Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : REKA RACANA

Pengembangan Indikator Peran Serta Pihak Manajemen Perguruan Tinggi dalam Penerapan Konsep Green Campus Rama Putra Buana; Mia Wimala; Rindu Evelina
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.82

Abstract

ABSTRAKGreen campus didefinisikan sebagai kampus yang berwawasan lingkungan, yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan lingkungan ke dalam kebijakan, manajemen, dan kegiatan tridharma perguruan tinggi. Green campus juga harus menjadi contoh implementasi pengintegrasian ilmu lingkungan dalam semua aspek manajemen dan praktek pembangunan berkelanjutan. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan kategori peran serta pihak manajemen kampus beserta indikator penyusunnya yang semula belum ada di UI GreenMetric. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa studi literatur dari standar dan toolkit yang digunakan di luar maupun dalam negeri yaitu STARS AASHE, Green Guide for University, dan Greening University Toolkit yang dianggap sesuai dengan strategi peningkatan efektivitas peran manajemen kampus dalam menyukseskan penerapan green campus. Hasil penelitian menunjukan bahwa kategori manajemen yang diusulkan terdiri dari 4 indikator, yaitu: perencanaan berkelanjutan, pengembangan mahasiswa dan staf, penilaian berkelanjutan, dan kerjasama dengan institusi.Kata kunci: green campus, UI Greenmetric, peran manajemen    ABSTRACTGreen campus is defined as campus with environmental insight, that integrates environmental science into policy, management, and base three pilar of collage. Green campus is also used as an example of implementing the integration of environmental science in all aspects of sustainable development management and practices. This research aims to develop the category including the indicators of campus management’s role in green campus assessment based on UI GreenMetric. Secondary data were obtained from study literature of standards and toolkits used all around the world, i.e. STARS AASHE, Green Guide for University, and Greening University Toolkit which are related to the strategy of increasing the effectiveness of campus management’s role in succeeding the implementation of green campus. The results showed that the proposed category of management consist of 4 indicators: sustainability planning, student and staff development, sustainability assessment, and community partnership.Keywords: green campus, UI Greenmetric, management role
Perbandingan Kendala dan Tantangan Penerapan Konsep Green Campus di Itenas dan Unpar Nenes Anggi Puspadi; Mia Wimala; Rangga Sururi
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.23

Abstract

ABSTRAKKonsep green campus merupakan suatu upaya pengelolahan lingkungan yang melibatkan civitas kampus dalam mewujudkan lingkungan kampus berwawasan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kendala dan tantangan penerapan konsep green campus di Itenas dan Unpar. Kuesioner, wawancara dan observasi langsung dilakukan untuk memperoleh data yang diinginkan. Analisis varians (Anova) untuk mengetahui perbedaan pemahaman dan perenapan konsep green campus diantara kedua PTS tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan mengenai pemahaman dan penerapan konsep green campus. Secara umum, kendala terbesar yang dihadapi adalah tingkat pemahaman pengguna kampus yang masih rendah dan masih lemahnya kebijakan pimpinan kampus terkait konsep ini. Solusi yang dapat direkomendasikan adalah dengan memperbanyak sosialisasi kepada pengguna kampus baik secara kurikulum, penelitian dan organisasi kemahasiswaan peduli lingkungan serta memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam melaksanakan konsep ini.Kata kunci: green campus, kendala dan tantangan, analisis varians ABSTRACTGreen campus concept is an environmental management efforts involving the campus community in creating environmentally friendly campus. This study aimed to compare the obstacles and challenges in the application of green campus at Itenas and Unpar. Survey through questionnaire, interview and site observation were conducted to obtain the desired data. Analysis of variance (ANOVA) was used to determine differences of understanding and implementation of the concept between both campuses. The result showed that there were no significant differences regarding the understanding and implementation of green campus at itenas and unpar. In general, the biggest obstacle was the poor understanding of green campus concept and lack of policies related to the concept issued by each campus. The recommended solutions to these problems were to socialize the green campus concept either through curriculum, research and student organizations concerning the environmental issues, and enhace the campus commitment to implement the green campus concept.Keyword: green campus, obstacle and challenge, analysis of variance
Pendekatan Holistik dalam Mengidentifikasi Kendala Implementasi Green Construction di Indonesia Mohamad Rizal Podungge; Mia Wimala; Anton Soekiman
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 2: Juni 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i2.1

Abstract

ABSTRAKMeskipun green construction telah diperkenalkan di Indonesia lebih dari satu dekade, implementasi dari konsep tersebut belumlah berjalan sesuai harapan sampai saat ini. Dengan latar belakang tersebut, penelitian diarahkan untuk mengidentifikasi kendala prioritas yang memiliki pengaruh besar terhadap implementasi green construction di Indonesia, dilihat dari sudut pandangan para pelaku di industri konstruksi. Kendala tersebut diidentifikasi dari kajian literatur terpilih yang membahas karakteristik kendala di beberapa negara,disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, serta divalidasi menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang paling berpengaruh adalah Komitmen Organisasi. Termasuk di dalamnya adalah tinjauan terhadap permintaan klien, pedoman dan standar yang ideal, dukungan rantai pasok hijau, kesadaran menerapkan prinsip K3, komitmen perusahaan dalam berinvestasi, serta penelitian dan pengembanganKata kunci: konstruksi berkelanjutan, green construction, kendala implementasi ABSTRACTAlthough green construction has been introduced in Indonesia for more than a decade, the implementation of this concept has not been running as expected to date. This study aims to identify priority constraints that have a major influence on the implementation of green construction in Indonesia, seen from the point of view of the actors in the construction industry. These constraints were identified from the literature review related to the characteristics of constraints in several countries, adapted to conditions in Indonesia, and validated using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The results showed that the most influential constraint was Organizational Commitment. This includes a review of client demand, guidelines and standards, green supply chain, awareness of health and safety, company commitment to invest in green construction, and research and development.Keywords: sustainable construction, green construction, implementatiton constraint
Potensi Pengembangan Persyaratan Standar Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul pada Bangunan Sekolah di Indonesia Mia Wimala; Axel Oktarino Candra; Theresita Herni Setiawan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 8, No 3: November 2022
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v8i3.185

Abstract

ABSTRAKJalur evakuasi dan titik kumpul merupakan bagian yang krusial keberadaannya dalam kegiatan evakuasi bencana. Hal ini berlaku terutama pada bangunan sekolah di mana mayoritas pengguna bangunan adalah siswa di bawah umur yang masih mengandalkan orang dewasa dalam berbagai aspek. Sampai saat ini, standar yang berlaku di Indonesia masih memerlukan pembaharuan untuk hasil yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengembangannya berdasarkan Permen PUPR No. 14 tahun 2017 dan IBC 2018 edition. Penelitian kualitatif ini mengetengahkan kajian literatur yang sangat mendalam mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul. Parameter yang dihasilkan dari langkah sebelumnya telah divalidasi oleh beberapa ahli yang terdiri dari akademisi, peneliti dan praktisi di bidang kebencanaan, serta BNPB Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini berhasil merumuskan tujuh aspek yang berpotensi digunakan untuk modifikasi standar yang sedia ada, dan enam aspek tambahan untuk menyempurnakannya.Kata kunci: jalur evakuasi, titik kumpul, bangunan sekolah ABSTRACTEvacuation routes and assembly points are crucial parts in disaster evacuation. It applies especially to school buildings where the majority of building users are underage who still rely on adults in various aspects. Improvement is still need to be made to the existing standards for more optimal results. Therefore, this research aims to identify the potential for development based on the Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing No. 14 year 2017 and IBC 2018 edition. This qualitative research presents a very in-depth literature review on the requirements of evacuation routes and assembly points. The parameters generated from the previous step have been validated by several experts consisting of academics, researchers and practitioners in the field of disaster management, as well as the BNPB of West Java Province. This research succeeded in formulating seven aspects which potentially to be used for modification, and six additional aspects for the improvement of the existing standard.Keywords: evacuation route, assembly point, school building
Eksplorasi Posisi Sambungan dan Penambahan Elemen Pengaku Untuk Meningkatkan Kekakuan pada Balok RISHA Carissa Carissa; Dewi Larasati; Sugeng Triyadi; Mia Wimala; Altho Sagara; Adhie Irham
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 9, No 1: Maret 2023
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v9i1.25

Abstract

ABSTRAKRangkaian panel RISHA menciptakan ruangan maksimal 3 m x 3 m. Beberapa penelitian yang dilakukan membuktikan ukuran tersebut belum nyaman jika digunakan sebagai rumah tinggal Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pada perkembangannya, teknologi RISHA digunakan untuk bangunan dengan bentang balok yang lebih lebar, sehingga kekakuan balok harus ditingkatkan, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi posisi sambungan dan penambahan elemen pengaku dalam upaya meningkatkan kekakuan pada sambungan antar panel struktur RISHA. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan simulasi software beam calculator untuk mendapatkan uji gaya momen, gaya geser, dan defleksi. Analisis menggunakan metode weighted product (WP) untuk mendapatkan posisi sambungan dan elemen pengaku terbaik. Simulasi dilakukan dengan eksplorasi posisi sambungan dan elemen pengaku untuk meningkatkan kekakuan pada sambungan antar panel struktur RISHA. Hasil pengujian menunjukan balok yang terdiri dari tiga panel memiliki kekakuan yang lebih besar dari dua panel dan elemen pengaku splice lebih unggul dibandingkan corbel, maka penambahan elemen pengaku terbukti dapat meningkatkan kekakuan pada sambungan antar panel struktur RISHA.Kata kunci: RISHA, kekakuan, corbel, splice, momen, gaya geser ABSTRACTThe RISHA series of panels creates a room of up to 3 m x 3 m. Several studies have been conducted to prove that this size is not comfortable when used as a low-income community residence. In its development, RISHA technology is used for buildings with wider span beams, so that beam stiffness must be increased, therefore this study aims to review the position of joints and the addition of stiffener elements to increase stiffness in joints between RISHA structural panels. This research was conducted using a quantitative approach. The data collection method uses beam calculator software simulation to obtain moment force, shear, and deflection tests. The analysis uses the weighted product (WP) method to get the best joints and stiffener elements. The simulation was carried out by exploring the position of the joints and the stiffening of the elements to increase the stiffness of the joints between the RISHA structural panels. The test results show that the beam consisting of three panels has greater stiffness than the two panels and the splice stiffener element is more than the corbel, so the addition of the stiffener element is proven to increase the elasticity at the joints between the RISHA structural panels.Keywords: RISHA, stiffener, corbel, splice, moment, shear force
Pembelajaran Berbasis Masalah: Penerapan Teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) di Indonesia Zefanya Handika Mulyawan; Mia Wimala; Carissa Carissa
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 9, No 2: Juli 2023
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v9i2.13

Abstract

ABSTRAKGuna mengatasi permasalahan backlog hunian di Indonesia, salah satu alternatif yang ditawarkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) adalah teknologi modular beton pracetak Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). Beberapa keunggulan yang ditawarkan meliputi peningkatan efisiensi waktu, peningkatan keamanan konstruksi, pengurangan sampah konstruksi, kebutuhan pekerja yang minimum, desain yang sederhana, dan ramah lingkungan. Sampai saat ini, teknologi ini lebih banyak diterapkan untuk konstruksi rumah darurat bencana dan bukan untuk hunian swadaya. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hunian yang semakin menantang di masa mendatang, pembelajaran melalui permasalahan-permasalahan yang dihadapi di lapangan perlu dikaji dan dievaluasi lebih lanjut. Penelitian awal ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang timbul selama penerapan teknologi RISHA baik pada tahap perencanaan, produksi, konstruksi, maupun pemeliharaan. Kajian literatur, bimbingan teknis, dan wawancara dilakukan terhadap beberapa aplikator yang tersebar di seluruh Indonesia dilakukan untuk menjawab tujuan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan berbagai permasalahan yang dapat diklasifikasikan ke dalam empat aspek, yaitu sistem manajerial dan prosedural, arsitektural dan struktural, finansial dan ekonomi, serta sosial dan stakeholders. Setelah itu, beberapa strategi yang dapat bermanfaat bagi upaya pengembangan teknologi RISHA juga dihasilkan berdasarkan analisis SWOT.Kata kunci: RISHA, beton pracetak, teknologi modular, permasalahan penerapan RISHA ABSTRACTTo overcome the housing backlog problem in Indonesia, The Ministry of Public Works, and Public Housing (PUPR) has offered a precast concrete modular technology, Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA). Its advantages include increased time efficiency, enhanced construction safety, reduced wastage, minimal labor requirements, simple design, and eco-friendly. Until now, RISHA is mostly used for disaster emergency housing, and not for self-support houses. To meet the housing demands that will be increasingly challenging in the future, learning through the problems encountered in its application needs to be studied and evaluated further. This initial research aims to identify problems that arise during the application of RISHA technology at various stages, i.e., planning, production, construction, and maintenance. A literature review, technical guidance, and interviews with several applicators spread throughout Indonesia were conducted to answer the objective. The results indicate various problems that can be classified into four aspects, namely managerial system and procedural; architectural, and structural; financial, and economic; and social and stakeholders. Furthermore, several strategies that can be useful for RISHA development efforts are also generated based on a SWOT analysis.Keywords: RISHA, precast concrete, modular technology, RISHA’s implementation issues
Integrasi Green Marketing dalam Strategi Bisnis Pengembang Rumah Tapak: Identifikasi Parameter Penilaian dan Dampaknya Sugijono, Edwin Jordan Wijanto; Wimala, Mia
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 2: Juli 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i2.197

Abstract

ABSTRAKIndustri konstruksi sebagai kontributor utama emisi gas rumah kaca maka pengembang perumahan bertanggung jawab mendukung program pemerintah net zero emission (NZE) pada tahun 2060. Pengembang berperan penting untuk menghasilkan dan memasarkan hunian yang ramah lingkungan bagi masyarakat Indonesia. Selain berkontribusi terhadap program NZE, konsep green marketing yang muncul beberapa tahun belakangan ini juga bertujuan untuk mempromosikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hunian ramah lingkungan. Namun sampai saat ini, belum ada instrumen yang dapat digunakan untuk menilai kinerja pengembang dalam menerapkan konsep green marketing tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parameter penilaian green marketing khususnya bagi pengembang hunian rumah tapak karena pengembang yang ramah lingkungan akan menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Kajian literatur, observasi, dan wawancara semi-terstruktur dengan 15 pengembang kecil dan besar di Kota Bandung dan DKI Jakarta dilakukan untuk mendapatkan parameter penilaian green marketing. Empat aspek green P yakni green product, green price, green place, green promotion, bersamaan dengan 15 parameter penelitian di dalamnya berhasil diidentifikasi sebagai hasil peneliitian ini.Kata kunci: parameter, green marketing, pengembang, rumah tapak ABSTRACTThe construction industry, a significant source of greenhouse gas emissions, necessitates that housing developers support the government's net zero emission (NZE) initiative by 2060. Developers are essential in the creation and promotion of sustainable housing for the Indonesian populace. Alongside its contribution to the NZE program, the emerging idea of green marketing seeks to promote and enhance public understanding of the significance of ecologically sustainable housing. Until recently, no instrument has existed to evaluate developers' performance in executing the green marketing concept. This study seeks to delineate the evaluation criteria of green marketing specifically for residential property developers, as eco-conscious developers are likely to offer sustainable products. A literature research, observations, and semi-structured interviews with 15 small and large developers in Bandung and DKI Jakarta were performed to gather parameters for evaluating green marketing. This study effectively identified four components of the green P: green product, green pricing, green place, and green promotion, along with 15 associated research criteria.Keywords: parameter, green marketing, developer, landed housing 
Work-Life Balance di Industri Konstruksi dan Pelajaran Untuk Indonesia: Tinjauan Literatur Sistematis Aristantama, Giovani Yona; Wimala, Mia
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 11, No 3: November 2025
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v11i3.258

Abstract

ABSTRAKAdanya isu terhadap kesehatan mental pekerja di industri konstruksi, menjadikan Work-Life Balance (WLB) relevan dewasa ini. Karakteristik industri konstruksi Indonesia yang padat karya, membuat isu WLB menjadi penting untuk ditinjau karena masifnya keterlibatan manusia. Melalui tinjauan pustaka sistematis berdasarkan pedoman analisis bibliometrik, penelitian memberikan gambaran mengenai: perkembangan, tren, situasi dan peluang terkait WLB di industri konstruksi saat ini, baik di Indonesia maupun luar negeri. Hasilnya mengindikasikan bahwa fokus area WLB saat ini membahas mengenai hubungan dengan manajemen konstruksi, kesehatan mental, kesejahteraan pekerja, dan keberhasilan proyek atau perusahaan konstruksi. Praktik dominan negara maju seperti Australia dan Britania Raya adalah fleksibilitas dalam bekerja. Sementara Indonesia menghadapi hambatan dalam penerapan praktik WLB, seperti budaya jam kerja berlebih, kurangnya kepekaan manajemen, kurangnya bukti keberhasilan WLB, dan sulitnya manajemen melihat kebutuhan pekerja. Negara berkembang seperti Indonesia perlu membuat praktik WLB yang menstimulasi permintaan dan tantangan yang dihadapi karyawan terkait konflik WLB pekerja.Kata kunci: work-life balance, konstruksi, pekerja konstruksi, tinjauan literatur ABSTRACTThe issue of workers' mental health in the construction industry makes Work-Life Balance (WLB) relevant today. The characteristics of the Indonesia’s construction industry, which is labor-intensive, makes the issue of WLB important to review, due to the massive human involvement. Through a Systematic Literature Review based on bibliometric analysis, this research provides an overview of: research development, trends, situations and opportunities on WLB in the construction industry, both in Indonesia and abroad. The results indicate that the current focus areas of WLB address the relationship with construction management, workers' mental health, well-being, and the success of construction projects and companies. The dominant practice of WLB in developed countries such as Australia and United Kingdom is working flexibility. Meanwhile Indonesia faces a barrier to implementing WLB practices, such as culture excessive working hours, lack of management awareness, lack of evidence of WLB success, and difficulty for management to see the needs of workers on WLB conflict. Developing countries such as Indonesia need to create WLB practices that stimulate demand and challenges faced by employees regarding worker WLB conflicts.Keywords: work-life balance, construction, construction worker, literature review