Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PENGARUH JARAK TEPI ANGKUR ADHESIF TERHADAP KAPASITAS TARIK DENGAN MIDAS FEA NX Victoria, Gabriella; Christianto, Daniel; Pranata , Giovanni
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 7, Nomor 4, November 2024
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v7i4.28040

Abstract

Based on the installation method, anchors classified into 2 groups, namely cast in place and post installed anchors. Based on the load transfer mechanism, post installed anchors can be categorized into two namely, mechanical anchors and adhesive anchors. Adhesive anchor system consists of steel inserted into holes drilled in the concrete, with a structural adhesive as the anchorage adhesive agent between the concrete and steel. Factors that can affect the strength of an anchor embedded in concrete include the diameter and spacing of the anchor edges and the quality of the concrete material used. This research was conducted by modeling post adhesive anchors embedded into concrete then subjected to tensile forces to determine the effect of using anchor edge spacing with varying anchor diameter and concrete quality on the tensile strength of the anchor based on theoretical calculations and Midas FEA NX modeling. The modeling that will be studied is a total of 64 samples, consisting of variations in anchor diameter of 10 mm, 12 mm, 16 mm, 19 mm, variations in anchor edge spacing of 60 mm, 75 mm, 130 mm, 250 mm, and variations in concrete quality of 20 MPa, 25 MPa, 30 MPa, 35 MPa. Abstrak Berdasarkan cara pemasangan, angkur diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu angkur cor di tempat dan angkur pasca cor. Berdasarkan mekanisme transfer beban, angkur pasca pasang dapat dikategorikan menjadi dua yaitu, angkur mekanikal dan angkur adhesif. Sistem angkur adhesif terdiri dari batang baja atau berulir yang dimasukkan ke dalam lubang yang dibor pada beton, dengan perekat struktural sebagai agen perekat angkur antara beton dan baja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kekuatan angkur yang tertanam pada beton yaitu seperti diameter serta jarak tepi angkur dan mutu bahan dari beton yang digunakan. Penelitian ini dilakukan dengan membuat permodelan angkur pasca pasang adhesif yang ditanam ke beton kemudian diberi gaya tarik untuk mengetahui pengaruh penggunaan jarak tepi angkur dengan diameter angkur dan mutu beton yang bervariasi terhadap kapasitas tarik angkur berdasarkan perhitungan teoritis dan permodelan Midas FEA NX. Permodelan yang akan diteliti sebanyak total 64 sampel, yang terdiri dari variasi diameter angkur sebesar 10 mm, 12 mm, 16 mm, 19 mm, variasi jarak tepi angkur sebesar 60 mm, 75 mm, 130 mm, 250 mm, dan variasi mutu beton sebesar 20 MPa, 25 MPa, 30 MPa, 35 MPa.
STUDI BANDING KUAT TARIK ANGKUR PADA ANGKUR CAST-IN DAN POST INSTALLED Christianto, Daniel; Liucius, Yenny Untari; Leman, Sunarjo; Kholin, Davin; Zorovian, Nelson
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 1, Februari 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i1.30803

Abstract

Anchors are connecting devices used to attach and install structural concrete components to other components. There are two types of anchor installation methods, cast-in and post installed systems. Cast-in anchors have advantages in terms of behavior and failure modes that are more predictable, while post-installed anchors are more commonly used due to its cost-effectiveness. One type of post-installed anchor is the adhesive anchor. Adhesive anchors are installed by inserting reinforcing bars into drilled holes in concrete that have been injected with adhesive. However, despite the various advantages and disadvantages of each anchor installation method, there are differences in anchor behavior and pull-out capacity that needs to be known. This research conducted pull-out tests with a confined test method on both cast-in anchors and adhesive post installed anchors installed with HILTI HIT-RE 500V3 chemical adhesive, using anchor rebars with diameters of 13mm and 16mm with an embedment depth of 5D on all samples. From the results, the pull-out capacity ratio of post installed/cast-in anchors for D13 anchors is 1,25 at the edge and 1,03 at the center. For D16 anchors, the values obtained are 1,20 at the edge and 1,34 at the center. Abstrak Angkur merupakan alat penghubung yang digunakan untuk menghubungkan dan memasang komponen struktur beton pada komponen lainnya. Terdapat dua jenis pemasangan angkur yaitu sistem pemasangan cast-in (cor di tempat) dan post installed (pasca pasang). Angkur cor di tempat memiliki kelebihan pada perilaku dan mode kegagalan yang lebih dapat diprediksi, sementara pemasangan pasca pasang lebih banyak digunakan karena merupakan cara yang cukup ekonomis. Salah satu jenis angkur pasca pasang adalah angkur pasca pasang adhesif. Angkur pasca pasang adhesif merupakan jenis angkur yang dipasang dengan memasukkan batang tulangan ke dalam lubang bor pada beton yang telah ditambahkan dengan adhesif. Namun dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing cara pemasangan angkur, masih terdapat perbedaan dalam perilaku angkur dan kapasitas tarik angkur yang perlu diketahui. Pada penelitian ini dilakukan uji tarik dengan metode confined test pada angkur cor di tempat dan angkur pasca pasang adhesif yang dipasang dengan perekat adhesif HILTI HIT-RE 500V3 dengan tulangan angkur diameter 13 mm dan 16mm dan kedalaman penanaman 5D pada semua sampel. Dari hasil pengujian diperoleh perbandingan rasio kuat tarik angkur post installed/cast-in untuk angkur D13 sebesar 1,25 pada bagian tepi dan 1,03 pada bagian tengah. Untuk angkur D16 diperoleh nilai 1,20 pada bagian tepi dan 1,34 pada bagian tengah.
PENGARUH DEBU PADA LUBANG ANGKUR TERHADAP KUAT TARIK ANGKUR ADHESIF Christianto, Daniel; Leman, Sunarjo; Gunawan, Marcellino Benito; Leo, Edison
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.30804

Abstract

An anchor is a steel material that functions as a connector between materials. Based on the installation method, anchors can be classified into two types: cast-in-place anchors and post-installed anchors. One advantage of post-installed anchors is the faster curing time. Adhesive anchors are a type of post-installed anchor used in this study. Several factors can affect the strength of adhesive anchors, one of which is the cleanliness of the drilled hole. This research was conducted by making concrete samples, then drilling them and installing anchors into the holes. A total of 4 samples were tested, consisting of 2 samples in cleaned conditions and 2 samples in uncleaned conditions. The anchor samples used are threaded reinforcement bars with diameters of 13 mm and 16 mm. The testing was performed using a tensile test with the confined test method. The results of the testing concluded that the cleanliness of the drilled hole significantly affects the tensile capacity of the anchor. The average tensile capacity of the 13 mm diameter anchor in the cleaned condition is 44.1 kN and 7.64 kN in the uncleaned condition. For the 16 mm diameter anchor, the average tensile capacity is 64.68 kN in the cleaned condition and 22.87 kN in the uncleaned condition. Abstrak Angkur merupakan material baja yang berfungsi sebagai penyambung antara material. Berdasarkan cara pemasangannya, angkur dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu angkur cor di tempat dan angkur pasca pasang. Salah satu kelebihan angkur pasca pasang adalah waktu curing yang lebih cepat. Angkur adhesif merupakan salah satu jenis angkur pasca pasang yang digunakan dalam penelitian ini. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kekuatan angkur adhesif, salah satunya adalah kebersihan dari lubang bor. Penelitian ini dilakukan dengan membuat sampel beton lalu mengebornya kemudian melakukan instalasi angkur ke dalam lubang tersebut. Sampel yang diuji sebanyak 4 buah, yang terdiri atas 2 sampel kondisi cleaned dan 2 sampel kondisi uncleaned. Sampel angkur yang digunakan adalah tulangan ulir dengan ukuran diameter 13 mm dan 16 mm. Pengujian dilakukan dengan uji tarik dengan metode confined test. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa kondisi lubang bor yang dibersihkan dan yang tidak dibersihkan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kapasitas tarik angkur dengan perolehan rata-rata kapasitas tarik angkur diameter 13 mm kondisi cleaned sebesar 44,1 kN dan kondisi uncleaned sebesar 7,64 kN dan rata-rata kapasitas tarik angkur diameter 16 mm kondisi cleaned sebesar 64,68 kN dan kondisi uncleaned sebesar 22,87 kN.
PENGARUH KEDALAMAN PENGANGKURAN TERHADAP KUAT TARIK ANGKUR ADHESIF PADA JARAK TEPI KRITIS Christianto, Daniel; Leman, Sunarjo; Liucius, Yenny Untari; Zorovian, Nelson; Kholin, Davin
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.30805

Abstract

Over time, technology and materials in the construction industry have continued to evolve. One such advancement is adhesive post-installed anchors. These anchors are inserted into hardened concrete using adhesive material to create bonds between the adhesive, the concrete surface, and the fastening element. The relatively fast curing time and installation flexibility are advantages of adhesive post-installed anchors. Factors influencing anchor pull-out strength include embedment depth and edge distance. SNI 2847:2019 regulates rebar development length and anchor edge distance. However, field observations don't always align with applicable rules. Advanced adhesive anchor product technology can also impact field anchor application methods. This study tests the pull-out strength of adhesive post-installed anchors set in 40 MPa concrete with embedment depth follows practical field rules (10db) and theoretical  calculations (SNI 2847:2019 Chapter 25.4.2.1), with a critical edge distance of 40mm using Hilti HIT-RE 500 V3 adhesive material and Baja Perkasa Sentosa’s grade 420B reinforcement bar with 13mm dan 16mm diameters.. Test results showed the ratio of pull-out tensile capacity field practical to theoretical embedment for 13 mm diameter anchors is 0,7324 and for 16 mm diameter anchors is 0,7374. Abstrak Seiring dengan perkembangan waktu, teknologi dan material pada dunia konstruksi terus mengalami perkembangan. Salah satunya adalah angkur pasca pasang adhesif. Angkur adhesif adalah angkur yang dimasukkan ke dalam beton yang sudah mengeras dengan memanfaatkan bahan perekat untuk membentuk ikatan. Waktu curing yang cepat dan fleksibilitas pemasangan menjadi keunggulan angkur adhesif. Faktor yang berpengaruh terhadap kuat tarik angkur antara lain kedalaman penanaman dan jarak tepi angkur. SNI 2847:2019 telah mengatur mengenai kedalaman penyaluran tulangan dan jarak tepi angkur. Akan tetapi, fakta yang terjadi di lapangan tidak selalu sesuai dengan aturan yang berlaku. Perkembangan teknologi produk angkur adhesif yang semakin maju juga dapat mempengaruhi metode pengaplikasian angkur di lapangan. Pada penelitian ini dilakukan pengujian tarik terhadap angkur pasca pasang adhesif yang dipasang pada beton kuat rencana 40 MPa dengan kedalaman penanaman berdasarkan aturan praktis di lapangan (10db) dan analisis teoritis pada jarak tepi kritis sebesar 40 mm menggunakan bahan adhesif Hilti HIT-RE 500 V3 dan besi tulangan kelas 420B merk Baja Perkasa Sentosa diameter 13mm dan 16mm. Dari hasil pengujian, diperoleh rasio kapasitas kuat tarik pengangkuran (kedalaman 10db) dibanding penyaluran (kedalaman sesuai SNI 2847:2019 Pasal 25.4.2.1) untuk angkur berdiameter 13 mm sebesar 0,7324 dan untuk angkur berdiameter 16 mm sebesar 0,7374.
EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG PERKANTORAN 7 LANTAI DENGAN ANALISIS PUSHOVER Sungkana, Kennard Evan; Prabowo, Andy; Christianto, Daniel
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 2, Mei 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i2.32771

Abstract

Earthquakes are natural events that cannot be predicted in terms of when and where they will occur. Seismic vibrations damage buildings on the surface and can cause structural failures, resulting not only material losses but also casualties. Therefore, the design of both building and non-building structures must adopt earthquake-resistant structures to prevent building collapse. SNI 1726:2019 provides values of structural ductility parameters, namely R, Ω0, and Cd, for each seismic load-bearing structural system, such as special moment resisting frames (SRMF). The achievement of these three ductility parameter values in new and existing building structures can be evaluated for the achievement of ductility parameter values from the result capacity design. The analysis result shows that the structure in question, based on Vdesign­, has values of R = 9.11, Ω0 = 9.31, and Cd = 3.99 for the X direction and R = 5.18, Ω0 = 2.15, and Cd = 3.92 for the Y direction. While the analysis results based on Vyield­ have values of R = 1.56, Ω0 = 1.59 and Cd = 2.867 for the X direction, and R = 3.63, Ω0 = 2.26, and Cd = 4.06 for the Y direction. Based on the Capacity Spectrum Method (CSM) analysis, the performance level of the structure in the X direction is in the A – IO category, and in the Y direction is LS – CP. However, according to the Displacement Coefficient Method (DCM) analysis, the performance level of the structure in the X direction is in the A – IO category, and in the Y direction is IO – LS category. Abstrak Gempa bumi merupakan peristiwa alam yang tidak dapat diperkirakan kapan dan dimana terjadinya. Getaran gempa merusak bangunan yang berada dipermukaan dan dapat mengakibatkan kegagalan struktur yang dapat merugikan tidak hanya materi, namun juga dapat menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, perencanaan struktur gedung maupun non-gedung haruslah menerapkan struktur tahan gempa sehingga tidak menimbulkan keruntuhan bangunan. SNI 1726:2019 memberikan nilai-nilai parameter daktilitas struktur, yaitu R, Ω0 , dan Cd untuk setiap sistem struktur pemikul beban gempa, seperti pada sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK). Tercapainya ketiga nilai parameter daktilitas tersebut pada struktur bangunan gedung baru maupun eksisting, dapat dievaluasi menggunakan analisis pushover. Pada jurnal ini struktur gedung baru yang menggunakan SRPMK dievaluasi ketercapaian nilai parameter daktilitas dari hasil perancangan desain kapasitas. Hasil analisis menunjukan bahwa struktur bangunan yang ditinjau berdasarkan Vdesign memiliki nilai R = 9,11, Ω0 = 9,31, dan Cd = 3,99 untuk arah X, dan R = 5,18, Ω0 = 2,15, dan Cd = 3,92 untuk arah Y. Sedangkan hasil analisis dintinjau berdasarkan Vyield memiliki nilai R = 1,56, Ω0 = 1,59, dan Cd = 2,87 untuk arah X, dan R = 3,63, Ω0 = 2,26, dan Cd = 4,06 untuk arah Y Berdasarkan analisis metode kapasitas spektrum (CSM),  tingkat kinerja struktur arah X adalah dalam kategori A – IO, dan arah Y adalah LS-CP. Namun, menurut analisis metode koefisien perpindahan (DCM), tingkat kinerja struktur arah X adalah dalam katergori A-IO dan arah Y adalah IO-LS.
PENERAPAN METODE DESAIN GESER BETON BERTULANG ALTERNATIF DENGAN ACI 318 DAN MCFT AASHTO Christianto, Daniel; Liucius, Yenny Untari; Leman, Sunarjo; Jusuf, Andrew Hartanto; Kho, Dhea Angelica
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 3, Agustus 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i3.34064

Abstract

Currently, reinforced concrete shear designs in Indonesia are based on ACI 318M-14 and has not followed ACI 318M-19. As an alternative, modified compression field theory (MCFT) can also be used for reinforced concrete shear design. In this study, simple and continuous beams with uniform and concentrated loads will be analyzed using the ACI 318M-14, ACI 318M-19, and MCFT AASHTO LRFD Bridge Design Specification (BDS) 2020 shear design methods. Compared to the ACI 318M-14 method, the ACI 318M-19 method provides lower shear strength when minimum transverse reinforcement is not provided with a reduction of up to 35% and same shear strength for other cases. The AASHTO LRFD BDS 2020 gives higher design shear strength up to 157% ACI 318M shear strength despite using strength reduction factor of 0.75. The AASHTO LRFD BDS 2020 also shows an increase in the area of required flexural reinforcement due to shear forces which are unaccounted by ACI 318M up to 16% for simple beams and 37% for continuous beams. The analysis shows that MCFT can give more economical shear reinforcement design compared to ACI 318M method, making it suitable for application to reinforced concrete beams with relatively high shear forces. Abstrak Saat ini, desain geser beton bertulang di Indonesia masih didasarkan pada ACI 318M-14 dan belum mengikuti ACI 318M-19. Sebagai alternatif, modified compression field theory (MCFT) juga dapat digunakan untuk desain geser beton bertulang. Dalam penelitian ini, balok sederhana dan menerus dengan beban merata dan terpusat akan dianalisis dengan metode desain geser ACI 318M-14, ACI 318M-19, dan MCFT AASHTO LRFD Bridge Design Specification (BDS) 2020. Dibandingkan metode ACI 318M-14, metode ACI 318M-19 memberikan kekuatan geser yang lebih rendah ketika tulangan transversal minimum tidak disediakan dengan penurunan hingga 35% dan kekuatan geser yang untuk kasus lainnya. AASHTO LRFD BDS 2020 memberikan kekuatan geser desain yang lebih tinggi hingga 157% kekuatan geser ACI 318M meskipun menggunakan faktor reduksi kekuatan sebesar 0,75. AASHTO LRFD BDS 2020 juga menunjukkan peningkatan luas tulangan lentur perlu akibat gaya geser yang tidak diperhitungkan ACI 318M hingga 16% untuk balok sederhana dan 37% untuk balok menerus. Analisis menunjukkan MCFT dapat menghasilkan desain tulangan geser yang lebih ekonomis dibandingkan dengan metode ACI 318M sehingga cocok diterapkan pada balok beton bertulang yang memikul gaya geser relatif besar.
PENGARUH SERAT TEHADAP MODULUS ELASTISITAS BETON TANPA AGREGAT KASAR Christianto, Daniel; Liucius, Yenny Untari; Handoyo, Patrick Matthew
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 8, Nomor 3, Agustus 2025
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v8i3.34131

Abstract

Concrete is a primary material in modern construction due to its ability to withstand compressive loads. However, elasticity is also a crucial factor in maintaining structural stability under dynamic loads. One innovation to improve concrete quality is the use of Reactive Powder Concrete (RPC), a type of concrete without coarse aggregate, composed of ultra-fine materials and reinforced with steel fibers. This study aims to evaluate the mechanical properties of RPC, particularly the modulus of elasticity and compressive strength, in steel fiber-reinforced concrete without coarse aggregate. Six cylindrical specimens measuring 150 mm × 300 mm were prepared using a mix of OPC cement, silica sand, silica fume, superplasticizer, marble powder, water, and steel fibers. All samples underwent 28 days of steam curing before being tested using a Universal Testing Machine (UTM). The compressive strength results ranged from 62.90 MPa to 98.91 MPa, while the modulus of elasticity ranged from 44,711.5064 MPa to 54,951.6954 MPa. The results formed a non-linear curve. Abstrak Beton merupakan material utama dalam konstruksi modern karena kemampuannya menahan beban tekan. Namun, elastisitas juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas struktur terhadap beban dinamis. Salah satu inovasi untuk meningkatkan mutu beton adalah penggunaan reactive powder concrete (RPC), yaitu beton tanpa agregat kasar yang terdiri dari material berukuran sangat halus dan diperkuat dengan serat baja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat mekanik RPC, khususnya modulus elastisitas dan kuat tekan, pada beton berserat baja tanpa agregat kasar. Sebanyak enam benda uji berbentuk silinder berukuran 150 mm × 300 mm dibuat menggunakan campuran semen OPC, pasir silika, silica fume, superplasticizer, tepung marmer, air, dan serat baja. Seluruh sampel menjalani perawatan menggunakan metode steam curing selama 28 hari, kemudian diuji dengan Universal Testing Machine (UTM). Hasil pengujian tekan yang didapat berkisar antara 62,90 MPa hingga 98,91 Mpa, dan hasil uji modulus elastisitas didpat berkisar antara 44.711,5064 MPa hingga 54.951,6954 Mpa. Dari hasil yang telah didapat membentuk kurva non-linear.
Osteoporosis yang Disebabkan oleh Hipertiroid Christianto, Daniel
Majalah Kedokteran Andalas Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v46.i4.p713-723.2023

Abstract

Osteoporosis adalah penyakit tulang yang ditandai dengan densitas mineral tulang yang rendah, mikroarsitektur jaringan tulang yang rusak sehingga berdampak pada kejadian patah tulang. Sekitar 200 juta wanita di dunia menderita osteoporosis dengan prevalensi osteoporosis tertinggi berturut-turut terjadi di benua Afrika (39,5%), Eropa (18,6%), Asia (16,7%), Australia (13,5%), dan Amerika (12,4%). Menurut Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) sekitar 41,8% pria dan 90% wanita menderita osteoporosis. Sedangkan menurut WHO, 28,8% pria dan 32,3% wanita mengalami osteoporosis. Salah satu penyakit yang menyebabkan osteoporosis adalah hipertiroid, di mana sekitar 300 juta orang di dunia dilaporkan menderita kelainan tiroid, bahkan lebih dari setengahnya tidak menyadari hal tersebut. Tujuan: Penulisan artikel ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang risiko terjadinya osteoporosis yang disebabkan oleh hipertiroid sehingga dapat memberi perhatian khusus pada individu yang mengalami hipertiroid guna mengurangi risiko terjadinya patah tulang dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Metode: tinjauan pustaka. Hasil: osteoporosis dapat disebabkan oleh hipertiroid karena adanya pemendekan siklus remodeling tulang dan pergantian tulang yang semakin cepat. Kesimpulan: seseorang yang mengalami hipertiroid disarankan untuk melakukan deteksi dini terkait osteoporosis.
ANALISIS SAMBUNGAN MORTISE-TENON KOLOM BETON PRACETAK DENGAN PIPA BAJA DIISI BETON Jusuf, Andrew Hartanto; Christianto, Daniel; Pranoto, Wati Asriningsih; Leman, Sunarjo; Tavio
Jurnal Teknik Sipil Vol. 17 No. 4 (2024)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jts.v17i4.10119

Abstract

Kinerja struktur beton pracetak sangat bergantung pada sambungannya, terutama untuk komponen struktur beton pracetak dengan sambungan kering. Prosedur desain rasional diperlukan untuk memproporsikan spesimen yang akan digunakan dalam studi eksperimental. Dalam penelitian ini, prosedur desain sambungan mortise-tenon kolom-ke-kolom beton pracetak yang didasarkan pada spesimen uji meja getar berupa miniatur gedung rangka momen beton pracetak dengan sambungan dowel baja akan dikembangkan. Rangka momen khusus beton pracetak tiga tingkat digunakan untuk studi kasus penerapan prosedur desain yang telah dikembangkan. Dalam penelitian ini, pipa baja diisi beton dengan tegangan leleh 550 MPa digunakan untuk menggantikan dowel baja. Pipa berukuran Ø130 mm × 20 mm tersebut ditanam sedalam 600 mm ke dalam mortise pada ujung kolom atas dan ke dalam kolom bawah berukuran 450 mm × 450 mm agar bertindak sebagai tenon. Lubang silinder sedalam 600 mm dibuat di ujung kolom atas dengan menggunakan pipa berukuran Ø150 mm × 10 mm agar bertindak sebagai mortise. Beton dengan kuat tekan 35 MPa dan tulangan BJTS-420B digunakan pada semua komponen beton. Distribusi gaya sambungan serupa model Osanai untuk socket foundation digunakan untuk desain sambungan. Tiga kasus beban ditinjau dalam desain sambungan, yang meliputi faktor kuat lebih dan asumsi pembentukan sendi plastis balok. Studi kasus yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tegangan tumpu, luas sengkang perlu, dan ukuran pipa lebih dipengaruhi oleh momen lentur dibandingkan gaya geser. Pipa baja bermutu tinggi dengan tebal relatif besar diperlukan untuk membatasi ukuran kolom.
PANJANG PENGANGKURAN DAN JARAK TEPI PADA KUAT TARIK ANGKUR ADHESIF Christianto, Daniel; Patrick, Patrick; Untari Liucius, Yenny
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 6, Nomor 4, November 2023
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v6i4.24947

Abstract

Anchors are used to transfer structural loads in tension, shear, or a combination of both. One example of an anchor type is the post-installed adhesive anchor. Post-installed adhesive anchors are installed after the concrete has hardened. The main advantage of post-installed anchors is the flexibility of installation time, which makes it easier to schedule construction activities. One of the factors that determine the tensile strength of an anchor is the embedment depth and edge distance of the anchor in the concrete. Typically, the embedment depth and edge distance used are obtained from the anchor manufacturer's brochure or catalog and are also regulated in SNI 2847:2019. With the advancement of technology and new products from manufacturers, it is necessary to conduct tensile strength tests to compare the results of different embedment depths and edge distances. In this research, tensile tests were conducted on post-installed adhesive anchors with embedment depths of 35 mm, 105 mm, and 150 mm, with edge distances of 75 mm, 130 mm, and 250 mm at each depth. From the test results, it can be concluded that the embedment length of the anchor affects the tensile strength, as deeper embedment results in greater tensile strength for the anchor. Abstrak Angkur digunakan untuk menyalurkan beban struktural dalam tarik, geser atau kombinasi antara tarik dan geser. Salah satu contoh jenis angkur adalah angkur pasca pasang adhesif. Angkur pasca pasang adhesif adalah jenis angkur yang di pasang setelah beton mengeras. Keunggulan utama angkur pasca pasang adalah adalah fleksibilitas waktu pemasangan sehingga memudahkan mengatur jadwal konstruksi. Salah satu faktor yang menentukan kuat tarik pada angkur adalah kedalaman penanaman angkur dan juga jarak tepi angkur pada beton. Umumnya kedalaman penanaman angkur dan jarak tepi yang digunakan didapatkan dari brosur atau katalog pabrik angkur itu sendiri dan juga diatur dalam SNI 2847:2019 dengan berkembangnya teknologi dan produk-produk baru dari manufaktur perlu adanya uji kekuatan tarik untuk membandingkan hasil kekuatan tarik yang diperoleh dengan kedalaman penanaman dan jarak tepi yang berbeda-beda. Pada penelitian ini dilakukan pengujian tarik pada angkur pasca pasang adhesif dengan kedalaman penananaman sebesar 35 mm, 105 mm dan 150 mm dengan jarak tepi 75 mm, 130 mm dan 250 mm pada masing-masing kedalaman. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa kedalaman penanaman angkur mempengaruhi hasil kuat tarik, semakin dalam penanaman angkur maka semakin besar kuat tarik dari angkur tersebut.