Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Vokal Tradisi Batak Toba “Andung” Stevanie Lumbangaol; Uus Karwati; Diah Latifah
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Juni 2019
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.848 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v3i1.13182

Abstract

In the current era of globalization, learning is often associated with local wisdom. The local cultural base is indeed very important, because national character is formed from cultural roots. Therefore many have raised local culture and wisdom as a basis for learning. Likewise, in the Music Education Study Program, one course is presented, namely Vocal Tradition of the Archipelago, in which there is material in the Toba Batak Tradition Vocal, Andung. Through this course, "Andung" is taught, so that the traditional vowels return and the young generation is able to appreciate them. Based on this background it is necessary to do research on the existence of Andung in the present, with the aim of reintroducing Andung as a vocal of the Toba Batak tradition. This article is a small part of the research on the development of vocal learning media for the "Andung" Toba Batak tradition. Data collection about Andung, carried out by documentation techniques, surveys and interviews. Interviewees consisted of three people, two pangandung people, one cultural observer. The data obtained are andung mabalu, andung matean ina, andung tilahaon.
Perubahan Fungsi Seni Lebon pada Masyarakat Desa Pepedan Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran Muhamad Ramdhani Khoerudin; Uus Karwati
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 3, No 2 (2019): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.082 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v3i2.14222

Abstract

This study aims to obtain data on changes in function and initial forms of performing Lebon in the community, Pepedan Village, Parigi District, Pangandaran Regency. This study uses a qualitative descriptive approach. With the development of the current era through various factors, the Lebon art has turned into a means of entertainment that is arranged in such a way that the aim of the Lebon art remains sustainable and is accepted by the Papedan community. Lebon art in the language of the local community lebon has a meaning that is grave or buried. Lebon art performance can occur because there are two groups fighting over plantation land ownership or fighting over women to be wives, Lebon art is art that contains violence in earlier times, because in this art required as winners are surviving champions and losers must reach die and be buried in the place of the Lebon art performance. Lebon art in general Pangandaran community has become an art that was born originally from Pangandaran Regency.
Angklung di Jawa Barat Sebagai Materi Seni Budaya Berbasis Kearifan Lokal uus karwati
IRAMA Vol 1, No 2 (2019): IRAMA: JURNAL SENI DESAIN DAN PEMBELAJARANNYA
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.34 KB) | DOI: 10.17509/irama.v1i2.21899

Abstract

Artikel dengan judul Angklung Di Jawa Barat Sebagai Materi Seni Budaya Berbasis Kearifan Lokal bertujuan guna mendeskripsikan tentang eksistensi angklung dan pemaknaan angklung oleh masyarakat pendukungnya. Contoh objek angklung yang dikaji yakni angklung dog-dog lojor yang berkembang pada masyarakat di wilayah adat Kesatuan Banten Kidul (di Ciptarasa/Ciptagekar). Data tulisan ini merupakan bagian dari hasil pengamatan/observasi pada tahun 1998 – 2003 pada kegiatan P4ST UPI. Metoda kajian dilakuan secara teks dan kontek menggunakan paradigm kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sebagai seni budaya lokal  seni angklung dog-dog lojor sarat dengan kandungan nilai-nilai kearifan yang tampak pada bentuk instrument angklung, dan fungsi angklung pada masyarakatnya antara lain: mewujudkan lambang kesatuan, kerjasama dan gotong-royong, norma dan aturan hidup, sikap baik dan buruk, nasihat dan teladan. Nilai-nilai kearifan tersebut kemudian menjadi pedoman dan aturan hidup masyarakatnya. Berdasarkan kandungan nilai-nilai kearifan local tersebut maka angklung dog-dog lojor dapat dikembangkan sebagai materi dalam pembelajaran seni budaya di sekolah guna membantu perkembangan siswa  secara kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang.
Creative Training for Singing Keroncong Songs for Vocational School Teachers Diah Latifah; Uus Karwati; Rita Milyartini
DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik Vol 7, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jdc.v7i1.69361

Abstract

Kegiatan menyanyi keroncong bagi guru SMK mata pelajaran harus memenuhi hasil belajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Salah satu caranya yaitu dengan menerapkan kreativitas dalam bernyanyi keroncong. Kegiatan ini bertujuan untuk mengaji keunggulan pelatihan lagu Keroncong untuk memicu kreativitas bernyanyi. Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Pangandaran pada bulan Agustus 2022. Metode yang digunakan adalah metode kualitatf dengan teknik pengumpulan data, observasi dan wawancara. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 21 orang guru partisipan pasif dan partisipan aktif berjumalh 7 orang dengan kegiatan pelatihan sebanyak 5 kali. Kegiatan pelatihan dilakukan dengan kegiatan penguatan sensitivitas rasa ritmik, melalui praktek musik ritmik pada lagu yang berjudul “Lagu Keroncong” dan “Kota Bandung”. Pelatihan dilanjutkan dengan kegiatan mengolah dan memperindah melodi lagu Keroncong dengan menggunakan ornament vocal. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif, deskriptif dengan cara menjelaskan dan menafsirkan proses dan hasil pelatihan kreatif bernyanyi Keroncong. Kegiatan pelatihan kreatif bernyanyi Keroncong berhasil memicu kreativitas partisipan, untuk mengelola motif dalam melodi baik secara ritmikal ataupun secara intervalis.
Teknik Dasar Permainan Instrumen Dambus Zaroti di Bangka Belitung Dodi Pranata; Uus Karwati
Indonesian Journal of Performing Arts Education Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijopaed.v3i1.9361

Abstract

AbstrakDambus merupakan nama alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dambus memiliki konsep dasar pada permainannya yang membuat sebuah komposisi sederhana yang dituangkan dalam bentuk pengalaman asimilatif. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik permainan dan gaya permainan dambus oleh seniman dan pengrajin bernama Zaroti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualititaif, pengumpulan data diperoleh dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis deskriptf ditempuh untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang objek yang diteliti. Teknik permainan dambus Zaroti memiliki komponen inti, keunikan, dan kesamaan dengan teknik permainan gitar pada umumnya. Pada tangan kiri, posisi jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis berfungsi untuk memainkan melodi. Pada tangan kanan, jari tangan kanan berfungsi untuk pemetik atau penghasil bunyi alat musik. Pada permainan dambus Zaroti, nada yang dihasilkan adalah pada tangga diatonis mayor dan minor harmonis. Permainan dambus Zaroti sekaligus menerapkan teknik fingering, teknik barre, teknik slide, dan teknik slur. AbstractDambus is the name of a traditional musical instrument originating from the Bangka Belitung Islands Province. Dambus has a basic concept in his playing that makes a simple composition poured in the form of assimilative experience. This paper aims to describe the playing technique and playing style of the dambus by an artist and craftsman named Zaroti. This study uses a qualitative approach, collecting data from interviews, observation, and document study. Descriptive analysis was taken to understand the object under study deeply. Zaroti's dambus technique has core components, uniqueness, and similarities with guitar playing techniques in general. On the left hand, the position of the index finger, middle finger, and ring finger functions to play the melody. On the right hand, the fingers pick or produce a musical instrument's sound. The notes produced in Zaroti's dambus playing are on the diatonic major and harmonic minor scales. Zaroti's dambus game simultaneously applies fingering techniques, barre techniques, slide techniques, and slur techniques. 
PELATIHAN KESENIAN BANGRENG PANGGUGAH PUSAKA DI DESA TANJUNGKARANG TASIKMALAYA Fathurohman, Muhammad Aji; Karwati, Uus; Kurdita, Engkur
SWARA - Jurnal Antologi Pendidikan Musik Vol 4, No 1 (2024): ANTOLOGI PENDIDIKAN MUSIK
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Musik UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/swara.v4i1.39169

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul “Pelatihan Kesenian Bangreng Panggugah Pusaka di Desa Tanjungkarang Tasikmalaya”. Tujuan penelitian yakni mengkaji proses pelatihan yang dilakukan terhadap anggota grup kesenian tersebut. Fokus penelitian yakni terkait kegiatan pelatihan yang dipimpin oleh Pak Didi Sukiman. Sampai saat ini pelatihan masih dilakukan sehingga grup kesenian tersebut masih bertahan. Menurut pelatihnya kegiatan pelatihan disamping menggali bakat seni juga bertujuan turut melestarikan keberadaan seni bangreng di daerah tersebut. Metode dalam penelitian ini yakni deskriptif analitik yang bertujuan menggambarkan persiapan,, proses dan hasil pelatihannya. Untuk memperoleh data-data penelitian dibantu dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Kesimpulan penelitian ini memberi gambaran bahwa: kegiatan pelatihan melalui tahap-tahap yakni: perencanaan waktu yakni setiap sabtu atau minggu malam, mulai dari pukul 20.00-23.00 WIB, materi berupa gending-gending yang dimulai dari jenis gending satu wilet, dua wilet dan gending posisi khusus; pelatih juga mengundang seniman serta masyarakat untuk kegiatan berlatih; berdasarkan prosesnya yakni menggunakan metode andragogi yang mana pendekatannya secara kekeluargaan, sesuai kondisi. Metode berlatih antara lain ceramah, instruksi, demonstrasi, metode simulasi, dan metode diskusi.  Hasil pelatihan akan dapat diamati dari bertambahnya skill para anggota khususnya dalam teknik memainkan gamelan dan penguasaan materi gending, pada waktu khusus hasil latihan ditampilkan dalam acara pertunjukkan.Kata Kunci : Pelatihan, Kesenian Bangreng
METODE TUTOR SEBAYA UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN SISWA DALAM MEMAINKAN GAMELAN DEGUNG KREASI DI SMPN 1 BAREGBEG Novianti, Rahyuni; Supriatna, Nanang; Karwati, Uus
SWARA - Jurnal Antologi Pendidikan Musik Vol 3, No 2 (2023): ANTOLOGI PENDIDIKAN MUSIK
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Musik UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/swara.v3i2.50432

Abstract

Problems that occur in class VIII-A have difficulty playing the gamelan creations of the flower implengan song, then there are still many students who are less active and hesitate to ask the teacher so that students' skills are less focused. The purpose of this study was to determine the results of the application of the peer tutor method on students' skills in playing the waditra gamelan. The criteria for students who become tutors are students who have skills that are superior to others and have a friendly personality and a high sense of responsibility. The method used in this classroom action research is a descriptive method with a qualitative approach. The research subjects were all students of class VIII-A, totaling 28 students. The material taught is the song flower implengan created by Nano s. The positive impact of the application of the peer tutoring method is that students become confident, become active, friendships become more intimate, while the negative impact of the application of the peer tutoring method is that some tutors are not good friends with students. Thus, it is concluded that the peer tutoring method can improve the learning of gamelan gamelan creations in class VIII-A students of SMPN 1 Baregbeg.Keywords: skills, peer tutor method, degung gamelan creations
Pembelajaran Gerak Dan Lagu Melalui Lagu-lagu Kaulinan Barudak Di Kelas 2 SDN 1 Langkaplancar Pangrestu, Saranti Galih; Karwati, Uus; Sutanto, Toni Setiawan
SWARA - Jurnal Antologi Pendidikan Musik Vol 4, No 2 (2024): ANTOLOGI PENDIDIKAN MUSIK
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Musik UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/swara.v4i2.73102

Abstract

Penelitian ini berjudul ”Pembelajaran Gerak dan Lagu Melalui Lagu-lagu Kaulinan Barudak di kelas 2 SDN 1 Langkaplancar”. Kaulinan barudak merupakan salah-satu kearifan lokal dan patut untuk dilestarikan karena memiliki nilai-nilai yang baik dalam pendidikan. Sebelumnya lagu-lagu kaulinan barudak kurang digemari oleh anak-anak dalam pembelajaran materi tersebut diberikan secara monoton yang hanya sebatas lagunya saja. Dengan adanya pembelajaran gerak dan lagu melalui lagu-lagu kaulinan barudak dapat menjadi suatu inovasi baru dalam pembelajaran seni di Sekolah Dasar terkhusus kelas 2. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan kualitatif dan hasil pembelajaran diperkuat melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian : a. Pengembangan lagu-lagu kaulinan barudak dilakukan dengan cara interlocking materi lagu tokecang, perubahan tempo pada materi lagu oray-orayan. Lagu tokecang dipilih karena banyak di kenal oleh siswa terkesan meriah dan memiliki frase kalimat yang pendek. Setiap frase dapat dibuat bagian-bagian untuk sajian interlocking. Lagu oray-orayan bisa di variasaikan melalui cara perubahan tempo lagu yakni dengan tempo tempo lambat, tempo sedang dan cepat. Musikalitas pada siswa dilakukan dengan teknik bernyanyi sambil bergerak. b. implementasi dilakukan pada kelas 2 metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara demonstrasi, ceramah, drill, dan berkelompok yakni pada saat kreativitas gerak dalam menyanyikan lagu lagu tersebut. c. hasil implementasi menunjukan bahwa dengan adanya pengolahan dan pengembangan lagu kaulinan barudak materi lagu-lagu kaulinan barudak mudah di pahami dan di senangi oleh anak-anak serta mewujudkan pembelajaran yang kreatif. 
TEPAK KENDANG SENI TOPENG BENJANG DI SANGGAR RENGKAK KATINEUNG UJUNGBERUNG BANDUNG Sekunderiawan, Muhammad Rafly; Karwati, Uus; Kurdita, Engkur
SWARA - Jurnal Antologi Pendidikan Musik Vol 3, No 1 (2023): ANTOLOGI PENDIDIKAN MUSIK
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Musik UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/swara.v3i1.55364

Abstract

Penelitian ini berjudul “Tepak Kendang Seni Topeng Benjang di Sanggar Rengkak Katineung Ujungberung Bandung”, bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis teknik memainkan kendang, pola tepak kendang, dan struktur tepak kendang yang terdapat pada seni Topeng Benjang. Latar belakang permasalah memiliki permainan kendang tersendiri dalam seni Topeng Benjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode desktriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data yang digunakan peneliti melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat teknik khusus saat memainkan kendang Topeng Benjang. Pola tepak kendang pada seni Topeng Benjang memiliki beragam pola tepak yang terbagi menjadi delapan belas bagian. Struktur tepak kendang yang terdapat pada Topeng Benjang mengacu pada struktur tampilan seni Topeng Benjang yang terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya bubuka, topeng putri, topeng emban, topeng satria, topeng rahwana, dan panutup.Kata Kunci: Tepak Kendang, Topeng Benjang, Sanggar Rengkak Katineung.
Aplikasi Model Pembelajaran Sinektik (Synectic Model) Uus - Karwati
PANGGUNG Vol 22 No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i2.57

Abstract

ABSTRACT The title of this article is Application of Synectic Learning Model in Kampung Seni & Wisata Manglayang, Bandung regency. This paper is motivated by the idea of conceptualization necessities of learning in art studios which provide learning services to the visitors, especially of the early ages. The research used a qualitative paradigm with pseudo experiment approach of one short case study applying Synectic Learning Model that is an approach to develop creativity, to enhance problem- solving skills, creative expression, and to develop empathy in social relationships. Through its ap- plication the art learning activities in the studio visitation program is more meaningful and able to develop ideas and enhance creative activities of the students. Keywords: Synectic Learning Model.