Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pencemaran Lingkungan dan Bioakumulasi Timbal (Pb) pada Perna viridis L. di Pantai Teluk Penyu, Cilacap Salsabilla, Nadia Amanda; Hartoyo, Hartoyo; Haryati, Ani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Teluk Penyu sebagai destinasi wisata di Kabupaten Cilacap yang berdekatan dengan kawasan industri pengilangan minyak, menghadapi risiko peningkatan akumulasi limbah berbahaya, termasuk logam berat Pb yang dapat mencemari perairan pantai. Selain tumpahan minyak, air ballast dari aktivitas kapal di perairan Teluk Penyu dapat menyumbangkan Pb ke perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cemaran logam berat Pb di lingkungan dan bioakumulasi kerang hijau (Perna viridis) di Pantai Teluk Penyu, dengan menggunakan alat Flame Atomic Absorption Spectometry (FAAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat Pb air yaitu 0,007-0,009 mg/L, sementara kandungan Pb sedimen berkisar antara 12,44–29,95 mg/kg. Analisis statistika menunjukkan Pb air memiliki hubungan negatif yang cukup kuat dengan pH air, sedangkan Pb sedimen berhubungan kuat dengan liat. Perhitungan Indeks Pencemaran (PI) pada kolom air menunjukkan bahwa perairan Teluk Penyu dikategorikan tidak tercemar (PI≤1) hingga tercemar ringan (1PI≤2) dengan nilai PI rata-rata 1,00 dan pengukuran Indeks geoakumulasi (I-geo) ratarata memiliki nilai -0,57 yang menunjukkan bahwa sedimen perairan Teluk Penyu tidak mengalami pencemaran (I-geo1). Sementara itu, kandungan logam berat Pb pada kerang hijau adalah 0,20–0,54 mg/kg dan tergolong pada akumulator rendah (BCF100). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kerang hijau di Pantai Teluk Penyu masih tergolong aman untuk dikonsumsi sebagai produk pangan perikanan.AbstractTeluk Penyu Beach, as a touristm site in Cilacap Regency adjacent to the oil refining industrial area, faces the risk of increasing accumulation of hazardous waste, including heavy metal Pb, which can pollute coastal waters. In addition to oil spills, ballast water from maritime activities in the area may contribute to Pb contamination in coastal waters. This study aimed to analyze the content of heavy metal Pb in the aquatic environment and green mussels (Perna viridis) at Teluk Penyu Beach, using Atomic Absorption Spectrometry (AAS). The results showed that the concentration of heavy metal Pb in water was of 0,007-0,009 mg/L, while sediment Pb levels varied between 12,44–29,95 mg/kg. Statistical analysis showed a moderately strong negative correlation between Pb in water and pH (ρ = –0,717), and a strong positive correlation between Pb in sediment and clay (ρ = –0,833). Pollution Index (PI) for the water column indicated unpollution (average PI=1,00; PI≤1), and the Geoaccumulation Index (I-geo) average -0,57; signiflying an unpolluted sedimen status (I-geo1). Pb concentration in green mussels was 0,20–0,54 mg/kg and was categorized as a low accumulator. The results showed that green mussels on Teluk Penyu Beach are still considered safe for consumtionas fishery food products.
Akurasi Pemetaan Garis Pantai Berbasis Citra Udara UAV di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara : Accuracy of Coastline Mapping Based on UAV Aerial Imagery at Ancol Carnival Beach, North Jakarta Ratulia, Ronaa Harwa; Putra, I Wayan Sumardana Eka; Amron, Amron; Adrianto, Dian; Santoso, Agus Iwan; Adi, Novi Susetyo; Haryati, Ani
Jurnal Chart Datum Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Chart Datum
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37875/chartdatum.v11i2.386

Abstract

Perubahan garis pantai akibat abrasi, sedimentasi, dan aktivitas manusia memerlukan metode pemetaan yang akurat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi penggunaan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dalam pemetaan garis pantai di kawasan Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara. Metode yang digunakan meliputi akuisisi citra udara melalui UAV dan pengukuran titik kontrol tanah (Ground Control Points/GCP) menggunakan GPS tipe R8s. Data citra diproses dengan perangkat lunak fotogrametri untuk menghasilkan ortophoto, sedangkan analisis keakuratan dilakukan menggunakan metode Root Mean Square Error (RMSE). Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan ketelitian spasial pemetaan dan memberikan alternatif yang efisien dibandingkan metode konvensional, terutama di wilayah yang sulit dijangkau. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan metode pemetaan garis pantai yang responsif terhadap dinamika lingkungan pesisir.
Logam Berat Cd di Sungai Musi Bagian Hilir, Sumatera Selatan Putri, Wike Ayu Eka; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Diansyah, Gusti; Rozirwan, Rozirwan; Fauziyah, Fauziyah; Agustriani, Fitri; Haryati, Ani; Gusri, Ariqoh Athallah
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.56751

Abstract

Pemanfaatan daerah aliran sungai seringkali memberikan dampak negatif terhadap kualitas perairan. Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak terhadap keamanan pangan yang berasal dari wilayah tersebut. Salah satu komponen bahan pencemar yang umum ditemukan di perairan dan menjadi ancaman bagi keamanan pangan adalah logam berat Cd. Penelitian bertujuan mengetahui konsentrasi logam berat Cd pada beberapa komponen ekosistem yang ada di Sungai Musi bagian hilir meliputi air, sedimen dan tiga organ ikan (insang, hati dan daging). Ikan yang menjadi objek penelitian adalah empat jenis ikan yang umum tertangkap meliputi ikan Juaro (Pangasius polyuranodon), ikan Sembilang (Paraplotosus albilabris), ikan Seluang (Rasbora sp) dan ikan Belanak (Mugil chepalus). Sampel air dan sedimen diambil dari sekitar Sungai Musi bagian hilir yang dibagi menjadi delapan (8) stasiun penelitian selama periode Maret, Mei dan November 2018. Adapun sampel ikan diambil dari nelayan sekitar yang menangkap ikan di kawasan tersebut. Sampel dianalisa merujuk pada metode USEPA 30050B dan dianalisa menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata logam berat Cd pada sampel air kecil dari 0,001 mg/l dan pada sedimen berkisar antara 0,223-0,419 mg/kg. Konsentrasi rata-rata Cd pada organ hati, insang dan daging ikan Seluang adalah 0,117, 0,034 dan 0,021 mg/kg, ikan Juaro 0,059, 0,051 dan 0,027 mg/kg, ikan Belanak 0,096, 0,031 dan 0,025 mg/kg, ikan Sembilang 0,102, 0,046 dan 0,032 mg/kg. Konsentrasi logam berat Cd pada sampel air, sedimen dan daging ikan Seluang, ikan Juaro, ikan Belanak dan ikan Sembilang masih dibawah baku mutu dan ambang batas yang ditetapkan.   Utilization of river often has a negative impact on water quality. This condition will influence on the security of food originating from this area. One component of pollutants that is commonly found in waters and poses a threat to food safety is heavy metal such as Cd. The research aims to determine the concentration of the heavy metal Cd in several ecosystem components in the Musi River Estuary, including water, sediment and three fish organs (gills, liver and meat). Object of this research are four types of fish that are commonly caught, such as Juaro fish (Pangasius polyuranodon), Sembilang fish (Paraplotosus albilabris), Seluang fish (Rasbora sp) and Belanak fish (Mugil chepalus). Water and sediment samples were taken from around the Musi River downstream, divided into eight (8) research stations during March, May and November 2018. Fish samples were taken from local fishermen who caught fish in the area. Samples were analyzed using the USEPA 30050B and AAS (atomic absorption spectrophotometer). The results showed that the average concentration of the heavy metal Cd in water samples was less than 0.001 mg/l, in sediments ranging from 0.223 to 0.419 mg/kg. The average concentration of Cd in the liver, gills and muscle of Seluang fish was 0.117, 0.034 and 0.021 mg/kg, Juaro fish 0.059, 0.051 and 0.027 mg/kg, Belanak fish 0.096, 0.031 and 0.025 mg/kg, Sembilang fish 0.102, 0.046 and 0.032 mg/kg. The concentration of the heavy metal Cd in samples of water, sediment and muscles of Seluang, Juaro, Belanak and Sembilang fish was still below some specified quality standards.
KONSENTRASI MERKURI (Hg) DI SEDIMEN PERAIRAN CIREBON, JAWA BARAT PADA MUSIM PERALIHAN TIMUR Haryati, Ani; Prartono, Tri; Hindarti, Dwi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v14i3.33788

Abstract

Perairan Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas perikanan, industri, dan manusia yang padat, sehingga dapat menyebabkan pencemaran logam berat di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Hg di sedimen dan hubungannya dengan karakteristik lingkungan di beberapa lokasi penelitian pada beberapa wilayah pesisir Cirebon: Bondet, Sukalila, dan Kejawanan. Sembilan titik penelitian dipilih pada setiap lokasi. Analisis in situ dilakukan untuk variabel suhu, salinitas, pH, dan DO. Selain itu, sampel sedimen permukaan diambil pada variasi kedalaman perairan antara 1-6 m. Fraksi butir, karbon organik, serta logam berat Hg dianalisis dari setiap sampel sedimen. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa suhu permukaan, salinitas, pH, dan DO Perairan Cirebon berkisar 31,09–32,30 oC; 26,4–30,10‰; 7,66–8,56; dan 4,50–6,87 mg/L. Sedimen Perairan Cirebon didominasi oleh lanau lempungan serta karbon organik sekitar 1%. Kandungan merkuri pada sedimen masih tergolong aman untuk kehidupan akuatik dengan konsentrasi 29,36–68,55 µg/kg–bk. Analisis komponen utama menunjukkan bahwa ketiga lokasi penelitian memiliki karakteristik perairan berbeda dan selanjutnya memengaruhi pola akumulasi Hg di sedimen. Secara keseluruhan, walaupun terdapat akumulasi Hg di sedimen, namun kondisi masih tergolong aman untuk kehidupan biota. Akumulasi diduga dipengaruhi oleh sumber dari daratan dan kondisi lingkungan pengendapan seperti aliran air sungai dan arus pantai.
Logam Berat Nikel (Ni) dan Seng (Zn) di Sungai Musi Bagian Hilir, Sumatera Selatan Putri, Wike Ayu Eka; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Meiyerani, Jeni; Melki, Melki; Rozirwan, Rozirwan; Barus, Beta Susanto; Diansyah, Gusti; Haryati, Ani; Suteja, Yulianto
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i1.29900

Abstract

Logam berat merupakan salah satu komponen bahan pencemar yang umum dijumpai di perairan. Informasi tentang logam berat Nikel (Ni) dan Seng (Zn) di air dan sedimen Sungai Musi bagian hilir masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Ni dan Zn pada air dan sedimen yang dipengaruhi aktivitas antropogenik di Sungai Musi bagian hilir. Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Maret, September dan November di sepanjang Sungai Musi Bagian Hilir yang dibagi menjadi 3 zona penelitian atau 11 stasiun. Sampel air dan sedimen dianalisa merujuk pada metode USEPA 30050B dan dianalisa menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat dalam air berkisar berkisar antara 0,003-0,005 mg/L untuk logam Ni dan 0,002-0,017 mg/L untuk logam Zn. Adapun konsentrasi logam berat dalam sedimen ditemukan lebih tinggi yaitu 42,63-74 mg/Kg untuk logam Ni dan 10,33-20,56 mg/Kg untuk logam Zn. Secara keseluruhan konsentrasi logam berat Ni dan Zn dalam sampel air dan Zn dalam sedimen masih dibawah baku mutu, namun konsentrasi logam Ni dalam sampel sedimen telah melebihi baku mutu yang menjadi rujukan. Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan konsentrasi logam Ni maupun Zn baik pada sampel air maupun sampel sedimen antar 3 zona pengamatan. 
KONFIRMASI INTEGRATIF MORFOLOGI DAN DNA BARCODING IKAN SEBELAH YANG KEKURANGAN DATA DI PERAIRAN CILACAP, INDONESIA: INTEGRATIVE MORPHOLOGICAL AND DNA BARCODING CONFIRMATION OF THE DATA-DEFICIENT INDIAN HALIBUT IN CILACAP WATERS, INDONESIA Hartono, Sugeng; Haryati, Ani; Salsabila, Sahda; Adiyanto, Fajar; Sukardi, Purnama; Puspito, Gondo; Abdulrahman, Idris
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 1 (2026): FEBRUARY 2026
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.17.126-138

Abstract

The Indian halibut (Psettodes erumei) is classified as data deficient on the IUCN Red List. Accurate species identification is a fundamental prerequisite for sustainable fisheries management and biodiversity conservation. This study aims to identify the Indian halibut landed from Cilacap waters, Indonesia, using an integrative morphological and molecular approach. Four specimens collected in March and June 2025 were analyzed using an integrated morphological and molecular approach. Morphological identification was based on detailed morphometric and meristic analyses, cross-referenced with standard taxonomic guides. Molecular identification involved DNA extraction, PCR amplification of the mitochondrial Cytochrome C Oxidase Subunit I (COI) gene, electrophoresis, sequencing, and comparison with global genetic databases using BLAST. Morphological characteristics aligned with the description of P. erumei, though significant morphometric differences from a historical reference suggest potential local phenotypic variation. DNA barcoding confirmed the identity with 100% sequence similarity to conspecifics from other Indo-Pacific regions (GenBank accession: PX599017.1). Phylogenetic analysis further placed the Cilacap samples within a genetically homogeneous cluster of P. erumei from across Indonesian waters. This research successfully contributes to Indonesia's biodiversity database and DNA barcode library for a commercially exploited yet understudied species. It also provides essential baseline data to inform stock assessments and conservation strategies in the region.
Penerapan Sustainable Community-Based Marine Conservation Model berbasis Smart Eco-Edutourism pada Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap, Jawa Tengah Putera, I Gede Suweda Anggana; Afiyah, Novia Nurul; Mardika, Hanisya Putri Kania; Haryati, Ani; Nugroho, Agung Tri; Husni, Iqbal Ali
Jurnal Pengabdian Dosen Republik Indonesia Vol. 2 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Dosen Republik Indonesia
Publisher : Language Assistance

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan pesisir Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, merupakan habitat penting penyu laut yang menghadapi ancaman berupa perburuan telur, pencemaran sampah plastik, dan degradasi vegetasi pantai. Program pengabdian ini bertujuan mengembangkan Sustainable Community-Based Marine Conservation Model berbasis Smart Eco-Edutourism pada Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap sebagai strategi penguatan literasi konservasi, rehabilitasi habitat, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif berbasis Community-Based Tourism (CBT) melalui tahapan sosialisasi kelembagaan, edukasi konservasi berbasis smart-edutainment, coastal cleanup partisipatif, penanaman 50 bibit pandan laut sebagai solusi berbasis alam, pelepasan 30 tukik dalam skema adopsi, serta monitoring berbasis logbook konservasi. Teknik evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi perilaku, pencatatan volume sampah, serta dokumentasi kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan literasi konservasi dari rata-rata nilai 78,2 menjadi 90,1 (kenaikan ±15,2%), peningkatan ketepatan pemilahan sampah dari 70% menjadi 85%, rehabilitasi habitat melalui penanaman pandan laut dengan target hidup ≥75%, serta penguatan kelembagaan melalui keterlibatan aktif 30 peserta dan implementasi skema adopsi tukik. Dampak kegiatan tidak hanya terlihat pada peningkatan kesadaran ekologis, tetapi juga pada terbentuknya tata kelola konservasi berbasis komunitas yang lebih adaptif, partisipatif, dan berorientasi keberlanjutan. Model ini menunjukkan bahwa integrasi edukasi interaktif, rehabilitasi habitat, dan insentif ekonomi lokal dapat menjadi prototipe konservasi pesisir berkelanjutan yang replikatif di kawasan semi-perifer Indonesia.