Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

EVALUASI STRUKTUR GEDUNG DUAL SYSTEM DENGAN DINDING GESER BERSAYAP C MENGGUNAKAN PUSHOVER ANALYSIS Albert Albert; Daniel Christianto; Hadi Pranata
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8380

Abstract

ABSTRACTAlthough elastic analysis gives a good indication of the elastic capacity and behavior of a building, but the elastic method can’t predict when the first yield will occur, and the failure mechanism and account for redistribution of member forces when the plastic hinges progressively formed. The use of inelastic procedure for evaluation is an attempt made by engineer in the past days to better understand how the structure will behave when subjected to strong earthquake, assuming the elastic capacity of the structure will be exceeded. In this research the pushover analysis was done using the modelling criteria of FEMA 356. The modeling of C-flanged shear was done using line element with the equivalent strength and stiffness properties. Target displacement was calculated using the displacement coefficient method of FEMA 356. Based on the analysis the triangular load pattern resulted in larger target displacement than the uniform load. But the uniform load pattern gives larger seismic response than the triangular load pattern. The uniform load pattern resulted in Life Safety performance level, while the triangular load pattern resulted in Immediate Occupancy, based on the two load patterns used the structure resulted in Life Safety performance level.ABSTRAKWalaupun analisis elastik memberikan indikasi yang baik mengenai kapasitas dan perilaku elastik dari suatu gedung, tetapi metode elastik tidak dapat memperkirakan kapan pelelehan pertama terjadi, serta mekanisme kegagalan apa yang mungkin terjadi pada bangunan tersebut, dan memperkirakan redistribusi dari gaya- gaya dalam ketika pembentukan sendi plastis secara progresif terjadi. Fungsi dari analisis inelastik, sebagai prosedur untuk mengevaluasi bangunan, yang merupakan usaha dari insinyur-insinyur terdahulu memahami bagaimana struktur akan berperilaku apabila dikenai gempa kuat, dimana diasumsikan bahwa kapasitas elastik gedung telah terlampaui. Dalam penelitian ini dilakukan pushover analysis menggunakan kriteria pemodelan berdasarkan FEMA 356. Pemodelan dari dinding geser bersayap C dilakukan menggunakan line element dengan kekuatan dan kekakuan yang ekivalen. Target perpindahan dianalisis menggunakan metode coefficient of displacement dari FEMA 356. Berdasarkan analisis yang dilakukan didapat bahwa pembebanan segitiga lebih besar dibandingkan pembebanan merata. Namun, respons seismik yang didapat akibat beban merata, lebih besar dibandingkan beban segitiga. Pembebanan merata menghasilkan tingkatan kinerja Life Safety, sedangkan pembebanan segitiga menghasilkan tingkatan kinerja Immadiate Occupancy, berdasarkan kedua pembebanan tersebut didapat kinerja dari struktur tersebut adalah Life Safety.
PERBANDINGAN ANALISIS MULTI-TOWER DENGAN MODEL PENDEKATAN TERPISAH DAN MODEL UTUH Raynaldo Raynaldo; Hadi Pranata; Daniel Christianto
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, November 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i4.8812

Abstract

In this study a multi-tower analysis comparison is conducted by comparing a separate approach model and a complete model. There are three approach models used for multi-tower building analysis which are model with unattached towers and podium (Type 1), model with a single tower connected to a cut podium (Type 2) and model with a single tower connected to a whole podium (Type 3). The approach model is analyzed with response spectrum response and the results were compared with the complete model analyzed with response spectrum and time history. The building structure model in this study uses a dual system. The analysis procedure is carried out based on SNI 1726:2012 with ETABS. Based on the analysis results, the type 2 model produces the building period that is the closest to the complete model building period. Type 1 model is not suitable for use as an approach model in multi-tower building analysis. The type 2 model is most ideal for use as an approach model. Type 3 model is a very conservative approach and can be used if more conservative design is desired. The tensile stress that occurs on the podium roof is insignificant in the multi-tower building under study.Pada penelitian ini dilakukan perbandingan analisis multi-tower dengan model pendekatan terpisah dan model utuh. Ada tiga model pendekatan yang digunakan untuk analisis gedung multi-tower yaitu pemodelan menara dan podium terpisah (Tipe 1), pemodelan dengan menara tunggal terhubung pada podium terpotong (Tipe 2) dan pemodelan dengan menara tunggal terhubung pada podium utuh (Tipe 3). Model pendekatan dianalisis dengan prosedur respons spektrum dan hasilnya dibandingkan dengan model utuh yang dianalisis dengan respons spektrum dan riwayat waktu. Model struktur bangunan pada penelitian ini menggunakan sistem struktur ganda yaitu kombinasi antara sistem rangka pemikul momen dan sistem dinding geser. Prosedur analisis dilakukan berdasarkan SNI 1726:2012 dengan bantuan program ETABS. Berdasarkan hasil analisis, model tipe 2 menghasilkan periode bangunan yang paling mendekati dengan periode bangunan model utuh. Model tipe 1 kurang cocok untuk digunakan sebagai model pendekatan pada analisis bangunan multi-tower. Model tipe 2 paling ideal untuk digunakan sebagai model pendekatan. Model  tipe 3 adalah model pendekatan yang sangat konservatif dan dapat digunakan jika ingin memperoleh desain yang konservatif. Tegangan tarik yang terjadi pada atap podium tidak signifikan pada bangunan multi-tower yang ditinjau.
EVALUASI STRUKTUR SISTEM RANGKA GEDUNG DENGAN DINDING GESER BERBASIS KINERJA Bobby Septianto; Daniel Christianto; Hadi Pranata
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 2, Nomor 2, Mei 2019
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v2i2.4299

Abstract

Indonesia merupakan daerah dengan resiko gempa tinggi, dimana dibutuhkan perencanaan tahan gempa. Struktur penahan gaya gempa secara umum memakai konsep Force Based Design. Konsep dari Force Based Design hanya berdasarkan kondisi elastis struktur dan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dimana struktur gedung mengalami kondisi inelastis ketika mengalami guncangan gempa. Sehingga perlu dilakukan analisis evaluasi kinerja struktur untuk mengetahui kinerja gedung ketika mencapai kondisi inelastis yang merupakan konsep Performance Based Design. Dalam penelitian ini terdapat dua metode yang dipakai untuk analisis gedung ketika mengalami kondisi inelastis, yaitu metode Direct Displacement Based Design (DDBD) dan metode analisis statik nonlinier Pushover. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengindentifikasi hasil output dari kurva kapasitas dan kinerja struktur dari metode ATC-40, FEMA 356, dan FEMA 440, serta membandingkan nilai gaya geser dasar antara SNI 1726:2012 dengan metode DDBD. Tipe struktur bangunan yang dimodelkan berupa bangunan sistem rangka gedung dengan dinding geser. Dari hasil analisis, untuk sistem rangka gedung dengan dinding geser, gaya geser dasar yang diperoleh dari perhitungan dengan metode Direct Dipslacement Based Design lebih kecil dari gaya geser dasar analisis gempa menurut SNI 1726:2012. Dari berbagai metode yang direncanakan sesuai dengan peraturan SNI 1726:2012 menghasilkan level kinerja yang sama menurut ATC-40, FEMA 356, dan FEMA 440 yaitu Immediate Occupancy.
ANALISIS PENGARUH FLEKSIBILITAS DIAFRAGMA TERHADAP DISTRIBUSI HORIZONTAL GAYA GEMPA Alexander Alexander; Daniel Christianto; Hadi Pranata
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 1, Nomor 1, Agustus 2018
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v1i1.2265

Abstract

Diafragma adalah elemen struktur yang berfungsi untuk mendistribusi gaya gempa ke elemen vertikal seperti kolom atau dinding geser. Terdapat tiga klasifikasi fleksibilitas diafragma, yaitu diafragma fleksibel, diafragma semi-kaku, dan diafragma kaku. Diafragma pada kajian ini memiliki klasifikasi diafragma fleksibel pada lantai-lantai teratas, sedangkan memiliki klasifikasi diafragma semi-kaku atau diafragma kaku pada lantai-lantai terbawah. Diafragma semi-kaku mensimulasikan perilaku kekakuan sejajar bidang diafragma yang sesungguhnya. Fleksibilitas pada diafragma semi-kaku dapat memengaruhi distribusi horizontal gaya gempa ke elemen vertikal. Semakin kaku diafragma maka gaya gempa akan terdistribusi ke elemen vertikal yang lebih kaku, yaitu dinding geser. Selain itu, ditribusi horizontal gaya gempa juga dipengaruhi oleh koreksi torsi. Terdapat berberapa metode koreksi torsi yang tepat pada diafragma semi-kaku, antara lain metode eksentrisitas statik, metode momen torsi, dan metode koreksi torsi dengan penambahan momen kopel.
FAKTOR DAKTILITAS STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN BRESING BAJA EKSENTRIS Daniel Christianto; Ricardo Hendrawan
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 5, Nomor 4, November 2022
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v5i4.20425

Abstract

Regulation for calculating earthquake forces for building in Indonesia keep developing. SNI 1726-2019 is the lastest earthquake regulation which has a return period of 2500 years, while SNI 1726-2002 has a return period of 500 years. So the old building have to be strengthened. Steel braces is a good option to resist lateral forces. In SNI 1726-2019 the value of response modification factor (R), overstrength factor (Ω0), and deflection amplification factor (Cd) for eccentrically braced concrete frames is not available. Therefore, the research purpose is to find the value of R, Ω0, and Cd for eccentrically braced concrete frames with pushover. Based on analysis, type A braces placed on 1 and 5 spans and using equal angle steel profile 50x50x5 is the best model, because first yielding occurred in the braces. The value of response modification factor (R) in X direction is 6,4848, and in Y direction is 6,9641. The value of overstrength factor (Ω0) in X direction is 3,1346, and in Y direction is 2,4483. The value of deflection amplification factor (Cd) in X direction is 1,2692, and in Y direction is 1,1745. Performanced level based on ATC-40 and FEMA 440 for X and Y direction is immediate occupancy.   Abstrak Peraturan analisis gaya gempa di Indonesia untuk bangunan gedung terus berkembang. Pada peraturan gempa terbaru yaitu SNI 1726-2019 memiliki periode ulang 2500 tahun, sedangkan pada SNI 1726-2002 memiliki periode ulang 500 tahun. Maka, bangunan lama perlu diberi perkuatan tambahan. Bresing baja merupakan pilihan yang baik karena efektif menahan gaya lateral. Dalam SNI 1726-2019 tidak terdapat nilai faktor modifikasi respons (R), faktor kuat lebih (Ω0), dan faktor pembesaran defleksi (Cd) untuk rangka beton dengan bresing eksentris. Maka, tujuan dari penelitian ini adalah mencari nilai R, Ω0, dan Cd untuk rangka beton dengan bresing eksentris dengan metode pushover. Dari hasil analisis yang dilakukan, bresing tipe A, yang ditempatkan pada bentang 1 dan 5, dan menggunakan profil baja siku L 50x50x5 merupakan model yang paling baik, karena pelelehan pertama terjadi pada bresing. Nilai faktor modifikasi respons (R) arah X sebesar 6,4848, dan untuk arah Y sebesar 6,9641. Nilai faktor kuat lebih (Ω0) untuk arah X sebesar 3,1346, dan untuk arah Y sebesar 2,4483. Nilai faktor pembesaran defleksi (Cd) untuk arah X sebesar 1,2692, dan untuk arah Y sebesar 1,1745. Tingkat kinerja berdasarkan ATC-40 dan FEMA 440 untuk arah X dan arah Y adalah immediate occupancy.
PEMODELAN PERSAMAAN BONDING TULANGAN LONGITUDINAL PADA KERUNTUHAN GESER SIZE EFFECT BALOK BETON BERTULANG Yenny Untari Liucius; Daniel Christianto; Yoseph Yoga Perkasa; Mohammad Ragil Irianto
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 5, Nomor 4, November 2022
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v5i4.20434

Abstract

The design of construction with reinforced concrete structures has undergone changes to get better results in innovative ways, which is by eliminating the use of coarse aggregate from concrete mixture. The use of concrete without coarse aggregate is based on premise that in high strength concrete, coarse aggregate is the weakest point of high strength concrete. In this study, we’ll discuss the size effect, it’s the variation of ratio h/b on reinforced concrete beams to shear stress of concrete beams without coarse aggregate and without transverse reinforcement using the finite element method. The purpose of this study was to evaluate the changes pattern in shear stress on variations in beam height changes using the MIDAS FEA. The study shows that result from the finite element method agree well with the result from laboratory experiment. The beam capacity value obtained based on finite element analysis with theoretical calculations based on ACI 318M-19 and results of experiments that have been carried out in laboratory has a relatively small difference, % difference between finite element analysis and theoretical calculations obtained is 1,87% and % difference between finite element analysis and results of experiments conducted in laboratory obtained is 3,35% on the 3B test object.   Abstrak Perancangan konstruksi dengan struktur beton bertulang sudah mengalami perubahan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dengan cara yang inovatif, salah satunya adalah dengan meniadakan penggunaan agregat kasar dari campuran beton. Penggunaan beton tanpa agregat kasar didasari pemikiran bahwa pada beton mutu tinggi, agregat kasar menjadi titik terlemah dari beton mutu tinggi. Dalam penelitian ini akan membahas mengenai size effect, yaitu variasi rasio h/b pada balok beton bertulang terhadap tegangan geser balok beton tanpa agregat kasar dan tanpa tulangan transversal menggunakan finite element method. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pola perubahan tegangan geser terhadap variasi perubahan tinggi balok dengan menggunakan program MIDAS FEA. Berdasarkan analisis dengan finite element menunjukan hasil yang cukup baik mendekati hasil pengujian di laboratorium. Nilai kapasitas balok yang didapat berdasarkan analisis finite element dengan perhitungan teoritis berdasarkan ACI 318M-19 dan dengan hasil percobaan yang telah dilakukan di laboratorium memiliki selisih yang relatif kecil, % selisih antara analisis finite element dengan perhitungan teoritis yang didapat sebesar 1,87% dan % selisih antara analisis finite element dengan hasil percobaan yang telah dilakukan di laboratorium yang didapat sebesar 3,35% pada balok benda uji 3B.
SIFAT MEKANIK BETON TANPA AGREGAT KASAR Daniel Christianto; Tiara Amira Utami; Metta Yoana
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 1, Februari 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i1.21637

Abstract

One of the transitional materials in concrete mixes is Reactive Powder Concrete (RPC). There are several mechanical properties that can be used as a reference when judging the quality of concrete. The modulus of elasticity is the ratio of normal stress to associated strain for tensile or compressive stress below the proportional limit of the material. The modification factor (λ) value that reflects the reduction in mechanical properties of lightweight concrete compared to normal weight concrete of the same compressive strength. Until now, references to concrete for mechanical properties are still only intended for normal concrete. In this study tensile, splitting, and elasticity tests would be carried out on RPC without coarse aggregate which refers to the American Society for Testing and Materials (ASTM) standards to analyze the mechanical properties of the concrete with a Universal Testing Machine (UTM) and compressor meter tool which aims to determine the modulus of elasticity and the value of λ of the sample being tested. After testing on cylindrical specimens, the specific gravity ranges from 1884,3945 kg/m3 to 2040,9558 kg/m3, the modulus of elasticity values are 20064,2870 MPa and 34787,6751 MPa, and the λ values range from 1,1944 to 1,8665. Abstrak Salah satu bahan transisi dalam campuran beton adalah Reactive Powder Concrete (RPC). Adapun beberapa sifat mekanik yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan kualitas atau mutu beton. Salah satunya adalah modulus elastisitas, yang merupakan rasio tegangan normal terhadap tegangan terkait pada tegangan tarik atau tegangan tekan di bawah batas proporsionalitas material. Faktor modifikasi (λ), yang merefleksikan properti mekanis tereduksi dari beton ringan, semuanya relatif terhadap beton normal dengan kuat tekan yang sama. Acuan ketentuan sifat mekanik beton hingga saat ini hanya ditujukan untuk beton normal. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan pengujian tarik, tekan belah, dan elastisitas pada beton tanpa agregat kasar jenis RPC menurut standar American Society for Testing and Materials (ASTM) untuk menganalisa sifat mekanik dari beton tersebut dengan mesin Universal Testing Mechine (UTM) dan alat kompresor meter yang bertujuan untuk mengetahui modulus elastisitas dan nilai λ dari sampel yang diuji. Setelah dilakukan pengujian pada benda uji silinder, didapatkan berat jenis yang berkisar antara 1884,3945 kg/m3 hingga 2040,9558 kg/m3, nilai modulus elastisitas sebesar 20064,2870 MPa dan 34787,6751, nilai λ yang berkisar antara 1,1944 hingga 1,8665.
ANALISIS PANJANG PENGANGKURAN TERHADAP KUAT TARIK MAKSIMUM MENGGUNAKAN APLIKASI MIDAS FEA NX Christianto, Daniel; Audrian, Nikita; Victoria, Gabriella; Leo, Edison
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 7, Nomor 3, Agustus 2024
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v7i3.28023

Abstract

Anchors are one of the commonly used connecting methods, that are used to connect structural elements with concrete or other materials and are used not only in new structures but also in existing structures. The installation system can be done by cast in place or post-installed. One type of post-installed anchor is an adhesive anchor which is widely used in strengthening concrete structures because of its installation efficiency. One of the factors that determine the anchor’s tensile strength is the embedment length, where the anchor transmits force from or to the surrounding concrete. The research used the finite element method using Midas FEA NX. Modeling was made with anchor diameters of 10 mm, 12 mm, 16 mm, 19 mm, concrete strength of 20 MPa, 25 MPa, 30 MPa, 35 MPa, and anchor embedding depths of 3d, 6d, 105 mm, 150 mm. Then, a tensile test is carried out on the anchors to obtain the tensile capacity value of each anchor. The analysis is carried out in nonlinear static with vertical loads in displacement approach. Based on the analysis results, it can be concluded that the deeper the anchor embedment length, the greater the anchor's tensile capacity. Abstrak Angkur adalah salah satu metode penghubung yang umum digunakan, tujuannya untuk menghubungkan elemen struktural dengan beton atau material lainnya dan digunakan bukan hanya pada struktur baru tetapi juga pada struktur yang sudah ada. Sistem pemasangannya dapat dilakukan sebelum (cor di tempat) ataupun sesudah beton mengeras (pasca pasang). Salah satu tipe angkur pasca pasang adalah angkur adhesif yang saat ini banyak digunakan dalam perkuatan struktur beton karena pemasangannya lebih efisien. Salah satu pengaruh kuat tarik angkur adalah berdasarkan dari kedalaman penanaman angkur, dimana angkur menyalurkan gaya dari atau menuju beton di sekelilingnya. Penelitian dilakukan dengan metode elemen hingga menggunakan Midas FEA NX. Pemodelan dibuat dengan diameter angkur 10 mm, 12 mm, 16 mm, 19 mm, mutu beton 20 MPa, 25 MPa, 30 MPa, 35 MPa, serta kedalaman penanaman angkur sebesar 3d, 6d, 105 mm, 150 mm. Setelah itu dilakukan pengujian tarik pada angkur untuk mendapatkan nilai kapasitas tarik masing-masing angkur. Analisis dalam Midas FEA NX dilakukan secara nonlinear statik dengan beban secara vertikal menggunakan pendekatan perpindahan dan mengetahui jenis keruntuhan yang terjadi. Berdasarkan hasil analisis, semakin dalam penanaman angkur maka semakin besar pula kapasitas tarik angkur.
STUDI PERBAIKAN TANAH MENGGUNAKAN GEOTEKSTIL UNTUK BERBAGAI KONSISTENSI TANAH Wijaya, Angga; Christianto, Daniel; Yuwono, Amelia
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 7, Nomor 3, Agustus 2024
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v7i3.30831

Abstract

Soft soil poses a significant challenge in infrastructure development in Indonesia. This study aims to investigate the effectiveness of using geotextiles in addressing soft soil issues in Dadap, Daan Mogot, and Citeureup. Geotextiles are employed to enhance soil stability, reduce deformation, and improve the bearing capacity of road subgrades and structures. The research utilizes the Meyerhof method to calculate soil bearing capacity and safety factors (SF) under undrained (short-term) and drained (long-term) conditions. The results indicate that SF values are lower under undrained conditions compared to drained conditions, as the soil loses support from pore pressure and shear strength. However, manual calculations and computer programs yield almost the same SF results for Dadap and Daan Mogot soil samples under undrained conditions, but significantly differ for the Citeureup sample. Deformation calculations show that Dadap soil experiences greater deformation compared to Daan Mogot and Citeureup. Additionally, tensile forces under drained conditions are lower than under undrained conditions due to the loss of pore water from the soil. This study provides a better understanding of geotextile usage in addressing the challenges of soft soil, with the hope of offering practical guidelines for building more durable and safe infrastructure in the future. Abstrak Tanah lunak merupakan tantangan besar dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efektivitas penggunaan geotekstil dalam mengatasi masalah tanah lunak di Dadap, Daan Mogot, dan Citeureup. Geotekstil digunakan untuk meningkatkan stabilitas tanah, mengurangi deformasi, dan meningkatkan daya dukung subgrade jalan serta bangunan. Penelitian ini menggunakan metode Mayerhoff untuk menghitung daya dukung tanah dan faktor keamanan (FK) dalam kondisi tidak terdrainase (jangka pendek) dan terdrainase (jangka panjang). Hasil menunjukkan bahwa nilai FK pada kondisi tidak terdrainase lebih rendah dibandingkan dengan kondisi terdrainase, karena tanah kehilangan dukungan dari tekanan air pori dan kekuatan geser yang kurang. Namun, perhitungan manual dan program komputer memberikan hasil FK yang hampir sama untuk sampel tanah Dadap dan Daan Mogot pada kondisi tak terdrainase, tetapi berbeda cukup signifikan untuk sampel tanah Citeureup. Perhitungan deformasi menunjukkan bahwa tanah Dadap mengalami deformasi yang lebih besar dibandingkan dengan Daan Mogot dan Citeureup. Selain itu, gaya tarik pada kondisi terdrainase lebih kecil dibandingkan dengan kondisi tak terdrainase, karena kehilangan kadar air pori dari dalam tanah. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang penggunaan geotekstil dalam mengatasi tantangan tanah lunak, dengan harapan dapat memberikan panduan praktis untuk pembangunan infrastruktur yang lebih tahan lama dan aman di masa depan.
ANALISIS SAMBUNGAN MORTISE-TENON KOLOM BETON PRACETAK DENGAN PIPA BAJA DIISI BETON Jusuf, Andrew Hartanto; Christianto, Daniel; Pranoto, Wati Asriningsih; Leman, Sunarjo; Tavio
Jurnal Teknik Sipil Vol. 17 No. 4 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v17i4.10119

Abstract

Kinerja struktur beton pracetak sangat bergantung pada sambungannya, terutama untuk komponen struktur beton pracetak dengan sambungan kering. Prosedur desain rasional diperlukan untuk memproporsikan spesimen yang akan digunakan dalam studi eksperimental. Dalam penelitian ini, prosedur desain sambungan mortise-tenon kolom-ke-kolom beton pracetak yang didasarkan pada spesimen uji meja getar berupa miniatur gedung rangka momen beton pracetak dengan sambungan dowel baja akan dikembangkan. Rangka momen khusus beton pracetak tiga tingkat digunakan untuk studi kasus penerapan prosedur desain yang telah dikembangkan. Dalam penelitian ini, pipa baja diisi beton dengan tegangan leleh 550 MPa digunakan untuk menggantikan dowel baja. Pipa berukuran Ø130 mm × 20 mm tersebut ditanam sedalam 600 mm ke dalam mortise pada ujung kolom atas dan ke dalam kolom bawah berukuran 450 mm × 450 mm agar bertindak sebagai tenon. Lubang silinder sedalam 600 mm dibuat di ujung kolom atas dengan menggunakan pipa berukuran Ø150 mm × 10 mm agar bertindak sebagai mortise. Beton dengan kuat tekan 35 MPa dan tulangan BJTS-420B digunakan pada semua komponen beton. Distribusi gaya sambungan serupa model Osanai untuk socket foundation digunakan untuk desain sambungan. Tiga kasus beban ditinjau dalam desain sambungan, yang meliputi faktor kuat lebih dan asumsi pembentukan sendi plastis balok. Studi kasus yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tegangan tumpu, luas sengkang perlu, dan ukuran pipa lebih dipengaruhi oleh momen lentur dibandingkan gaya geser. Pipa baja bermutu tinggi dengan tebal relatif besar diperlukan untuk membatasi ukuran kolom.