Claim Missing Document
Check
Articles

Formulasi Sediaan Nanoemulsi Mengandung Minyak Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry) Syifa Siti Fatimah Azzahro; Sani Ega Priani; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.147 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3910

Abstract

Abstract. Clove is one of the natural ingredients that can be used in the health sector. The essential oil contained in the clove plant contains eugenol compounds, which have anti-inflammatory and analgesic effects. This study aims to develop nanoemulsion containing clove oil with good characteristics and physical stability. This research was initiated with the optimization of 5% clove oil nanoemulsion with variation of concentrations between tween 80 as surfactant and PEG 400 as cosurfactant. Then the nanoemulsion of clove oil was evaluated for pharmaceuticals including organoleptic test, homogeneity, pH, viscosity, rheology, dispersibility, measurement of transmittance, globule size, polydispersity index, and centrifugation. The results showed that the clove oil nanoemulsion F6 consisting of 5% clove oil, 30% tween 80, and 15% PEG 400 had fulfilled the evaluation requirements of pharmaceutical preparations with clear visuals, globule size of 18,7 ± 0,1 nm, the polydispersity index value was 0,177 ± 0,01, and it was stable without any phase separation. Abstrak. Cengkeh merupakan salah satu bahan alam yang dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Minyak atsiri yang terkandung pada tanaman cengkeh dengan kandungan senyawa eugenol, memiliki efek sebagai antiinflamasi dan analgesik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan nanoemulsi yang mengandung minyak cengkeh dengan karakterstik dan stabilitas fisik yang baik. Penelitian ini diawali dengan melakukan optimasi sediaan nanoemulsi minyak cengkeh 5% dengan variasi konsentrasi tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. Kemudian sediaan nanoemulsi minyak cengkeh dilakukan evaluasi farmasetika meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, rheologi, daya sebar, pengukuran nilai transmitan, rata-rata ukuran globul, nilai PDI, dan sentrifugasi. Hasil penelitian menunjukan sediaan nanoemulsi minyak cengkeh F6 yang terdiri dari minyak cengkeh sebanyak 5%, tween 80 sebanyak 30%, dan PEG 400 sebanyak 15% telah memenuhi persyaratan evaluasi sediaan farmasetika dengan visual sediaan yang jernih, ukuran globul sebesar 18,7 ± 0,1 nm, nilai indeks polidispersitas sebesar 0,177 ± 0,01, dan stabil tanpa adanya pemisahan fase.
Kajian Bentuk-Bentuk Sediaan Farmasi sebagai Pedikulisida Mutiara Haifania; Fitrianti Darusman; Anan Suparman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.165 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4187

Abstract

Abstract. Pediculosis capitis is an infection of the scalp caused by the investment of Pediculus humanus var. capitis or often called head lice. Head lice are obligate ectoparasites that can only live by attaching to human hair or scalp because head lice survive by sucking blood (hematophagy). One alternative to overcome the problems caused by head lice is to use pediculicide preparations that are widely circulated in the market, both preparations containing herbal ingredients and synthetic chemicals. The purpose of this research is to determine what pharmaceutical preparations forms can be used as pediculicides and to know what active ingredients can be used as pediculicides. The study was conducted by Systematic Literature Review (SLR) method by collecting various literatures from international and national journals on databases relating to various forms of pharmaceutical preparations and active ingredients as pediculicides. The results of this study indicate that pharmaceutical preparations forms that can be used as pediculicides are shampoo, lotion, and hair tonic preparations. Then, the active ingredients that can be used as pediculicides are permethrin, lindane, and malathion (synthetic chemicals); while from the herbal ingredients are garlic, soursop fruit and seeds, a mixture of essential oils (consisting of eucalyptus oil, fennel oil, and lemon oil), neem oil, and white cempaka flower cem-ceman. Abstrak. Pediculosis capitis merupakan infeksi pada kulit kepala yang ditimbulkan karena investasi Pediculus humanus var. capitis atau sering disebut kutu rambut. Kutu rambut merupakan ektoparasit obligat yang hanya dapat hidup dengan menempel pada rambut atau kulit kepala manusia karena kutu rambut bertahan hidup dengan menghisap darah (hematophagy). Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah yang disebabkan kutu rambut ini yaitu dengan menggunakan sediaan pedikulisida yang banyak beredar dipasaran baik sediaan yang mengandung bahan herbal maupun kimia sintetis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk sediaan farmasi yang dapat digunakan sebagai pedikulisida dan mengetahui bahan aktif apa saja yang dapat digunakan sebagai pedikulisida. Pengkajian dilakukan dengan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengumpulkan berbagai pustaka dari jurnal internasional dan nasional pada database yang berkaitan dengan berbagai bentuk sediaan farmasi dan bahan aktif sebagai pedikulisida. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk-bentuk sediaan farmasi yang dapat digunakan sebagai pedikulisida yaitu sediaan sampo, lotion, dan hair tonic. Kemudian, bahan aktif yang dapat digunakan sebagai pedikulisida yaitu permethrin, lindane, dan malathion (bahan kimia sintetik); sedangkan dari bahan herbal yaitu bawang putih, buah dan biji sirsak, campuran minyak atsiri (terdiri dari minyak kayu putih, minyak adas, dan miyak lemon), minyak mimba, dan bunga cempaka putih cem-ceman.
Kajian Pustaka Surfaktan dalam Sediaan Pembersih Inayah Fitri Wulandari; Fitrianti Darusman; Mentari Luthfika Dewi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.175 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4203

Abstract

Abstract. Cleansing the skin is an important thing to do in maintaining a healthy body. The skin as the outermost structure of the human body has a function as a protector between the body and the environment, immune defense, UV protection, and protection from oxidative damage. As the main defense against impurities from the outside, many types of microorganisms such as bacteria, viruses, fungi, protozoa, and other minor groups are found. Adanya pollution from the environment can also have negative effects on the skin such as skin aging and skin pigmentation. In cleaning preparations, surfactants have an important role that can function as wetters, cleaners, foaming agents, solvents, conditioners, thickeners, and to produce emollients. The mechanism of surfactants in cleaning dirt in the skin is the formation of micelles. The hydrophobic part of the surfactant will bind to impurities in the skin and its hydrophilic part will be attracted closer to the water during the rinsing process. Abstrak. Membersihkan kulit merupakan hal yang penting dilakukan dalam menjaga kesehatan tubuh. Kulit sebagai struktur terluar dari tubuh manusia memilki fungsi sebagai pelindung antara tubuh dengan lingkungan, pertahanan kekebalan, perlindungan UV, dan perlindungan dari kerusakan oksidatif. Sebagai pertahanan utama terhadap kotoran dari luar, banyak ditemukan berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, protozoa, dan kelompok minor lainnya. Adanya polusi dari lingkungan juga dapat memberikan efek negatif terhadap kulit seperti penuaan kulit dan pigmentasi kulit. Dalam sediaan pembersih, surfaktan memiliki peran yang penting yang dapat berfungsi sebagai sebagai pembasah, pembersih, bahan pembusa, pelarut, kondisioner, pengental, dan untuk menghasilkan emolien. Mekanisme surfaktan dalam membersihkan kotoran di kulit yaitu dengan pembentukan misel. Bagian hidrofobik dari surfaktan akan berikatan dengan kotoran di kulit dan bagian hidrofiliknya akan tertarik mendekati air ketika proses pembilasan.
Hair Tonic dengan Kandungan Senyawa yang Memiliki Aktivitas Penumbuh Rambut dari Berbagai Bahan Herbal Syilfiana Anwar; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.609 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4366

Abstract

Abstrak. Hair tonic merupakan sediaan kosmetika rambut yang digunakan untuk menstimulasi pertumbuhan rambut yang memiliki kelebihan mudah digunakan, mudah terserap kulit kepala, serta tidak menimbulkan iritasi. Berbagai ekstrak tanaman yang mengandung flavonoid diformulasikan untuk meningkatkan aktivitas pertumbuhan rambut sebagai alternatif dari hair tonic berbahan sintetik yang dapat memicu timbulnya efek samping. Flavonoid memiliki sifat antioksidan yang mampu memperlancar sirkulasi darah sehingga dapat mempercepat pertumbuhan rambut. Tujuan dari kajian pustaka ini yaitu untuk mengetahui formulasi hair tonic yang memenuhi persyaratan farmasetika dengan bahan aktif herbal yang mengandung flavonoid sebagai penumbuh rambut dan menguji aktivitasnya terhadap pertumbuhan rambut kelinci. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu Systematic Literature Review (SLR) dengan metode diagram prisma. Hasil yang diperoleh dari kajian artikel menunjukan bahwa formulasi hair tonic herbal terbaik adalah formulasi yang mengandung minyak kemiri (Aleurites moluccana L.) sebagai zat aktif dimana memiliki aktivitas terbaik yaitu dapat menumbuhkan rambut hingga 29,77 mm selama 22 hari dan dihasilkan uji evaluasi farmasetik yang meliputi uji organoleptik, uji pH, dan uji viskositas yang memenuhi syarat mutu SNI 16-4955-1998. Abstract. Hair tonic is a hair cosmetic that's used to stimulate hair growth that can be applied practically, absorbed easily by the scalp, and possesses no irritation effect. Various plant extracts containing flavonoids are formulated to increase hair growth activity as an alternative for synthetic hair tonic which could trigger side effects. Flavonoid has antioxidant characteristics that could reinforce blood circulation that accelerates hair growth. The aim of this study is to identify the hair tonic formula review that fulfills the pharmaceutic requirement with active herbal ingredients containing flavonoids. The study used a Systematic Literature Review (SLR) with a diagram prism method. The results from the article review shows that the best herbal hair tonic formulation is the formulation that contains candlenut oil (Aleurites moluccana L.) as an active substance which has the best activity that could grow hair up to 29.77 mm in 22 days and resulting in pharmaceutic evaluation that comprises organoleptic test, pH test, and viscosity test that met the quality requirements of SNI 16-4955-1998.
Sistem Vesikular sebagai Penghantaran Baru pada Obat Rute Perkutan Mega Suryani Putri; Fitrianti Darusman; Hanifa Rahma
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.348 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4535

Abstract

Abstract. Vesicles are colloidal particles in the form of bilayers from ampiphilic molecules or surfactants that have a role as drug carriers so that they can help increase drug penetration. The success of the formulation of the vesicular carrier system is influenced by the characteristics of a stable vesicle system. This study aims to find out how the vesicular system as a new delivery system in percutaneous route drugs to increase percutaneous penetration. The research conducted systematic literature of National and International articles from leading publishers. The results showed that liposomes can increase percutaneous penetration whose characteristics are stable with a vesicular size of 260.9±44.9 nm, PDI of 0.272±0.04 and a potential of zeta of 35.6±0.03 mV. The vesicular carrier system is able to increase percutaneous penetration marked an increase in the value of flux and percent penetration. The test results showed that the vesicles size of the vesicular carrier system affects the increase in percutaneous penetration. The highest increase in penetration is indicated by a vesicular carrier system that has a vesicle size of <300 nm. Abstrak. Vesikel merupakan partikel koloid berupa bilayer dari molekul ampifilik atau surfaktan yang memiliki peran sebagai pembawa obat sehingga dapat membantu meningkatkan penetrasi obat. Keberhasilan formulasi sistem pembawa vesikuler dipengaruhi oleh karakteristik sistem vesikel yang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sistem vesikular sebagai sistem penghantaran baru pada obat rute perkutan untuk meningkatkan penetrasi perkutan. Penelitian ini dilakukan literatur sistematis artikel Nasional dan Internasional dari penerbit terkemuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa liposom dapat meningkatkan penetrasi perkutan yang karakteristiknya stabil dengan ukuran vesikuler 260,9±44,9 nm, PDI 0,272±0,04 dan potensi zeta sebesar 35,6±0,03 mV. Sistem pembawa vesikuler mampu meningkatkan penetrasi perkutan ditandai peningkatan nilai fluks dan penetrasi persen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ukuran vesikel sistem pembawa vesikuler mempengaruhi peningkatan penetrasi perkutan. Peningkatan penetrasi tertinggi ditunjukkan oleh sistem pembawa vesikuler yang memiliki ukuran vesikel <300 nm.
Kajian Pustaka Formulasi Sediaan Edible Film sebagai Antihalitosis Berbahan Aktif Herbal Fia Siti Nopalia; Ratih Aryani; Fitrianti Darusman
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.85 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4573

Abstract

Abstract. Halitosis is an oral health problem that is characterized by bad breath and many people complain about it, which has an impact on self-image and social problems. The main cause of halitosis is the activity of anaerobic bacteria such as Streptococcus mutans which produce Volatile Sulfur Compounds (VSCs) in the oral cavity. Edible film is a pharmaceutical preparation developed to prevent halitosis, has a thin transparent layer cut to a certain length and width, is practical, and is biodegradable. The purpose of this article review is to provide information related to extracts as antihalitosis against Streptococcus mutans bacteria which are formed in edible film preparations from various types of film forming agents used with manufacturing methods that are in accordance with the characteristics of an active substance. The research method was carried out using a Systematic Literature Review (SLR). The results of the literature review show that the extracts that have the potential as antihalitosis against Streptococcus mutans bacteria are celery extract, gedi leaf extract, betel leaf extract, rosella flower petal extract, water henna leaf extract, basil leaf extract, cat whiskers leaf extract, binahong leaf extract, sustainable live stem extract, and extracts of leilem leaves. The extract can be formulated into edible films with the type of film forming agent in the form of polysaccharides and proteins as well as composites which are a mixture of polysaccharides, proteins, and lipids made using the solvent casting method. Abstrak. Halitosis termasuk masalah kesehatan mulut yang ditandai dengan keadaan nafas bau tidak sedap dan banyak dikeluhkan masyarakat, berdampak terhadap citra diri dan masalah sosial. Penyebab utama halitosis yaitu adanya aktivitas bakteri anaerob seperti Streptococcus mutans yang memproduksi Volatile Sulfur Compounds (VSCs) dalam rongga mulut. Edible film merupakan sediaan farmasi yang dikembangkan untuk mencegah halitosis, memiliki lapisan tipis transparan yang dipotong dengan panjang dan lebar tertentu, praktis, dan bersifat biodegradable. Tujuan review artikel ini untuk memberikan informasi terkait ekstrak sebagai antihalitosis terhadap bakteri Streptococcus mutans yang dibentuk dalam sediaan edible film dari berbagai jenis film forming agent yang digunakan dengan metode pembuatan yang sesuai dengan karakteristik suatu zat aktif. Metode penelitian dilakukan dengan menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Hasil kajian pustaka menunjukan bahwa ekstrak yang berpotensi sebagai antihalitosis terhadap bakteri Streptococcus mutans yaitu, ekstrak seledri, ekstrak daun gedi, ekstrak daun sirih, ekstrak kelopak bunga rosella, ekstrak daun pacar air, ekstrak daun kemangi, ekstrak daun kumis kucing, ekstrak daun binahong, ekstrak batang sambung nyawa, dan ekstrak daun leilem. Ekstrak tersebut dapat diformulasikan kedalam sediaan edible film dengan jenis film forming agent berupa polisakarida dan protein serta komposit yang merupakan campuran dari polisakarida, protein, dan lipid yang dibuat dengan menggunakan solvent casting method.
Kajian Tingkat Iritasi Surfaktan Berdasarkan Nilai Zein pada Sediaan Body Wash Fitrianti Darusman; Inayah Fitri Wulandari; Mentari Lutfika Dewi
Majalah Farmasetika Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v8i2.42527

Abstract

Body wash merupakan salah satu sediaan kosmetik pembersih yang umum digunakan untuk membersihkan tubuh yang mengandung surfaktan sebagai salah satu bahan utamanya. Surfaktan sebagai bahan utama yang digunakan dalam sediaan body wash memiliki manfaat sebagai pembasah, pembersih, dan bahan pembusa. Mekanisme surfaktan dalam membersihkan kotoran di kulit yaitu berikatan dengan stratum korneum. Penggunaan surfaktan dalam jangka panjang dapat menyebabkan pembengkakan keratin dalam korneosit, kerusakan struktural pada stratum korneum, meningkatkan Transepidermal Water Loss (TEWL) dan denaturasi protein, sehingga diperlukan sediaan pembersih yang mengandung surfaktan yang aman dan tidak mengiritasi kulit. Penulisan kajian pustaka ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan surfaktan dalam mempertahankan stabilitas busa guna membersihkan kotoran di permukaan kulit dan juga mengetahui tingkat iritasi surfaktan berdasarkan nilai zein pada formulasi sediaan body wash. Kajian pustaka ini dilakukan menggunakan metode penelitian secara komparatif dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber pustaka yang sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Hasil dari kajian pustaka menunjukkan bahwa surfaktan mengalami peningkatan stabilitas busa ketika dikombinasikan dengan polimer ataupun saponin dari ekstrak tanaman. Pengujian potensi iritasi surfaktan dengan kombinasi dari berbagai jenis surfaktan anionik, amfoterik, dan non ionik dengan penambahan beberapa zat seperti polimer, ekstrak tanaman, ekstrak dari fermentasi Bacillus, talkum ataupun penambahan alkil poliglukosida menghasilkan potensi iritasi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan surfaktan tunggal.
FORMULASI DAN KARAKTERISASI SEDIAAN ORALLY DISSOLVING FILM TAMSULOSIN HIDROKLORIDA Fitrianti Darusman; Muhammad Sultan Ramadhan; Uci Ary Lantika
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v6i1.10717

Abstract

Orally dissolving film (ODF) merupakan sediaan film tipis yang cepat larut dalam mulut tanpa bantuan air minum, sehingga onset obat menjadi lebih cepat dan meningkatkan kenyamanan pasien. Polimer hidroksi propil metil selulosa (HPMC) dan maltodekstrin merupakan jenis polimer yang banyak dikombinasikan dalam sediaan ODF karena menghasilkan karakteristik film yang baik. Tamsulosin HCl digunakan sebagai model obat karena memiliki dosis kecil, rasa pahit, dan kelarutannya rendah dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik dari sediaan ODF menggunakan kombinasi polimer HPMC dan maltodekstrin sebagai film forming agent serta mengetahui karakteristik sediaan ODF yang mengandung tamsulosin HCl. Optimasi formula dilakukan dengan memvariasikan polimer HPMC dan maltodekstrin menjadi 6 formula. Hasil optimasi, polimer HPMC dan maltodekstrin dengan perbandingan 5 : 2 merupakan formula basis film yang paling baik secara organoleptis dan memiliki waktu melarut yang relatif cepat sehingga dipilih untuk formulasi sediaan ODF tamsulosin HCl. Sediaan ODF tamsulosin HCl terbagi menjadi 3 formula masing-masing mengandung krospovidon 2% (F3A), 3% (F3B), dan 4% (F3C) yang dibuat menggunakan metode tuang pelarut. Dari ketiga formula, F3B merupakan formula terbaik dengan tekstur halus, elastis, kuat, transparan, homogen; bobot 52,06 ± 0,2329 mg; ketebalan 0,152 ± 0,0067 mm; pH sediaan 6,6 ± 0,019; ketahanan lipat 523 ± 0,247 kali; kekuatan tarik 8,51 ± 0,003 N/mm2; persen kemuluran 23,33 ± 0,017%; penetapan kadar 99,13 ± 0,5717 %; dan waktu melarut paling cepat yaitu 33,57 ± 1,6502 detik.
Formulasi dan Karakterisasi Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) Esomeprazol Magnesium Trihidrat Fitrianti Darusman; Aprian Dwiatama; Sani Ega Priani
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 10, No 1 (2023): J Sains Farm Klin 10(1), April 2023
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.10.1.10-20.2023

Abstract

Esomeprazol magnesium trihidrat merupakan obat golongan proton pump inhibitor (PPI) yang dapat digunakan dalam pengobatan tukak lambung dengan menghambat sekresi asam lambung. Namun esomeprazol dikategorikan ke dalam BCS kelas 2 dengan kelarutan yang buruk dalam air sehingga dapat berdampak pada kemampuan disolusi dan bioavailabilitasnya. SNEDDS umum digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat lipoflilik dimana SNEDDS merupakan campuran zat aktif, minyak, surfaktan, dan ko-surfaktan yang akan membentuk nanoemulsi minyak dalam air secara spontan ketika kontak dengan fase cair dengan agitasi yang ringan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui formula SNEDDS esomeprazol magnesium trihidrat yang paling baik serta mengetahui karakteristiknya. SNEDDS diformulasikan menggunakan fase minyak berupa VCO, surfaktan berupa tween 80, dan ko-surfaktan berupa PEG 400. Sediaan SNEDDS dilakukan evaluasi berupa persen transmitan, dispersibilitas, robustness, stabilitas termodinamika, indeks bias, ukuran globul, PDI, zeta potensial, dan uji disolusi. Hasil menunjukkan bahwa SNEDDS esomeprazol magnesium trihidrat dengan rasio minyak:Smix 1:6 dan perbandingan Smix 2:1 mampu membentuk nanoemulsi secara spontan dan stabil berdasarkan uji stabilitas termodinamika, dihasilkan rata-rata ukuran globul 78,03 nm, nilai PDI 0,667, nilai zeta potensial -14,57 mV, dan dapat meningkatkan kecepatan disolusi yang lebih baik dibandingkan bentuk murninya.
Exploration of the flavonoid content of Ziziphus spina-christi leaf extract and antioxidant activity assay through in vitro and in silico methods Fitrianti Darusman; Taufik Muhammad Fakih; Dwi Syah Fitra Ramadhan; Hilda Aprilia Wisnuwardhani; Teti Sofia Yanti
Pharmaciana Vol 13, No 1 (2023): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.966 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v13i1.24016

Abstract

One plant that has the potential as an antioxidant is Ziziphus spina-christi (ZSC) because it contains phenolics and flavonoids. This study aims to determine the flavonoid content both qualitatively and quantitatively and to test the antioxidant activity of ZSC leaf extract using in vitro and in silico attenuation methods. Determination of the total flavonoid content of ZSC leaf extract using a comparison of quercetin. In vitro the antioxidant activity assay of ZSC leaf extract was carried out by measuring the reducing activity of ZSC leaf extract against the radical DPPH using ascorbic acid as comparison, while the in silico method using QSAR and pharmacophore modeling techniques. The results showed that the total flavonoid content obtained from ZSC leaf extract was 0.2515 ± 0.0013 mg QE/g D.W with an IC50 of 58.9296 ppm. This value indicates that ZSC leaf extract has potential as a strong antioxidant. Furthermore, from the in silico method using pharmacophore modeling and QSAR techniques, 8 hit compounds were obtained from the content of ZSC with IC50 QSAR ranging from 6.57 to 0.0004, which was thought to be the metabolite that had the most role in its antioxidant activity. This value indicates that ZSC leaf extract has potential as a very strong antioxidant. It also proves that QSAR and pharmacophore modeling techniques can be used as confirmatory tests for in vitro results in determining the antioxidant activity of natural materials.
Co-Authors Amila Amila Anan Suparman Anan Suparman Annisa Meilani Aprian Dwiatama Aprian Dwiatama Astrid Feinisa Khairani Aulia Fikri Hidayat Azyyati Adzhani Budi Prabowo Soewondo Cepy Hadiansyah Cepy Hadiansyah, Cepy Dara Azalea Wahdah Debby Prihasti Ayustine Dewi, Mentari Luthfika Dinnanda Yussepina Wulansari Dinnanda Yussepina Wulansari Dwi Oktariani Dwi Syah Fitra Ramadhan Dwiatama, Aprian Endah Rahayu Endah Rahayu, Endah Fia Siti Nopalia Firda Aulia Jannati Frida Anggita Amalia Gina Fuji Nurfarida Gita Cahya Eka Darma Hamdi Azwir, Hery Hanifa Rahma Hanifa Rahma Hilda Aprilia, Hilda Hirawati Oemar Inayah Fitri Wulandari Inayah Fitri Wulandari Indra Topik Indra Topik, Indra Jihan Sahira Khodimul Haramain Khuza’i, Rodliyah Larasati Sofiyandini Legina Ayu Kusumah, Dea Marillia, Viola Mega Suryani Putri Mentari Lutfika Dewi Mentari Luthfika Dewi Millati Hanifa Suparno Muhamad Rizqy Maulana Muhammad Sultan Ramadhan Mutiara Haifania Nadya Azzahra Nawang Wulan Rachmatillah Prastowo Putri Niken Fitria Yuliar Nurrayyan Nurrayyan Nurrayyan, Nurrayyan Nyayu Ista Yulita Putri, Nawang Wulan Rachmatillah Prastowo Rachmat Mauludin Rachmat Mauludin Ratih Aryani Riza Ramadhan Saadiya Noerman Sani Ega Priani Shannie Megaliane Silvi Sandi Putri Sitorus, Mido Ester Soewandhi, Sundani N Sundani N Soewandhi Syafanisa Alifia Rahma Syifa Nur Oktaviani Syifa Siti Fatimah Azzahro Syilfiana Anwar Taufik Muhammad Fakih Teti Sofia Yanti Tia Aulia Silvianti Triandri Permana Uci Ary Lantika Uci Ary Lantika Ulfa Siti M Viola Marillia Widad Aghnia Shalannandia Widad Aghnia Shalannandia Yan Orgianus Yerisy, Linggih Elra Yukeu Fazriah Yukeu Fazriah, Yukeu Zalfa Ainun Rozak