Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH KONSENTRASI BETASIKLODEKSTRIN TERHADAP KELARUTAN GLIMEPIRID Fitrianti Darusman; Ulfa Siti M
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i1.3061

Abstract

Glimepirid (GMP) merupakan obat antidiabetika oral golongan sulfonilurea generasi ketiga yang mampu menurunkan kadar glukosa darah dengan efek samping hipoglikemia yang kecil. Namun GMP termasuk ke dalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II yang memiliki kelarutan praktis tidak larut dalam air sehingga berpengaruh pada laju disolusi dan bioavailabilitasnya. Salah satu upaya untuk meningkatkan kelarutan GMP yaitu dengan pembentukan kompleks inklusi menggunakan betasiklodekstrin (BCD). Penentuan terbentuknya kompleks inklusi GMP-BCD menggunakan beberapa konsentrasi larutan BCD yang semakin meningkat dalam dapar asetat 0,01 M  pH 6,2 dan dapar fosfat 0,01 M pH 7,4 yang diteliti dengan metode kelarutan dan ditentukan secara spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombang serapan maksimum 228 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelarutan GMP meningkat dengan semakin meningkatnya konsentrasi BCD dengan harga tetapan stabilitas kompleks pada pH 7,4 lebih sebesar 0,650  lebih besar dari pada pH 6,2 yaitu sebesar 0,237 .
PERBANDINGAN PROFIL FAST DISINTEGRATING ORAL TABLET DARI GLIMEPIRID DALAM KOMPLEKS INKLUSI MENGGUNAKAN BETASIKLODEKSTRIN TERHADAP GLIMEPIRID MURNI Fitrianti Darusman
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i1.4154

Abstract

Fast Disintegrating Oral Tablet (FDOT) merupakan pengembangan dari sistem penghantaran sediaan tablet oral yang dimaksudkan agar bahan aktif farmasi dapat segera dilepaskan tanpa menggunakan air minum dan diabsorbsi ke dalam tubuh melalui rongga mulut sehingga lebih mudah ditelan terutama bagi pasien yang mengalami kesulitan menelan obat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. Glimepirid termasuk dalam Biopharmaceutics Classification System (BCS) kelas II yang mempunyai kelarutan yang rendah dalam air. Telah dilakukan pembentukan kompleks inklusi menggunakan senyawa betasiklodekstrin untuk meningkatkan sifat kelarutan sekaligus menutup rasa pahit dari glimepirid pada perbandingan mol 1:1, 1:2 dan 2:1 dengan metode solvent evaporation. Berdasarkan hasil karakterisasi fisika menggunakan metode Differential Scanning Calorimeter  (DSC) dan Melting Point Apparatus (MPA), Powder X-ray Diffraction (PXRD), Fourier Transform Infrared (FT-IR) serta Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan terbentuknya kompleks inklusi glimepirid-betasiklodekstrin pada perbandingan mol 1:2. Pada penelitian ini, formulasi FDOT dibuat dalam dua formula yang masing-masing mengandung glimepirid murni dan glimepirid dalam kompleks inklusi menggunakan betasiklodekstrin (1:2) sebagai bahan aktif, crospovidone 5% sebagai superdisintegran dan laktosa bentuk granul sebagai bahan pengisi hasil optimasi formula, yang ditabletasi dengan metode kempa langsung. Evaluasi sediaan FDOT meliputi evaluasi umum tablet dan evaluasi khusus FDOT. Formulasi FDOT yang mengandung zat aktif glimepirid dalam kompleks inklusi menggunakan betasiklodekstrin (1:2) terbukti memiliki rasa yang manis dengan laju disolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan formula FDOT yang mengandung zat aktif glimepirid murni.
Formulasi Sediaan Nanoemulsi Antiselulit Mengandung Kafein dan Minyak Biji Anggur (Vitis vinifera L.) Sani Ega Priani; Dinnanda Yussepina Wulansari; Fitrianti Darusman
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 19 No 2 (2021): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v19i2.1009

Abstract

Caffeine is a methylxantin derivative that has anti-cellulite activity by increasing lipolysis. Grape seed oil containing oligoproanthocyanidin which can also act as an anti-cellulite. The nanoemulsion system is known could increase percutaneous penetration of lipophilic or hydrophilic compounds such as caffeine. This study aims to develop caffeine nanoemulsion containing grape seed oil and to determine the effect of nanoemulsion formulation on the percutaneous penetration of caffeine. Nanoemulsion preparations were made using grapeseed oil as the oil phase, tween 80 as a surfactant, glycerin as a cosurfactant, with various concentration of caffeine as the active substance (1;1,5;and 2%). The preparations were characterized by organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, rheology, spreadability, %transmittance, globule size distribution, and physical stability testings. The percutaneous penetration test was carried out in vitro using franz diffusion cell. The results showed that the nanoemulsion preparation containing 1% caffeine with 5% of grapeseed oil had good physical characteristics with transparent and homogeneous appearance, Newtonian flow properties, percent transmittance value of 99.17 ± 0.06% and globule size of 101 ± 13 nm. Nanoemulsion was able to increase the penetration of caffeine based on in vitro testing compared to the gel dosage form which were statistically significant (p <0.05).
Studi Interaksi Senyawa Turunan Saponin dari Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi L.) sebagai Antiseptik Alami secara In Silico Fitrianti Darusman; Taufik Muhammad Fakih
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 7, No 3 (2020): J Sains Farm Klin 7(3), Desember 2020
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1573.842 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.7.3.229-235.2020

Abstract

Christinin merupakan senyawa turunan glikosida saponin yang paling banyak terdapat dalam daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L.). Terdapat empat tipe christinin yaitu christinin-A, B, C, dan D yang diduga memiliki aktivitas sebagai antimikroba yang efektif terhadap bakteri dan jamur, seperti Staphylococcus epidermidis, Echerichia coli, dan Candida albicans yang sering menyebabkan infeksi pada permukaan kulit yang biasanya dapat diatasi dengan penggunaan cairan antiseptik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi serta mengeksplorasi afinitas dan interaksi molekular antara senyawa christinin-A, B, C, dan D terhadap makromolekul target pada Staphylococcus epidermidis, Echerichia coli dan Candida albicans dengan menggunakan simulasi penambatan molekular secara in silico. Molekul senyawa uji terlebih dahulu dioptimasi geometri dengan menggunakan perangkat lunak GaussView 5.0.8 dan Gaussian09. Konformasi terbaik dipilih untuk dilakukan studi interaksi terhadap makromolekul target dengan menggunakan perangkat lunak MGLTools 1.5.6 yang dilengkapi dengan AutoDock 4.2. Interaksi yang terbentuk selanjutnya diamati dengan menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020.  Berdasarkan hasil dari simulasi penambatan molekular, senyawa christinin memiliki afinitas yang baik terhadap makromolekul target pada Staphylococcus epidermidis, Echerichia coli dan Candida albicans. Dengan demikian, senyawa tersebut diprediksi dapat digunakan sebagai kandidat komponen utama dari antiseptik alami.
Pembuatan dan Karakterisasi Self Emulsifying Drug Delivery Systems(SEDDS) Ibuprofen Secara Oral Fitrianti Darusman; Frida Anggita Amalia; Sani Ega Priani
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 9, No. 2, 2022
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v9i2.31508

Abstract

Self emulsifying drug delivery systems (SEDDS) dikembangkan sebagai metode untuk meningkatkan kelarutan obat lipofilik seperti ibuprofen, serta untuk meningkatkan absorpsi dan laju disolusi obat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi SEDDS ibuprofen yang memenuhi syarat secara farmasetik dan meningkatkan bioavailabilitas ibuprofen. Formula SEDDS diperoleh dari uji kelarutan ibuprofen dan optimasi formula pada berbagai konsentrasi minyak, surfaktan dan kosurfaktan. Asam oleat, cremophor RH 40 dan propilenglikol masing-masing terpilih sebagai minyak, surfaktan dan kosurfaktan dengan perbandingan fase minyak : (surfaktan + kosurfaktan) 1:9 dan pebandingan surfaktan : kosurfaktan (3:2). Formula SEDDS optimum dievaluasi meliputi pengukuran persen transmitan, pengujian dispersibilitas, pengujian robustness, pengujian stabilitas (sentrifugasi, heating cooling cycle, freeze thaw cycle), penentuan ukuran partikel dan uji laju disolusi. Formula SEDDS ibuprofen terbaik memenuhi persyaratan persen transmitan (99,7% ± 0,872), waktu dispersibilitas (41,48 detik ± 1,3), stabil pada pengujian robustness, tidak terjadi pemisahan fasa pada pengujian stabilitas, serta memiliki ukuran globul dalam kisaran mikrometer yaitu 114,7 ± 0,692 nm. Hasil uji laju disolusi in vitro pada menit ke-10 menunjukkan bahwa sediaan SEDDS ibuprofen lebih tinggi dibandingkan dengan serbuk ibuprofen murni, yaitu masing-masing sebesar 90,04 ± 1,764% dan 59,30 ± 1,638%.
Comprehensive In Silico Analysis of Christinin Molecular Behaviour from Ziziphus spina-christi Leaves on Propionibacterium acnes Darusman, Fitrianti; Fakih, Taufik Muhammad
Pharmaceutical Sciences and Research Vol. 8, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The role of in silico studies in the discovery of new drugs is very important and interesting in the recent years, where the results can be used as confirmation of the results of in vitro tests carried out experimentally in the laboratory. One of the herbal ingredients is Ziziphus spina-christi leaves with effective antibacterial activity, such as for acne-causing bacteria, namely Propionibacterium acnes. This is because it contains main secondary metabolites with saponins as the major components which contain christinin as its active compound. There are four known types of christinin, namely christinin-A, christinin-B, christinin-C, and christinin-D. In this study, the molecular interaction of the christinin compound was tested to predict its affinity for Propionibacterium acnes compared to clindamycin, as well as to determine the level of safety on the skin so that it can be applied as a topical anti-acne dosage form. In silico studies, including molecular docking and toxicity prediction, were used to assess the activity of four molecules of the christinin compound on c-Jun N-terminal kinase (JNK) macromolecules. The christinin molecules form a strong and stable molecular interaction with the active site of the binding of c-Jun N-terminal kinase (JNK) macromolecules. Interestingly, the christinin compound molecules also has a fairly good level of safety based on the three identified parameters. Based on this results christinin compound molecules has potential to be developed as c-Jun N-terminal kinase (JNK) inhibitors candidate to control of skin infections caused by Propionibacterium acnes which has potential as a topical anti-acne.
Review Sediaan Hair Tonic Herbal dengan Pembawa Minyak untuk Rambut Rontok Jihan Sahira; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.169 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v1i1.93

Abstract

Abstract. Hair tonic is a hair care cosmetic that is designed to help overcome the problem of hair loss. Hair tonic can strengthen hair roots and keep the scalp healthy. The use of hair oil before take a bath is a common thing to do to maintain healthy hair. One of the oils that can be used is coconut oil. Coconut oil can retain moisture and hydration, protect hair and compensate for protein loss in hair. The purpose of this literature review is to examine some herbal plants that can be combined with coconut oil to be used as hair tonic for hair growth. The method used is literature study from international and national journals. The results of the article review show that the combination of extracts of Hibiscus rosa sinesis, Cuscuta reflexa, Citrullus colocynthis, Nardostachys jatamansi, Ocimum gratissimum with coconut oil can grow hair 9.00 ± 0.36 mm for 30 days on rat, the combination of Centella asiatica with coconut oil can grow hair 3.88 ± 0.16 mm in 30 days on rat, microemulsion coconut oil and rice bran oil grow hair by giving hair length of 12.6 mm in 18 days on rabbit and the combination of Ziziphus jujuba with coconut oil can hair growth of 1.82 ± 0.03 mm within 30 days on rat. Abstrak. Hair tonic merupakan kosmetik perawatan rambut yang dirancang salah satunya untuk membantu mengatasi masalah pada rambut rontok. Hair tonic dapat menguatkan akar rambut dan menjaga kulit kepala agar tetap sehat. Penggunan minyak rambut sebelum mandi merupakan hal yang biasa dilakukan untuk menjaga kesehatan rambut. Salah satu minyak yang dapat digunakan yaitu coconut oil. Coconut oil dapat meretensi kelembaban dan hidrasi, melindungi rambut serta mengkompensasi kehilangan protein pada rambut. Tujuan kajian pustaka ini yaitu untuk mengkaji beberapa tanaman herbal yang dapat dikombinasikan dengan coconut oil untuk digunakan sebagai hair tonic penumbuh rambut. Metode yang digunakan yaitu studi pustaka dari jurnal internasional dan nasional. Hasil dari kajian artikel menunjukan bahwa kombinasi ekstrak Hibiscus rosa sinesis, Cuscuta reflexa, Citrullus colocynthis, Nardostachys jatamansi, Ocimum gratissimum dengan coconut oil dapat menumbuhkan rambut 9,00 ± 0,36 mm selama 30 hari pada tikus, kombinasi Centella asiatica dengan coconut oil dapat menumbuhkan rambut 3,88 ± 0,16 mm dalam 30 hari pada tikus, mikroemulsi coconut oil dan rice bran oil menumbuhkan rambut dengan memberikan panjang rambut 12,6 mm dalam waktu 18 hari pada kelinci dan kombinasi Ziziphus jujuba dengan coconut oil dapat menumbuhkan rambut 1,82 ± 0,03 mm dalam waktu 30 hari pada tikus.
Kajian Efek Radiasi Ultraviolet terhadap Kulit Azyyati Adzhani; Fitrianti Darusman; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.522 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3551

Abstract

Abstract. Ultraviolet (UV) radiation consists of UV A, UV B, and UV C rays which are distinguished by their wavelength. Exposure to high-intensity ultraviolet light can cause side effects on the skin. So it takes skin protection that functions to absorb or weaken ultraviolet rays so that the intensity of the rays that reach the skin is less than it should be. Based on this description, the problems in this research are formulated as follows: (1) How is the study of various types of ultraviolet? (2) How to study the effects of ultraviolet radiation?. The researcher uses the journal review method with literature study. Collection techniques with various scientific literature both primary and secondary. In collecting data and searching for journals, online-based searches such as Pubmed, Science Direct, and Google Scholar were used. The results of this study are: UV A light has a wavelength between 320 nm – 400 nm, UV B with a wavelength of 290 nm – 320 nm and UV C with a wavelength of 10 nm – 290 nm. High exposure to ultraviolet radiation can cause sunburn, skin redness (erythema), dark skin (tanning), and even skin cancer. Abstrak. Radiasi ultraviolet (UV) terdiri dari sinar UV A, UV B, dan UV C yang dibedakan berdasarkan panjang gelombangnya. Paparan sinar ultraviolet dengan intensitas tinggi dapat menimbulkan efek samping terhadap kulit. Sehingga dibutuhkan pelindungan kulit yang berfungsi menyerap atau melemahkan sinar ultraviolet sehingga intensitas sinar yang mencapai kulit lebih sedikit dari yang seharusnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana kajian dari berbagai jenis ultraviolet? (2) Bagaimana kajian efek dari radiasi ultraviolet?. Peneliti menggunakan metode riview jurnal dengan studi pustaka. Teknik pengumpulan dengan berbagai literatur ilmiah baik primer maupun sekunder. Pada pengumulan data dan pencarian jurnal digunakan pencarian berbasis online seperti Pubmed, Science Direct, dan Google Scholar. Hasil dari penelitian ini adalah: Sinar UV A memiliki panjang gelombang diantara 320 nm – 400 nm, UV B dengan panjang gelombang 290 nm – 320 nm dan UV C dengan panjang gelombang 10 nm – 290 nm. Paparan radiasi ultraviolet yang tinggi dapat menyebabkan kulit terbakar (sunburn), kulit kemerahan (eritema), kulit menjadi gelap (tanning), bahkan dapat menimbulkan kanker kulit.
Formulasi dan Karakterisasi Transfersom Andrografolid Syafanisa Alifia Rahma; Aulia Fikri Hidayat; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.443 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3751

Abstract

Abstract. Andrographolide is the main bioactive compound in the sambiloto plant (Andrographis paniculata (Burm. f) Nees). Andrographolide is known to have poor solubility and low oral bioavailability. The transdermal route can be an alternative for the delivery of andrographolide compounds. Transfersome is one of the drug delivery systems that can increase the penetration ability of active substances in the transdermal route. This study aims to obtain the best andrographolide transfersome formula based on the characterization carried out and compare the penetration ability of the andrographolide transfersome and pure andrographolide. Four andrographolide transfersome formulas are made with variations in the ratio of phospholipid and surfactant concentrations, namely F1 (90:10), F2 (80:20), F3 (70:30), and F4 (60:40). Thin-layer hydration method was applied for transfersome preparation. The transfersomes obtained are characterized by the determination of entrapment efficiency, particle size, polydispersity index, and zeta potential. F4 with an entrapment efficiency value of 90.762%±0.592, particle size of 626,633±19,858 nm, polydispersity index of 0,456±0,055, and zeta potential of -4,067±1,097 mV was selected as the best andrographolide transfersome formula. In vitro penetration test was performed on the best transfersome andrographolide formula using the Franz diffusion cell method. The results of in vitro penetration tests show that andrographolide transfersome have better penetration ability than pure andrographolide. Andrographolide transfersome provide a cumulative amount andrographolide penetrated 108.583±0.918 μg/cm2 and flux 36.194±0.014 μg/cm2.h-1, while pure andrographolide provide a cumulative amount andrographolide penetrated 66,930±1,345 μg/cm2 and flux 22,301±0.448 μg/cm2.h-1. Abstrak. Andrografolid merupakan senyawa bioaktif utama yang terkandung dalam tanaman sambiloto (Andrographis paniculata (Burm. f) Nees). Andrografolid diketahui memiliki sifat kelarutan buruk dan bioavailabilitas oral rendah sehingga rute transdermal dapat menjadi alternatif untuk penghantaran senyawa andrografolid. Transfersom merupakan salah satu sistem penghantaran yang dapat meningkatkan kemampuan penetrasi zat aktif pada penghantaran dengan rute transdermal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula transfersom andrografolid terbaik berdasarkan karakterisasi yang dilakukan dan membandingkan kemampuan penetrasi dari transfersom andrografolid dan andrografolid murni. Empat formula transfersom andrografolid dibuat dengan variasi perbandingan konsentrasi fosfolipid dan surfaktan yaitu F1 (90:10), F2 (80:20), F3 (70:30), dan F4 (60:40) menggunakan metode hidrasi lapis tipis. Transfersom yang diperoleh dikarakterisasi meliputi penentuan nilai persentase efisiensi penjerapan, ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan potensial zeta. F4 dengan nilai efisiensi penjerapan 90,762%±0,592, ukuran partikel 626,633±19,858 nm, indeks polidispersitas 0,456±0,055, dan potensial zeta -4,067±1,097 mV dipilih sebagai formula transfersom andrografolid terbaik. Terhadap formula transfersom andrografolid terbaik dilakukan uji penetrasi in vitro dengan metode sel difusi Franz. Hasil uji penetrasi in vitro menunjukan bahwa transfersom andrografolid memiliki kemampuan penetrasi yang lebih baik dibandingkan andrografolid murni. Transfersom andrografolid memberikan nilai jumlah kumulatif terpenetrasi 108,583±0,918 µg/cm2 dan fluks 36,194±0,014 µg/cm2.jam-1. Sedangkan andrografolid murni memberikan nilai jumlah kumulatif terpenetrasi 66,930±1,345 µg/cm2 dan fluks 22,301±0,448 µg/cm2.jam-1.
Kajian Pengobatan Tukak Lambung dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Aprian Dwiatama; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.197 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3781

Abstract

Abstract. One of the most common disorders experienced by both pediatric and geriatric ages is digestive disorders. Two of the most common digestive disorders are peptic ulcers and gastroesophageal reflux disease (GERD). Gastric ulcer is a digestive disorder that occurs due to damage to the gastric mucosa, while gastroesophageal reflux disease (GERD) is a disease caused by stomach acid flowing back into the esophagus, causing damage to the esophageal mucosa. If these two diseases are not treated immediately, it will result in a compilation that leads to death. The purpose of this study was to determine the pathogenesis of gastric ulcers and GERD and their treatment. The method used is a literature review using a review article. The results of the literature review show that gastric ulcers occur due to infection with Helicobacter pylori bacteria and long-term use of NSAID drugs while GERD occurs due to an imbalance between aggressive (gastric acid) and defensive factor (LES, esophageal clearance mechanisms). The treatment that can be done is by taking proton pump inhibitor (PPI) and H2RA drugs which work in inhibiting the production of stomach acid and antacids which work in neutralizing gastric juices that are too acidic. Abstrak. Salah satu gangguan yang paling sering dialami baik itu di usia pediatrik maupun geriatrik yaitu gangguan pencernaan. Salah dua gangguan pencernaan yang sering terjadi yaitu tukak lambung dan gastroesophageal reflux disease (GERD). Tukak lambung merupakan salah satu gangguan pencernaan yang terjadi karena adanya kerusakan pada mukosa lambung sedangkan gastroesophageal reflux disease (GERD) merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh asam lambung yang mengalir kembali ke daerah esofagus sehingga terjadi kerusakan mukosa esofagus. dimana apabila kedua penyakit ini tidak dilakukan penanganan secara segera akan mengakibatkan kompilasi yang berujung pada kematian. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui patogenesis tukak lambung dan GERD serta pengobatannya. Metode yang digunakan yaitu literature review dengan menggunakan review article. Hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa tukak lambung terjadi karena infeksi bakteri Helicobacter pylori dan penggunaan obat NSAID dalam jangka panjang sedangkan GERD terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara faktor agresif (asam lambung) dan defensif (LES, mekanisme bersihan esofagus). Pengobatan yang dapat dilakukan yaitu dengan mengonsumsi obat golongan proton pump inhibitor (PPI) dan H2RA yang bekerja dalam menghambat produksi asam lambung serta antasida yang bekerja dalam menetralkan cairan lambung yang terlalu asam.
Co-Authors Amila Amila Anan Suparman Anan Suparman Annisa Meilani Aprian Dwiatama Aprian Dwiatama Astrid Feinisa Khairani Aulia Fikri Hidayat Azyyati Adzhani Budi Prabowo Soewondo Cepy Hadiansyah Cepy Hadiansyah, Cepy Dara Azalea Wahdah Debby Prihasti Ayustine Dewi, Mentari Luthfika Dinnanda Yussepina Wulansari Dinnanda Yussepina Wulansari Dwi Oktariani Dwi Syah Fitra Ramadhan Dwiatama, Aprian Endah Rahayu Endah Rahayu, Endah Fia Siti Nopalia Firda Aulia Jannati Frida Anggita Amalia Gina Fuji Nurfarida Gita Cahya Eka Darma Hamdi Azwir, Hery Hanifa Rahma Hanifa Rahma Hilda Aprilia, Hilda Hirawati Oemar Inayah Fitri Wulandari Inayah Fitri Wulandari Indra Topik Indra Topik, Indra Jihan Sahira Khodimul Haramain Khuza’i, Rodliyah Larasati Sofiyandini Legina Ayu Kusumah, Dea Marillia, Viola Mega Suryani Putri Mentari Lutfika Dewi Mentari Luthfika Dewi Millati Hanifa Suparno Muhamad Rizqy Maulana Muhammad Sultan Ramadhan Mutiara Haifania Nadya Azzahra Nawang Wulan Rachmatillah Prastowo Putri Niken Fitria Yuliar Nurrayyan Nurrayyan Nurrayyan, Nurrayyan Nyayu Ista Yulita Putri, Nawang Wulan Rachmatillah Prastowo Rachmat Mauludin Rachmat Mauludin Ratih Aryani Riza Ramadhan Saadiya Noerman Sani Ega Priani Shannie Megaliane Silvi Sandi Putri Sitorus, Mido Ester Soewandhi, Sundani N Sundani N Soewandhi Syafanisa Alifia Rahma Syifa Nur Oktaviani Syifa Siti Fatimah Azzahro Syilfiana Anwar Taufik Muhammad Fakih Teti Sofia Yanti Tia Aulia Silvianti Triandri Permana Uci Ary Lantika Uci Ary Lantika Ulfa Siti M Viola Marillia Widad Aghnia Shalannandia Widad Aghnia Shalannandia Yan Orgianus Yerisy, Linggih Elra Yukeu Fazriah Yukeu Fazriah, Yukeu Zalfa Ainun Rozak