Claim Missing Document
Check
Articles

Prolonged infusion causes an increase in the incidence of phlebitis in hospitalized patients: a systematic review Muh. Ainul Falihin; Arief Bachtiar; Tri Johan Agus Yuswanto
Media Keperawatan Indonesia Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/mki.6.2.2023.166-171

Abstract

Infusion is a medical therapy carried out invasively using an effective method to supply fluids, electrolytes, nutrients, and drugs through the blood vessels. Intravenous therapy should be monitored continuously because fluid and electrolyte imbalances can endanger the patient. However, the long-term infusion can increase the occurrence of an infection in the blood vessels called phlebitis. This study literature aims to find evidence of a relationship between the duration of use of intravenous infusions and the incidence of phlebitis. The Study Literature method is a Systematic Literature Review. This Study Literature uses five research journals from the Google Scholar and PubMed databases. The analysis of 5 journals showed a relationship between the infusion length and phlebitis incidence. It is expected that the nurses on duty are expected to be able to pay attention to the time and date of the patient's intravenous infusion and replace the intravenous infusion no more than three days or 72 hours. Further researchers are expected to be able to develop this literature study using other study focuses, namely in the form of factors that can affect phlebitis and increase information, references, and insights in using Literature review as a reference for compiling the final project.
Efektifitas Pembersihan Lantai Kamar Operasi Zona 4 dan Jumlah Koloni Bakteri di Instalasi Bedah Sentral Fiashriel Lundy; Tavip Dwi Wahyuni; Tri Johan Agus Yuswanto
Jurnal Keperawatan Terapan Vol 3 No 2 (2017): Jurnal Keperawatan Terapan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jkt.v(3)i(2)y(2017).page:80-87

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pembersihan lantai kamar operasizona 4 terhadap jumlah koloni bakteri di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini observatif analitik Cross Sectional. Sampeldari penelitian ini ialah lantai kamar operasi bersih terkontaminasi dan lantai kamar operasi kotoryang diambil dengan swab lantai pada 3 ronde di IBS RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Pengumpulan datamenggunakan lembar observasi jumlah koloni bakteri dan lembar observasi pembersihan lantai kamaroperasi zona 4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa p value sebesar 0,004, yang berartibahwa ada efektivitas pembersihan lantai kamar operasi zona 4 terhadap jumlah koloni bakteri dilantai. Rekomendasi hasil penelitian ini ialah perlunya perhatian dalam hal melakukan pembersihanterutama lantai untuk menekan jumlah angka bakteri di lantai khususnya lantai kamar operasi zona 4.
Interpersonal relationship communication training according to Peplau theory improves nursing team cooperation in the operating room of Haji Hospital, East Java Province, Surabaya Yuswanto, Tri Johan Agus; Andriani, Wahyu; Sepdianto, Tri Cahyo; Anjaswarni, Tri
Jurnal Keperawatan Vol. 15 No. 02 (2024): July
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jk.v15i02.34931

Abstract

Introduction: Interpersonal communication is a competency that must be possessed to foster cooperation. Failure in communication will reduce cooperation, which will impact the quality of service, especially in the operating room. Objectives: The aim of this research is to prove the effect of interpersonal relationship communication training according to Peplau's theory on nursing team collaboration in the operating room of the Haji Hospital, East Java Province. Methods: The quasi-experimental research method uses a pre-test-post-test control group design. The independent variable is interpersonal communication training. The dependent variable is the collaboration of the nursing team in the operating room. Data analysis using Wilcoxon and Mann-Whitney tests. The sample consisted of 25 nurses, with 13 in the treatment group and 12 in the control group. Results: The results of the Wilcoxon signed rank test for the treatment group were p = 0.002 ≤  = 0.05. There was a significant difference between the pre-test and post-test results in the treatment group. In the control group, the Wilcoxon test obtained p = 1.00 ≥  = 0.05, meaning there was no difference between the pre-test and post-test results. In the Mann-Whitney U test post-test for the treatment and control groups, the p value was 0.004 ≤ = 0.05, indicating that there is an influence of interpersonal relationship communication training on nursing team collaboration. Conclusion: Nurses' interpersonal communication in the operating room is very important to improve teamwork. Nurses are expected to improve interpersonal communication and teamwork.
Masa Kerja, Frekuensi Kerja, Durasi Kerja, dan Paparan Limbah Medis berhubungan dengan Status Kesehatan: Penelitian Observasional pada Perawat Ruang Operasi Sa’adah, Nabila Nida; Pertami, Sumirah Budi; Yuswanto, Tri Johan Agus
Health Information : Jurnal Penelitian Vol 15 No 2 (2023): Mei-Agustus
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36990/hijp.v15i2.1074

Abstract

Perawat ruang operasi merupakan tenaga kesehatan yang beresiko terkena paparan limbah medis.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan masa kerja, frekuensi, durasi dan paparan limbah medis dengan status kesehatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan besar sampel adalah 19 responden. Teknik pengambilan sampel ialah total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara masa kerja dengan status kesehatan (0,006 < 0,05) ada hubungan antara frekuensi dan status kesehatan (0,024 <  0,05) dan ada hubungan antara durasi dan status kesehatan (0,001 <  0,05) dan ada hubungan antara paparan limbah dan status kesehatan (0,020 < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa masa kerja, frekuensi, durasi dan paparan limbah medis (ruang OK) berhubungan dengan status kesehatan perawat. Sehingga diharapkan perawat dapat menjaga status kesehatannya dengan cara melindungi diri saat bekerja dan rutin melakukan cek kesehatan secara berkala.
Efektifitas One Student One Family Dalam Pencegahan Kedaruratan Malaria Pada Balita Abselian, Umbu Putal; Yuswanto, Tri Johan Agus; Ramlan, Djamaluddin
Health Information : Jurnal Penelitian Vol 15 No 3 (2023): September-Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36990/hijp.v15i3.1217

Abstract

Penyakit malaria masih menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat Indonesia khususnya di Kabupaten Sumba Timur. Salah satu upaya yang dilakukan melalui pendampingan One Student One Family (OSOF) yang melibatkan mahasiswa perawat sebagai pendamping keluarga yang mempunyai balita menderita malaria. Adapun kegiatan pendampingan OSOF meliputi penemuan kasus, pemantauan keteraturan minum obat, cara merawat balita yang sakit, follow up, serta pendidikan kesehatan tentang malaria dan pencegahannya. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga Balita dalam pencegahan kedaruratan Malaria pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Metode penelitian pre-eksperimen dengan rancangan pre-test dan post-test control group design. Sampel penelitian berjumlah 40 responden dibagi dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan analisis non parametrik t-tes. Pada kelompok intervensi menggunakan metode OSOF, pada kelompok kontrol menggunakan SPO malaria. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendampingan OSOF sangat efektif terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku keluarga dalam mencegah kedaruratan malaria pada balita dengan p=0.000 (p<0.05). Kedua kelompok responden sama-sama mengalami peningkatan nilai setelah perlakuan, namun peningkatan nilai lebih besar pada kelompok intervensi yang menggunakan metode OSOF. Kesimpulannya ada pengaruh pendampingan OSOF terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku dalam mencegah kedaruratan malaria pada Balita.
Hubungan Derajat Merokok dengan Aldrete score pada Pasien Post General Anestesi YUSWANTO, TRI JOHAN AGUS; PRIMANINGSIH, DEWI; Bachtiar, Arief .; SEPTDIANTO, TRI CAHYO
Health Information : Jurnal Penelitian Vol 16 No 3 (2024): September-Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36990/hijp.v16i3.1536

Abstract

Ringkasan: Latar Belakang: Merokok mempengaruhi sirkulasi dan pernapasan pasien pasca operasi yang merupakan komponen penilaian Aldrete score. Pemulihan pasca anestesi umum memerlukan monitoring ketat untuk mencegah komplikasi dan morbiditas. Tujuan: Menganalisis hubungan antara derajat merokok dengan Aldrete score pada pasien post operasi dengan general anestesi. Metode: Penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional terhadap 67 responden perokok aktif yang menjalani operasi general anestesi di RSUD Karsa Husada Batu. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Indeks Brinkman dan lembar observasi Aldrete score. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara derajat merokok dengan Aldrete score (p=0,001) dengan koefisien korelasi -0,754, menunjukkan korelasi kuat arah negatif. Semakin tinggi derajat merokok, semakin rendah nilai Aldrete score. Simpulan: Derajat merokok berhubungan dengan penurunan Aldrete score pada pasien post general anestesi. Saran: Tenaga kesehatan perlu memperhatikan riwayat merokok dan monitoring ketat fase pulih sadar pasien perokok.
Terapi Pernapasan Buteyko dapat Menurunkan Derajat Asma Wardani, Retno Wisnu; Yuswanto, Tri Johan Agus; Sulastyawati, Sulastyawati; Marsaid, Marsaid
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14nk201

Abstract

Overuse of asthma medications and overdosage can exacerbate the degree of asthma. So there are several alternative treatments, one of which is buteyko respiratory therapy. The purpose of this study was to determine the effect of buteyko breathing therapy on the degree of asthma. The design of this study was a non-equivalent group, which used a control group and an experimental group that was treated with buteyko breathing therapy. This study involved 25 asthma sufferers who were selected by total population sampling. Differences in asthma status between before and after treatment were analyzed using paired sample t-test. The results showed that there was a difference in the degree of asthma between before and after treatment in the experimental group with a value of p = 0.000, meaning that the degree of asthma had decreased significantly. It was concluded that buteyko breathing therapy is effective for reducing or controlling the degree of asthma.Keywords: buteyko respiratory therapy; asthma degree; asthma patient ABSTRAK Penggunaan obat asma yang terlalu dan kelebihan dosis dapat memperberat derajat asma. Maka ada beberapa penanganan alternatif, salah satunya adalah terapi pernapasan buteyko. Tujuan penilitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi pernapasan buteyko terhadap derajat asma. Rancangan penelitian ini adalah non-equivalent group, yang menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang diberi perlakuan dengan terapi pernapasan buteyko. Penelitian ini melibatkan 25 penderita asma yang dipilih secara total population sampling. Perbedaan status asma antara sebelum dan sesudah perlakuan dianalisis menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan derajat asma antara sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen dengan nilai p = 0,000, artinya derajat asma mengalami penurunan secara signifikan. Disimpulkan bahwa terapi pernapasan buteyko efektif untuk untuk mengurangi atau mengontrol derajat asma.Kata kunci: terapi pernapasan buteyko; derajat asma; pasien asma
Aromaterapi Jahe Efektif menurunkan Post Operative Nausea and Vomiting pada Pasien Post General Anestesi di RSUD Kanjuruhan Asriani, Nilam Suci; Yuswanto, Tri Johan Agus Agus; Arif, Taufan
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14407

Abstract

General anesthesia can cause side effects such as post operative nausea and vomiting. This study aims to determine which is more effective between early mobilization and ginger aromatherapy for post operative nausea and vomiting in post general anesthesia patients at Kanjuruhan Hospital B. The research method used was "quasy experimental" with a "three group pretest posttest with control group design" approach. The sampling technique in this study used the non probability sampling technique with a purposive sampling approach. Where the sample in this study were 33 people divided into 3 groups. Determination of respondents based on the inclusion criteria of post general anesthesia patients who experienced PONV. The independent variables of this study were early mobilization and ginger aromatherapy while the dependent variable was post operative nausea and vomiting. The data collection technique uses the respondent's observation sheet. The analytical test used was the Wilcoxon signed rank test, Mann Whitney U and Kruskal Wallis. The results of the Wilcoxon signed rank test statistical test showed significant differences in the early mobilization group with a p-value of 0.004 (p <0.05) and in the ginger aromatherapy group with a p-value of 0.002 (p <0.05). Early mobilization and aromatherapy had an effect on reducing PONV, but ginger aromatherapy was more effective than early mobilization.Keywords: early mobilization; ginger aromatherapy; post operative nausea and vomiting; general anesthesia ABSTRAK General anestesi dapat menyebabkan efek samping berupa post operative nausea and vomiting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mana yang lebih efektif antara mobilisasi dini dan aromaterapi jahe terhadap post operative nausea and vomiting pada pasien post general anestesi di RSUD Kanjuruhan. Metode penelitian yang digunakan yaitu “quasy experimental” dengan pendekatan “three group pretest postest with control group design” Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan pendekatan purposive sampling. Dimana sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 33 orang dibagi menjadi 3 kelompok. Penentuan responden berdasarkan kriteria inklusi pasien post general anestesi yang mengalami PONV. Variabel bebas dari penelitian ini adalah mobilisasi dini dan aromaterapi jahe sedangkan variabel terikatnya ialah post operative nausea and vomiting. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi responden. Uji analisis yang digunakan adalah uji wilcoxon signed rank test dan mann whitney u. Hasil uji statistic wilcoxon signed rank test menunjukkan perbedaan signifikan pada kelompok mobilisasi dini dengan p-value 0.004 (p<0.05) dan pada kelompok aromaterapi jahe dengan p-value 0.002 (p<0.05). Mobilisasi dini dan aromaterapi berpengaruh dalam menurunkan PONV, namun aromaterapi jahe lebih efektif dibandingkan mobilisasi dini.  Kata kunci: mobilisasi dini; aromaterapi jahe; post operative nausea and vomiting; general anestesi
Latihan Aktivitas (NYHA) Meningkatkan Hemodinamik pada Klien dengan Chronic Heart Failure Apriliani, Dyah Tri; Yuswanto, Tri Johan Agus; Sulistyowati, Dina Indrati Dyah
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14nk203

Abstract

Heart disease is a non-communicable disease that is included in the category of diseases that cause many deaths in the world. One of the consequences that often arise from heart disease is dyspnea and also shortness of breath which will later be directly related to the occurrence of activity intolerance in patients, it is necessary to carry out nursing care based on the activity level that the patient is still able to carry out. This study was conducted to determine the effect of implementing activity training on hemodynamic changes in patients with Chronic Heart Failure. This study applied a pretest-posttest with control group design, which involved 60 respondents who were divided into 3 groups namely the NYHA 1 intervention group, the NYHA 2 intervention group, and the control group which was a combination of NYHA 1 and NYHA 2. The pretest was carried out by measuring hemodynamics (pressure blood pressure, pulse, respiratory rate, oxygen saturation). Intervention in the NYHA 1 group was given light walking activity for 23 minutes, in the NYHA 2 group for 18 minutes and the control group was given 6SMWT activity or walking with a duration of 6 minutes. Each group was given diving treatment 3 times in 1 week. Posttest was carried out by measuring hemodynamics (blood pressure, pulse, respiratory rate, oxygen saturation) which was carried out after the respondent had rested for 15 minutes. Data analysis was performed using the Wilcoxon test to compare the hemodynamics before and after each treatment. On systolic blood pressure measurements, the p values were: control = 0.049, NYHA 1 = 0.000, NYHA 2 = 0.007. On measuring diastolic blood pressure, the p values were: control = 0.020, NYHA 1 = 0.001, NYHA 2 = 0.004. On pulse measurement, the p values were: control = 0.015, NYHA 1 = 0.003, NYHA 2 = 0.004. In measuring the respiratory rate, the p values were: control = 0.015, NYHA 1 = 0.005, NYHA 2 = 0.005. On oxygen saturation measurements, the p values were: control = 0.034, NYHA 1 = 0.000, NYHA 2 = 0.001. The conclusion in this study is that giving exercise activities improves hemodynamics in clients with Chronic Heart Failure.Keywords: chronic heart failure; hemodynamics; physical training ABSTRAK Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masuk dalam kategori penyakit yang mengakibatkan banyak kematian di dunia. Salah satu akibat yang sering ditimbulkan dari penyakit jantung yakni dyspnea dan juga sesak nafas yang nantinya akan berhubungan langsung dengan terjadinya intoleran aktifitas pada pasien, maka perlu dilakukan asuhan keperawatan dengan berpedoman pada tingkat aktifitas yang masih mampu dilakukan oleh pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan latihan aktivitas terhadap perubahan hemodinamik pada pasien dengan Chronic Heart Failure. Penelitian ini menerapkan rancangan pretest-posttest with control group, yang melibatkan 60 responden yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok intervensi NYHA 1, kelompok intervensi NYHA 2, dan kelompok kontrol yakni gabungan antara NYHA 1 dan NYHA 2. Pretest dilakukan dengan pengukuran hemodinamik (tekanan darah, nadi, respiratory rate, saturasi oksigen). Intervensi pada kelompok NYHA 1 diberikan aktifitas berjalan ringan selama 23 menit, pada kelompok NYHA 2 selama 18 menit dan pada kelompok kontrol diberikan aktifitas 6SMWT atau berjalan dengan durasi 6 menit. Masing-masing kelompok diberikan perlakuan selam 3 kali dalam 1 minggu. Posttest dilakukan dengan pengukuran hemodinamik (tekanan darah, nadi, respiratory rate, saturasi oksigen) yang dilakukan setelah responden beristirahat selama 15 menit. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon untuk membandingkan hemodinamik masing-masing sebelum dan sesudah perlakuan. Pada pengukuran tekanan darah sistolik, nilai p adalah: kontrol = 0,049, NYHA 1 = 0,000, NYHA 2 = 0,007. Pada pengukuran tekanan darah diastolik, nilai p adalah: kontrol = 0,020, NYHA 1 = 0,001, NYHA 2 = 0,004. Pada pengukuran nadi, nilai p adalah: kontrol = 0,015, NYHA 1 = 0,003, NYHA 2 = 0,004. Pada pengukuran respiratory rate, nilai p adalah: kontrol = 0,015, NYHA 1 = 0,005, NYHA 2 = 0,005. Pada pengukuran saturasi oksigen, nilai p adalah: kontrol = 0,034, NYHA 1 = 0,000, NYHA 2 = 0,001. Kesimpulan pada penelitian ini adalah pemberian latihan aktivitas meningkatkan hemodinamik pada klien dengan Chronic Heart Failure.Kata kunci: chronic heart failure; hemodinamik; latihan fisik
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Post Anasthesia Shivering pada Pasien Pasca Spinal Anasthesia di RSUD Bangil Sholehah, Ummatus; Ciptaningtyas, Maria Diah; Yuswanto, Tri Johan Agus Agus
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 4 (2023): Oktober - Desember 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf14404

Abstract

Spinal anesthesia is a type of anesthesia that is injected into the cerebrospinal fluid (CSF) when the patient is about to undergo surgery. Spinal anesthesia causes hypothermia which triggers shivering. Shivering is the body's attempt to increase heat production and increase body temperature. To determine the factors associated with the incidence of post-anesthesia shivering in post-spinal anesthesia patients. Correlation research with a cross sectional approach. The research sample is 73 respondents using accidental sampling data collection technique. This study used the Chi-Square test, point biserial and logistic regression test as statistical analysis tests. The results of the logistic regression test showed that the duration of surgery was the top factor in the modeling, then BMI and ambient temperature. Factors that were not included in the modeling were gender, age, ASA status, type of surgery, comorbidities, and preoperative body temperature. There is a relationship between body mass index, duration of surgery, ambient temperature and the incidence of post-anesthesia shivering and there is no relationship between gender, age, type of surgery, comorbidities, and preoperative body temperature with shivering. The duration of surgery is the factor that is most related to the incidence of post-anesthesia shivering in post-spinal anesthesia patientsKeywords: post-spinal anesthesia patients; shivering factors; post anaesthesia shivering ABSTRAK Spinal anasthesia adalah salah satu jenis anastesi yang disuntikkan ke cairan serebrospinal (csf) saat pasien akan menjalankan operasi. Anestesi spinal menyebabkan hipotermia yang memicu terjadinya shivering.  Shivering adalah upaya tubuh untuk meningkatkan produksi panas dan meningkatkan suhu tubuh. Untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian post anasthesia shivering pada pasien pasca spinal anasthesia. Penelitian korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 73 responden dengan teknik pengambilan data accidental sampling. Penelitian ini menggunakan uji Chi-Square, point biserial dan uji regresi logistik sebagai uji analisis statistik. Hasil uji regresi logistik didapatkan hasil lama pembedahan merupakan faktor yang paling atas masuk pemodelan kemudia IMT dan suhu lingkungan. Faktor yang tidak masuk pemodelan yaitu jenis kelamin, usia, status ASA, jenis pembedahan, komorbid, dan suhu tubuh preoperasi. Ada hubungan antara faktor indeks masa tubuh, lama pembedahan, suhu lingkungan dengan kejadian post anasthesia shivering serta tidak ada hubungan antara jenis kelamin, usia, jenis pembedahan, komorbid, dan suhu tubuh pre operasi dengan kejadian shivering. Lama pembedahn merupakan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian post anasthesia shivering pada pasien pasca spinal anasthesiaKata kunci: pasien pasca spinal anasthesia; faktor-faktor shivering; post anasthesia shivering
Co-Authors ABSELIAN, UMBU PUTAL Aida Nuriyanti Putri Alif Galih Pratama Aliya Fitri Rahmadina Andriani, Selfiyah Andriani, Wahyu Apriliani, Dyah Tri Arief Bachtiar Arief Bachtiar Arif, Taufan Arif, Taufan Arifin, Hidayat Arslan Kamil Aries Asriani, Nilam Suci Auridsa Nihlahani Bachtiar, Arief Bachtiar, Arief . Bagas Iman Bahreisy Cici Desiyani Cinta Septanium Krisno Putri Ciptaningtyas, Maria Diah Desy Rinawaty Diyah Fatmasari Djamaluddin Ramlan Djamaluddin Ramlan Djamaluddin Ramlan, Djamaluddin Dyah Widodo Eko Adi Putra Elfa Lailatul Izza Elfa Lailatul Izza Ernawati, Naya Febrina Secsaria Handini Ferry Efendi Fiashriel Lundy Lundy Fransisca Mareta D A FRANSISKUS SALESIUS ONGGANG Gede Dalem Gilang Mahajaya Putra Gita Kostania Heffy Maulidiyah Wardah Heru Santoso Wahito Nugroho I Ketut Gama I Ketut Sudiantara I Wayan Mustika Imam Subekti Intan Rizki Dwi Saputri Janah, Indra Ayu Miftakhul Jane Leo Mangi Joko Pitoyo Joko Wiyono Kamilus Mamoh Kamso, Sudijanto Kusnanto Kusnanto Kusnanto Kusnanto Lailiyatul Mufidah Lukman Perdana Sofyan Luluk Mamluatul Ulumy Luthfiyuddin Musthofa Mardiyono, Mardiyono Marsaid, Marsaid Marsaid, Marsaid Martzarini, Virginia Matje Meriati Huru Mohammad Afandi Muh. Ainul Falihin Nadia Sari Nadia Sari Naya Ernawati Ngesti W. Utami Ni Wayan Rusni Ningsih, Rastia Nursalam, Nursalam Nurul Hikmatul Qowi Pertami, Sumirah Budi Prabawa, Artha Prakosa, Mira Melynda PRIMANINGSIH, DEWI Rachmad Satriya Illahi Rita Yulifah Rochmawati, Dewi Roni Yuliwar Rudi Hamarno Rudi Hamarno Rudi Hamarno Sanglar Polnok Sa’adah, Nabila Nida SEPTDIANTO, TRI CAHYO Sholehah, Ummatus Solikhah, Fitriana Kurniasari Sri Wahyuni Badjuka Sugianto Hadi Sujono, Annisa Juliani Sulastyawati, Sulastyawati Sulistyowati, Dina Indrati Dyah Suparji Suparji Supono Supono Supono Supono Suprajitno Suprajitno, Suprajitno Suprapti, Suprapti taadi, Ta'adi Tanjung Subrata Tanko Titus AUTA Tanto Hariyanto Tavip Dwi Wahyuni Tavip Dwi Wahyuni Tiana Rachmadita Tri Anjaswarni Tri Cahyo Sepdianto Tris Eryando Trisna Sumadewi Wardani, Retno Wisnu Widya, Fina Wulandari, Elfitra Dwi Wulandari, Tri Lestari Zalena, Sarah