Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri dalam Improvisasi Gitar Jazz: Upaya Meningkatkan Kreativitas dan Berpikir Kritis Kusuma, Adel Sulaiman; Karwati, Uus
KOLEKTIF: Jurnal Pendidikan, Pengajaran, dan Pembelajaran Vol. 1 No. 1 (2024): September
Publisher : CV ALFA EDU KARYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70078/kolektif.v1i1.28

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa dalam pembelajaran improvisasi gitar jazz, khususnya dalam penerapan teknik brokenchord. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji efektivitas Model Pembelajaran Inkuiri dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa di mata kuliah gitar elementer. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif, melibatkan observasi, wawancara, dan analisis hasil evaluasi mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Inkuiri secara signifikan meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, terutama dalam hal merumuskan masalah, memberikan argumen, melakukan deduksi dan induksi, serta mengevaluasi. Mahasiswa menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap konsep improvisasi gitar jazz dan mampu menerapkannya dengan lebih kreatif dan reflektif. Kesimpulannya, Model Pembelajaran Inkuiri efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis mahasiswa, menjadikannya metode yang dapat direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas dalam pembelajaran musik, khususnya dalam konteks pengembangan keterampilan improvisasi.
PELATIHAN PENDIDIKAN SENI ANAK BAGI GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DAN SEKOLAH DASAR (SD) DI BANDUNG Nugraheni, Trianti; Masunah, Juju; Narawati, Tati; Karwati, Uus; Santana, Fifiet Dwi Tresna
Tunas Siliwangi Vol 7 No 2 (2021): VOL 7 NO 2, OKTOBER 2021
Publisher : IKIP Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/ts.v7i2p44 - 51.2885

Abstract

Pendidikan seni di Sekolah Dasar seakan tidak ada habisnya. Persoalan terjadi mulai dari: ketersediaan bahan ajar dan metode pembelajaran. Kemampuan guru bidang seni, hingga Perhatian pemerintah terhadap pendidikan seni. Pendidikan seni untuk informal di keluarga dan masyarakat perlu mendapat perhatian. Pendidikan informal ini kurang berjalan sebagaimana yang diharapkan karena persoalan tingkat pendidikan dan pengembangan diri dari orang tua serta kreativitas bagi anak usia dini itu sangatlah penting. Maka peneliti meneliti ini bertujuan untuk menerapkan pendidikan seni kepada guru dan tutor Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar di Bandung. Metode kegiatannya adalah pelatihan secara virtual.  Metode ini memiliki langkah-langkah yang diawali dengan mendiagnosa masalah, membuat rancangan kegiatan, implementasi, dan evaluasi. Dalam membuat rancangan akan dilakukan pembuatan video pelatihan secara virtual. Dalam implementasinya dilaksanakan dalam bentuk workshop bagi guru secara virtual. Evaluasi kegiatan ini akan dilakukan dengan cara menyebarkan quesioner untuk memahami kemampuan guru dalam menyerap bahan materi secara virtual. Hasil kegiatan ini adalah sebuah model pelatihan pendidikan seni secara virtual bagi guru PAUD dan SD. Kata kunci:    Anak Usia Dini (PAUD), Pembelajaran Virtual, Pendidikan Seni
KAJIAN ORGANOLOGI ALAT MUSIK TRADISIONAL CANANG CEUREUKEH Maulana, Ilham; Suryati Budiwati, Dewi; Karwati, Uus
SIWAYANG Journal: Publikasi Ilmiah Bidang Pariwisata, Kebudayaan, dan Antropologi Vol. 1 No. 4 (2022)
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/siwayang.v1i4.409

Abstract

Penelitian ini berjudul “Kajian Organologi Alat Musik Tradisional Canang Ceureukeh”. Canang ceurekeuh merupakan alat musik ritmis dan melodis yang tergolong dalam alat musik tradisional di Lhokseumawe provinsi Aceh, kontruksi fisiknya berupa penopang, bilah dan pemukul yang terbuat dari kayu dan dimainkan dengan cara di pukul dengan alat yang terbuat dari kayu pula. Penelitian ini mengkaji organologi alat musik canang ceureukeh, dengan fokus permasalahan tentang konsep pembuatan, bahan dan proses pembuatan, serta Teknik produksi suara pada alat musik canang ceureukeh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif menggunakan pendekatan Etnomusikologi. Temuan hasil penelitian ini menunjukkan canang ceureukeh masuk dalam klasifikasi idiophone, memiliki empat nada, terdapat konsep yang mendasari bertahannya alat musik canang ceureukeh yang terbagi dalam dua aspek kontekstual berupa fungsi musikal, fungsi di masyarakat, falsafah, dan tekstual berupa bahan dasar, bagian bentuk, cara memainkan. Proses pembuatan alat musik canang ceureukeh melalui tahapan pemilihan bahan, pemotongan, pembentukan, penghalusan, pembuatan ornamentasi, penyeteman dan pewarnaan, mengunakan bahan dasar kayu dari lima jenis pohon, menghasilkan bunyi melalui badan alat musik tersebut dengan cara dipukul menggunakan tongkat pemukulnya.
Aktivasi Subang sebagai Habitat Ekosistem Angklung Ragam Laras: Studi Kasus pada Sanggar Toléater | Activation of Subang as an Ecosystem Habitat for Angklung Ragam Laras: A Case Study of Sanggar Toléater Irawan, Endah; Ridwan, Indra; sentosa, Gempur; Sudrajat, Mustika Iman Zakaria; Karwati, Uus; Sutanto, Toni Setiawan
GHURNITA: Jurnal Seni Karawitan Vol 4 No 4 (2024)
Publisher : Pusat Penerbitan LPPMPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jurnalsenikarawitan.v4i4.4522

Abstract

After the establishment of Angklung as a world cultural heritage by UNESCO, there are consequences for Indonesia to protect, develop, utilize, and foster the life of Angklung. One of the efforts to face these consequences is to activate the angklung ecosystem in Subang Regency as a development effort so that angklung as a world heritage can maintain its existence. This research uses an experimental approach by providing training to Sanggar Toleater through a process of socialization, data collection, and work training in an art governance workshop, which ends with an evaluation; it is hoped that with this approach, this research and experimentation can protect the life of angklung that lives sustainably.
Pengembangan Video Pembelajaran Digital Bonang Gamelan Degung Berbasis Media Development Life Cycle (MDLC) Muqri, Al; Karyono, Tri; Sunaryo, Ayo; Karwati, Uus; Latifah, Diah
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 6 No 1 (2026): JPTI - Januari 2026
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.758

Abstract

Artikel ini membahas pengembangan media pembelajaran digital berbasis video untuk pembelajaran bonang gamelan degung sebagai bagian dari pendidikan seni musik tradisional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan dengan model Media Development Life Cycle (MDLC) yang meliputi tahap concept, design, material collecting, assembly, testing, dan distribution. Luaran penelitian berupa video pembelajaran yang memvisualisasikan teknik dasar permainan bonang, pola tabuhan, serta contoh permainan dalam konteks gamelan degung, dan didistribusikan melalui platform YouTube. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa penerapan model MDLC efektif dalam menghasilkan media pembelajaran yang layak secara teknis, mudah diakses, dan sesuai dengan karakteristik pembelajar generasi digital. Respon guru yang berperan sebagai pelatih serta murid ekstrakurikuler gamelan degung menunjukkan bahwa media ini membantu proses pembelajaran dan latihan, memudahkan pemahaman teknik tabuhan, serta mendukung pembelajaran mandiri. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada kajian teknologi pendidikan dan pendidikan seni musik dengan menunjukkan bahwa pengembangan media pembelajaran berbasis video dapat menjadi pendekatan strategis dalam adaptasi pembelajaran musik tradisional di era digital, sekaligus mendukung upaya pelestarian budaya melalui pemanfaatan teknologi.
“Implementasi Falsafah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan Tari Dambus sebagai Upaya Pelestarian Identitas di Era Global” epin, Erfina; Uus Karwati; Reni Haerani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.37863

Abstract

Globalization has brought significant impacts on the shifting values and cultural identity of the nation, particularly in the field of arts education. This study aims to analyze the implementation of Ki Hadjar Dewantara’s educational philosophy in Dambus dance education as an effort to preserve cultural identity in the global era.The philosophy of ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani serves as a conceptual foundation for shaping an arts education process that instills educational values. This research employs a qualitative method with an ethnocoreological approach. Data were collected through observations, interviews, and documentation studies involving students, teachers, and cultural communities. The results show that cultural values such as religiosity, mutual cooperation, politeness, and patriotism are internalized in the movements, music, costumes, and symbolic meanings of the Dambus dance. The implementation of Ki Hadjar Dewantara’s philosophy in dance education is reflected in three main aspects: (1) educators serve as moral exemplars and guardians of cultural values; (2) students are actively engaged in learning processes that foster a sense of belonging to local culture; and (3) appreciation activities and Dambus dance performances function as a medium to strengthen identity and cultivate national awareness amid the currents of globalization. Thus, Dambus dance education based on Ki Hadjar Dewantara’s philosophy becomes an effective means of fostering cultural awareness, character, and an identity rooted in Indonesian personality.
Internalisasi Nilai Trilogi Ki Hajar Dewantara: Paradigma Pendidikan dalam Falsafah Gerak Tari Guel Gayo Rani Tiara FL; Uus Karwati; Reni Haerani
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 4 Nopember (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.3123

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pelestarian nilai budaya lokal dalam pendidikan nasional melalui seni tari tradisional. Fokus penelitian ini adalah menelaah relevansi Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani dalam falsafah ragam gerak Tari Guel Gayo. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi, melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis deskriptif-interpretatif digunakan untuk mengungkap makna simbolik gerak dan nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Guel Gayo merepresentasikan nilai kebersamaan, kesopanan, penghormatan terhadap leluhur, keseimbangan spiritual, dan keteguhan hidup yang sejalan dengan prinsip keteladanan, pemberdayaan, serta pendampingan dalam Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya kajian paradigma pendidikan berbasis budaya lokal, sedangkan secara praktis memberikan implikasi pada pengembangan model pembelajaran seni berbasis nilai karakter dan kearifan lokal.
Vocal Learning Revolution: Student Preferences in The Digital Platform Era Rahmatunnisa Ramadhani S; Uus Karwati; Diah Latifah
Jurnal Kependidikan : Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Pembelajaran Vol. 12 No. 2 (2026): June
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jk.v12i2.20546

Abstract

This study aims to investigate students’ preferences for digital platform features in vocal learning, examine the factors influencing those preferences, and explore their associations with learning motivation and learning outcomes. A quantitative cross-sectional survey design was employed involving 384 university students actively engaged in digital-based vocal learning. Data were collected through structured questionnaires, the construct validity of which was confirmed using confirmatory factor analysis (CFA). The data were subsequently analyzed using descriptive statistics and inferential techniques, including independent-samples t-tests, one-way ANOVA, Pearson correlation analysis, and multiple regression analysis. The findings revealed that audio-visual features received the highest preference rating (M = 4.32, SD = 0.68), followed by real-time feedback (M = 4.28), accessibility (M = 4.21), content personalization (M = 4.15), discussion forums (M = 3.97), and gamification (M = 3.89). Education level (F = 5.83, p = .003) and digital skill proficiency (F = 12.67, p < .001) significantly influenced students’ preferences, whereas gender showed no statistically significant difference (t = 1.42, p = .157). Furthermore, platform preferences demonstrated significant positive correlations with learning motivation (r = 0.52, p < .001) and learning outcomes (r = 0.41, p < .001). These findings provide practical implications for platform developers and educators in designing student-centered vocal learning environments that are responsive to contemporary learners’ needs.
Suara Naratif sebagai Bahasa Sinematik: Dol dalam Pembentukan Pendidikan Karakter Berbasis Trilogi Ki Hajar Dewantara di Bengkulu Adinda Innayah Putri Lianni; Uus Karwati; Reni Haerani
Journal of Practice Learning and Educational Development Vol. 6 No. 2 (2026): Journal of Practice Learning and Educational Development (JPLED) in Press
Publisher : Global Action and Education for Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58737/jpled.v6i2.1061

Abstract

Traditional musical instruments possess philosophical, historical, and social values ​​that can reveal past civilizations and serve as a medium for cultural communication (Mufarizuddin, 2022; Agustinus, 2024). In Bengkulu, the Dol serves as a symbol of cultural identity and the primary instrument in the Tabot ritual. It also contains educational elements such as mathematics, physics, and character building. This study analyzes the implementation of Ki Hajar Dewantara's Educational Trilogy—Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani—in preserving Dol as a cultural heritage. The research method employed a descriptive qualitative approach with literature analysis and the integration of quotations and empirical findings from various studies on organology, ethnomathematics, and character education. The results indicate that Dol can serve as a medium for character formation for the younger generation through role models of preservation, creative empowerment in the production process, and mentoring in musical practice. Dol preservation also faces challenges such as a lack of promotional media and the threat of a breakdown in the transmission of playing techniques. This study confirms that local culture-based education has strategic potential for revitalizing traditional musical instruments while strengthening students' character.
Development of Augmented Reality-Based Learning Media Using Assemblr EDU for Introducing Indonesian Traditional Musical Instruments in Junior High School Music Education Yanti Nur Aprianti; Uus Karwati; Sandie Gunara
Jurnal Paedagogy Vol. 13 No. 3 (2026): July
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jp.v13i3.21190

Abstract

This study aims to develop and validate an Augmented Reality (AR)-based learning medium using Assemblr EDU for introducing Indonesian traditional musical instruments in Grade VIII music education. This study employed a Research and Development (R&D) method based on the 4D model, which consists of four stages: Define, Design, Develop, and Disseminate. The research was conducted at SMP Negeri 6 Banjar, West Java, involving 20 eighth-grade students. Data were collected through interviews, expert validation instruments, questionnaires, and post-tests, and analyzed using descriptive percentage analysis techniques. The developed product integrates 3D visualization, annotations, audio narration, and AR features that can be accessed through mobile devices. The validation results showed that the learning media achieved a score of 98.75% from media experts and 100% from subject matter experts, indicating a highly valid category. The implementation results demonstrated that the media was feasible for classroom use and facilitated interactive learning about traditional musical instruments from various regions of Indonesia. These findings indicate that AR technology has the potential to transform traditional music learning by enabling students to interact directly with virtual representations of musical instruments. Consequently, AR-based learning media can provide a more immersive, accessible, and meaningful learning experience while supporting efforts to preserve Indonesia’s traditional musical heritage.