Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Manifestasi Kelainan Neurologi pada Anak dengan Penyakit Ginjal Kronik Setyo Handryastuti; Sudung Oloan Pardede
Sari Pediatri Vol 24, No 3 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.3.2022.210-16

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah masalah kesehatan global yang kritis dan berkembang pesat pada anak-anak. Salah satu komplikasi yang sering terjadi secara klinis pada anak-anak dengan PGK adalah komplikasi neurologis seperti kejang, sakit kepala, penurunan kesadaran, perubahan perilaku dan masalah kognitif. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti, stadium (terutama pada stadium akhir), etiologi yang mendasari, dan pilihan pengobatan PGK (dialisis dan transplantasi ginjal). Pengenalan komplikasi neurologis pada anak dengan PGK sangat penting untuk diantisipasi karena anak sedang dalam proses tumbuh kembang. Deteksi dini dan pengelolaan komplikasi neurologis pada anak-anak dengan PGK secara dini dapat membuka jendela peluang untuk mengurangi dampaknya pada tumbuh kembang dan kualitas hidup anak dengan PGK.
Spinal dermal sinus coinciding with an infected giant epidermoid cyst in an infant presenting with constipation: a case report Mohamad Saekhu; Eka Susanto; Setyo Handryastuti; Samsul Ashari; Setyowidi Nugroho
Paediatrica Indonesiana Vol 62 No 5 (2022): September 2022
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi62.5.2022.357-63

Abstract

Early diagnosis of spinal tumors is a prerequisite for achieving satisfactory neurological recovery. However, rare diseases tend to have a long diagnostic course.1 In addition, the clinical presentation of spinal tumors in most children is not apparent, moreover, spinal tumors may not show clinical symptoms if they are located in the lumbar spine and sized no more than one vertebra.2,3 Clinical presentations caused by tumors in the lumbar spine may include weakness of both limbs, impaired urination, and constipation.
Dampak COVID-19 pada Anak dengan Epilepsi: Perspektif Orangtua dan Pengasuh Setyo Handryastuti; Irawan Mangunatmadja; Amanda Seobadi; Asep Aulia Rachman; Iqbal Taufiqqurrachman; Achmad Rafli
Sari Pediatri Vol 24, No 4 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.4.2022.232-8

Abstract

Latar belakang. Pandemi coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS CoV-2) telah memengaruhi pelayanan kesehatan. Hal ini dapat berdampak pada keterlambatan diagnosis dan terapi termasuk pelayanan kesehatan pada anak dengan epilepsi. Hal ini menimbulkan risiko anak dengan epilepsi tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal yang dapat menyebabkan kambuhnya kejang dan penurunan kualitas hidup anak dengan epilepsi.Tujuan. Untuk mengetahui dampak COVID-19 terhadap pelayanan kesehatan anak dengan epilepsi dari perspektif orangtua atau pengasuh.Metode. Penelitian deskriptif dilakukan dengan metode potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode survei wawancara langsung menggunakan kuesioner yang terdiri dari 23 pertanyaan pada bulan Februari-April 2022 kepada 252 orangtua/pengasuh yang berasal dari beberapa rumah sakit besar dan klinik di Jakarta.Hasil. Sebagian besar pasien tidak memiliki masalah perilaku (58,3%), tidak terdapat gangguan tidur (59,1%) serta tidak terdapat perubahan kepatuhan berobat (63,1%).Mayoritas pasien tidak pernah mendapat terapi diazepam rektal untuk mengatasi kekambuhan kejang (61,9%) selama pandemi. Masalah terbesar bagi orang tua dan pengasuh adalah rasa takut mengunjungi rumah sakit (27,4%%) dan lebih memilih untuk berkonsultasi secara langsung (86,9%) dibandingkan telekonsultasi atau tidak kontrol. Manfaat telekonsultasi bervariasi, antara lain, penurunan kebutuhan pergi keluar rumah (24,7%), hemat waktu (28,6%), dan menurunkan biaya transportasi (28,6%). Terdapat beberapa kekurangan telekonsultasi, yaitu miskomunikasi antara dokter dan pasien (39,4%). Kualitas pelayanan poliklinik neurologi masih cukup baik (68,3%), dengan pelayanan elektroensefalografi dan perawatan rehabilitasi selama pandemi masih berjalan seperti biasa (96% dan 46%). Sekitar 45,2% orang tua dan pengasuh setuju bahwa anak perlu divaksinasi, meskipun baru 22,2% dari seluruh subyek telah memperoleh vaksinasi.Kesimpulan. Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada manusia, melainkan juga pada sistem pelayanan kesehatan khususnya anak dengan epilepsi. Oleh karena itu, modifikasi pelayanan kesehatan selama pandemi COVID-19 merupakan kunci untuk mempertahankan kualitas pelayanan anak dengan epilepsi seperti, telekonsultasi.
Perbandingan Berbagai Sistem Skoring untuk Diagnosis Meningitis Tuberkulosis pada Anak Setyo Handryastuti; Dianing Latifah
Sari Pediatri Vol 24, No 6 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.6.2023.425-32

Abstract

Meningitis tuberkulosis (MTB) adalah bentuk terberat penyakit tuberculosis, menyebabkan morbiditas dan mortalitas cukup tinggi pada anak. Keterlambatan diagnosis dan terapi dianggap sebagai faktor utama tingginya mortalitas. Masalah utama dalam diagnosis MTB antara lain patogenesis penyakit yang kurang dipahami, belum tersedia tes diagnostik yang baik. Baku emas diagnosis MTB bergantung pada isolasi Mycobacterium tuberculosis dari cairan serebrospinal (CSS), namun hal ini cukup sulit diterapkan karena proses kultur yang lambat, memerlukan sampel CSS yang banyak dan tidak peka dalam membantu pengambilan keputusan klinis.Saat ini, tiga metode skoring yang dibuat untuk membantu diagnosis MTB pada anak adalah sistem Thwaites, konsensus Lancet serta skor Modified Kenneth Jones Scoring Criteria (MKJSC), yang dikembangkan untuk meningkatkan akurasi diagnostik. Sistem skoring mencakup manifestasi klinis, hasil CSS, serta pemeriksaan radiologi untuk membantu diagnosis MTB. Penggunaan metode skoring diharapkan dapat mempercepat diagnosis dan terapi sehingga meningkatkan luaran  MTB pada anak. Di antara ketiga sistem skoring tersebut, skor Thwaites dan MKJSC adalah sistem skoring yang paling sederhana dan dapat diterapkan di daerah dengan fasilitas terbatas. Kombinasi kedua sistem skoring tersebut diharapkan dapat mempertajam nilai diagnostik MTB sehingga dapat membantu penanganan MTB pada anak secara cepat dan tepat.
The management of febrile seizures by pediatricians in Indonesia: adherence to 2016 Indonesian Pediatric Society recommendations and influencing factors Amanda Soebadi; Rivaldo Suhito; Setyo Handryastuti
Paediatrica Indonesiana Vol 63 No 2 (2023): March 2023
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi63.2.2023.119-28

Abstract

Background Although febrile seizures are generally benign, judicious management is needed to prevent inadequate or excessive management. In 2016, the Indonesian Pediatric Society (IPS) issued Recommendations for the Management of Febrile Seizures, but it is unclear whether pediatricians follow these recommendations in their clinical practice. Objectives To evaluate adherence to the 2016 IPS Recommendations for the Management of Febrile Seizures amongst pediatricians in Indonesia, as well as factors influencing adherence. Methods An anonymous online questionnaire was distributed by e-mail to IPS member pediatricians. We collected data on age, year of completion of pediatric residency or subspecialty training, practice region, type of practice, number of febrile seizure patients managed per month, and history of attending teaching sessions on the recommendations. We scored participants’ adherence to the recommendations in terms of pharmacologic treatment, ancillary testing, and prognosis. We also analyzed the difference in scores according to participant characteristics. Results Of 308 participants, 247 (80%) obtained a total adherence score of 50% or more of the highest possible score. Median total adherence score was 63.2% (range 20.6% to 100%) of the highest possible score. Median adherence scores were significantly higher in pediatricians who were 31 to 60-years-old vs. >60-years-old (64.7% vs. 52.9%, P=0.004), completed their residency training within the past <10 years vs. >10 years (64.7% vs. 61.8%, P=0.034), practiced in hospitals vs. clinics or private practices (61.8% vs. 50.0%, P=0.006), were aware vs. unaware of the recommendations (64.7% vs. 52.9%, P=0.02), and had vs. had not read the recommendations (62.7% vs. 50.0%, P=0.01). Most participants (93.5%) reported the recommendations to be feasible in their settings. Obstacles to implementation included lack of medication availability (8/20), lack of time to read the recommendations (8/20), lack of awareness of the recommendations (2/20), and limited infrastructure (2/20). Conclusions Most pediatricians in Indonesia have moderately good adherence to the 2016 IPS Recommendations for the Management of Febrile Seizures. Awareness of the recommendations needs to be raised further and limitations in medication distribution and infrastructure need to be overcome for better adherence.
Tatalaksana Kejang Demam pada Anak Terkini Setyo Handryastuti
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 71 No 5 (2021): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.71.5-2021-558

Abstract

A febrile seizure is a seizure associated with an increase of body temperature of more than 38°C. This condition is not caused by the central nervous system (CNS) infection and electrolyte or metabolic imbalance. A febrile seizure can affect children from the age of 6 months to 6 years. A febrile seizure is the common cause of seizure in children with benign clinical course dan good prognosis which will disappear at six years old. The diagnosis is achieved based on clinical manifestation, and the clinician should exclude CNS infection, especially in complex febrile seizures. Based on the literature, the indication of supporting examination and therapy has changed significantly. Laboratory examination, electroencephalography, and imaging only indicated if the patient’s condition was in line with the guideline. Management of the febrile seizure consists of symptomatic and prophylaxis therapy. The recommendation of the febrile seizure treatment includes management during the seizure, intermittent prophylaxis therapy, and long-time maintenance therapy. The recommendation of the prophylaxis therapy was formed based on Indonesia’s condition. A febrile seizure is often the cause of a patient’s over-anxiety. Therefore, education about the good prognosis, clinical course, risk, and benefit of prophylaxis therapy is needed. General practitioners, pediatricians, and neurologic pediatricians are expected to implement the recommendation to minimalize the over-use of supporting examination and treatment.
Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 Tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2023 Mei Neni Sitaremi; Soedjatmiko Soedjatmiko; Hartono Gunardi; Nastiti Kaswandani; Setyo Handryastuti; Raihan Raihan; Cissy B Kartasasmita; Ismoedijanto Ismoedjianto; Kusnandi Rusmil; Zakiudin Munasir; Dwi Prasetyo; Gatot Irawan Sarosa; Hanifah Oswari; Dominicus Husada; Ari Prayitno; Martira Maddepunggeng; Sri Rejeki H Hadinegoro.
Sari Pediatri Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.1.2023.64-74

Abstract

Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara berkala mengevaluasi jadwal imunisasi untuk menyesuaikan dengan vaksin baru, program imunisasi Kemenkes, WHO position paper dan sumber-sumber lain. Di dalam jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2023 ini ada beberapa tambahan antara lain vaksin dengue baru, dan keterangan tambahan beberapa vaksin lain. Untuk memudahkan dalam melaksanakannya dilampirkan juga tabel jadwal imunisasi tahun 2023. Untuk memahami dasar pertimbangan jadwal imunisasi dan perubahannya perlu mempelajari uraian di dalam artikel ini dan keterangan di bawah tabel tersebut untuk diterapkan ke dalam layanan imunisasi.
Peran Puasa Ramadhan pada Anak dengan Epilepsi: Studi Pendahuluan Achmad Rafli; Ryan Pramana Putra; Irawan Mangunatmadja; Setyo Handryastuti; Amanda Soebadi
Sari Pediatri Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.3.2023.170-3

Abstract

Latar belakang. Pada bulan Ramadhan semua umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa, menahan diri untuk tidak makan, minum, atau meminum obat dari terbit hingga tenggelamnya fajar. Keadaan ini akan menimbulkan tantangan baru bagi anak dengan epilepsi yang berpuasa, berupa kontrol frekuensi kejang, perubahan jadwal minum obat, dan kepatuhan minum obat. Berpuasa dapat menyebabkan perubahan metabolisme otak yang berdampak pada peningkatan fungsi otak dalam hal kognitif, peningkatan neuroplastisitas dan ketahanan terhadap cedera dan penyakit. Adanya perubahan metabolisme otak pada saat berpuasa dapat membantu dalam mengontrol kejang pada anak dengan epilepsi.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai frekuensi kejang dan efek samping pada anak dengan epilepsi yang berpuasa di bulan Ramadhan tahun 2023. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional prospektif yang dilakukan selama 1 bulan. Sampel pada penelitian ini merupakan semua anak dengan epilepsi yang berpuasa pada bulan Ramadhan, April 2023. Anak dengan epilepsi yang berpuasa dipantau frekuensi kejang, jadwal minum obat dan kepatuhannya (sebelum dan setelah berpuasa). Hasil. Total pasien pada penelitian ini adalah dua belas (6 laki-laki, 6 perempuan, rentang usia 6-17 tahun). Jenis kejang absans merupakan jenis kejang yang paling banyak (50%). Tujuh pasien mendapatkan antiepilepsi monoterapi (58,33%) dengan variasi pemberian antiepilepsi 1-4 jenis. Frekuensi kejang pada seluruh pasien mengalami penurunan selama puasa Ramadhan dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya sebesar 27%. Tidak ada efek samping yang timbul akibat berpuasa dan perubahan jadwal minum obat. Kesimpulan. Puasa Ramadhan bermanfaat menurunkan frekuensi kejang bagi anak dengan epilepsi.
Clinical manifestations and prognosis of tuberculous spondylitis in an adolescent with disseminated tuberculosis: a case report Handryastuti, Setyo; Kaswandani, Nastiti; Hendriarto, Andra; Tobing, Singkat Dohar Apul Lumban; -, Pebriansyah; Rafli, Achmad
Paediatrica Indonesiana Vol. 64 No. 2 (2024): March 2024
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi64.2.2024.176-83

Abstract

Indonesia is one of the countries with the highest number of tuberculosis (TB) cases globally. Around 10-20% of adolescents with TB infection progress to pulmonary TB, and less than 0.5% develop miliary or central nervous system TB. TB spondylitis occurs in only 5.6% of extrapulmonary TB patients. The clinical manifestations of disseminated and TB spondylitis are heterogeneous and insidious, with several potential risk- and prognostic factors. We report the case of a 16-year-old male admitted with abdominal distension, paraplegia, and urinary retention. He was diagnosed with disseminated TB with TB spondylitis. This case was unique because the patient had no classic symptoms of pulmonary TB. This report focuses on the diagnosis, comprehensive management, and prognosis of TB spondylitis, as well as the risk factors for disseminated TB. The management consisted of antituberculous agents and surgery. The prognosis is influenced by the patient’s age, severity of kyphosis deformity, number of vertebrae involved, lesion site, and patient’s health status, including nutritional status.
Accuracy of behavioral responses in early detection of autism spectrum disorders in children aged 18 months to 4 years with speech delay Danu, Nugroho; Handryastuti, Setyo; Mangunatmadja, Irawan; Pusponegoro, Hardiono D.
Paediatrica Indonesiana Vol. 64 No. 1 (2024): January 2024
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi64.1.2024.17-21

Abstract

Background Early detection of autism spectrum disorders (ASD) in children with speech delay is important to improve outcomes. Behavioral responses to calling, teasing, poking, and blocking can be used to screen for ASD in daily practice. Objective To evaluate the accuracy of behavioral responses to stimuli in detecting ASD in children aged 18 months to 4 years with speech delay. Methods This cross-sectional study was conducted in children with speech delay aged 18 months to 4 years who visited the Outpatient Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta. Subjects were stimulated while playing by poking, teasing, calling, and blocking (stopping the child’s play using the examiner’s hand) and were assessed for their responses. Lack of seeking eye contact with the examiner following the stimulus was considered as a response suggestive of ASD. Independent diagnosis based on DSM-V criteria was considered the gold standard to diagnose ASD or non-ASD. Results A total of 109 children were included in this study, with an average age of 32 (SD 7.4) months. There were 52 subjects (47.7%) with ASD and 57 subjects (52.2%) with non-ASD. Behavioral response analysis revealed that calling, blocking and teasing had high sensitivity, specificity, positive predictive value (PPV), and negative predictive value (NPV) for identifying ASD. The poking response had the highest specificity to rule out ASD compared to other stimuli, with 75% sensitivity (95%CI 63.2% to 86.7%), 93% specificity (95%CI 86.3% to 99.6%), 90% PPV (95%CI 82% to 99.3%), and 80% NPV (95%CI 70.7% to 89.9%). When all behavioral responses were combined, with lack of a response to all four stimuli considered suggestive of ASD, we obtained 100% specificity, 42% sensitivity, 100% PPV and 65% NPV. Conclusion The combination of behavioral responses had high specificity, sensitivity, PPV, and NPV for early detection of ASD in children with speech delay.
Co-Authors -, Pebriansyah A C van Huffelen Adji Saptogino Adrieanta Adrieanta Agus Firmansyah Alifiani H. Putranti Amanda Seobadi Amanda Soebadi Amanda Soebadi Andre Iswara Angelina Arifin Antonius H. Pudjiadi Ari Prayitno Ari Prayitno, Ari Arwin A. P. Akib Asep Aulia Rachman Asril Aminulah Bernie Endyarni Medise Cissy B Kartasasmita Cissy B. Kartasasmita Danu, Nugroho Dharma Asih, Ni Ketut Susila Dianing Latifah Djajadiman Gatot Djajadiman Gatot Djajadiman Gatot Dominicus Husada Dwi P. Widodo Dwi Prasetyo Dwi Prasetyo Dwi Putro Widodo Dwi Putro Widodo Dwi Putro Widodo Eka Susanto Endang Windiastuti Endang Windiastuti Evita B. Ifran Fadhilah Tia Nur, Fadhilah Tia Ferial Hadipoetro Idris Gatot Irawan Sarosa Gatot Irawan Sarosa, Gatot Irawan Ghaisani Fadiana Hanifah Oswari Hanifah Oswari Hardiono D. Pusponegoro, Hardiono D. Hariadi Edi Saputra Hartono Gunardi Hartono Gunardi Haryanti F. Wulandari Hendriarto, Andra I Gusti Ngurah Made Suwarba Idha Yulandari Idham Amir Indrati Suroyo Iqbal Taufiqqurrachman Irawan Mangunatmadja Irawan Mangunatmadja Irawan Mangunatmadja Ismoedijanto Joedo Prihartono Jose RL Batubara Kusnandi Rusmil Kusnandi Rusmil Lamtorogung Prayitno Lee, Hee Jae Lenny S. Budi Lily Rundjan Ludi Dhyani Maddepunggeng, Martira Martira Maddepunggeng Mei Neni Sitaremi Mei Neni Sitaresmi Mohamad Saekhu Mulya R. Karyanti Muzal Kadim Nastiti Kaswandani Novie Amelia C Nurcahaya Sinaga Pratamisiwi, Rindy Yunita Priyono, Harim Pustika Amalia Rafli, Achmad Raihan Raihan Raihan Raihan, Raihan Ratna Dwi Restuti Rivaldo Suhito Roro Rukmi Windi Perdani, Roro Rukmi Ryan Pramana Putra Samsul Ashari Santoso, Dara Ninggar Setyo Widi Nugroho Soebadi, Amanda Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sofyan Ismael Sri Rejeki H Hadinegoro. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S. Sudigdo Sastroasmoro Sudung O. Pardede Sudung Oloan Pardede Sunartini Hapsara Taralan Tambunan Thandavarayan, Rajarajan Amirthalingam Titi S. Sularyo Tobing, Singkat Dohar Apul Lumban Wardani, Amanda Saphira Wawaimuli Arozal Wicaksono, Yuda Satrio Zakiudin Munasir Zakiudin Munasir Zizlavsky, Semiramis