Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

The Empowerment of Village Unit Cooperation for Rejuvenation of Oil Palm Plantation in Dharmasraya Regency, West Sumatera Province Noer, Melinda; Syarfi, Ira Wahyuni; Azhari, Rafnel
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v2i1.5

Abstract

The cooperation has long been a pillar of the national economy in Indonesia, especially in developing the economy in rural areas. The Village Unit Cooperation (KUD) was developed to accelerate agricultural development, aimed at improving the farmers 'and peasants' farming in rural areas. KUD has also assisted in the success of regional development programs based on the agricultural sector, one of the plantation sub-sector, which is a partner of the plasma of palm oil farmer group of People’s Core Plantation (PIR) program throughout Indonesia. In the province of West Sumatra, the PIR of palm oil plantations began in the 1980s as a base of regional development, and now the age of harvest has made the age of plants unproductive. Accordingly, KUD Bukit Jaya in Dharmasraya District, one of the KUDs who wishes to apply replanting to farmer groups whose members,t found some obstacles in the implementation. This activity aims to facilitate KUD Bukit Jaya in order to realize the replanting activities in its working area. This action research is conducted using four stages of approach, namely: [1] introduction of problems with dialogical approaches, using interview techniques and discussions with cooperative managers as well as farmers whose gardens have to implement replanting; [2] the team analyzes the problems found and contacts the parties related to issues conveyed by cooperatives and farmers; the parties are insurance companies, bappeda as coordinator of cooperative technical service; [3] holding discussions and discussions with the cooperation, farmer groups and involved parties (insurance companies, cooperative agencies, and district government); [4] agreed on assistance for the preparation of cooperative and peasant group work plans for the preparation and implementation of replanting
Partisipasi Petani Dalam Kegiatan Pengembangan Kawasan Manggis di Kota Sawahlunto Sari, Wulan; Syarfi, Ira Wahyuni; Khairati, Rusda
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i11.62473

Abstract

This study aims to determine the level of farmer participation and the factors influencing farmer participation in mango area development activities. This research uses a quantitative approach with a survey method. The location was chosen purposively. The sampling technique was carried out using simple random sampling, with a sample of 55 farmers involved in mango area development activities. Data analysis was conducted using descriptive statistics and SEM analysis through the Partial Least Square (PLS) approach. The results of the study indicate that farmer participation in the planning and implementation stages is in the high category, while the evaluation stage is in the medium category. The factors that significantly influence farmer participation in mango area development activities are farmer characteristics, opportunities, abilities, willingness, and the role of extension officers.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Niat Mengadopsi Pertanian Organik di Kabupaten Lima Puluh Kota Azani, Novia; Tanjung, Hery Bachrizal; Syarfi, Ira Wahyuni
Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 21 No 3 (2025): Oktober, 2025
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Organic farming is one approach to achieving sustainable agricultural development and solving environmental problems. This study aims to analyze the factors that influence farmers intentions to adopt organic farming in Lima Puluh Kota Regency. This study uses a quantitative approach with a survey method. The location was selected using purposive sampling with the criteria of farmer group members who have obtained organic certification from the West Sumatra Organic Certification Agency (LSO). The sampling technique was conducted using a census, where the entire population became the research sample, consisting of 60 farmers. The research data was sourced from structured interviews using questionnaires, data from the Central Statistics Agency (BPS), and from previous relevant research. Data analysis was performed using multiple linear regression analysis using SPPS 27 software. The results of the study show that of the three variables studied, there are two variables that influence the intention to adopt organic farming in Lima Puluh Kota Regency, namely attitude (0.670) and behavioral control (0.261), while subjective norms (0.096) do not influence the intention to adopt organic farming. Strategies to increase farmers intention to adopt organic farming should focus on improving positive attitudes and perceptions of behavioral control among farmers through education, training, and technical empowerment rather than relying solely on social influence or pressure from surrounding norms
PERAN ELIT LOKAL DALAM TRANSFORMASI PERTANIAN PADA MASYARAKAT MATRILINEAL DAN EKS-TRANSMIGRASI PATRILINEAL DI KABUPATEN DHARMASRAYA, SUMATERA BARAT Humaidi; Asdi Agustar; Ira Wahyuni Syarfi; Indraddin
Jurnal Silva Samalas Vol. 9 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi pertanian menunjukan dinamika yang berbeda antara masyarakat matrilineal dan eks-transmigrasi patrilineal di Kabupaten Dharmasraya. Penjelasan mengenai bagaimana elit lokal dalam menjalankan perannya dalam konteks dua sistem budaya yang berbeda belum memadai. Keterbatasan kajian ini menimbulkan kesenjangan pengetahun tentang hubungan antara kepemimpinan lokal, struktur sosial dan transformasi pertanian di pedesaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran elit lokal dalam transformasi pertanian pada masyarakat matrilineal dan eks-transmigrasi patrilineal di Kabupaten Dharmasraya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, dokumentasi dan triangulasi. Informan penelitian terdiri dari pejabat Dinas Pertanian, elit lokal, penyuluh pertanian lapangan, ketua kelompok tani dan petani. Analisa data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran elit lokal dalam transformasi pertanian pada dua komunitas memiliki karakteristik yang berbeda. Pada masyarakat matrilineal, transformasi pertanian didominasi oleh aktor eksternal yakni penyuluh pertanian lapangan, sementara keberadaan elit lokal lebih pada fungsi mediator administratif. Sebaliknya pada eks-transmigrasi patrilineal, elit lokal memiliki posisi yang dominan sebagai pengarah, mediator, pengontrol dan agen perubahan dalam transformasi pertanian. Dapat disimpulkan bahwa percepatan transformasi pertanian, peningkatan kapasitas kelembagaan petani dan perubahan orientasi pertanian dari subsisten menuju komersial sangat dipengaruhi oleh keaktifan keterlibatan elit lokal.
TRANSFORMASI PEMBANGUNAN PERTANIAN: DINAMIKA STRUKTURAL, TANTANGAN, DAN ARAH KEBIJAKAN DI NEGARA BERKEMBANG Humaidi Humaidi; Asdi Agustar; Ira Wahyuni Syarfi; Indraddin Indraddin
JAS (Jurnal Agri Sains) Vol 10, No 1: Juni 2026
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/jas.v10i1.1989

Abstract

Transformasi pembangunan pertanian merupakan proses perubahan struktural yang ditandai dengan pergeseran peran sektor pertanian dari sektor tradisional berbasis tenaga kerja menuju sistem agribisnis modern yang terintegrasi dengan industri dan pasar global. Artikel ini bertujuan menganalisis dinamika transformasi pembangunan pertanian, faktor pendorong, serta implikasinya terhadap kesejahteraan petani dan ketahanan pangan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur sistematis terhadap berbagai teori dan studi empiris terkait transformasi struktural dan modernisasi pertanian. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi pertanian dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, kebijakan publik, investasi infrastruktur, akses pasar, dan perubahan demografi pedesaan. Namun, ketimpangan akses sumber daya, rendahnya kualitas SDM, dan fragmentasi lahan menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan pertanian perlu diarahkan pada penguatan kelembagaan petani, hilirisasi produk, digitalisasi pertanian, dan pembangunan berbasis kawasan agribisnis berkelanjutan.
Efektivitas pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan dana desa di Kabupaten Pasaman Barat (studi kasus di nagari maju dan nagari berkembang) Pratama, Wulan Bedi; Syarfi, Ira Wahyuni; Hasnah, Hasnah
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 18, No 2 (2023)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v18i2.59446

Abstract

Kebermanfaatan dana desa bagi masyarakat dapat dilihat dari efektifitas penggunaan dana desa terutama untuk pemberdayaan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap proses pemberdayaan masyarakat serta menganalisis pemberdayaan masyarakat melalui dana desa. Metode yang digunakan adalah multi-kasus. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengetahui pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, dan analisis kuantitatif untuk mengetahui tingkat efektivitas pemberdayaan masyarakat. Hasil menunjukkan bahwa proses pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan dana desa pada kedua nagari belum menunjukkan proses yang baik, dan efektivitas pemberdayaan masyarakat yang dilakukan masih belum efektif. Terdapat perbedaan tingkat efektivitas pemberdayaan masyarakat di antara kedua nagari yang diteliti yaitu nagari maju termasuk dalam kategori kurang efektif (37,4) dan nagari berkembang termasuk dalam kategori tidak efektif (31,6). Oleh karena itu, seluruh proses pemberdayaan harus melibatkan masyarakat serta peran pendamping desa juga harus ditingkatkan untuk memberi masyarakat nagari pemahaman yang lebih baik tentang tujuan dan pentingnya kegiatan pemberdayaan tersebut.
Dinamika Sosial Elit Lokal Dalam Transformasi Pertanian Humaidi Humaidi; Asdi Agustar; Ira Wahyuni Syarfi; Indraddin Indraddin
Baselang Vol 6, No 1: APRIL 2026
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v6i1.304

Abstract

Transformasi pertanian merupakan proses perubahan struktural yang tidak hanya mencakup modernisasi produksi dan adopsi teknologi, tetapi juga melibatkan restrukturisasi hubungan sosial, kelembagaan, dan distribusi kekuasaan di pedesaan. Meskipun berbagai studi telah menyoroti dimensi teknis transformasi pertanian, kajian mengenai peran sosial elit lokal dalam proses tersebut masih relatif terbatas dan terfragmentasi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis dinamika sosial elit lokal dalam transformasi pertanian melalui pendekatan systematic literature review terhadap publikasi akademik periode 2018–2025.            Hasil kajian menunjukkan bahwa elit lokal memiliki peran ganda yang bersifat ambivalen. Dalam konteks kelembagaan yang partisipatif, elit dapat berfungsi sebagai agen perubahan yang mempercepat difusi inovasi, memperluas akses pasar, dan memperkuat organisasi petani. Namun dalam struktur kekuasaan yang eksklusif, elit berpotensi melakukan penguasaan sumber daya (elite capture) yang memperkuat ketimpangan sosial dan menghambat inklusivitas pembangunan pertanian. Faktor budaya lokal, konfigurasi politik desa, distribusi modal sosial, serta relasi kekuasaan menjadi variabel kunci yang menentukan arah dan dampak transformasi tersebut.            Artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh kualitas tata kelola sosial dan distribusi kekuasaan di tingkat lokal. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap struktur sosial elit lokal menjadi prasyarat penting dalam merancang kebijakan pertanian yang inklusif dan berkeadilan.
Interaksi Sosial Pada Kelompok Tani Pemuda Setia dalam Usaha Pupuk Organik di Nagari Simalanggang Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Lima Puluh Kota Haniya Rahma Yenti; Ira Wahyuni Syarfi; Devi Analia
JOSETA Journal of Socio-economics on Tropical Agriculture Vol. 8 No. 2 (2026): August
Publisher : Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/joseta.v8i2.887

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan interaksi sosial yang terbentuk di dalam dan di luar Kelompok Tani Pemuda Setia dalam pengembangan usaha pupuk organik. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara mendalam dengan 18 anggota kelompok dan berbagai stakeholder terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial asosiatif di dalam kelompok berada pada kategori tinggi (skor 72,8), dengan bentuk kerjasama dan akomodasi yang kuat. Sebaliknya, interaksi disosiatif (persaingan, pertentangan, konflik) tergolong rendah (skor 18,9). Interaksi dengan stakeholder eksternal (penyuluh, pemasok, pemasaran) didominasi oleh bentuk asosiatif seperti kerjasama, musyawarah, dan toleransi. Sehingga interaksi sosial yang baik dengan seluruh pihak berperan penting dalam keberlanjutan usaha pupuk organik.