Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Program Pendampingan Debat Bahasa Inggris Bagi Siswa SMA Di Palangka Raya Emeral, Emeral; Adji, Tegar Sukma; Tirtayasa, Tirtayasa; Loren, Teresya; Setiawan, Tenlie; Sylvanus, Tio
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol 8, No 3 (2025): Juli 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i3.3504

Abstract

The National Schools Debating Championship (NSDC) is among the most popular debate competitions. Schools in Indonesia strive to prepare their best students for this prestigious competition. One high school in Palangka Raya, Central Kalimantan, also prepares its students to participate in this prestigious event. To this end, the school formed an English Debate Club (EDC). However, the enthusiasm of EDC members in practising tends to be inconsistent, which impacts the effectiveness of their preparation. In response to this problem, a team of lecturer and students from the English Education Study Program, Palangka Raya University, implemented a coaching program to increase the enthusiasm, confidence, and debating skills of EDC members. The coaching activities were conducted in four sessions, covering motion analysis training, case studies, and debate practice, with guidance from an outstanding student representing the university in the National University Debating Championship (NUDC) at the national level. Qualitative questionnaire results indicated increased enthusiasm and self-confidence among EDC members during training sessions and improved understanding of debate strategies. This initiative demonstrates that coaching based on the direct experience of a high-achieving debater can serve as an effective strategy for developing debate clubs in secondary schools.Keywords: enthusiasm; coaching program; debate strategy; self-confidence; debate club Abstrak: National Schools Debating Championship (NSDC) merupakan salah satu kompetisi debat yang paling populer. Sekolah di Indonesia berusaha mempersiapkan potensi terbaiknya untuk mengikuti kompetisi bergengsi ini. Salah satu sekolah menengah atas di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga mempersiapkan para siswanya untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. Untuk itu, sekolah membentuk English Debate Club (EDC). Namun, antusiasme anggota EDC dalam berlatih cenderung tidak konsisten, yang berdampak pada efektivitas persiapan mereka. Menanggapi permasalahan tersebut, tim dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Palangka Raya melaksanakan program pendampingan guna meningkatkan antusiasme, percaya diri dan kemampuan debat para anggota EDC. Kegiatan pendampingan dilakukan dalam empat sesi pertemuan, yang mencakup pelatihan analisis mosi, pembedahan kasus, serta praktik debat, dengan bimbingan dari mahasiswa berprestasi yang pernah mewakili universitas dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) tingkat nasional. Hasil survei menunjukkan peningkatan antusiasme dan kepercayaan diri anggota EDC dalam mengikuti latihan, serta pemahaman yang lebih baik terhadap strategi debat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis pengalaman langsung dari mahasiswa debat berprestasi dapat menjadi strategi efektif dalam membina klub debat di sekolah menengah.Kata kunci: antusiasme; program pendampingan; strategi debat; percaya diri; klub debat
Peningkatan Motivasi Siswa Belajar Bahasa Inggris Melalui Program English Camp Emeral, Emeral; Pratika, Dellis; Amalia, Novika; Azhara, Saydatina Fatimah; Apriandy, Apriandy; Toendan, Stevano Gabriel
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v6i3.500

Abstract

Program English Camp merupakan upaya strategis yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris melalui pendekatan pembelajaran yang terstruktur, kontekstual, relevan, dan interaktif. Program ini berangkat dari permasalahan rendahnya kesadaran siswa terhadap pentingnya penguasaan Bahasa Inggris, pengelolaan English Club  yang belum optimal, serta keterbatasan materi dan media pembelajaran yang menarik. Pelaksanaan English Camp dilakukan melalui lima tahapan, yaitu sosialisasi, pembelajaran berbasis modul Speak, Play, and Learn, integrasi teknologi melalui video dan kuis interaktif di LMS Canvas, pendampingan guru melalui co-teaching, serta keberlanjutan program melalui penyediaan perangkat pembelajaran. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa 27 dari 29 siswa (93%) konsisten mengikuti rangkaian kegiatan dan mayoritas siswa aktif dan senang terlibat dalam sesi tanya jawab, diskusi dan permainan edukatif. Materi, aktivitas, dan media yang variatif serta integrasi unsur teknologi dan gamifikasi terbukti mampu menstimulasi motivasi siswa dengan gaya belajar yang beragam, sehingga menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, bermakna, dan memotivasi. Temuan ini menegaskan bahwa English Camp efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan dapat menjadi strategi alternatif dalam mendukung keberlanjutan kegiatan ekstrakurikuler seperti English Club .
Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak di Panti Asuhan Imanuel Palangka Raya Melalui Program Reading Corner Emeral, Emeral; Evelina Buji, Grace; Purnama Sari, Uswatun Hasanah; Rakhmawati, Dewi; Siskaevia, Siskaevia; Riandie, Riandie
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 7 No. 3 (2024): Juli 2024
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v7i3.3324

Abstract

Developing reading habits is part of empowering education; therefore, reading habits should be instilled from an early age. However, not all children can experience facilities such as reading various types of reading books that suit their interests and preferences, as is the case with children in orphanages. As a response, this community service plays a part in increasing children’s interest in reading. The program we proposed, namely Reading Corner, took place at Imanuel Orphanage in Palangka. The program was carried out by assessing the needs, designing the Reading Corner, and implementing it. Reading Corner serves as a facility for extensive reading at home. Reading Corner allows the children to read various types of books based on their preferences. The result of this program indicated that the children looked enthusiastic about the books as they chose and borrowed the book to read. The closer children are to the books, the more often they will use their time to access and read the books. In line with that, it is expected that the literacy level of Indonesian will increase. Keywords: reading corner; reading interest; reading habit Mengembangkan budaya membaca merupakan bentuk dari penyelenggaraan pendidikan, maka dari itu budaya membaca harus ditanamkan sejak dini pada anak. Namun, tidak semua anak dapat merasakan fasilitas seperti membaca aneka jenis buku bacaan yang sesuai minatnya, seperti halnya anak-anak di panti asuhan. Maka dari itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca pada anak di Panti Asuhan Imanuel Palangka Raya. Program yang dilaksanakan adalah dengan menyediakan fasilitas Reading Corner atau pojok baca. Adapun tahapan kegiatan mencakup pendataan kebutuhan, perancangan, dan pelaksanaan. Hasil dari kegiatan ini adalah untuk menghadirkan Reading Corner di panti asuhan guna memberikan akses kepada anak-anak untuk membaca aneka jenis buku yang menarik dan sesuai dengan minat mereka. Respon anak-anak terhadap Reading Corner sangat positif. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme mereka dalam memilih dan meminjam buku bacaan. Diharapakan, semakin dekat anak dengan buku-buku bacaan, maka mereka akan lebih sering menggunakan waktunya untuk mengakses dan membaca buku-buku tersebut. Sejalan dengan itu, kami mengharapkan agar tingkat literasi anak-anak Indonesia semakin meningkat.Kata kunci: kebiasaan membaca; minat baca; pojok baca; Reading Corner
Program Pendampingan Debat Bahasa Inggris Bagi Siswa SMA Di Palangka Raya Emeral, Emeral; Adji, Tegar Sukma; Tirtayasa, Tirtayasa; Loren, Teresya; Setiawan, Tenlie; Sylvanus, Tio
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 8 No. 3 (2025): Juli 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i3.3504

Abstract

The National Schools Debating Championship (NSDC) is among the most popular debate competitions. Schools in Indonesia strive to prepare their best students for this prestigious competition. One high school in Palangka Raya, Central Kalimantan, also prepares its students to participate in this prestigious event. To this end, the school formed an English Debate Club (EDC). However, the enthusiasm of EDC members in practising tends to be inconsistent, which impacts the effectiveness of their preparation. In response to this problem, a team of lecturer and students from the English Education Study Program, Palangka Raya University, implemented a coaching program to increase the enthusiasm, confidence, and debating skills of EDC members. The coaching activities were conducted in four sessions, covering motion analysis training, case studies, and debate practice, with guidance from an outstanding student representing the university in the National University Debating Championship (NUDC) at the national level. Qualitative questionnaire results indicated increased enthusiasm and self-confidence among EDC members during training sessions and improved understanding of debate strategies. This initiative demonstrates that coaching based on the direct experience of a high-achieving debater can serve as an effective strategy for developing debate clubs in secondary schools.Keywords: enthusiasm; coaching program; debate strategy; self-confidence; debate club Abstrak: National Schools Debating Championship (NSDC) merupakan salah satu kompetisi debat yang paling populer. Sekolah di Indonesia berusaha mempersiapkan potensi terbaiknya untuk mengikuti kompetisi bergengsi ini. Salah satu sekolah menengah atas di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga mempersiapkan para siswanya untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. Untuk itu, sekolah membentuk English Debate Club (EDC). Namun, antusiasme anggota EDC dalam berlatih cenderung tidak konsisten, yang berdampak pada efektivitas persiapan mereka. Menanggapi permasalahan tersebut, tim dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Palangka Raya melaksanakan program pendampingan guna meningkatkan antusiasme, percaya diri dan kemampuan debat para anggota EDC. Kegiatan pendampingan dilakukan dalam empat sesi pertemuan, yang mencakup pelatihan analisis mosi, pembedahan kasus, serta praktik debat, dengan bimbingan dari mahasiswa berprestasi yang pernah mewakili universitas dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) tingkat nasional. Hasil survei menunjukkan peningkatan antusiasme dan kepercayaan diri anggota EDC dalam mengikuti latihan, serta pemahaman yang lebih baik terhadap strategi debat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis pengalaman langsung dari mahasiswa debat berprestasi dapat menjadi strategi efektif dalam membina klub debat di sekolah menengah.Kata kunci: antusiasme; program pendampingan; strategi debat; percaya diri; klub debat
Peningkatan Kosakata Bahasa Inggris melalui Penerapan Game Spelling Bee di SDN 1 Pulau Mambulau Nasution, Hikmal Maulana; Fauzi, Iwan; Emeral, Emeral; Jami, Sonia Vriska Yulinda; Muliawan, Sunanda Alam
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 2 (2025): Bulan November
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i2.723

Abstract

Penguasaan kosakata merupakan dasar penting dalam pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar. Namun, siswa SDN 1 Pulau Mambulau masih menghadapi kendala dalam memahami dan mengingat kosakata akibat metode pembelajaran yang monoton. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa melalui penerapan permainan Spelling Bee sebagai bentuk Game-Based Learning (GBL). Metode yang digunakan adalah Participatory Learning and Action (PLA) yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan dilaksanakan selama tiga kali pertemuan dengan tahapan pengenalan alfabet, pengenalan kosakata benda di kelas, dan pelaksanaan permainan Spelling Bee. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai siswa dari 34,38 pada pre-test menjadi 74,38 pada post-test, serta peningkatan motivasi, keaktifan, dan kepercayaan diri siswa dalam belajar bahasa Inggris. Temuan ini menegaskan bahwa metode permainan Spelling Bee efektif dalam memperkuat penguasaan kosakata sekaligus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif bagi siswa sekolah dasar.
Exploring Gamer English Usage: Insights from a Narrative Inquiry Nasution, Hikmal Maulana; Fauzi, Iwan; Emeral; Muliawan, Sunanda Alam; Jami, Sonia Vriska Yulinda
General English Education Vol 6 No 1 (2026): EBONY- Journal of English Language Teaching, Linguistics, and Literature
Publisher : The Study Program of English Education of Palangka Raya University 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/ebony.v6i1.23314

Abstract

Games are increasingly recognized as effective tools for supporting language learning, particularly in the development of speaking and pronunciation skills. While previous studies have highlighted the potential of digital games for language learning, fewer have examined informal online gaming experiences from learner narrative perspectives, especially in relation to speaking and pronunciation development. This study explores how a recent high school graduate improved his English proficiency through online gaming, aiming to understand how informal and extramural activities contribute to language development outside the classroom. Using a narrative inquiry approach, data were collected through semi-structured interviews, transcribed, and thematically analyzed to capture the participant personal experiences. The findings reveal that online gaming provided meaningful exposure to English and motivated the participant to communicate more actively with teammates. Through interactions on platforms such as Discord and PlayStation Party, the participant practiced pronunciation, expanded vocabulary, and received immediate feedback from other players. The collaborative and immersive nature of gaming created a low-anxiety environment that increased confidence and willingness to speak. These results demonstrate that language learning can occur beyond formal education and that extramural activities offer rich opportunities for authentic language use.
Optimalisasi Literasi Digital Guru dalam Penulisan Artikel Promosi Potensi Daerah Berbasis SEO Richard Ferry Nugraha; Bahing; Ristati; Muhammad Subhan Fikri; Emeral; Novika Amalia; Dellis Pratika; Cendikia Flory Aristia; Tutik Haryani; Sovia Rahmaniah; Basir Hidayatullah; Rafi
Jurnal SOLMA Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v15i1.22772

Abstract

Background: Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk mengoptimalkan literasi digital guru melalui pengenalan konsep dan praktik Search Engine Optimization (SEO) dalam penulisan artikel promosi potensi daerah di Kalimantan Tengah. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memperkuat peran guru tidak hanya sebagai fasilitator pembelajaran di kelas, tetapi juga sebagai agen literasi digital yang mampu berkontribusi pada pembangunan daerah melalui karya tulis kreatif berbasis teknologi. Metode: Program dirancang dalam bentuk workshop yang terdiri atas pemaparan materi, diskusi, serta praktik langsung menulis artikel berbasis SEO dalam bahasa Inggris. Sebanyak 17 guru berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini dan memberikan umpan balik melalui kuesioner. Hasil: Temuan menunjukkan bahwa mayoritas peserta menunjukkan persepsi positif terhadap aspek penyampaian materi (100%), kepuasan terhadap workshop (82%), alokasi waktu (94%), motivasi (94%) dan kepercayaan diri (100%). Selain itu, artikel peserta yang dipublikasi memiliki visibilitas yang cukup baik dengan 226 impresi dan pembaca dari mancanegara. Kesimpulan: Secara keseluruhan, program ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam penulisan artikel berbasis SEO sekaligus menumbuhkan motivasi mereka sebagai agen literasi digital. Di masa mendatang, kegiatan serupa perlu menyediakan waktu lebih panjang dan pendampingan berkelanjutan agar dampaknya lebih optimal.
Bridging Language and Heritage: Exploring Teachers’ Use of Digital Applications in Teaching English With Dayak Ngaju Cultural Content Bannus, Dedy; Emeral
Ethical Lingua: Journal of Language Teaching and Literature Vol. 13 No. 1 (2026): Volume 13 No 1 April 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/25409190.926

Abstract

Culture-Based Teaching (CBT) enhances students’ linguistic competence and cultural awareness, and recent advances in digital applications offer new opportunities for embedding indigenous content into EFL pedagogy. Despite the proliferation of digital tools in language classrooms, little research has examined how teachers integrate Dayak Ngaju cultural materials into digitally assisted English instruction. This exploratory qualitative study investigates the digital applications EFL teachers use, the language skills they target, and the challenges they encounter when teaching English with Dayak Ngaju cultural content. Semi-structured interviews were conducted with six senior high school teachers from two regencies in Central Kalimantan Province, Indonesia, and the transcripts were analysed using thematic analysis in NVivo 12 and Transcribe. The results reveal that YouTube and Canva are the most frequently employed applications, with local folklore serving as the primary Dayak Ngaju content. Speaking and writing emerge as the main skills teachers aim to develop through these digital resources. However, the study also highlights several obstacles, including unstable internet connectivity, insufficient teacher training, technical issues, school restrictions, and a lack of suitable Dayak Ngaju materials for the senior high school level. This study suggests that educators should be equipped with targeted training and accessible digital resources to effectively incorporate Dayak Ngaju cultural content into English instruction, enhancing students' language skills and cultural awareness.
Academic Writing Challenges and Strategies among Indonesian EFL Learners: A Study from Central Kalimantan Emeral; Tutik Haryani; Dedy Arianto Bannus
JADEs Journal of Academia in English Education Vol. 7 No. 1 (2026): JADEs Journal of Academia in English Education
Publisher : Tadris Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/jades.v7i1.14340

Abstract

This study investigates the challenges, attitudes, and strategies of Indonesian EFL learners in academic writing, focusing on EFL learners from Central Kalimantan, a context that has received limited scholarly attention. Employing a mixed-method design, data were collected from 163 undergraduate students through questionnaires and interviews. The findings revealed that learners experienced difficulties in academic writing, with sentence structure (76%), topic familiarization (75%), and grammar (62%), emerging as the most challenging aspects. The degree of difficulty significantly varied across gender and academic year, with female and sophomore students reporting greater challenges. Despite these challenges, participants demonstrated generally positive attitudes toward academic writing, considering it essential for their academic and professional development. The participants reported various strategies to overcome difficulties, such as initiating self- and peer-review, and implementing extensive use of artificial intelligence (AI) tools like Grammarly, QuillBot, and ChatGPT. While these digital tools were perceived as beneficial in enhancing accuracy and organization, the participants also expressed caution regarding overreliance. The results emphasize the importance of developing context-specific strategies to strengthen writing practice and grammar instruction. The study contributes a contextualized understanding of EFL learners’ academic writing experiences and emphasizes the balance between human effort and technological support.