika pekerja mendapat sedikit dukungan dari atasan atau teman kerja dan sedikit kontrol terhadap proses kerjanya Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan antara beban kerja dengan stress kerja pada pekerja usaha kain pantai. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan November–Desember 2025, di Usaha Kain Pantai Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 62 pekerja usaha kain pantai. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner The Workplace Stress Scale dan Beban Kerja menggunakan NASA Task Load Index (TLX). Pengolahan data menggunakan software SPSS Versi 26 dengan analisis bivariat. Perhitungan analisis bivariat secara komputerisasi dengan interpretasi menggunakan p-value 0.05 dengan presisi 5%, maka dikatakan berpengaruh jika p-value ≤ 0.05. Hasil: Nilai sig yang didapat adalah 0.033 (sig < 0.05), membuktikan adanya hubungan antar variabel. Kedua variabel juga memiliki nilai koefisien korelasi sebesar 0.271, diasumsikan bahwa terdapat hubungan pada tingkat rendah. Koefisien korelasi tersebut juga menunjukkan hasil yang positif. Semakin tinggi beban kerja yang diterima pada pekerja, maka stres kerja yang dirasakan juga akan semakin meningkat, begitupun sebaliknya, jika beban kerja semakin rendah, maka stres kerja yang dialami juga akan semakin rendah pula. Hal ini menunjukkan bahwa kesesuaian beban kerja akan berdampak terhadap hadirnya stres kerja karyawan. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara beban kerja terhadap stress kerja pada pekerja usaha kain pantai. Saran: Peneliti selanjutnya, diharapkan untuk menambah variabel lain yang memengaruhi stres kerja, seperti lingkungan kerja atau gaya kepemimpinan.   Kata Kunci: Beban Kerja; Karyawan; Stres Kerja; Usaha Kain Pantai.
Safety knowledge and safety leadership as determinants of workers’ safety performance in the garment industry Mantasya, Azza; Dhani, Sheena Ramadhia Asmara
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 9 No. 2 (2026): Volume 9 Number 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v9i2.2277

Abstract

Background: Safety performance reflects an organization’s capacity to prevent workplace accidents through adequate safety knowledge and effective safety leadership. In the labor-intensive garment industry, which is characterized by high ergonomic risks and intense production demands, empirical evidence on the combined effects of safety knowledge and safety leadership on workers’ safety performance remains limited. Purpose: To examine the influence of safety knowledge and safety leadership on workers’ safety performance in the garment industry in the Solo Raya region. Method: A quantitative observational design with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 211 workers selected using a total sampling technique, the research instruments included questionnaires and observation sheets. Data was analyzed using logistic regression. Results: Contextual knowledge (p = 0.045; Exp(B) = 0.096) and safety controlling (p = 0.042; Exp(B) = 11.334) had a significant effect on safety compliance, while task knowledge (p = 0.036; Exp(B) = 9.398) and safety caring (p = 0.039; Exp(B) = 10.289) significant effect on safety participation. Conclusion: Strengthening workers’ safety knowledge and safety leadership practices that emphasize effective supervision and genuine care can enhance safety performance by improving safety compliance and safety participation, thereby fostering a proactive and sustainable safety culture.
Hubungan Postur Kerja dan Keluhan Nyeri Muskuloskeletal dengan Produktivitas Kerja pada Pekerja Kantor di Pt Jamu Air Mancur Khalisa Masra Desandrina Hafid; Sheena Ramadhia Asmara Dhani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55669

Abstract

Pekerja kantor umumnya bekerja dalam posisi duduk dengan durasi lama sehingga berpotensi menimbulkan risiko ergonomi dan keluhan nyeri muskuloskeletal yang dapat memengaruhi kenyamanan, kesehatan, dan produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan postur kerja dan keluhan nyeri muskuloskeletal dengan produktivitas kerja pada pekerja kantor PTJamu Air Mancur. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional pada 50 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Penilaian postur kerja menggunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA), keluhan muskuloskeletal diukur dengan Nordic Body Map (NBM), dan produktivitas kerja menggunakan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki risiko postur kerja tinggi, keluhan muskuloskeletal kategori agak sakit,dan produktivitas kerja kategori sedang. Uji korelasi menunjukkanpostur kerja berhubungan negatif namun tidak signifikan dengan produktivitas (r = −0,088; p > 0,05), sedangkan keluhan muskuloskeletal berhubungan negatif signifikan dengan produktivitas (r = −0,336; p < 0,05). Disimpulkan bahwa keluhan muskuloskeletallebih berpengaruh langsung terhadap produktivitas dibandingkan postur kerja.
Hubungan Antara Beban Kerja Mental dan Dukungan Rekan Kerja dengan Stres Kerja Pada Pekerja di PT. Jamu Air Mancur Mona Kurnia Sabela; Sheena Ramadhia Asmara Dhani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55671

Abstract

Perkembangan dunia kerja yang semakin kompleks meningkatkan tuntutan pekerjaan dan tekanan psikologis, khususnya pada pekerja bagian produksi, sehingga berpotensi menimbulkan stres kerja. Stres kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain beban kerja mental sebagai tuntutan pekerjaan dan dukungan rekan kerja sebagai faktor psikososial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara beban kerja mental yang dihadapi dan dukungan rekan kerja dengan stres kerja yang dialami oleh pekerja bagian produksi di PT. Jamu Air Mancur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pekerja produksi sebanyak 85 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen penelitian setiap variabel berupa kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden tergolong dalam kelompok beban kerja mental sedang (56,5%), dukungan rekan kerja sedang (76,5%), dan stres kerja sedang (51,8%). Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara beban kerja mental dan stres kerja (r = 0,272; p = 0,012), sedangkan hubungan antara dukungan rekan kerja dan stres kerja menunjukkan arah negatif namun tidak signifikan (r = -0,189; p = 0,083). Temuan ini menunjukkan bahwa stres kerja pada pekerja produksi lebih dipengaruhi oleh beban kerja mental dibandingkan dukungan rekan kerja.
Hubungan Pengetahuan Tentang Alat Pelindung Diri Terhadap Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada Tim SAR Di Soloraya Alvinda Radya Bagaskara; Sheena Ramadhia Asmara Dhani
JUMANTIK (Jurnal Ilmiah Penelitian Kesehatan) Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jumantik.v11i1.27363

Abstract

Personal Protective Equipment (PPE) is a tool used to protect the body from the risk of work accidents. Technically, this tool can reduce the severity of injuries. PPE does not eliminate the source of danger, but limits contact with the danger by providing a barrier. This study, which uses a cross-sectional approach, aims to determine the relationship between knowledge of personal protective equipment and the behavior of using personal protective equipment during the SAR team in Soloraya. The research sample used was 123 SAR member respondents in Soloraya covering the districts of Karanganyar, Wonogiri, Sukoharjo, and Klaten in 2025. The instrument used was GoogleForm which has been declared valid and reliable. Data analysis was carried out using the Chi-square statistical test. Univariate analysis showed that respondents with good knowledge were 90 respondents (73.2%), while those with poor knowledge were 33 respondents (26.8%). Bivariate statistical analysis showed a p-value = 0.040 (p <0.05), which means there is a significant relationship between the level of knowledge of personal protective equipment and the behavior of using personal protective equipment.