Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH PENETASAN AYAM BROILER SEBAGAI SUMBER PROTEIN PAKAN IKAN SAHRUL ALIM; NURI MUAHIDDAH; DAMAI DINIARIWISAN
GANEC SWARA Vol 18, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Universitas Mahasaraswati K. Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35327/gara.v18i2.916

Abstract

Processing hatching waste in the form of infertile eggs and DOC requires several stages. The first stage is break the infertile egg using a wooden stick that the egg contents and shell can be separated. Meanwhile, for the processing of DOC waste, the feathers are separated fisrt to simplify the grinding process. After the egg breaking process, the shell is separated from the egg liquid. The process of filtering the shells uses a sieve with a mess size 2000. The process of preparing raw materials in the form of hatching waste is carried out using the cooking method using a stove with a temperature between 130℃ - 150℃ with a cooking time ranging from 2 - 3 hours. The next process is drying the results of cooking infertile eggs under the sun for 3 days. After that reduce the water content in the material. After drying, the oven process is carried out that the material is durable and does not become moldy during storage. This process is carried out for 1 – 2 hours, that the nutritional content is not damaged due to the long oven process. The results of proximate analysis of hatchery waste meal (TLP) showed that the water content was 11.32%, the ash content was 0.42%, crude fat was 35.74%, crude fiber was 0.08% and protein was 37.13%. This shows that TLP can be used as a protein for fish feed
Perbedaan Pengaruh Perendaman Pakan Keong Mas Menggunakan Ekstrak Bayam, Murbei, Dan Pakis Untuk Stimulasi Molting Kepiting Bakau Hidayat, Muhammad Firman; Marzuki, Muhammad; Diniariwisan, Damai
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 5, No 1 (2024): November 2024
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v5i1.7347

Abstract

Kepiting bakau adalah komoditas penting di Indonesia sejak awal 1980an. Hasil tangkapan kepiting bakau di alam tidak sesuai dengan permintaan konsumen dalam kuantitas dan kualitas. Budidaya menjadi solusi yang harus segera dikembangkan karena tangkapan alam masih sangat tinggi. Penelitian terkait penggunaan ekstrak bayam, murbei dan pakis telah dilakukan namun pengaruh perbedaan ekstrak untuk stimulasi molting pada kepiting bakau belum terdapat data optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh penggunaan ekstrak bayam, murbei dan pakis pada pakan kepiting terhadap proses stimulasi molting pada budidaya skala apartemen. Penelitian ini dilakukan mulai bulan September hingga Oktober 2023 dan bertempat di gudang CV Aula 21 Kelurahan Sayang-sayang Kota Mataram. Prosedur penelitian ini meliputi persiapan wadah budidaya, persiapan bibit, persiapan ekstrak dan pakan, pemberian pakan, pengamatan pertumbuhan dan pengukuran kualitas air. Parameter penelitian ini terdiri dari pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan bobot harian, tingkat kelangsungan hidup, efisiensi pakan, laju kecepatan molting dan parameter penunjang yang berbagai kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman ekstrak pada keong mas sebagai pakan kepiting bakau memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan bobot harian, dan efisiensi pakan. Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi didapatkan pada perlakuan P2 (perendaman dengan ekstrak bayam) yang nilainya 135,6 g, pertumbuhan bobot harian tertinggi pada perlakuan P2 yang bernilai 1,15%, efisiensi pakan tertinggi pada perlakuan P2 yang bernilai 7,41%, dan laju kecepatan molting tercepat pada perlakuan P2 yang bernilai 15,8 hari. Sedangkan untuk  tingkat kelangsungan hidup bernilai 100% pada semua perlakuan. Hasil penelitian disimpulkan bahwa perlakuan penambahan ekstrak bayam, ekstrak murbei, ekstrak pakis memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan stimulasi molting kepiting.Kata kunci : Ekstrak, Keong mas, Kepiting bakau, Molting
Sosialisasi Potensi Vegetasi Mangrove Sebagai Habitat Kepiting Bakau di Desa Cendi Manik, Lombok Barat Damai Diniariwisan; Wastu Ayu Diamahesa; Rangga Idris Affandi; Thoy Batun Citra Rahmadani; Laily Fitriani Mulyani
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v5i1.1950

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki peran ekologis dan ekonomis yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, antara lain sebagai penahan abrasi, penyerap karbon, serta habitat bagi biota laut seperti kepiting. Namun, keberadaan mangrove sering terancam akibat alih fungsi lahan, penebangan, dan rendahnya kesadaran masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian mangrove melalui pendekatan edukasi partisipatif. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, diskusi partisipatif, praktik penanaman mangrove, serta pendampingan berkelanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat memperoleh pemahaman lebih baik mengenai fungsi mangrove dan menunjukkan antusiasme dalam praktik penanaman, dengan jumlah bibit yang ditanam sebanyak ±100 batang di area kosong bekas tumbuhan mangrove. Selain itu, melalui pembentukan kelompok masyarakat peduli mangrove sebagai upaya keberlanjutan untuk dapat mengawasi dan menjaga. Kegiatan ini termasuk pada edukasi berbasis partisipasi aktif yang mampu meningkatkan kesadaran kolektif dan mendorong keterlibatan masyarakat secara langsung dalam konservasi lingkungan pesisir.
RESTOCKING 2.000 EKOR IKAN BADUT KOLABORASI BPBL LOMBOK DAN KKN-KKB SEKOTONG BARAT Bagus Dwi Hari Setyono; Dwi Aprilianingsih; Weni Rahmawati; Winggi Anggita; Sima Lafina Ziqri; Gina Maulina; Damai Diniariwisan; Muhammad Sumsanto; Rangga Idris Affandi; Thoy Batun Citra Rahmadani
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.57531

Abstract

Ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan mangrove berperan penting dalam menopang keanekaragaman biota laut, termasuk ikan hias bernilai ekonomi seperti ikan badut. Tingginya permintaan pasar terhadap ikan badut berpotensi meningkatkan eksploitasi dari alam, sehingga diperlukan upaya pengelolaan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah restocking menggunakan ikan hasil budidaya yang dipadukan dengan edukasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melaporkan restocking sekitar 2.000 ekor ikan badut hasil budidaya Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok di Pantai Elak-Elak, Sekotong Barat, Lombok Barat pada 24 Oktober 2025. Program ini melibatkan mahasiswa PKL (Praktik Kerja Lapang) dan KKN-KKB (Kuliah Kerja Nyata-Kegiatan Kampus Berdampak) Universitas Mataram, masyarakat lokal, dan siswa sekolah dasar. Metode pelaksanaan mencakup budidaya ikan, survei lokasi, proses pengemasan beroksigen, serta penebaran secara kolaboratif. Hasil kegiatan menunjukkan keberhasilan penebaran ikan ukuran 5–7 cm dengan teknik pengemasan sekitar 10 liter per kantong berisi 50–70 ekor, serta terlaksananya kegiatan edukatif dan partisipatif. Namun, tidak tersedia data monitoring pascapenebaran maupun evaluasi terstruktur, sehingga dampak ekologis belum dapat diukur secara pasti. Kegiatan ini berpotensi mendukung konservasi ikan badut dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang.
Identifikasi Biologi Gurita dan Nilai Indeks Untuk Pengelolaan Perikanan di Kawasan Selat Alas Nusa Tenggara Barat Muhammad Marzuki; Damai Diniariwisan; Wiwid Andriyani Lestariningsih
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 12 (2023): December
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i12.5956

Abstract

Octopus is an important economic fishery commodity that has a high price and is a source of foreign exchange for the country, especially for fishermen in the West Nusa Tenggara region. The utilization status of the octopus fishery is not known yet and managed well for its purposes. This research aims to determine existing conditions, growth patterns, body shape, age group and condition factors, as well as to determine the index value and desired status of the biological dimensions of octopus fisheries management. The method used in this research is descriptive, where data is obtained from samples obtained from nature. The research results showed that the growth pattern of octopus caught in the waters of Alas Strait and landed on Ketapang beach, East Lombok Regency was negative allometric with a b value of 1.4516. Meanwhile, the octopus's body shape is in the less flat category with a condition factor (K) value of 1.91, with a length range between 25 cm - 60 cm. The status of stopping octopus management from the biological dimension obtained a value of 58.53% with quite sustainable status. 
PENINGKATAN KAPASITAS KUB SEGARE LAUK MELALUI INOVASI POLIKULTUR LOBSTER-BARONANG SISTEM KJA DI DUSUN UJUNG BETOK Yuliana Asri; Lalu Hizbulloh; Rangga Idris Affandi; Arya Arpanda; Laily Fitriani Mulyani; Nanda Diniarti; Wastu Ayu Diamahesa; Damai Diniariwisan; Bagus Dwi Hari Setyono
Indonesian Journal of Fisheries Community Empowerment Vol 6 No 2 (2026): Jurnal Pengabdian Perikanan Indonesia
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppi.v6i2.10496

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas KUB pembudidaya lobster melalui penerapan inovasi polikultur lobster pasir (Panulirus homarus) dan ikan baronang (Siganus sp.). Kegiatan dilaksanakan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, pendampingan dan evaluasi. Sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pembudidaya mengenai konsep, manfaat, dan teknik penerapan sistem polikultur. Selanjutnya, pelatihan difokuskan pada praktik persiapan keramba, teknik penebaran benih, manajemen pakan, serta pengelolaan kualitas air budidaya. Distribusi benih ikan baronang sebanyak 500 ekor dilakukan sebagai bentuk implementasi langsung sistem polikultur pada kelompok sasaran. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan pembudidaya dalam menerapkan sistem budidaya terintegrasi yang lebih produktif dan ramah lingkungan. Penerapan polikultur mampu mendukung diversifikasi komoditas budidaya dan meningkatkan peluang ekonomi kelompok pembudidaya. Program pengabdian ini mendapat respons positif dari masyarakat dan berpotensi menjadi model budidaya laut berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pembudidaya pesisir.
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Amphipoda (Phronima sp.) pada Kultur Salinitas Rendah dengan Variasi Tingkat Salinitas Irnia Anggilia; Damai Diniariwisan; Dwi Handoko Putro
Vol 16 No 3 (2026): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v16i3.2304

Abstract

This study aimed to determine the effect of different salinity levels on the growth and survival rate of Amphipoda (Phronima sp.) cultured under low-salinity conditions and to identify the most optimal salinity level for cultivation. The study used a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four salinity treatments, namely 15 ppt, 10 ppt, 5 ppt, and 0 ppt, with four replications each. Parameters observed included egg production, number of juveniles, population density, survival rate (SR), proximate analysis, and water quality. The results showed that salinity differences significantly affected the growth and survival of Phronima sp. The 15 ppt treatment produced the best results in terms of egg production, juvenile number, population density, and survival rate, while the 0 ppt treatment showed the lowest values for most observed parameters. The survival rate during the maintenance period ranged from 60.8% to 86.1%, with the highest value obtained at 15 ppt salinity. Proximate analysis also revealed that the 15 ppt treatment had higher protein and lipid contents compared to the other treatments. During the culture period, water quality parameters such as temperature, pH, dissolved oxygen, nitrate, ammonia, and phosphate remained within suitable ranges to support the growth and survival of the organisms. Based on the results, a salinity level of 15 ppt was considered the most optimal condition for culturing Phronima sp. under low-salinity conditions and has potential as an alternative natural feed source in aquaculture.
Analysis of Heavy Metal Pb in Blood Cockle in Lembar Waters, West Lombok Thoy Batun Citra Rahmadani; Zaenal Abidin; Wastu Ayu Diamahesa; Damai Diniariwisan; Alis Mukhlis
Jurnal Sains dan Teknologi Perikanan Vol 6 No 1 (2026): APRIL
Publisher : Fisheries Science Study Program, Faculty of Science and Technology, Muhammadiyah University of Sidenreng Rappang.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jikan.v6i1.2700

Abstract

Heavy metal present in marine water can affect aquatic organisms, particularly bivalves that function as filter feeders and therefore have a high potential to accumulate heavy metals in their bodies. Blood cockle (Anadara granosa) is one of the marine organisms commonly found in the waters of West Lombok, especially in the Lembar area, which is influenced by port activities and coastal community activities. This study aimed to analyze the concentration of lead (Pb) in blood cockles and sediments in the waters around Lembar, West Lombok, and to determine the safe consumption limit of cockles for the community. Samples of blood cockles and sediments were collected from three observation stations in Lembar waters. Each sample was collected in triplicate as replicates. The Pb concentration was analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) methods and the results were compared with applicable quality standards. The results showed that the Pb concentration in blood cockles ranged from 0.043–0.051 mg/kg with an average value of 0.047 mg/kg. These values are below the maximum limit set by the government, which is 0.1 mg/kg. Meanwhile, Pb concentrations in sediments ranged from 0.887–1.32 mg/kg and were still below the sediment quality standard of 25 mg/kg. The calculation of the safe consumption limit indicated that the Maximum Tolerable Intake (MTI) of blood cockles ranged from 29-35 kg/week for adults with an average body weight of 60 kg, indicating that blood cockles from the Lembar waters are still safe for consumption.
Optimalisasi Budidaya Ikan Lele melalui Mitigasi Bahaya Penyakit Kuning di Dusun Embung Pas Lombok Barat Rangga Idris Affandi; Zaenal Abidin; Peter Chen; Bagus Dwi Hari Setyono; Damai Diniariwisan; Thoy Batun Citra Rahmadani; Wastu Ayu Diamahesa; Nunik Cokrowati; Laily Fitriani Mulyani; Awan Dermawan
BERDAYA: Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : LPMP Imperium

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36407/berdaya.v8i2.1828

Abstract

West Nusa Tenggara has strong aquaculture potential, particularly in freshwater catfish (Clarias sp.) farming. However, farmers in Embung Pas Hamlet, Sigerongan Village, face challenges due to limited knowledge of jaundice disease, which can lead to mass mortality and economic losses. This community service activity aimed to improve farmers’ knowledge and awareness regarding the identification, risks, prevention, and treatment of jaundice in catfish culture. The program was conducted on March 10, 2026, using a participatory approach through interactive lectures, discussions, demonstrations, and follow-up assistance. The materials included fish health management, disease symptoms, and control strategies. The results showed active participation and increased understanding among farmers, particularly in early detection and water quality management. Although minor constraints such as limited time and varying knowledge levels were encountered, the program was successfully implemented. Overall, this activity effectively enhanced farmers’ awareness and capacity in managing fish health sustainably.