Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Konsumsi Protein dengan Kadar Hemoglobin Remaja Putri di Kabupaten Bekasi Putri Nur Hidayah; Nur Fauzia Asmi; Utami Putri Kinayungan; Dandi Sanjaya
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v9i2.944

Abstract

Hemoglobin plays a vital role in transporting oxygen throughout the body. A decrease in hemoglobin levels can lead to oxygen deficiency in tissues, potentially causing anemia. Anemia is characterized by symptoms such as fatigue, dizziness, and reduced concentration, and is a health issue that must be addressed, especially among adolescent girls. This is a quantitative study using an analytical observational method with a cross-sectional design. The study population consisted of 516 female students aged 15–18 years at SMAN 3 Cikarang Utara, with 92 students selected as samples using purposive sampling. The research was conducted in June 2025. Data analysis was performed using the chi-square test. The findings revealed that 33 students (35.9%) experienced anemia out of the 92 participants. Furthermore, 45 students (48.9%) had inadequate protein intake, 39 students (42.4%) engaged in heavy physical activity, and 37 students (40.2%) were categorized as food insecure. Significant associations were found between protein intake (p = 0.000), physical activity (p = 0.000), and household food security (p = 0.047) with hemoglobin levels in adolescent girls. There is a relationship between protein intake, physical activity, and household food security with hemoglobin levels among adolescent girls.
Hubungan Usia, Jenis Kelamin, Status Hipertensi, dan Status Glukosa Darah Sewaktu dengan Status Gizi pada Pekerja di Jababeka Cikarang Widya Lestari Nurpratama; Nur Fauzia Asmi; Dandi Sanjaya Sanjaya; Siti Hadrayanti Ananda; Sugirah Nour Rahman
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 13, No 1 (2026): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (JUNI)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v13i1.24039

Abstract

Status Gizi yang baik dapat meningkatkan produktifitas pada tenaga kerja. Status gizi yang tidak normal dapat menimbulkan permasalahan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran usia, jenis kelamin, status hipertensi dan gula darah sewaktu dengan status gizi pada pekerja di Jababeka Cikarang. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 81 responden. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (0,482), jenis kelamin (0,235), status hipertensi (0,811) dan status Gula Darah Sewaktu (GDS) (0,564) dengan status gizi (>0,05).  Kesimpulan dalam penelitian ini adalah status gizi pada pekerja dalam penelitian ini tidak dipengaruhi secara langsung oleh faktor-faktor tersebut, sehingga penelitian lanjutkan dapat dilakukan dengan melihat pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup kerja. 
Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Obesitas pada Anak di Sekolah Dasar Cikarang Kota Kabupaten Bekasi Hidayah, Feni; Dandi Sanjaya; Deni Alamsah; Nur Fauzia Asmi
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i1.5499

Abstract

Childhood obesity is a global health problem whose prevalence continues to increase, including in Indonesia. An imbalanced diet contributes to the accumulation of body fat. This condition impacts the physical, psychological, and social health of children so it needs to be prevented through healthy eating habits from school age. This study aims to determine the relationship between eating patterns and the incidence of obesity in elementary school children in Cikarang City, Bekasi Regency. This study is quantitative using a cross-sectional design. The sampling technique uses a non-probability sampling method with a purposive sampling approach. Data were obtained by anthropometric measurements, filling out a food frequency questionnaire (FFQ) guided by the researcher. Data analysis was carried out to test the hypothesis using the Chi-Square test using SPSS, the study was conducted at Cikarang City Elementary School, Bekasi Regency in June 2025. The results of the study from a total of 43 children as the study sample, there were 30 children (69.8%) who were obese. In addition, 24 children (55.8) were found to have inadequate eating patterns. The results of the statistical analysis of the relationship between eating patterns and obesity (p-value 0.001). There is a significant relationship between eating patterns and the incidence of obesity in elementary school children in Cikarang City, Bekasi Regency.  
Hubungan Tingkat Pengetahuan terhadap Keterampilan Kader dalam Pengukuran Tinggi Badan dan Berat Badan Balita di Posyandu Cikarang Selatan Dzandini, Putri Budianingsih; Alamsah, Deni; Asmi, Nur Fauzia; Nurpratama, Widya Lestari
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2026): Januari: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i1.5523

Abstract

Inaccuracies in anthropometric measurements of toddlers caused by improper positioning are a significant issue that can hinder early detection of stunting and other nutritional problems. This study aims to evaluate the relationship between cadres' length of service and knowledge level with their skills in performing anthropometric measurements of toddlers in the Cikarang Selatan area. This study was conducted using a quantitative approach. The design used for this study was cross-sectional. 41 cadres who met the inclusion criteria were included in the working area of Cikarang Selatan Subdistrict, specifically in Pasirsari Village, Bekasi Regency. Data analysis was conducted using the chi-square test to examine relationships between variables. The analysis showed that cadre knowledge was also significantly associated with the skill of measuring height (p-value = 0.000; OR = 45.500). However, the relationship between knowledge and the skill of measuring weight did not reach statistical significance (p-value = 0.120; OR = 2.963). The findings of this study indicate that cadre knowledge has a significant effect on the skill of measuring height. Conversely, knowledge was not proven to have a significant relationship with the skill of measuring weight. Cadres with adequate knowledge tend to have better skills in measuring both the height and weight of toddlers.
Hubungan Usia, Jenis Kelamin, Status Hipertensi, dan Status Glukosa Darah Sewaktu dengan Status Gizi pada Pekerja di Jababeka Cikarang Widya Lestari Nurpratama; Nur Fauzia Asmi; Dandi Sanjaya Sanjaya; Siti Hadrayanti Ananda; Sugirah Nour Rahman
An-Nadaa : Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 13 No 1 (2026): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (JUNI)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v13i1.24039

Abstract

Status Gizi yang baik dapat meningkatkan produktifitas pada tenaga kerja. Status gizi yang tidak normal dapat menimbulkan permasalahan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran usia, jenis kelamin, status hipertensi dan gula darah sewaktu dengan status gizi pada pekerja di Jababeka Cikarang. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 81 responden. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (0,482), jenis kelamin (0,235), status hipertensi (0,811) dan status Gula Darah Sewaktu (GDS) (0,564) dengan status gizi (>0,05).  Kesimpulan dalam penelitian ini adalah status gizi pada pekerja dalam penelitian ini tidak dipengaruhi secara langsung oleh faktor-faktor tersebut, sehingga penelitian lanjutkan dapat dilakukan dengan melihat pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup kerja. 
Pengaruh intervensi pangan lokal dan konseling gizi terhadap stunting pada balita Widya Lestari Nurpratama; Nur Fauzia Asmi; Anom Dwi Prakoso
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 5, No 3B (2024): Nopember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v5i3B.2177

Abstract

Background: Handling of stunting can be done through comprehensive intervention and not only done with one intervention method, namely by providing local food according to the contents of my plate and nutritional education for mothers of toddlers through individual counseling methods.Objectives: The purpose of this study was to analyze the differences in Body Weight, Height, and maternal knowledge before and after local food intervention and nutritional counseling were carried out on stunted toddlers in Bekasi Regency.Method: Experimental research method, pre-experimental research design with one group pretest-posttest design model, conducted in Pasir Gombong Village, North Cikarang District, Bekasi. The research was conducted from August - September 2024. The subjects of the study were 15 stunted toddlers taken based on purposive sampling techniques according to inclusion and exclusion criteria and data processing using the Wilcoxon test. The interventions provided were nutritional counseling in two meetings, and feeding for 14 days. The data collected in the form of maternal nutritional knowledge and toddler characteristics were conducted through questionnaire interviews. Weight data was measured using a digital scale and toddler height was measured using a stature meter.Results: The average weight increased after the intervention by 0.1 kg, but was not significantly different (p = 0.148). The average height increased after the intervention by 0.2 cm and was significantly different (p = 0.027). Then the mother's knowledge increased by 7.7 points and was significantly different (p = 0.011).Conclusion: There are differences in weight, height, and knowledge of mothers of toddlers before and after local food intervention and nutrition education with the nutrition counseling method for stunted toddlers in Bekasi Regency.
Uji organoleptik dan kandungan gizi cookies moricorn (moringa oleifera, jagung, dan kacang tanah) sebagai alternatif camilan remaja Nur Fauzia Asmi; Dandi Sanjaya; Deni Alamsyah; Widya Lestari Nurpratama; Utami Putri Kinayungan
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2026): April
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v7i1.2852

Abstract

Background: Inadequate nutritional intake during adolescence can lead to various health problems, such as anemia and obesity. The urgency of this research is due to unhealthy snacking habits in adolescents and the lack of vegetable and fruit consumption, which results in anemia at a prevalence of up to 15.5%, and the high prevalence of central obesity and being overweight in adolescents, at 14.8%. The use of local foods such as moringa, which is high in iron, peanuts as an alternative source of protein, and corn as a source of carbohydrates can be an alternative complex snack for adolescents with optimal nutritional content.Objectives: This study aimed to create a formula for “moringa oleifera, corn, and peanut” cookies made from a mixture of moringa flour, corn flour, and peanuts as a healthy snack alternative for teenagers.Methods: This experimental study was conducted in the Food Processing and Dietetics Laboratory of the Bachelor of Nutrition Study Program in 2025. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with 3 combined formulations, namely substitution of moringa flour: corn flour: peanuts with formula 1 (F1 = 5%: 65%: 30%), formula 2 (F2 = 10%: 60%: 30%) formula 3 (F3 = 15%: 55%: 30%). Furthermore, a hedonic test was carried out based on color, aroma, taste, texture and overal with a total of 30 panelists. Nutritional content was determined using the Indonesian Food Composition Table of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2020. The hedonic test was the Kruskal Wallis test and the Mann Whitney advanced testusing the SPSS application.Results: Organoleptic test results revealed the highest average value for color parameters in F1 (3.20 ± 0.664), aroma in F2 (2.87 ± 0.629), taste in F1 (3.47 ± 0.629), aroma in F1 (2.8 ± 0.59), texture in F2 (3.03 ± 0.718), and overall in F1 (3.30 ± 0.596). The Kruskal–Wallis test revealed differences in the treatment of F1, F2, and F3 in terms of color, taste, and overall parameters. Further Mann-Whitney tests showed that there were significant differences in colour parameters (p <0.05) in F1 and F2, F1 and F3, taste parameters (p <0.05) in F1 and F3, F2 and F3 and overall (p <0.05) in F1 and F3, F2 and F3. The nutritional value of every 6 grams of cookies (1 piece) in F1 is 53.61 kcal of energy, 1.65 g of protein, 3.02 g of fat, 7.86 g of carbohydrates, and 0.39 mg of iron.Conclusion: The formulation of "moricorn" cookies (M. oleifera, corn, and peanut) showed significant differences in color, flavor, and overall performance. The cookie with the best formulation, F1, can be used as a nutritious snack alternative for teenagers, especially as a source of additional energy and iron.
Gambaran Penyelenggaraan Makanan pada Rumah Tangga di Desa Pasir Gombong Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Kiki Puspasari; Nur Fauzia Asmi; Deni Alamsah
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 1 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i1.2024.220-226

Abstract

Latar Belakang: Penyelenggaraan makanan yaitu proses memasak yang dimulai dari perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, perencanaan anggaran belanja, pengadaan, penyimpanan serta penerimaan bahan makanan. Rumah tangga merupakan penyelenggaraan makanan tingkat keluarga yang paling sederhana. Berbeda dengan penyelenggaraan makanan institusi yang menerapkan standar operasional produksi (SOP) dan aturan yang berlaku, pada tingkat rumah tangga tidak terdapat hal seperti itu. Tidak ada pengawasan ketat proses pengolahan makanan pada tingkat rumah tangga, maka yang dapat mengatur yaitu ibu atau orang yang bertugas memasak di dalam rumah tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran penyelenggaraan makanan pada tingkat rumah tangga di Desa Pasir Gombong Kecamatan Cikarang Utara Kabupetan Bekasi. Metode: Metode pada penelitian menggunakan desain cross-sectional study, tempat penelitian di Desa Pasir Gombong, dimulai pada bulan Oktober 2022, responden pada penelitian ini berjumlah 94 orang. Variabel yang dikumpulkan pada penelitian ini yaitu karakteristik responden, persiapan bahan makanan, pengolahan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, dan penyajian bahan makanan dengan menganalisis menggunakan SPSS. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu analisis deskriptif untuk melihat gambaran penyelenggaraan makanan pada tingkat rumah tangga. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu, rumah tangga di Desa Pasir Gombong telah menerapkan proses penyelenggaraan makanan dengan baik. Proses persiapan bahan makanan dilakukan oleh responden dengan mempersiapkan terlebih dahulu sebelum memasak, penyimpanan bahan makanan disimpan di tempat tertutup dan memisahkan bahan kering dan segar, reponden lebih senang menumis dibandingkan menggoreng dan merebus. Penyajian makanan langsung disajikan setelah memasak dan kebisaan makan keluarga sering dilakukan terutama pada malam hari. Kesimpulan: Penyelenggaraan pada tingkat rumah tangga terdiri dari persiapan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan bahan makanan sampai ke penyajian bahan makanan. Pada tingkat rumah tangga penyelenggaraan makanan lebih sederhana dibandingkan penyelenggaraan makanan pada tingkat institusi yang memiliki SOP dan aturan. Perlu diberikan edukasi mengenai penyelenggaraan makanan yang baik pada tingkat rumah tangga dengan melibatkan petugas kesehatan setempat
Hubungan pengetahuan dan sikap dengan praktik keamanan pangan pada penjaja jajanan sekolah di Desa Pasir Gombong, Bekasi Utami Putri Kinayungan; Widya Lestari Nurpratama; Nur Fauzia Asmi; Dandi Sanjaya; Deni Alamsah
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2026): Agustus
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v7i2.3006

Abstract

Background: Food safety is essential for preventing foodborne diseases, particularly among schoolchildren who frequently consume snacks of uncertain hygienic quality. Evidence of hazardous food additives and microbial contamination in school snacks indicates the need to understand the behavioral factors underlying food safety practices among vendors.Objective: This study aimed to analyze the dominant factors associated with food safety practices among school snack vendors in Pasir Gombong Village, Bekasi, Indonesia.Methods: A cross-sectional study was conducted among 50 school snack vendors selected through accidental sampling in June 2025. Data were collected using structured interviews and validated questionnaires. Knowledge, attitudes, respondent characteristics, and food safety practices were analyzed using the chi-square test and multivariable logistic regression.Results: Knowledge and attitudes were significantly associated with food safety practices after adjustment for other variables. Vendors with good knowledge had 28.15 times higher odds of implementing good food safety practices than vendors with poor knowledge (OR = 28.15; p = 0.013). Vendors with positive attitudes had 12.86 times higher odds of implementing good practices than those with negative attitudes (OR = 12.86; p = 0.041).Conclusion: Knowledge and attitudes were the dominant factors associated with food safety practices. Food safety education should combine theoretical material with demonstrations, hands-on practice, and simulation to strengthen vendors’ knowledge, attitudes, and practical skills.
Keterkaitan Body Image dengan Pola Konsumsi Minuman Manis serta Sayur dan Buah pada Siswi SMA di Cikarang Selatan Almadhiya mujahidah; Nur Fauzia Asmi; Dandi Sanjaya; Utami Putri Kinayungan
An-Najat Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus: An-Najat: Jurnal Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : STIKes Ibnu Sina Ajibarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59841/an-najat.v4i3.3841

Abstract

Masalah gizi ganda, yaitu kondisi gizi kurang dan gizi lebih yang muncul bersamaan, masih menjadi tantangan pada kelompok remaja Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 mencatat bahwa remaja putri usia 16–18 tahun di Jawa Barat mengalami sangat kurus sebesar 1,9%, kurus 6,3%, gemuk 8,9%, dan obesitas 4,2%. Di samping itu, konsumsi minuman manis secara rutin masih dilakukan oleh 47,5% penduduk, sedangkan 96,7% penduduk belum mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran. Kondisi psikologis seperti persepsi body image diduga turut meningkatkan risiko gizi ganda tersebut pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan mengungkap keterkaitan antara body image dengan frekuensi konsumsi minuman manis, sayur, dan buah pada siswi di SMAN 1 Cikarang Selatan. Desain cross-sectional diterapkan pada 81 siswi kelas XI yang dipilih melalui teknik quota sampling, dengan uji Chi-Square digunakan untuk menganalisis hubungan antarvariabel secara bivariat. Mayoritas responden, sebanyak 80,2%, tergolong memiliki body image kategori tinggi, sedangkan sisanya (19,8%) berada pada kategori rendah, pola konsumsi ketiga jenis pangan tersebut pun didominasi kategori jarang. Uji statistik membuktikan keterkaitan yang bermakna antara body image dengan konsumsi minuman manis (p<0,001) dan sayur (p=0,027), namun hubungan tersebut tidak terbukti pada konsumsi buah (p=0,869). Dapat disimpulkan bahwa persepsi body image berperan dalam membentuk kebiasaan konsumsi minuman manis dan sayur pada remaja putri, sehingga penguatan edukasi gizi di sekolah serta pembentukan persepsi tubuh yang positif perlu terus digalakkan.