Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Implementation of Integrated Health Service and Promotion Posts for Non-Communicable Diseases (NCDs) to Improve Knowledge, Anthropometric and Nutritional Counseling Skills of Adolescent Cadres in Schools Sri Noor Mintarsih; Susi Tursilowati; Ria Ambarwati; Mardiana Mardiana; Zuhria Ismawanti
AgriHealth: Journal of Agri-food, Nutrition and Public Health Vol 5, No 1 (2024): April
Publisher : Research and Development Center for Food, Nutrition and Public Health (P4GKM) LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/agrihealth.v5i1.84079

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) risk factors include changes in the lifestyle of adolescents with unhealthy diets tend to fast food, lack of activity and exercise, increased stressors, and exposure to environmental conditions that are not conducive to health. Establishing NCDs Integrated Health Service and Promotion Post is an efficient and effective control strategy aiming at early detection of NCDs risk factors. Empowerment of peer counsellors as Integrated Development Post cadres is expected to become agents of change and detect NCDs risk factors in schools. This research determines the effectiveness of implementing an adolescent-Integrated Development Post in schools to increase the adolescent cadre’s knowledge, anthropometric skills, and nutritional counseling. It is an experimental design with one group pre-post test at one of the high schools in Semarang City. Integrated Development Post cadres are peer counselors selected according to the criteria of 10% of the total number of students (36 people) from 11th grade. Differences in knowledge scores, anthropometric skills, and nutritional counseling of cadres were analyzed using the Paired T-test. The cadre’s knowledge scores increased from 50.55 to 70.11; anthropometric skills include weighing from 61.67 to 98.98, measuring height from 54.63 to 94.25, and nutritional counseling from 72.92 to 86.71. Paired T-test results show a p-value < 0.05. Integrated Development Post effectively increases cadre’s knowledge scores, anthropometric skills, and nutritional counseling. It can also detect risk factors to prevent and control NCDs in the school.
Efektifitas edukasi dan konseling faktor risiko hipertensi terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan frekuensi konsumsi natrium pada remaja dengan tekanan darah di atas normal Sri Noor Mintarsih; Zuhria Ismawanti; Kun Aristiati Susiloretni; Izzati Hayu Andari; Mardiana Mardiana; Etika Ratna Noer
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2026): April
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v7i1.3100

Abstract

Background: Hypertension is no longer limited to older adults and increasingly affects adolescents. Behavioral risk factors, such as high sodium intake, high fat consumption, and insufficient physical activity, contribute to an increased risk of hypertension. Limited knowledge and unfavorable attitudes toward hypertension prevention among adolescents may perpetuate unhealthy behaviors, highlighting the need for educational interventions as an early strategy to prevent non-communicable diseases.Objective: This study aimed to determine the effectiveness of education and counselling in improving adolescents’ knowledge, attitudes, and dietary patterns related to hypertension risk factors.Methods: An experimental study using a pretest–posttest control group design was conducted at SMAN 10, Semarang City, from June 19 to July 23, 2025. A total of 29 tenth-grade students with blood pressure >120/80 mmHg were randomly assigned to the intervention (n = 15) and control (n = 14) groups. The intervention consisted of nutrition education and counselling using a booklet entitled “Healthy Living to Prevent Hypertension.” The collected data included knowledge, attitudes, and frequency of sodium-rich food consumption. Data were analyzed using independent t-tests.Results: The mean increase in knowledge (6.6 points) and attitude (2.1 points) scores was higher in the intervention group (p=0.109; p=0.333), and the mean frequency score of sodium-rich food consumption decreased by 3 points (p=0.115) compared to that in the control group. However, these differences were not statistically significant. Based on effect size, the intervention showed a greater tendency to reduce the frequency of sodium-rich food consumption (12.9%) than to improve knowledge (10.5%) and attitudes (3.7%).Conclusion: Nutrition education and counselling have the potential to improve knowledge, attitudes, and sodium-related dietary patterns among adolescents, although the results were not statistically significant in this study. This intervention shows promise as a preventive strategy for hypertension in adolescents. 
Hubungan Asupan Zink, Vitamin D dan Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Felita Ainun Nabil; Zuhria Ismawanti
Media Gizi Ilmiah Indonesia Vol 4 No 2 (2026): AUGUST 2026
Publisher : Kabar Gizi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62358/mgii.v4i2.183

Abstract

Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan penyakit metabolic kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Selain asupan makronutrien, mikronutrien seperti zink dan vitamin D berperan dalam metabolisme glukosa sehingga dapat memengaruhi pengendalian kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan zink, vitamin D, dan kadar glukosa darah puasa pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional dilakukan pada 33 peserta prolanis di Puskesmas Kedungmundu, Kota Semarang. Data asupan zink dan vitamin D diperoleh melalui metode 24 jam Food Recall dan dianalisis menggunakan NutriSurvey, sedangkan data glukosa darah puasa diperoleh dari rekam medis responden. Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki asupan zink dan vitamin D yang kurang serta kadar glukosa darah puasa yang belum terkontrol. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara asupan zink dengan kadar glukosa darah puasa (p = 0.035, r = -0.667). Asupan vitamin D juga berhubungan signifikan dengan kadar glukosa darah puasa (p=0.000; r=-0.727). Disimpulkan bahwa asupan zink dan vitamin D berhubungan signifikan dengan kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah sampel yang terbatas (n = 33) dan penggunaan metode recall satu hari yang belum menggambarkan asupan harian jangka panjang. Edukasi gizi terkait ketercukupan mikronutrien ini relevan dipertimbangkan sebagai salah satu aspek pendukung dalam pengelolaan glukosa darah pada penderita diabetes melitus tipe 2
Hubungan Keragaman Jenis Konsumsi Pangan Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Hipertensi Shella Mitasari; Zuhria Ismawanti
Media Gizi Ilmiah Indonesia Vol 4 No 2 (2026): AUGUST 2026
Publisher : Kabar Gizi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62358/mgii.v4i2.187

Abstract

Indonesia sedang mengalami transisi epidemiologi yang ditandai dengan meningkatnya kejadian penyakit tidak menular, salah satunya hipertensi. Hipertensi dapat menimbulkan komplikasi serius yang berdampak pada penurunan kualitas hidup. Penerapan konsumsi pangan yang beragam merupakan salah satu upaya penatalaksanaan gizi pada pasien hipertensi guna membantu memenuhi kebutuhan zat gizi secara seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keragaman jenis konsumsi pangan dengan kualitas hidup pada pasien hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 33 pasien hipertensi di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data keragaman konsumsi pangan diperoleh menggunakan instrumen Dietary Diversity Score melalui metode food recall 24 jam, sedangkan data kualitas hidup diperoleh menggunakan 36-Item Short Form Health Survey (SF-36). Analisis hubungan antara keragaman konsumsi pangan dan kualitas hidup dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki keragaman konsumsi pangan dalam kategori sedang (72,7%) dan kualitas hidup dalam kategori tinggi (75,7%). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara skor keragaman konsumsi pangan dengan skor kualitas hidup (r = 0,52; p = 0,003), yang menunjukkan bahwa semakin beragam konsumsi pangan, semakin baik kualitas hidup responden. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keragaman konsumsi pangan dan kualitas hidup pada pasien hipertensi di Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang.
Pengaruh Substitusi Tepung Biji Alpukat terhadap Daya Terima dan Kadar Serat Cookies Alfi Rekhajanani; Mohammad Jaelani; Zuhria Ismawanti; Setyo Prihatin; Ria Ambarwati; Enny Rahmawati
Jurnal Gizi dan Kuliner (Journal of Nutrition and Culinary) Vol. 5 No. 1 (2025): EDISI FEBRUARI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK : Asupan serat yang rendah di Indonesia merupakan salah satu penyebab terjadinya penyakit degeneratif. Perlu upaya meningkatkan asupan serat dengan menambahkan bahan pangan tinggi serat pada makanan, yaitu substitusi tepung biji alpukat dalam cookies. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung biji alpukat (Persea americana Mill.) terhadap daya terima dan kadar serat cookies Penelitian ini merupakan penelitian experimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Substitusi tepung biji alpukat dalam cookies yaitu F0 (0%), F1 (10%), F2 (20%), F3 (30%), F4 (40%), dan F5 (50%) dengan dua kali ulangan. Uji daya terima panelis menggunakan uji hedonik dengan 5 skala (sangat tidak suka, tidak suka, agak suka, suka, dan sangat suka), kemudian dianalisis menggunakan uji Friedman. Uji kadar serat menggunakan metode multienzim, dianalisis dengan uji beda One Way ANOVA, dan uji lanjut Tuckey. Hasil uji Friedman menunjukan terdapat perbedaan signifikan pada uji hedonik pada warna, aroma dan rasa, sedangkan tekstur tidak menunjukan perbedaan signifikan. Ada perbedaan kadar serat pada cookies substitusi tepung biji alpukat, dengan kadar serat tertinggi pada F5 (50%) dan terendah pada F0 (0%) yang menunjukan semakin tinggi substitusi tepung biji alpukat, akan semakin tinggi kadar seratnya. Cookies dengan daya terima tertinggi adalah cookies dengan substitusi 30% tepung biji alpukat, serta unggul dalam aspek warna dan tekstur. Reformulasi cookies diperlukan untuk meningkatkan kualitas dalam segi rasa. Kata kunci: Daya terima; Serat; Cookies tepung biji alpukat
FORMULASI SOSIS IKAN KEMBUNG DAN TEPUNG DAUN KELOR (BUNGKLOR) SEBAGAI ALTERNATIF JAJANAN SUMBER PROTEIN BAGI ANAK SEKOLAH Arwin Muhlisoh; Aulia Firdausya; Bahriyatul Ma’rifah; Zuhria Ismawanti
Darussalam Nutrition Journal Vol. 10 No. 1 (2026): Darussalam Nutrition Journal
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/dnj.v10i1.2

Abstract

Latar Belakang: Protein merupakan salah satu kandungan gizi yang dibutuhkan oleh anak sekolah dasar dimana untuk memenuhinya dapat diberikan dalam bentuk pangan jajanan anak sekolah (PJAS) berupa sosis ikan yang dapat dibuat dari ikan kembung dan tepung daun kelor (BungKlor). Tujuan: Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh penambahan tepung daun kelor terhadap kandungan gizi makro (kadar air, kadar abu, protein, lemak, dan karbohidrat) dan sifat organoleptik sosis ikan kembung. Metode: Jenis penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan menggunakan perbandingan ikan kembung : tepung daun kelor yaitu F1 (150 g : 5 g), F2 (150 g : 7,5 g), dan F3 (150 g : 10 g). Pengolahan data kandungan gizi menggunakan uji One Way ANOVA dan uji lanjut Duncan. Pengolahan data uji organoleptik menggunakan uji  Kruskal  Wallis dan uji lanjut Man  Whitney. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penambahan tepung daun kelor terhadap kandungan gizi, uji mutu hedonik warna, tekstur, dan mouthfeel sosis ikan kembung (p<0,05), namun tidak terdapat pengaruh terhadap uji hedonik pada semua parameter dan uji mutu hedonik aroma, rasa, dan aftertaste (p>0,05). Simpulan: Formulasi terpilih yaitu F1 dengan hasil organoleptik warna hijau keabuan, aroma amis, tekstur cukup kenyal, rasa tidak enak, aftertaste kuat, dan mouthfeel cukup kenyal. F1 telah memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada anak usia sekolah dasar (7-12 tahun) dan memenuhi klaim sebagai sumber protein.