Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Program Pendampingan Debat Bahasa Inggris Bagi Siswa SMA Di Palangka Raya Emeral, Emeral; Adji, Tegar Sukma; Tirtayasa, Tirtayasa; Loren, Teresya; Setiawan, Tenlie; Sylvanus, Tio
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol 8, No 3 (2025): Juli 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i3.3504

Abstract

The National Schools Debating Championship (NSDC) is among the most popular debate competitions. Schools in Indonesia strive to prepare their best students for this prestigious competition. One high school in Palangka Raya, Central Kalimantan, also prepares its students to participate in this prestigious event. To this end, the school formed an English Debate Club (EDC). However, the enthusiasm of EDC members in practising tends to be inconsistent, which impacts the effectiveness of their preparation. In response to this problem, a team of lecturer and students from the English Education Study Program, Palangka Raya University, implemented a coaching program to increase the enthusiasm, confidence, and debating skills of EDC members. The coaching activities were conducted in four sessions, covering motion analysis training, case studies, and debate practice, with guidance from an outstanding student representing the university in the National University Debating Championship (NUDC) at the national level. Qualitative questionnaire results indicated increased enthusiasm and self-confidence among EDC members during training sessions and improved understanding of debate strategies. This initiative demonstrates that coaching based on the direct experience of a high-achieving debater can serve as an effective strategy for developing debate clubs in secondary schools.Keywords: enthusiasm; coaching program; debate strategy; self-confidence; debate club Abstrak: National Schools Debating Championship (NSDC) merupakan salah satu kompetisi debat yang paling populer. Sekolah di Indonesia berusaha mempersiapkan potensi terbaiknya untuk mengikuti kompetisi bergengsi ini. Salah satu sekolah menengah atas di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga mempersiapkan para siswanya untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. Untuk itu, sekolah membentuk English Debate Club (EDC). Namun, antusiasme anggota EDC dalam berlatih cenderung tidak konsisten, yang berdampak pada efektivitas persiapan mereka. Menanggapi permasalahan tersebut, tim dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Palangka Raya melaksanakan program pendampingan guna meningkatkan antusiasme, percaya diri dan kemampuan debat para anggota EDC. Kegiatan pendampingan dilakukan dalam empat sesi pertemuan, yang mencakup pelatihan analisis mosi, pembedahan kasus, serta praktik debat, dengan bimbingan dari mahasiswa berprestasi yang pernah mewakili universitas dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) tingkat nasional. Hasil survei menunjukkan peningkatan antusiasme dan kepercayaan diri anggota EDC dalam mengikuti latihan, serta pemahaman yang lebih baik terhadap strategi debat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis pengalaman langsung dari mahasiswa debat berprestasi dapat menjadi strategi efektif dalam membina klub debat di sekolah menengah.Kata kunci: antusiasme; program pendampingan; strategi debat; percaya diri; klub debat
Peningkatan Motivasi Siswa Belajar Bahasa Inggris Melalui Program English Camp Emeral, Emeral; Pratika, Dellis; Amalia, Novika; Azhara, Saydatina Fatimah; Apriandy, Apriandy; Toendan, Stevano Gabriel
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2025)
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v6i3.500

Abstract

Program English Camp merupakan upaya strategis yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris melalui pendekatan pembelajaran yang terstruktur, kontekstual, relevan, dan interaktif. Program ini berangkat dari permasalahan rendahnya kesadaran siswa terhadap pentingnya penguasaan Bahasa Inggris, pengelolaan English Club  yang belum optimal, serta keterbatasan materi dan media pembelajaran yang menarik. Pelaksanaan English Camp dilakukan melalui lima tahapan, yaitu sosialisasi, pembelajaran berbasis modul Speak, Play, and Learn, integrasi teknologi melalui video dan kuis interaktif di LMS Canvas, pendampingan guru melalui co-teaching, serta keberlanjutan program melalui penyediaan perangkat pembelajaran. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa 27 dari 29 siswa (93%) konsisten mengikuti rangkaian kegiatan dan mayoritas siswa aktif dan senang terlibat dalam sesi tanya jawab, diskusi dan permainan edukatif. Materi, aktivitas, dan media yang variatif serta integrasi unsur teknologi dan gamifikasi terbukti mampu menstimulasi motivasi siswa dengan gaya belajar yang beragam, sehingga menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, bermakna, dan memotivasi. Temuan ini menegaskan bahwa English Camp efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan dapat menjadi strategi alternatif dalam mendukung keberlanjutan kegiatan ekstrakurikuler seperti English Club .
Exploring EFL Teachers’ TPACK Implementation in Rural Indonesia: Insights from Central Kalimantan Pratika, Dellis; Emeral, Emeral; Amalia, Novika; Saman, Tampung Nias; Silitonga, Julianthi Zefana; Domini, Misericordias
FOSTER: Journal of English Language Teaching Vol. 6 No. 4 (2025): FOSTER JELT
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/foster-jelt.v6i4.281

Abstract

This study investigates Indonesian EFL teachers’ perceptions and implementation of Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) in rural Central Kalimantan. Using a qualitative design with semi-structured interviews, it explores how teachers integrate content, pedagogy, and technology in their classroom practices. The findings show that teachers demonstrate strong confidence in content and technological knowledge, adapting instruction to students’ needs and displaying positive attitudes toward technology integration. However, challenges persist in pedagogical domains, particularly in fostering collaboration, and are compounded by infrastructural limitations, digital inequities, and restrictive institutional policies. This study highlights rural teachers’ adaptive strategies under constrained conditions, expanding TPACK beyond urban settings. The implications call for teacher training that emphasizes pedagogically grounded and context-sensitive approaches, and for policies that strengthen rural digital infrastructure and promote equitable access. Future research should broaden the extent to a broader rural context, include learner perspectives, and examine teachers’ sustainable TPACK development.
Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak di Panti Asuhan Imanuel Palangka Raya Melalui Program Reading Corner Emeral, Emeral; Evelina Buji, Grace; Purnama Sari, Uswatun Hasanah; Rakhmawati, Dewi; Siskaevia, Siskaevia; Riandie, Riandie
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 7 No. 3 (2024): Juli 2024
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v7i3.3324

Abstract

Developing reading habits is part of empowering education; therefore, reading habits should be instilled from an early age. However, not all children can experience facilities such as reading various types of reading books that suit their interests and preferences, as is the case with children in orphanages. As a response, this community service plays a part in increasing children’s interest in reading. The program we proposed, namely Reading Corner, took place at Imanuel Orphanage in Palangka. The program was carried out by assessing the needs, designing the Reading Corner, and implementing it. Reading Corner serves as a facility for extensive reading at home. Reading Corner allows the children to read various types of books based on their preferences. The result of this program indicated that the children looked enthusiastic about the books as they chose and borrowed the book to read. The closer children are to the books, the more often they will use their time to access and read the books. In line with that, it is expected that the literacy level of Indonesian will increase. Keywords: reading corner; reading interest; reading habit Mengembangkan budaya membaca merupakan bentuk dari penyelenggaraan pendidikan, maka dari itu budaya membaca harus ditanamkan sejak dini pada anak. Namun, tidak semua anak dapat merasakan fasilitas seperti membaca aneka jenis buku bacaan yang sesuai minatnya, seperti halnya anak-anak di panti asuhan. Maka dari itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca pada anak di Panti Asuhan Imanuel Palangka Raya. Program yang dilaksanakan adalah dengan menyediakan fasilitas Reading Corner atau pojok baca. Adapun tahapan kegiatan mencakup pendataan kebutuhan, perancangan, dan pelaksanaan. Hasil dari kegiatan ini adalah untuk menghadirkan Reading Corner di panti asuhan guna memberikan akses kepada anak-anak untuk membaca aneka jenis buku yang menarik dan sesuai dengan minat mereka. Respon anak-anak terhadap Reading Corner sangat positif. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme mereka dalam memilih dan meminjam buku bacaan. Diharapakan, semakin dekat anak dengan buku-buku bacaan, maka mereka akan lebih sering menggunakan waktunya untuk mengakses dan membaca buku-buku tersebut. Sejalan dengan itu, kami mengharapkan agar tingkat literasi anak-anak Indonesia semakin meningkat.Kata kunci: kebiasaan membaca; minat baca; pojok baca; Reading Corner
Program Pendampingan Debat Bahasa Inggris Bagi Siswa SMA Di Palangka Raya Emeral, Emeral; Adji, Tegar Sukma; Tirtayasa, Tirtayasa; Loren, Teresya; Setiawan, Tenlie; Sylvanus, Tio
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 8 No. 3 (2025): Juli 2025
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v8i3.3504

Abstract

The National Schools Debating Championship (NSDC) is among the most popular debate competitions. Schools in Indonesia strive to prepare their best students for this prestigious competition. One high school in Palangka Raya, Central Kalimantan, also prepares its students to participate in this prestigious event. To this end, the school formed an English Debate Club (EDC). However, the enthusiasm of EDC members in practising tends to be inconsistent, which impacts the effectiveness of their preparation. In response to this problem, a team of lecturer and students from the English Education Study Program, Palangka Raya University, implemented a coaching program to increase the enthusiasm, confidence, and debating skills of EDC members. The coaching activities were conducted in four sessions, covering motion analysis training, case studies, and debate practice, with guidance from an outstanding student representing the university in the National University Debating Championship (NUDC) at the national level. Qualitative questionnaire results indicated increased enthusiasm and self-confidence among EDC members during training sessions and improved understanding of debate strategies. This initiative demonstrates that coaching based on the direct experience of a high-achieving debater can serve as an effective strategy for developing debate clubs in secondary schools.Keywords: enthusiasm; coaching program; debate strategy; self-confidence; debate club Abstrak: National Schools Debating Championship (NSDC) merupakan salah satu kompetisi debat yang paling populer. Sekolah di Indonesia berusaha mempersiapkan potensi terbaiknya untuk mengikuti kompetisi bergengsi ini. Salah satu sekolah menengah atas di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, juga mempersiapkan para siswanya untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut. Untuk itu, sekolah membentuk English Debate Club (EDC). Namun, antusiasme anggota EDC dalam berlatih cenderung tidak konsisten, yang berdampak pada efektivitas persiapan mereka. Menanggapi permasalahan tersebut, tim dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Palangka Raya melaksanakan program pendampingan guna meningkatkan antusiasme, percaya diri dan kemampuan debat para anggota EDC. Kegiatan pendampingan dilakukan dalam empat sesi pertemuan, yang mencakup pelatihan analisis mosi, pembedahan kasus, serta praktik debat, dengan bimbingan dari mahasiswa berprestasi yang pernah mewakili universitas dalam ajang National University Debating Championship (NUDC) tingkat nasional. Hasil survei menunjukkan peningkatan antusiasme dan kepercayaan diri anggota EDC dalam mengikuti latihan, serta pemahaman yang lebih baik terhadap strategi debat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis pengalaman langsung dari mahasiswa debat berprestasi dapat menjadi strategi efektif dalam membina klub debat di sekolah menengah.Kata kunci: antusiasme; program pendampingan; strategi debat; percaya diri; klub debat
Peningkatan Kosakata Bahasa Inggris melalui Penerapan Game Spelling Bee di SDN 1 Pulau Mambulau Nasution, Hikmal Maulana; Fauzi, Iwan; Emeral, Emeral; Jami, Sonia Vriska Yulinda; Muliawan, Sunanda Alam
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 2 (2025): Bulan November
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i2.723

Abstract

Penguasaan kosakata merupakan dasar penting dalam pembelajaran bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar. Namun, siswa SDN 1 Pulau Mambulau masih menghadapi kendala dalam memahami dan mengingat kosakata akibat metode pembelajaran yang monoton. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan kosakata siswa melalui penerapan permainan Spelling Bee sebagai bentuk Game-Based Learning (GBL). Metode yang digunakan adalah Participatory Learning and Action (PLA) yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan dilaksanakan selama tiga kali pertemuan dengan tahapan pengenalan alfabet, pengenalan kosakata benda di kelas, dan pelaksanaan permainan Spelling Bee. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai siswa dari 34,38 pada pre-test menjadi 74,38 pada post-test, serta peningkatan motivasi, keaktifan, dan kepercayaan diri siswa dalam belajar bahasa Inggris. Temuan ini menegaskan bahwa metode permainan Spelling Bee efektif dalam memperkuat penguasaan kosakata sekaligus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif bagi siswa sekolah dasar.
Exploring Gamer English Usage: Insights from a Narrative Inquiry Nasution, Hikmal Maulana; Fauzi, Iwan; Emeral; Muliawan, Sunanda Alam; Jami, Sonia Vriska Yulinda
General English Education Vol 6 No 1 (2026): EBONY- Journal of English Language Teaching, Linguistics, and Literature
Publisher : The Study Program of English Education of Palangka Raya University 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/ebony.v6i1.23314

Abstract

Games are increasingly recognized as effective tools for supporting language learning, particularly in the development of speaking and pronunciation skills. While previous studies have highlighted the potential of digital games for language learning, fewer have examined informal online gaming experiences from learner narrative perspectives, especially in relation to speaking and pronunciation development. This study explores how a recent high school graduate improved his English proficiency through online gaming, aiming to understand how informal and extramural activities contribute to language development outside the classroom. Using a narrative inquiry approach, data were collected through semi-structured interviews, transcribed, and thematically analyzed to capture the participant personal experiences. The findings reveal that online gaming provided meaningful exposure to English and motivated the participant to communicate more actively with teammates. Through interactions on platforms such as Discord and PlayStation Party, the participant practiced pronunciation, expanded vocabulary, and received immediate feedback from other players. The collaborative and immersive nature of gaming created a low-anxiety environment that increased confidence and willingness to speak. These results demonstrate that language learning can occur beyond formal education and that extramural activities offer rich opportunities for authentic language use.