Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

REPRESENTASI BUDAYA DALAM FOTOGRAFI MAKANAN: STUDI ANALISIS FOTO MAKAN BAJAMBA PADA KALENDER: CULTURAL REPRESENTATION IN FOOD PHOTOGRAPHY: AN ANALYSIS STUDY OF BAJAMBA FOOD PHOTOS ON CALENDARS Pongky Purnama; Candrastuti, Ratih; Tahalea, Silviana; Novianti, Erlina
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 22 No. 1 (2025): Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/dim.v22.i1.25119

Abstract

This study examines cultural representation in food photography through a visual analysis of food photographs with the theme of Makan Bajamba used in calendars. The focus of the study is directed at how visual elements, namely composition, lighting, shooting angles, colors and object arrangement, play a role in constructing cultural meaning and representing the social and ritual values ​​of the Minangkabau people, especially in Koto Gadang, West Sumatra. This study uses a qualitative approach with visual semiotic analysis methods to identify cultural signs in each photo. The results show that food photography in calendars functions not only as an aesthetic medium, but also as a representational device that emphasizes collective identity, social hierarchy, and interaction patterns in the practice of Makan Bajamba. The calendar as a distribution medium strengthens the function of photographs as reminders of cultural cycles, symbolic archivists and visual educational tools. In conclusion, the integration of food photography in calendars produces a visual narrative that combines culinary aesthetics and the rhythmic structure of tradition, thus opening up space for reinterpreting cultural practices in a contemporary context.
DINAMIKA SOSIAL INOVASI PROMPTOGRAPHY: STUDI KASUS KARYA PSEUDOMNESIA OLEH BORIS ELDAGSEN DALAM PERSPEKTIF TEORI ALVIN BOSKOFF Aurelia Tahalea, Silviana Amanda; Sunarmi, Sunarmi
specta Vol 9, No 2 (2025): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v9i2.17823

Abstract

Perkembangan teknologi  kecerdasan  buatan  telah  menciptakan  transformasi  besar  dalam  dunia fotografi, memunculkan fenomena baru, promptography. Promptography adalah praktik menciptakan gambar visual berbasis teks atau prompt tanpa proses fotografi tradisional. Promptography telah memunculkan debat tentang autentisitas dan apresiasi, nilai keterampilan dan keahlian teknis, etika produksi, dan masih banyak lagi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak faktor sosial, sejarah budaya, dan struktur profesional dalam menganalisa penolakan atau penerimaan promptography, dengan contoh kasus Sony World Photography Awards 2023. Penelitian ini bertujuan memberikan kontribusi konseptual terhadap studi inovasi sosial dan menawarkan rekomendasi praktis dalam pengembangan regulasi etis kecerdasan buatan untuk fotografi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis literatur dan studi kasus, dengan mengacu pada teori inovasi sosial Alvin Boskoff untuk mencapai pemahaman dinamis dalam adopsi dan resistansi inovasi di seni visual. Penelitian menunjukkan bahwa promptography bukan hanya fenomena teknis, tetapi juga sosial, yang mengharuskan komunitas fotografi bernegosiasi ulang tentang nilai otentisitas, legitimasi profesional, dan prinsip etika dalam praktik seni kontemporer. Regulasi yang direkomendasikan diharapkan memberikan pedoman penentu bagi organisasi seni untuk menerapkan kebijakan bekerja etis untuk memperbaiki inovasi etis dan menghormati nilai estetika dan profesionalisme. 
Fotografi Komersial sebagai Praktik Kreatif Terapan: Kajian Metodologi Penciptaan Purnama, Pongky Adhi; Jiuhanteng, Markus; Wahyuningrum, R. A. Heryani; Novianti, Erlina; Tahalea, Silviana Aurelia
Retina Jurnal Fotografi Vol 6 No 1 (2026): Retina Jurnal Fotografi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/rjf.v6i1.6323

Abstract

Fotografi komersial tidak hanya berfungsi sebagai medium visual untuk kepentingan promosi, tetapi juga sebagai praktik kreatif terapan yang melibatkan proses konseptual, teknis, dan strategis secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metodologi penciptaan karya fotografi komersial sebagai suatu praktik kreatif yang menjembatani nilai estetika dan kebutuhan pasar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan model practice led research, yang menempatkan proses penciptaan karya sebagai sumber utama pengetahuan. Data diperoleh melalui studi literatur, observasi proses kreatif, analisis visual karya fotografi komersial serta refleksi kritis atas tahapan konseptualisasi, praproduksi, produksi, pascaproduksi dan refleksi praktik kreatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa penciptaan karya fotografi komersial merupakan proses multidimensional yang melibatkan interpretasi brief klien, riset visual, eksplorasi estetika, penguasaan teknis, serta pertimbangan konteks media dan audiens. Metodologi penciptaan yang sistematis memungkinkan fotografer mempertahankan identitas kreatif sekaligus memenuhi tuntutan fungsi komersial. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan kerangka metodologis dalam praktik fotografi komersial, serta menjadi referensi bagi akademisi dan praktisi dalam memahami fotografi komersial sebagai bentuk praktik kreatif terapan di ranah industri kreatif.
PROSES BELAJAR SEORANG ANAK TUNARUNGU MELALUI PENDEKATAN PHOTO STORY Purwanto, Aloysius Mirecelio Gitta; Novianti, Erlina; Tahalea, Silviana Amanda A.
Jurnal Dimensi DKV: Seni Rupa dan Desain Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jdd.v7.i1.12831

Abstract

AbstractThe Learning Process of a Deaf Kid Through Photo Story Approach. Photo storyis a subsidiary of photojournalism. Photo story is an arrangement of photos that canconvey a strong message, arouse enthusiasm, present a moving message, entertain, andprovoke debate. Photo stories are an approach to storytelling by using several photosand additional text to explain context or background. The photo technique taken is blackand white to symbolize the silent world of deaf children that is different from the othernormal world. The purpose of this research is to document Justin’s learning process andsocial life at SD-LB Pangudi Luhur, West Jakarta, and to visualize Justin as a student ofSLB PL in narrative photo stories. The method used in this research is observation andalso study literature. Based on the results of the research, the photo stories in this paperare a collection of more than 10 photos arranged in such a way and are interrelatedto tell a phenomenon or an event from the author’s point of view. This story photois narrative. The author takes a candid photoshoot of Justin to capture the essenceof Justin’s person and behavior. In black and white photo techniques, recognizing thecharacter of the light to show the gradation of the photo is very important. Black andwhite photos are taken by the author to depict a world that is quiet, a little gloomy,without color, for most deaf children to live their lives.Keywords: journalism, black and white, deaf, photo stories, narrativeAbstrakProses Belajar Seorang Anak Tunarungu Melalui Pendekatan Photo Story. Photostory merupakan genre foto cabang dari foto jurnalistik. Photo story merupakan fotosusunan foto yang mampu menyampaikan pesan yang kuat, membangkitkan semangat,menghadirkan pesan haru, menghibur, hingga memancing perdebatan. Foto cerita adalahpendekatan bercerita dengan menggunakan beberapa foto dan tambahan teks untukmenjelaskan konteks atau latar belakang. Teknik foto yang diambil adalah hitam-putihuntuk melambangkan dunia sunyi dari anak-anak tunarungu yang berbeda dengan dunianormal yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendokumentasikan prosesbelajar dan kehidupan sosial Justin di SD-LB Pangudi Luhur Jakarta Barat dan untukmemvisualisasikan Justin sebagai pelajar dari SLB PL dalam photo story. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini dengan observasi dan juga studi literatur. Berdasarkanhasil penelitian, foto cerita dalam tulisan ini adalah merupakan kumpulan lebih dari10 foto yang disusun sedemikian rupa dan saling terkait menceritakan fenomena atausuatu peristiwa dari sudut pandang penulis. Foto cerita ini bersifat foto naratif. Penulismelakukan pemotretan secara candid terhadap Justin untuk menangkap esensi daripribadi dan perilaku Justin. Dalam teknik foto hitam putih, mengenali karakter cahayauntuk menampilkan gradasi foto sangatlah penting. Foto warna hitam dan putih diambiloleh penulis untuk menggambarkan dunia yang sunyi, sedikit suram, tanpa warna, bagisebagian besar anak tunarungu dalam menjalani hidupnya.Kata kunci: foto cerita, available lighting, hitam dan putih, tunarungu
SOUND ELEMENTS AS INVISIBLE COMMUNICATORS IN THE FILM TWO DISTANT STRANGERS Widyarto, Leonardus Aryo Gitoprakoso; Rahmadani, Siti Febrina; Tahalea, Silviana Amanda Aurelia; Armas, Anita
ARTISTIC : International Journal of Creation and Innovation Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/artistic.v7i1.8246

Abstract

The effectiveness of visual meaning in a film depends on the support of sound; hence, the interplay between visual and auditory elements forms the foundation for narrative development, emotional resonance, and audience interpretation. Accordingly, this study seeks to analyze the interplay between visual and auditory components, including ambiance, dialogue, sound effects, and background music, in enhancing the narrative in the film Two Distant Strangers. This study employs a qualitative approach, utilizing Roland Barthes' semiotics to analyze the meanings generated by the integration of visual and auditory design. The results demonstrate that atmosphere intensifies emotions of confusion, fear, frustration, and tension; dialogue, particularly when paired with music, enhances the audience's comprehension of the scene; sound effects accompanying character actions clarify the message of injustice; and background music aligns with the emotional tone of the scene, reinforcing the visual atmosphere. Well-designed music profoundly deepens emotional resonance, elucidates the narrative, and enhances the coherence of the film's overall cinematic experience.