Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

KAJIAN PELESTARIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA MASJID HUNTO SULTAN AMAY GORONTALO Rachmadyanti, Resza; Wuisang, Cynthia E. V.; Warouw, Fela
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 12 No. 1 (2024): RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v12i1.440

Abstract

Abstract: Study on the Preservation of the Cultural Heritage Building Hunto Sultan Amay Mosque in Gorontalo. This research aims to examine and identify the significance of Islamic architecture, including architectural elements that form the building's character and Islamic architectural elements, and to analyze and determine the direction of preservation for the Hunto Sultan Amay Mosque. The methods used in this research include three approaches: descriptive analysis method, evaluative method (weighting), and development method. The identification results of the significance of Islamic architecture in the Hunto Sultan Amay Mosque are based on the original plan, which measures 12 x 12 m², including elements such as the dome, mihrab, and Islamic architectural ornaments such as calligraphy, floral, and geometric patterns that form aesthetics and characteristics similar to the Nabawi Mosque in the Middle East. The preservation directions for the Hunto Sultan Amay Mosque building are classified based on low, medium, and high potential levels. Based on the potential level determination, conservation directions for the building elements are then established according to their condition. There are seven high-potential elements and four medium-potential elements. The preservation directions for the Hunto Sultan Amay Mosque building are divided into preservation directions for four elements: columns, dome, mihrab, and arches; conservation directions for six elements: doors, walls, ornaments, ceiling, roof, and minaret; and restoration direction for one element: windows.
PUSAT EDUKASI BIOTANIKAL DI SULAWESI UTARA. Implementasi Eko Arsitektur dalam Desain. Melo, Rizania M. T.; Wuisang, Cynthia E. V.; Mastutie, Faizah
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.16806

Abstract

Sulawesi Utara adalah salah satu daerah yang memiliki kekayaan Keanekaragaman Hayati Ekosistem Flora di kawasan Wallacea. Ekosistem Terestial hutan di Sulawesi Utara saat ini berada dalam kondisi baik, dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Indonesia, namun seiring dengan semakin bertambahanya usia tumbuhan dan  perubahaan iklim yang sangat drastis dapat mengancam keberadaan sebuah ekosistem hayati dalam suatu daerah, kekayaan flora tersebut diperkenalkan kepada masyarakat secara luas guna menanggulangi pengrusakan lingkungan. Oleh karena itu maka pusat edukasi botanical merupakan wadah pengenalan flora Sulawesi Utara dengan ditunjang oleh sarana edukasi di dalamnya, sehingga pengenalan ekosistem hutan kepada masyarakat dapat menumbuhakan rasa penghargaan terhadap peran tanaman dalam kehidupan.Perancangan Pusat Edukasi botanikal di Sulawesi Utara ditujukan untuk masyarakat umum  peneliti khususnya di Sulawesi Utara agar kehidupan flora dapat memiliki kesempatan bertumbuh dan berkembang biak lebih baik dan bagaimana mengkomunikasikan manusia dengan tanaman secara intim dalam membentuk sebuah hubungan agar timbulnya rasa kesadaran akan pentingnya pelestarian keanekagaraman hayati. Besarnya suatu habitat sangat berpengaruh pada keterbatasan identifikasi, ekplorasi juga pengembangbiakkan tanaman untuk itu perlu dihairkannya ekosistem buatan yang dapat wadah penghasil informasi bagi setiap spesies tumbuhan dari berbagai daerah dan dunia. Kemudian bagaimana sistem kontrol terhadap iklim yang berperan sebagai kelangsungan hidup tumbuhan, dalah satu di dalamnya adalah respon tapak terhadap sirkulasi udara dan cahaya. Dari permasalahan yang ada tema Eko-Arsitektur adalah yang menjadi solusi karena tema merupakan bagian dari arsitektur lingkungan dengan permasalahan dari setiap dampak negatif yang di timbulkan dari perubahan Iklim. Dengan menggunakan media komunikasi berupa dome conservatory yang menyediakan display tanaman dari berbagai daerah di Indonesia, juga dari berbagai iklim di dunia, display rumah kaca dengan display tanaman hpengembangbiakkan secara hidroponik, juga untuk mempercepat penyerbukan dalam tanaman. Sistem ini juga dapat menjadi sarana komunikasi antar manusia dan tumbuhan karena adanya wahana edukasi habitat tumbuhan secara langsung.Kata Kunci : Botanikal, Lingkungan, Pusat Edukasi 
RESORT WEDDING CENTER DI MANADO. AMPHIBIOUS ARCHITECTURE Datu, Novianti R.; Egam, Pingkan P.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17115

Abstract

Resort Wedding Center di Manado adalah sebuah wadah yang melayani akan kebutuhan saat akan melaksanakan pernikahan maupun setelah pernikahan serta bangunan yang menyediakan jasa pelayanan, penginapan, makan dan minum, serta jasa lainnya juga sebagai tempat yang menyediakan sarana rekreasi sehingga dapat menarik minat para turis lokal maupun mancanegara.Wadah ini nantinya akan menjadi alternatif pemecah masalah bagi pasangan kekasih yang ingin menikah atau untuk liburan setelah pasca pernikahan. Amphibious Architecture merupakan tema yang dipilih agar tercipta sebuah Resort Wedding Center yang unik dan baru bagi pengunjungnya karena massa bangunan di desain berada di darat dan ada juga yang di atas air sehingga mampu memberikan sensasi yang berbeda-beda.Kota Manado sebagai kawasan  pengembangan tepian air / waterfront city memenuhi kriteria dalam penerapan tema, serta kota Manado sebagai kota pariwisata banyak menarik turis menjadikan  kota Manado memiliki prospek lokasi yang tinggi dalam pembangunan Resort Wedding Center.  Kata kunci: Wedding Center,Manado, Amphibious Architecture.
GEDUNG VERTIKULTUR DI MANADO. Bangunan Hemat Energi Poluan, Valentino S.; Gosal, Pierre H.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17259

Abstract

Visi pemerintah dalam pembangunan jangka menengah Kota Manado periode 2016-2021 yaitu “Manado Kota Cerdas 2021” atau “The Smart City of Manado in 2021”. Menurut laman smartcityindonesia.org, Smart City adalah konsep kota cerdas yang dirancang guna membantu berbagai hal kegiatan masyarakat, terutama dalam upaya mengelola sumber daya yang ada dengan efisien, memberikan kemudahan akses kepada masyarakat, untuk mengantisipasi kejadian yang tak terduga sebelumnya, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Ada beberapa masalah dalam mewujudkan Manado sebagai kota cerdas, salah satunya pertumbuhan penduduk setiap tahunnya jika dilihat dari data statistik penduduk kota Manado beberapa tahun kebelakang. Kebutuhan konsumsi pangan masyarakat juga berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk, perlu adanya solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Budidaya tanaman vertikal (Vertical Farming) atau Vertikultur di dalam gedung sebagai salah satu poin untuk mewujudkan kota Manado sebagai Smart City, konsep ini sudah populer dan di beberapa negara lainnya. Dengan menerapkan hemat energi pada desain maka bangunan dapat beroperasi tanpa memakan energi yang berlebihan. Lokasi perancangan objek berada di kawasan Megamas Manado dengan luas lahan 70.041,25 m2 untuk mewadahi fungsi: budidaya tanaman, hunian apartemen,  dan mall organik. Dalam penerapan konsep hemat energi pada bangunan penulis menggunakan sistem operasional bangunan menurut Yeang dalam jurnal Priaman, yaitu: Sistem Pasif, Sistem Hybrid, Sistem Aktif, dan Sistem Produktif.Kata kunci : Smart City, Vertikultur, Hemat Energi.
RE-DESIGN FASILITAS OLAHRAGA BERKUDA DI TOMPASO MINAHASA. Organic Architecture Nangoy, Windy M.; Wuisang, Cynthia E. V.; Karongkong, Hendriek H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17273

Abstract

Olahraga adalah salah satu kebutuhan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Olahraga berkuda merupakan salah satu cabang olahraga yang memacu sportivitas dan kreatifitas bagi sumber daya manusia. Sulawesi Utara sudah sejak lama menjadi daerah yang selalu turut ambil bagian dalam olahraga berkuda di Indonesia. Tompaso merupakan daerah yang dikenal dengan olahraga berkuda ini. Mengacu dari hal ini maka dihadirkan wadah untuk memfasilitasi dan menunjang berbagai macam kegiatan yang menyangkut olahraga berkuda. Mulai dari stadion pacuan kuda, peternakan kuda, bahkan sekolah berkuda. Stadion pacuan kuda yang memiliki penunjang dengan fasilitas yang bagus menjadi kebutuhan bagi masyarakat yang mempunyai minat akan olahraga berkuda. Tema “Arsitektur Organik” yaitu sebuah langkah untuk merancang, mendesain bangunan yang menghadirkan keselarasan dengan lingkungan sekitar dari beberapa konsep-konsep yang akan diterapkan. Penerapan akan bangunan yang selaras antara bangunan tempat melakukan kegiatan, dan alam, melalui desain yang harmonis antara lokasi, bangunan, interior, dan lingkungan menjadi komposisi yang dipersatukan dan kemudian saling berhubungan. Dengan penggunaan strategi tersebut diharapkan desain yang ada bisa memiliki keunikan tersendiri tanpa mengabaikan fungsi ruang bahkan bangunan sesungguhnya.Kata Kunci : Olahraga Berkuda, Stadion Pacuan Kuda, Arsitektur Organik
GELANGGANG REMAJA DI KOTA AMURANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN. Bahaviour Architecture Purukan, Meldrick A. G.; Egam, Pingkan P.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17285

Abstract

Remaja merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita, perjuangan dan pembangunan bangsa. Pendidikan para remaja sangat berpengaruh atas kualitas edukasi para remaja, yang berdampak pada pembentukan karakter suatu daerah dalam pengembanganya. Kota Amurang sebagai pusat kegiatan wilayah di daerah Kabupaten Minahasa Selatan mempunyai permasalahan tersendiri atas pengembangan dan pembentukan karakter para remaja. Maraknya kasus tawuran antar pelajar, penggunaan senjata tajam, narkoba dan minuman keras, menjadi hal yang tidak lasim lagi dalam lingkungan pergaulan muda mudi di Kota Amurang. Kurangnya perhatian pada remaja menjadi dampak permasalahan tersebut. Untuk meminimalisir berkembangnya hal – hal negatif yang dilakukan para remaja, kiranya perlu di hadirkan suatu sarana sebagai penyaluran aktivitas minat dan bakat dan mampu mengalihkan kegiatan remaja pada hal-hal yang lebih positif.Fasilitas dan sarana yang bergerak di bidang olahraga, seni, iptek dan pengembang diri atau mutu bagi remaja  sebagai wadah yang merupakan fasilitas pembinaan dan pengembangan fisik dan mental para remaja dalam bentuk edukatif kreatif, dan rekreatif. Rancangan Gelanggang remaja di Amurang ini menerapkan pendekatan tematik Behavior Architecture yang penerapannya selalu menyertakan pertimbangan - pertimbangan perilaku pengguna dan lingkungan sekitar dalam perancangan. Diharapkan dengan penerapan tema ini pada objek rancangan, dapat menghadirkan suatu ruang yang bisa menampung remaja dalam beraktifitas, bersosialisai dan berkreasi dalam perbedaan pada karakter remaja, dan ditunjang dengan berbagai fasilitas pendukung yang terpadu dan terarah, sebagai wadah yang menjadi solusi bagi permasalahan remaja di Kota Amurang. Kata Kunci : Penyalur Minat Bakat, Gelanggang Remaja, Amurang, Behavior Architecture
AGRO RESEARCH CENTER DI KOTAMOBAGU. Biomimicry dalam Arsitektur Hamin, Tiara D.; Wuisang, Cynthia E. V.; Rengkung, Michael M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17287

Abstract

Seiring dengan bertambahnya jumlah jiwa penduduk di Indonesia konsumsi hasil pertanian juga semakin meningkat. Kota Kotamobagu merupakan wilayah yang memiliki kawasan pertanian pangan yang seluas 3.250 ha. Terkait ketahanan pangan, Kotamobagu menjadi salah satu daerah dari Sulut yang diundang pemerintah pusat guna melakukan ketahanan pangan daerah. Rencananya setiap tahun ada persediaan pangan yang akan dibiayai oleh daerah, kurang lebih 2.500 ton. Selain itu belum tersedianya tempat untuk mengembangkan kualitas pertanian, maka pusat penelitian (research center) diharapkan mampu mewadahi kegiatan tersebut. Research Center atau Pusat penelitian adalah bangunan yang didirikan untuk penelitian. Bangunan ini menyediakan ruang dan fasilitas khusus untuk meneliti lebih spesifik tentang suatu obyek. Dengan penggunaan tema Arsitektur Biomimicry dalam perancangan sehingga mampu menghadirkan tempat penelitian yang memiliki perpaduan dengan alam serta fasilitas yang baik sehingga memberikan kenyamanan dalam penggunaannya.Kata kunci : Agro Research Center, Kotamobagu, Penelitian, Biomimicry.
PERPUSTAKAAN YAYASAN KRISTEN EBEN HAEZAR MANADO. Space as Language Muaya, Richie; Rogi, Octavianus H. A.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17472

Abstract

Perkembangan teknologi yang cukup pesat saat ini menyajikan beragam pilihan hiburan bagi pelajar di Kota Manado dan sekitarnya terlebih bagi siswa siswi Yayasan Eben Haezar. Dimana kecenderungan hiburan saat ini adalah pilihan hiburan yang konsumtif. Maka diperlukan perancangan suatu sarana yang tidak hanya bisa menghibur tapi sekaligus bersifat edukatif dan informative, yaitu Perpustakaan. Perpustakaan didesain dengan konsep yang fleksibel dan adaptif terhadap gaya hidup pelajar yang diaplikasikan dalam waktu dan fasilitas-fasilitasnya. perpustakaan dirancang dengan suasana yang menyenangkan, betah, dan privat sehingga pengunjung dapat membaca dengan suasana akrab seperti di rumah sendiri. Pemilihan site didasarkan pada pertimbangan karakteristik area dengan tingkat aktifitas yang tinggi. Berdasarkan tema Space as Language memungkinkan pengunjung untuk memperoleh pengalaman meruang yang berbeda saat melakukan aktifitas. Aplikasi tema ini terdapat pada pengolahan ruang dan bentuk arsitektural. Setiap  bagian dari tahap ini memiliki fungsi ruang dengan suasana yang membawa pengalaman berbeda-beda bagi pengunjung. Akhirnya tujuan dari perancangan Perpustakaan Yayasan Eben Haezar ini adalah untuk menyebarkan kesenangan akan membaca, menumbuh-kembangkan kebiasaan membaca dan mencari informasi yang menyenangkan, dengan menawarkan pengalaman baru dengan konsep yang nyaman seperti dirumah. Keywords : Membaca, Perpustakaan, Pengalaman Ruang, Gaya Hidup
MUSEUM MUSIK TRADISIONAL DI MANADO. Gesture dalam Arsitektur Namare, Krystyenson; Siregar, Frits O. P.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17596

Abstract

Dunia musik di Indonesia telah menunjukan pertumbuhan yang sangat pesat terutama dalam musik tradisional. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai kelompok musik tradisional.musik tradisional mulai masuk di Indonesia sejak jaman hindu – budha dan terus berkembang sampai saat ini. Ironisnya, musik tradisional kurang  dikenal oleh masyarakat terlebih para pemuda penerus bangsa. Karena itu, kehadiran fasilitas rekreasi dan edukatif, dalam bentuk museum musik tradisional, diperlukan untuk lebih memperkenalkan tradisi musik tradisional kepada masyarakat terlebih di kota Manado.Pada objek desain ini menggunakan beberapa pendekatan desain, terutama dalam bentuk studi tentang tipologi objek, tapak dan lingkungannya, dan studi tematik. Secara khusus, pendekatan tematik didasarkan pada studi tentang “ Gesture DalamArsitektur “. Tema ini diterapkan karena memiliki keterkaitan dengan musik tradisional yang mempunyai gesture atau Bahasa non-verbalnya sendiri.Berdasarakan pendekatan, terutama proses tematik, hasil desain merupakan bangunan museum musik tradisional. Nilai signifikan bangunan ini mengarah pada bentukan bangunan dan pola penataan ruang, yang bertujuan menghadirkan sarana edukatif dan rekreasi bagi pengunjung, terutama masyarakat kota Manado.Kata kunci : Museum Musik Tradisional Di Manado, Manado, Gesture Dalam Arsitektur.
PUSAT KEGIATAN REMAJA DI KOTA BITUNG. Arsitektur Origami Vially, Christian V.; Tondobala, Linda; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19312

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil atlet olahraga dan kesenian di kawasan Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan sistem pelatihan dan bimbingan yang baik di kota-kota besarnya. Ini bertolak belakang dengan kota-kota berkembang seperti kota Bitung. Padahal, kota Bitung merupakan kota dengan beragam suku dan ras yang menyimpan berbagai talenta mulai dari usia dini yakni remaja. Remaja di kota Bitung kebanyakan menyalurkan bakat-bakat mereka ke hal-hal negatif dikarenakan belum ada wadah di Kota Bitung yang dapat menampung talenta-talenta terpendam mereka. Oleh karena itu maka dibutuhkan wadah yang selain dapat menampung bakat-bakat tersebut, namun diiringi dengan bimbingan dan didikan yang tepat agar tetap bersifat positif.                Pusat Kegiatan Remaja merupakan salah satu fasilitas yang tepat dalam mengatasi permasalahan di atas. Selain mereduksi angka kriminalitas, fasilitas ini secara tidak langsung dapat menjadi sekolah kedua para remaja yang berfokus pada Olahraga dan Kesenian. Pusat Kegiatan Remaja ini diharapkan akan menjadi suatu kawasan yang dapat menghasilkan atlet dan seniman yang dapat bersaing di kancah Nasional maupun Internasional.                Untuk menciptakan Pusat Kegiatan Remaja yang dapat menarik perhatian dan apresiasi masyarakat serta tidak kalah dari kota-kota besar, maka tema atau gaya Arsitektur yang akan digunakan sebagai pendekatan adalah Arsitektur Origami yang memberikan kelebihan pada nilai estetikanya dan sesuai denga perkembangan zaman.Kata Kunci : Pusat, Kegiatan, Remaja, Origami