Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengembangan Bussiness Model Canvas (BMC) pada usaha ekonomi kreatif kain sutera di Kabupaten Wajo: Sudi kasus pada UMKM Losari Silk Mutmainnah, Ismiah; Ibrahim, Helda; Rahman, Syamsul
Journal of Agribusiness Science and Rural Development Vol. 5 No. 1 (2025): JASRD
Publisher : LP3M Universitas Putra Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32639/y2sdmp22

Abstract

The silk industry in Wajo Regency carries significant historical and cultural value, yet its sustainability is challenged by limited raw materials, market competition, and underutilized local resources. This study analyzes the business model of Losari Silk using the Business Model Canvas (BMC) framework and explores opportunities for sustainable development. A qualitative descriptive approach was applied through observation and in-depth interviews with business owners and key partners. The results show that Losari Silk already has a solid business model, but further innovation is required, particularly in optimizing social media, improving raw material management, and expanding collaborations with government and private sectors. The findings also suggest that supportive policies are needed to strengthen entrepreneurial capacity through digital technology, wider partnerships, and better access to resources. Strengthened synergy among entrepreneurs, government, and private stakeholders is expected to create a sustainable business ecosystem, enhance competitiveness, preserve cultural heritage, and contribute to regional economic growth.
Inovasi Produk, Proses, Dan Pemasaran Pada Agribisnis Cabai Katokkon (Capsicum Chinense Jacquin) Sebagai Komoditas Unggulan Di Tana Toraja Somalinggi, Selfina; Rahman, Syamsul
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 11 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, November 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i11.5015

Abstract

Cabai Katokkon adalah komoditas hortikultura unggulan Tana Toraja dengan nilai ekonomi dan cita rasa khas yang tinggi sepertti aroma yang khas dan tingkat kepedasan yang mencapai 400.000 – 600.000 SHU. Namun, daya saing komoditas ini di pasar global masih rendah akibat kurangnya inovasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan jenis inovasi yang dapat diterapkan pada Cabai Katokkon, meliputi inovasi produk, proses, dan pemasaran. Data primer diperoleh melalui survei dan wawancara mendalam dengan petani, UMKM, dan pemangku kepentingan di Kabupaten Tana Toraja. Analisis deskriptif dan kualitatif digunakan untuk memetakan kondisi eksisting dan mengidentifikasi kesenjangan inovasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi produk sangat dibutuhkan dalam bentuk olahan turunan (sambal kemasan, flake cabai, dan oleoresin) untuk memperpanjang daya simpan dan diversifikasi pasar. Inovasi proses diperlukan pada aspek pasca panen beruba berbagai jenis olahan cabai katokkon yang meliputi Sambal katokkon, saos cabai katokkon, bubuk cabai dan cabe kering. Sementara itu, inovasi pemasaran harus didorong melalui digitalisasi dan branding yang kuat. Hasil identifikasi ini menjadi landasan strategis untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing Cabai Katokkon
STUDI POTENSI AGRO EDUWISATA KEBUN RAYA PUCAK KABUPATEN MAROS Angka, Andi Tenri; Zain, Majdah M.; Ibrahim, Helda; Rahman, Syamsul
Jurnal Sains Agribisnis Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jsa.v5i2.2197

Abstract

Penelitian ini bertujuan merumuskan model pengembangan agro eduwisata agribisnis sebagai strategi pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Maros dengan studi kasus di Kebun Raya Pucak. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data primer (observasi, wawancara, dokumentasi) dan sekunder (literatur), serta teknik purposive sampling terhadap 45 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kebun Raya Pucak memiliki potensi keanekaragaman hayati, lahan pertanian produktif, dan daya tarik lanskap alam, namun pengembangannya masih terkendala infrastruktur, partisipasi masyarakat, dan tata kelola kelembagaan. Model pengembangan yang diusulkan berbasis kolaborasi multi pihak, penguatan potensi lokal, transformasi digital, dan pemberdayaan masyarakat. Implikasi kebijakan penelitian ini menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam penyediaan infrastruktur, penguatan kelembagaan, dan fasilitasi kemitraan antara pengelola, masyarakat, dan pihak swasta. Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa agro eduwisata agribisnis di Kebun Raya Pucak berpotensi menjadi instrumen efektif dalam pemberdayaan masyarakat apabila dikelola secara kolaboratif, berbasis potensi lokal, dan didukung kebijakan yang tepat.
PERAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI HUTAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS KOPI DI KABUPATEN GOWA (Studi Kasus di Kelompok Tani Parang Maha Kelurahan Bontolerung Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa) Pawarrang, Wiraputra; Ibrahim, Helda; Rahman, Syamsul
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.66370

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran kelembagaan kelompok tani hutan dalam pengembangan agribisnis kopi, dengan fokus pada Kelompok Tani Parang Maha di Desa Bontolerung, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang dipadukan dengan pengukuran Skala Likert. Responden ditentukan dengan teknik purposive sampling sebanyak 25 orang yang terdiri atas ketua dan anggota kelompok. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner berbasis Skala Likert, kemudian dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif untuk menggambarkan sikap, persepsi, dan pengalaman responden terkait peran kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi kelembagaan yang paling signifikan adalah dalam mendukung kesejahteraan anggota melalui kegiatan produktif, dengan skor indeks sebesar 97,60%. Dalam hal fungsi kelembagaan, skor tertinggi (93,60%) adalah dalam menjalin kolaborasi dengan lembaga pemerintah, LSM, dan swasta. Mengenai inovasi kelembagaan, peran kelompok dalam mendorong adopsi teknologi dalam produksi dan pengolahan mendapat skor 92,80%. Secara keseluruhan, peran kelembagaan Kelompok Tani Parang Maha dalam mengembangkan agribisnis kopi termasuk dalam kategori sangat tinggi. Temuan ini menyoroti peran strategis kelembagaan kelompok tani dalam memperkuat kapasitas bisnis, meningkatkan kesejahteraan anggota, dan mendukung keberlanjutan jangka panjang agribisnis kopi berbasis masyarakat lokal.Kata Kunci : Peran Kelembagan, Kelompok Tani Hutan, Agribisnis Kopi.AbstractThis study aims to analyze the institutional role of forest farmer groups in coffee agribusiness development, focusing on the Parang Maha Farmer Group in Bontolerung Village, Tinggimoncong District, Gowa Regency, South Sulawesi Province. The research method used is descriptive with a qualitative approach combined with Likert Scale measurements. Respondents were determined using a purposive sampling technique of 25 people consisting of group leaders and members. Data were collected through interviews, observations, and Likert Scale-based questionnaires, then analyzed using qualitative descriptive methods to describe respondents' attitudes, perceptions, and experiences regarding institutional roles. The results show that the most significant institutional contribution is in supporting member welfare through productive activities, with an index score of 97.60%. In terms of institutional function, the highest score (93.60%) was in establishing collaboration with government agencies, NGOs, and the private sector. Regarding institutional innovation, the group's role in encouraging technology adoption in production and processing received a score of 92.80%. Overall, the institutional role of the Parang Maha Farmer Group in developing coffee agribusiness is categorized as very high. These findings demonstrate the strategic role of farmer group institutions in strengthening business capacity, improving member welfare, and supporting the long-term sustainability of local community-based coffee agribusiness.Keywords: Institutional Role, Forest Farmer Groups, Coffee Agribusiness.
INOVASI PRODUK OLAHAN SUKUN SEBAGAI PANGAN UNGGULAN LOKAL (STUDI KASUS UMKM BUMDES TEMMAPPETUE TEAMALALA KABUPATEN BONE) ramadhan, ramadhan; Rahman, Syamsul; Ibrahim, Helda
Agricore: Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad Vol 10, No 2 (2025): Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian
Publisher : Departemen Sosial Ekonomi Faperta Unpad dan Perhepi Komisariat Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agricore.v10i2.67044

Abstract

Abstrak Kabupaten Bone dikenal sebagai salah satu penghasil utama sukun (Artocarpus altilis) di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.   Upaya peningkatan nilai tambah sukun dilakukan melalui usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak dibidang pengolahan. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Temmappettue di Kecamatan Ulaweng merupakan salah satu inisiatif lokal yang berfokus pada pengolahan sukun menjadi produk turunan seperti keripik dan tepung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi produk pada usaha pengolahan sukun berbasis UMKM dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi prioritas yang tepat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, serta studi literatur. Data dianalisis menggunakan pendekatan SWOT yang dilanjutkan dengan konstruksi matriks IFAS dan EFAS untuk memperoleh posisi strategi perusahaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama terletak pada keunikan produk yang khas dan kepemilikan sertifikasi produk berupa, PIRT, Halal, dan HAKI, sementara kelemahan pada inovasi yang belum rutin dan terstruktur dan kapasitas produksi yang masih terbatas. Peluang yang dapat dimanfaatkan adalah permintaan pasar yang tinggi dan dukungan kebijakan pemerintah untuk pengembangan inovasi pangan lokal, sedangkan ketersediaan dan harga bahan baku yang fluktuatif menjadi ancaman meskipun tidak begitu signifikan. Pemetaan SWOT menempatkan UMKM sukun pada Kuadran I (strategi agresif), sehingga strategi pengembangan yang disarankan adalah pengembangan inovasi melalui  diversifikasi produk, otomatisasi produksi, optimalisasi digital marketing, serta penguatan branding dengan memanfaatkan sertifikasi legalitas. Studi ini menyimpulkan bahwa produk olahan sukun dari  UKM di bawah BUMDes Temmappettue Teamalala Kabupaten Bone berpotensi besar untuk ditingkatkan daya saingnya melalui adaptasi teknologi untuk  meningkatkan kapasitas produksi,  dan membuka akses pasar yang lebih luas, serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan lokal dan kesejahteraan masyarakat desa.Kata kunci: Inovasi Produk, Pengolahan Sukun, BUMDes Temmappettue.Abstract Bone Regency is recognized as one of the main producers of breadfruit (Artocarpus altilis) in Indonesia, particularly in South Sulawesi. Efforts to increase the added value of breadfruit have been carried out through small and medium enterprises (SMEs) engaged in processing activities. Temmappettue Village-Owned Enterprise (BUMDes) in Ulaweng District represents a local initiative focusing on breadfruit processing into derivative products such as chips and flour. This study aims to analyze product innovation in breadfruit-based SMEs by identifying internal and external factors and formulating appropriate priority strategies. The research employed a descriptive qualitative method with data collected through in-depth interviews, observation, documentation, and literature review. Data were analyzed using the SWOT approach, followed by the construction of IFAS and EFAS matrices to determine the company’s strategic position. The findings indicate that the main strengths lie in the uniqueness of the products and the possession of product certifications such as PIRT, Halal, and Intellectual Property Rights (IPR), while weaknesses include unstructured and irregular innovation activities and limited production capacity. Opportunities to be leveraged consist of high market demand and supportive government policies for local food innovation, whereas fluctuating availability and prices of raw materials pose a relatively minor threat. The SWOT mapping positions the breadfruit SME in Quadrant I (aggressive strategy), suggesting that the recommended development strategies include product diversification, production automation, optimization of digital marketing, and brand strengthening through legal certifications. This study concludes that breadfruit-based products managed by the Temmappettue Teamalala BUMDes in Bone Regency have considerable potential to enhance competitiveness through technological adaptation to increase production capacity, expand market access, and contribute to local food security and rural community welfare.Keywords: Product Innovation, Breadfruit Processing, Temmappettue BUMDes.
Strategy For The Development of Mrs. Yanti's Coconut Oil Business in Simbang Village, Sub-District Majene Regency Busman, Busman; Rahman, Syamsul; Syamsinar, Syamsinar; Ibrahim , Helda
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i1.2170

Abstract

The Mandar coconut oil business is a household industry based on local resources that has economic and cultural value for the people of Majene Regency. However, the sustainability of this business faces various obstacles, especially limited capital, weak marketing management, and high competition with factory oil. This study aims to analyze the development strategy of Mrs. Yanti's Mandar coconut oil business in Simbang Village, Pamboang District, Majene Regency in improving her business performance. The research uses a descriptive qualitative approach with a case study method. Data was collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using a SWOT analysis approach through the preparation of IFAS, EFAS, and SWOT matrices. The results of the study show that Mandar's coconut oil business has the main strengths in the form of the availability of raw materials, product quality without preservatives, and consumer trust. The biggest opportunity comes from the character of the product as a local food typical of the region and the development of information technology. The results of the SWOT mapping place businesses in the growth quadrant, so the recommended strategy is an aggressive strategy, especially improving product quality, improving packaging, utilizing digital promotional media, and strengthening capital through access to business financing. The implementation of this strategy is expected to improve business performance and the sustainability of the Mandar coconut oil household industry
Risk Analisys of Palm Sugar Processing as a Local Leading Product in Mamuju Regency Dewi Purnamasari, Sri; Rahman, Syamsul; Ibrahim, Helda
Tarjih : Agribusiness Development Journal Vol. 5 No. 2 (2025): VOLUME 05, NOMOR 02, DESEMBER 2025
Publisher : Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47030/tadj.v5i2.1025

Abstract

The palm sugar processing industry has significant economic potential as a leading local product; however, it faces various challenges that may hinder sustainability. This study aims to identify the risks encountered by palm sugar businesses in Mamuju Regency and to analyze their severity levels. The research focuses on uncertainties arising from internal and external factors, including raw material availability, production processes, marketing, financial access, and environmental and social aspects. This study employed a descriptive-exploratory method with a mixed-methods approach. Data were obtained through semi-structured interviews, observations, and closed-ended questionnaires involving eight purposively selected respondents. The analysis applied the Risk Matrix, with scores calculated as the product of probability and impact. Risks were then categorized into four levels: low, medium, high, and extreme. Data validity was strengthened through source triangulation and expert judgment from academics and related institutions. The findings identified 13 major risks. Extreme risks included reduced sap supply during the dry season (score 16) and declining market demand (score 20). High-level risks involved equipment damage, price fluctuations, limited access to capital, and extreme weather. Medium risks included inconsistent sap quality, adulteration of raw materials, and conflicts among tappers. Low-level risks were related to delayed payments and workplace accidents. The study concludes that external risks are more dominant than internal risks in determining business sustainability. Comprehensive mitigation strategies are therefore required, including equipment modernization, quality standardization, market diversification, process innovation, and improved access to capital, to enhance the competitiveness of palm sugar as a leading local product.
Cyber Extension Sebagai Media Penyuluhan Pertanian Untuk Meningkatkan Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap Petani : Cyber Extension As A Medium For Agricultural Extension To Enhance Farmers Knowledge, Skills, and Attitudes Hammam Syihab, Habib; Yunus, Awaluddin; Rahman, Syamsul
Agribusiness and Socioeconomic Journal Vol. 4 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peineilitian ini beirtuijuian uintuik meingkaji peimanfaatan Cybeir Eixteinsion seibagai meidia peinyuiluihan peirtanian yang dapat meiningkatkan peingeitahuian, keiteirampilan, dan sikap peitani. Meitodei peineilitian yang diguinakan adalah kuialitatif deingan peindeikatan deiskriptif, yang meilibatkan wawancara dan obseirvasi teirhadap peinyuiluih peirtanian dan peitani di Balai Peineirapan Standar Instruimein Peirtanian Suilaweisi Seilatan. Hasil peineilitian meinuinjuikkan bahwa Cybeir Eixteinsion eifeiktif seibagai meidia peinyuiluihan, deingan 100% peinyuiluih meilaporkan peiningkatan peingeitahuian peitani. Seilain itui, 84% peitani meingalami peiningkatan keiteirampilan dan 91% meinuinjuikkan peiruibahan sikap positif seiteilah meimanfaatkan meidia ini. Manfaat uitama dari Cybeir Eixteinsion adalah peiningkatan akseisibilitas informasi peirtanian, meiskipuin teirdapat hambatan seipeirti kuirangnya infrastruiktuir inteirneit dan keiteirbatasan peingeitahuian teiknologi di kalangan peingguina. Deingan deimikian, Cybeir Eixteinsion beirpeiran peinting dalam meinduikuing peingeimbangan peingeitahuian, keitrampilam dan sikap peitani.
Peran Media Informasi pada Usahatani Padi Sawah di Kelurahan Galung Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng Sumange, Andi Muhammad Faried Anshari; Sumange, La; Rahman, Syamsul
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i1.19875

Abstract

Increasing food security today is not only a real action in agricultural activities, but has implemented information technology for data processing, and has been used in various fields, especially agriculture based on the internet and multimedia, especially millennial farmers in utilizing technology to increase their farming productivity. The study was conducted from February to April 2025 in Galung Village. The farmer population was 153 people, 15% were selected so that 23 people were selected as samples. The study aims to examine social media and supporting and inhibiting factors for the use of social media in Rice Farming in Galung Village. Data analysis used is descriptive and analysis using the Likert Scale. The results of the study showed that the use of social media Youtube and WhatsApp for hand tractors had a very influential value of 3.7 and 3.6, Transplanters via Youtube, Facebook and WhatsApp had an influence, quite influential with values 2.5, 1.5 and 1.8. Combine Harvester had an influence, quite influential, values 2.8, 2.4 and 1.3. Technology in the form of seeds, fertilizers and medicines had
Strategi Pemasaran Cabai Katokkon dengan metode Analisis SWOT dan Prioritas Rekomendasi di Kabupaten Tana Toraja Somalinggi, Selfina; Rahman, Syamsul; Ibrahim, Helda
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 5 No. 1 (2026): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Januari 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v5i1.5131

Abstract

Tujuan penelitian ini Untuk menganalisis strategi pemasaran yang digunakan oleh pelaku usaha dalam memasarkan Cabai Katokkon khas Toraja serta mengevaluasi efektivitasnya dalam meningkatkan daya saing produk. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Informan kunci terdiri dari 15 petani, 10 pedagang, dan 5 pelaku UMKM di Kabupaten Tana Toraja. Analisis strategi dilakukan menggunakan kerangka SWOT yang diolah melalui Matriks IFAS dan EFAS. Hasil perhitungan Matriks IFAS adalah 2.19, mengindikasikan bahwa kondisi internal usaha lebih didominasi oleh Kelemahan. Sementara itu, Skor EFAS adalah 2.50, menunjukkan bahwa Peluang eksternal berada dalam posisi netral atau seimbang dengan Ancaman. Posisi strategis ini menempatkan pemasaran Cabai Katokkon pada Kuadran II (Strategi Diversifikasi/Turnaround), yang memerlukan perbaikan internal. Faktor Kelemahan paling kritis adalah rendahnya pengetahuan budidaya (W5) yang menjadi bottleneck utama bagi konsistensi kualitas (W2). Prioritas strategi utama yang direkomendasikan adalah Strategi WT (Defensif): Akselerasi peningkatan mutu budidaya dan efisiensi rantai pasok untuk memitigasi Ancaman iklim dan kenaikan biaya input. Strategi ini kemudian didukung oleh Strategi SO (Agresif), yaitu penguatan brand digital premium dan diversifikasi produk olahan untuk memanfaatkan tren pasar pedas dan e-commerce. Kesimpulan penelitian ini adalah Strategi pemasaran Cabai Katokkon menghadapi masalah mendasar, yaitu kontradiksi antara ambisi dan realitas. Disatu sisi, produk ini memiliki potensi besar untuk menjadi brand premium karena sudah dikenal luas di luar Toraja dan dianggap unik (Kekuatan S1 & S4). Disisi lain, potensi ini terhalang oleh titik kemacetan (bottleneck) utama: rendahnya keterampilan budidaya yang berujung pada kualitas produk yang tidak konsisten.