Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Infusa Akar Bajakah Kalalawit (Uncaria rhynchophylla) Terhadap Fungsi Ginjal Mencit (Mus musculus) Diabetik Raudatul Muthaharoh; I Gede Andika Sukarya; Sresta Azahra; Eko Nugroho Raharjo
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 1 (2025): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i1.10740

Abstract

Diabetes mellitus merupakan keadaan terjadinya peningkatan kadar gula darah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga mengganggu proses filtrasi di glomerolus ditandai dengan peningkatan kadar kreatinin dan ureum. Banyak masyarakat yang menggunakan obat paten untuk mengatasi suatu penyakit, namun memberikan efek samping apabila dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang, sehingga beralih ke pengobatan alternatif. Salah satunya menggunakan akar bajakah dengan kandungan alkaloid, flavonoid dan triterpenoid yang berpotensi sebagai antioksidan, dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa akar bajakah kalalawit (Uncaria rhynchophylla) terhadap fungsi ginjal pada mencit (Mus musculus) diabetes. Jenis penelitian True Eksperimen menggunakan metode The Pretest Posttest Only Control Group Design, 16 ekor mencit diabetes diberi infusa akar bajakah dua kali sehari selama 2 minggu secara oral. Data diuji dengan uji statistik Dependent T-test. Nilai rata-rata pada kelompok dengan pemberian infusa akar bajakah yaitu kreatinin sebelum 6,80 dan kreatinin setelah 3,56 sedangkan nilai rata-rata ureum sebelum yaitu 86,19 dan ureum setelah 57,56. Nilai uji statistik Dependent T-test pada kelompok mencit diabetes yang diberi infusa akar bajakah didapatkan nilai signifikansi kreatinin 0,000 dan ureum 0,018. Terdapat perbedaan signifikan antara pemberian infusa akar bajakah (Uncaria rhynchophylla) terhadap kadar kreatinin dan ureum pada mencit diabetes.
Gambaran SGPT dan SGOT Penderita Hepatitis A dan Hepatitis C di Rumah Sakit Dirgahayu Tahun 2023-2024 Muhammad Syahrul Mubarak Djung; Supri Hartini; I Gede Andika Sukarya
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.2068

Abstract

Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus, salah satunya Hepatitis A dan C. Pemeriksaan enzim hati seperti SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) dan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) berperan penting dalam mendeteksi adanya kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui masing-masing gambaran kadar SGPT dan SGOT pada penderita Hepatitis A dan C di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada tahun 2023 hingga 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap data sekunder dari tahun 2023-2024 sebanyak 7 penderita yang melakukan pemeriksaan SGOT dan SGPT. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan SGPT dan SGOT lebih banyak terjadi pada laki-laki dengan rentang usia remaja hingga dewasa. Pada tahun 2023 ,Hepatitis A ada 1 penderita dengan jenis kelamin perempuan pada usia 25-54 tahun dan Hepatitis C ada 2 penderita laki-laki pada usia 15-24 tahun, pada tahun 2024, Hepatitis A ada 1 penderita dengan jenis kelamin laki-laki pada usia 55-80 tahun dan Hepatitis C ada 3 penderita dengan jenis kelamin laki-laki pada usia 25-54 tahun. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan kadar SGPT dan SGOT yang meningkat secara signifikan pada penderita Hepatitis A dan C sehingga terjadi kerusakan sel-sel hati yang relevan secara klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan kedua enzim ini dapat dijadikan indikator penting dalam diagnosis, pemantauan, dan penanganan penderita Hepatitis secara lebih dini dan tepat.
Overview of Hemoglobin Levels Using the Cyanmethemoglobin Method in Lipidemia Specimens at the East Kalimantan Provincial Health Laboratory Muhammad Rio Kharismawan; Supri Hartini; I gede Andika Sukarya
Afiyatun Journal of Health Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): March
Publisher : PT. Edukasi Ahmad Kirang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Hemoglobin level measurement using the cyanmethemoglobin method is affected by lipemic samples. Lipemic serum, caused by lipoprotein particles such as chylomicrons, VLDL, and triglycerides, creates chromophoric interference in photometric analysis, affecting wavelength readings and causing light scattering due to lipid particles. Methods: An observational analytic study using a total sampling technique was conducted at the East Kalimantan Provincial Health Laboratory during August–September 2024. A total of 30 lipemic specimens were included, collected from patients undergoing routine blood examination with cholesterol levels >200 mg/dL. Data were obtained from secondary medical records. Results: Of 30 lipemic samples, 28 samples (93%) showed hemoglobin levels within the normal range and 2 samples (7%) were below normal. The minimum hemoglobin value was 12.0 g/dL, maximum was 15.7 g/dL, and the mean was 13.7 g/dL. Regarding cholesterol levels, 22 samples (73%) had cholesterol of 201–250 mg/dL and 8 samples (27%) had cholesterol of 251–300 mg/dL. Conclusion: Hemoglobin measurement in lipemic serum using the cyanmethemoglobin method can serve as an accurate reference. The average results showed no values outside the normal range. The two samples below normal may be attributable to unknown confounding variables such as dietary habits, smoking behavior, and age.
Effect of Red Andong Leaf Infusion (Cordyline fruticosa L. A. Cheval) on HbA1c Levels in Diabetic Mice (Mus musculus) Adhinda Kayla Sahwa D.; I gede Andika Sukarya; Dwi Setiyo Prihandono
Afiyatun Journal of Health Sciences Vol. 1 No. 2 (2026): March
Publisher : PT. Edukasi Ahmad Kirang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease characterized by hyperglycemia which can lead to serious complications. Hemoglobin A1c (HbA1c) is an important biomarker reflecting average blood glucose over 2–3 months. Red Andong leaves (Cordyline fruticosa L.A. Cheval) contain bioactive compounds — saponins, flavonoids, and tannins — with potential antidiabetic activity. Methods: This experimental study used a pretest-posttest control group design. Sixteen male mice induced with alloxan were randomly assigned to two groups: a control group (no treatment) and a treatment group receiving 1 mL of red Andong leaf infusion orally twice daily for 14 days. Data normality was assessed using the Shapiro-Wilk test, followed by a Paired T-Test for between-group comparison. Results: Mean HbA1c in the treatment group before intervention was 5.494% (min 4.4%, max 6.6%). After 14 days, HbA1c decreased to a mean of 5.075% (min 3.4%, max 6.3%). Paired T-Test yielded p = 0.00 (p < 0.05), indicating a statistically significant difference between pre- and post-intervention HbA1c levels. Conclusion: Red Andong leaf infusion significantly reduced HbA1c levels in diabetic mice. The effect is attributed to the combined action of flavonoids (enhancing glycogenesis and β-cell regeneration), tannins (inhibiting α-glucosidase), and saponins (inhibiting intestinal glucose absorption).
Identifikasi Bakteri Nosokomial Pada Tempat Tidur Pasien Ruang Perawatan Anak RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda Reva Medyana; Tiara Dini Harlita; Nursalinda Kusumawati; I Gede Andika Sukarya
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1635

Abstract

Pendahuluan: Infeksi yang didapatkan saat pasien menerima perawatan di fasilitas medis dikenal sebagai infeksi nosokomial, atau infeksi terkait perawatan kesehatan (HAIs). Terutama di bangsal pediatrik tempat anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang belum matang berada, tempat tidur pasien dapat berfungsi sebagai reservoir bagi mikroorganisme yang menyebabkan infeksi. Tujuan: Mengidentifikasi bakteri yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial pada permukaan tempat tidur pasien di Ruang Perawatan Anak RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. Metode: Penelitian observasional deskriptif menggunakan 40 sampel swab permukaan kasur yang diambil dengan teknik total sampling. Identifikasi bakteri dilakukan melalui kultur pada media Blood Agar dan MacConkey Agar, dilanjutkan pewarnaan Gram dan uji biokimia. Hasil: Seluruh sampel (100%) menunjukkan pertumbuhan pada Blood Agar, sedangkan (57,5%) tumbuh pada MacConkey Agar. Bakteri Gram negatif lebih dominan (57,5%) dibandingkan Gram positif (42,5%). Spesies yang ditemukan meliputi Pseudomonas sp. (30%), Staphylococcus aureus (22,5%), Klebsiella sp. (12,5%), Streptococcus sp. (10%), Bacillus sp. (10%), Acinetobacter sp. (7,5%), dan Citrobacter sp. (7,5%). Simpulan: Permukaan tempat tidur pasien di ruang perawatan anak terkontaminasi berbagai bakteri yang berpotensi menyebabkan infeksi nosokomial, dengan dominasi Pseudomonas sp.
Pengaruh Pemberian Infusa Akar Kuning Terhadap Kadar ALT dan AST Pada Mencit Diabetes Hesti Wira Sakti; I Gede Andika Sukarya; Tiara Dini Harlita; Joko Sapto Pramono
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1633

Abstract

Pendahuluan: Penyakit metabolik jangka panjang ditandai hiperglikemia akibat gangguan masalah sekresi dikenal dengan diabetes melitus. Stres oksidatif disebabkan oleh hiperglikemia persisten mengakibatkan kerusakan hepatosit, ditandai peningkatan dari aktivitas enzim Alanine Aminotransferase (ALT) dan Aspartate Aminotransferase (AST). Akar kuning (Coscinium fenestratum) mengandung flavonoid dan berberin yang berfungsi sebagai antioksidan dan senyawa pelindung hati. Tujuan: Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi adanya pengaruh dari mencit diabetes yang diberikan infusa akar kuning terhadap aktivitas enzim ALT dan AST. Metodologi: Penelitian dilakukan dengan menerapkan metode eksperimen posttest only control group design. Mencit jantan berjumlah 32 ekor diinduksi aloksan, lalu dikelompokkan menjadi kelompok kontrol DM dan kelompok perlakuan yang memperoleh infusa akar kuning sebanyak 1 mL dua kali sehari. Kadar ALT dan AST diperiksa menggunakan metode kinetik, lalu dianalisis dengan uji independent t-test. Hasil : Rerata kadar ALT dalam kelompok kontrol DM adalah 94,19 U/L dan pada kelompok perlakuan sebesar 80,00 U/L. Rerata kadar AST pada kelompok kontrol DM adalah 239,50 U/L dan pada kelompok perlakuan sebesar 225,30 U/L. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada aktivitas enzim ALT dan AST antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (p>0,05). Kesimpulan: Pemberian infusa akar kuning tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kadar ALT dan AST pada mencit diabetes.