Tejo Ismoyo, Tejo
Buddhist Education Department, STIAB Jinarakkhita, Lampung, Indonesia

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PAÑCA-SĪLA BUDDHIS Lisniasari Lisniasari; Tejo Ismoyo
Jurnal Pendidikan Buddha dan Isu Sosial Kontemporer (JPBISK) Vol 2 No 1 (2020): Juni
Publisher : STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengetahuan mengenai Pañca-sīla buddhis sebagai landasan hidup bagi setiap umat Buddha sangatlah penting. Oleh karena itu, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengkaji Pañca-sīla buddhis dari segi kepustakaan. Penelitian mengenai Pañca-sīla buddhis diteliti secara kualitatif dengan menggunak studi kepustakaan yang mengandalkan buku, artikel, jurnal maupun literatur terkait untuk mengetahui fakta-fakta ilmiah mengenai variabel penelitian terkait. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa Pañca-sīla buddhis merupakan dasar moral utama Buddhis terdiri dari (1) bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup (Pānātippātā Veramani Sikkhāpadam Samā-diyāmi); (2) Bertekad melatih diri menghindari pencurian atau mengambil barang yang tidak diberikan (Adinādānā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi); (3) Bertekad melatih diri menghindari dari perbuatan asusila (Kāmesumicchācārā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi); (4) Bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar atau berbohong (Musāvādā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi); (5) bertekad menghindari minuman yang menyebabkan lemahnya kesadaran (Surāmerayamajjhapamādatthānā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi). Praktek pañca-sīla buddhis mengarah pada peningkatan pengendalian diri dan kekuatan kepribadian. Tujuan pelaksanaan pañca-sīla buddhis sebagai landasan moral bagi umat Buddha, memuat dua tujuan; Pertama, memungkinkan manusia untuk hidup bersama dalam komunitas beradab dengan saling percaya dan menghormati. Kedua, merupakan titik awal perkembangan spiritual menuju pembebasan. Buddha mengemukakan manfaat dari pelaksanaan pañca-sīla buddhis di dalam Māhaparinībbānā-suttā kepada para perumah tangga antara lain: membuat orang bertambah kaya, mendatangkan nama baik, menimbulkan percaya diri dalam pergaulan dengan berbagai golongan manusia, memberi ketenangan disaat menghadapi kematian, setelah meninggal dunia, akan terlahir kembali dialam surga. Penelitian ini kemudian mempunyai kontribusi terhadap ketekunan dan kegiatan umat Buddha dalam melaksanakan Pañca-sīla buddhis sekaligus untuk memperkaya kajian Buddha Dharma di Indonesia.
KONSEP PENDIDIKAN DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA Tejo Ismoyo
Jurnal Pendidikan Buddha dan Isu Sosial Kontemporer (JPBISK) Vol 2 No 1 (2020): Juni
Publisher : STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan manusia bukanlah hanya sandang, pangan dan papan melainkan pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok setiap orang. Hal ini dimungkinkan untuk mewujudkan manusia yang memiliki pengetahuan yang baik, sehingga pembangunan mental manusia akan tetap berjalan dengan baik meskipun perkembangan zaman terus melaju pesat seiring berjalannya waktu. Tujuan penelitian ini kemudian adalah untuk mendukung pembangunan moral dalam pendidikan karakter melalui pendidikan agama. Metodologi penelitian yang kemudian digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan buku, jurnal maupun literatur terkait lainnya, yakni studi kepustakaan (library research). Berdasarkan hasil pengumpulan dan analisis data, diketahui bahwa agama Buddha merupakan salah satu agama yang memandang bahwa pendidikan perlu ditanamkan pada setiap manusia sebagai upaya untuk melindunginya dari tindakan kejahatan atau perbuatan yang salah dan mengakibatkan penderitaan. Buddhism memandang pentingnya pendidikan untuk membantu manusia mewujudkan kebahagiaan. Pertama, seseorang harus mempelajari pengetahuan atau mengembangkan teori, selanjutnya seseorang harus bijaksana untuk mempraktikkan dengan sebaik-baiknya pengetahuan yang diperolehnya, dengan demikian seseorang akan mendapatkan hasil sesuai pengetahuan dan praktik yang telah dikembangkan. Adapun implikasi atau kontribusi daripada penelitian ini adalah pembentukan konsep pendidikan dalam pandangan agama Buddha, serta memperkaya wawasan Buddha Dharma bagi umat Buddha Nusantara.
KONSEP DIRI DALAM KEHIDUPAN PABBAJITA Esli Esli; Taridi Taridi; Tejo Ismoyo
Jurnal Pendidikan Buddha dan Isu Sosial Kontemporer (JPBISK) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh dan seberapa besar pengaruh kehidupan pabbajita terhadap konsep diri monastik. Penelitian ini dilakukan di Wihara Virya Paramita Bandar Lampung. Permasalahan yang terjadi pada monastik Wihara Virya Paramita yaitu sebagian individumasih kurang mampu dalam mengendalikan diri sehingga mudah tersinggung, kurang mampu dalam memotivasi diri, kurang percaya diri, dan kuarng mampu menilai diri dengan baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Subjek penelitian ini Monastik Wihara Virya Paramita yang berjumlah 32 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket dengan skala Likert. Data dianalisis denga nmenggunakan regresi linier sederhana dengan menggunakan program SPSS 16.0 dan dilanjutkan dengan uji t. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan regresi linier sederhana diperoleh nilai t hitung sebesar 7,994 dengan taraf signifikansi 0,000, sedangkan t tabel dengan n = 32 dan a = 0,05 sebesar 1,697. Hal ini dapat diasumsikan bahwa t hitung > t tabel (7,994>1,697), maka Ha diterimadan Ho ditolak. Sedangkan R square pada penelitian ini adalah 0,681 yang berarti bahwa kehidupan pabbajita berpengaruh terhadap konsep diri sebesar 68,1%. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa ada pengaruh kehidupan pabbajita terhadap konsep diri monastik Wihara Virya Paramita Bandar Lampung. Besar pengaruh tersebut adalah 68,1%, sedangkan 31,9% konsep diri monastic dipengaruh oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
PERAN ILMU PENGETAHUAN AGAMA BUDDHA DALAM KONSTRUKSI ETIKA SOSIAL DAN SPIRTUAL MASYARAKAT Tejo Ismoyo; Lisniasari Lisniasari; Boniran Boniran
Jurnal Pendidikan Buddha dan Isu Sosial Kontemporer (JPBISK) Vol 3 No 2 (2021): Desember
Publisher : STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Agama mengajarkan dan membimbing pemeluknya dalam melakukan prosesi atau upacara keagamaan, khususnya dalam menghormati jiwa dan hati manusia dalam rangka mengenal Tuhan, suatu proses yang sering dikaitkan dengan proses pembentukan spiritual. Spiritualitas, spiritualitas, dan spiritualisme sendiri mengacu pada kata Spirit atau Spirius yang berarti nafas. Nilai dari spritualitas adalah keyakinan, norma dan etika yang dihormati. Transendensi dan sebuah pengalaman, kesadaran dan kesadaran akan dimensi transenden kehidupan tentang diri sendiri.Menghubungkan berarti membangkitkan kesadaran akan hubungan antara diri kita dengan orang lain dan antara Tuhan dan jiwa manusianya. Setiap agama memberikan doktrin kebenaran yang tidak dapat diubah oleh manusia. Agama menganggap wahyu itu mutlak, tetapi bisa dimaknai. Oleh karena itu, ketika agama bersinggungan dengan etika, tidak mungkin mengubah ajaran agama secara absolut, tetapi secara absolut, etika memiliki peran melindungi pelaku, bukan untuk bias. Dengan rasionalitas etis, agama dapat dipahami dalam konteks (Teichman, 2003: 3) Etika tidak dapat menggantikan agama.Agama adalah hal yang tepat untuk memberikan bimbingan moral. Religius menemukan orientasi fundamental kehidupan dalam agamanya. Religius mengharapkan ajaran agamanya rasional. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dari sumber literatur yang mendukung data penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama Buddha menerapkan berbagai ajaran untuk membentuk konstruksi etika sosial spiritualitas bagi masyarakat.
UPAYA PENGUATAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN PADA PESERTA DIDIK Eko Pramono; Lamirin Lamirin; Tejo Ismoyo; Susanto Susanto; Komang Sutawan
Jurnal Pendidikan Buddha dan Isu Sosial Kontemporer (JPBISK) Vol 4 No 1 (2022): Juni
Publisher : STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v4i1.60

Abstract

UPAYA PENGUATAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN PADA PESERTA DIDIK Eko Pramono; Lamirin Lamirin; Tejo Ismoyo; Susanto Susanto; Komang Sutawan
Jurnal Pendidikan Buddha dan Isu Sosial Kontemporer (JPBISK) Vol 4 No 1 (2022): Juni
Publisher : STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v4i1.60

Abstract

Communication Research Trends in Virtual Project Team: Bibliometric Analysis Susanto Susanto; Tejo Ismoyo; Sunter Candra Yana; Rapiadi Rapiadi; Wistina Seneru
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 3 (2022): Budapest International Research and Critics Institute August
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i3.6601

Abstract

The research on communication within the virtual project team has been conducted, and it is essential to identify which parts of the study have been explored and need more attention. It is necessary to analyze which countries and authors contributed the most and the types of publications used the most on communication in virtual project teams. Although there are many reviews of the literature on project communication issues and the different aspects of virtual teams, none of them are specifically dedicated to the topic of communication in virtual project teams. This article aims to identify scientific outputs in communication in virtual project teams from 2001 to 2020 and analyze their volume and geographic distribution. A bibliometric analysis approach was applied to this study to answer research questions regarding the number of publications in the research period, the most contributing countries and the most prolific authors, the types of publications applied, and the research topics discussed in the literature studied. Three search engine databases, Scopus, Web of Science, and Google Scholar, are used to find the publications of communication in the virtual project team and answer research questions. The results of the bibliometric analysis explain that the most frequently discussed topics concern the methods and tools for communication in virtual teams, while issues on communication-related to trust or leadership are the least explored areas.  
Fasting in the Perspective of Buddhism Lisniasari Lisniasari; Tejo Ismoyo; Alika Setia Putri; Dharma Nata Saputra; Duta Nyana
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 3 (2022): Budapest International Research and Critics Institute August
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i3.6565

Abstract

The purpose of this study is to examine fasting from a Buddhist perspective. This research is a qualitative research using the literature method to find out how fasting is carried out by Buddhists. The results of the study show that fasting in Buddhism is an attempt to avoid taking food or drink at the wrong time, which is known as Uposatha. Fasting for Buddhists falls on the 1st, 8th, 15th and 23rd. So for Buddhists who want to fast, they must observe the eight precepts, namely: not killing living beings of any kind, not stealing, not having sex, not lying, do not drink intoxicating drinks, do not eat after the appointed time, do not beautify themselves and do not be extravagant. Fasting in Buddhism is not obligatory for its adherents. However, if Buddhists wish and intend to observe the uposatha (fasting) it is permissible. Thus, fasting in Buddhism aims not only to control oneself from eating and drinking, but includes all movements of the mind, speech, and body.
Cinta dan Perdamaian Dalam Perspektif Buddha Tejo Ismoyo
Vijjacariya: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Buddhis Vol 4, No 1 (2017): June 2017
Publisher : STABN Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandangan dalam Agama Buddha menyatakan bahwa perdamaian dapat terwujud melalui cinta kasih atau metta. Dalam kitab suci Dhammapada, pada syair 5 tertulis, "Kebencian tidak bisa berakhir oleh kebencian, kebencian berakhir dengan cinta kasih." Ajaran Buddha menekankan pentingnya kesepahaman, persahabatan, dan keharmonisan, yang didasarkan pada kebajikan dari cinta kasih, untuk membangun hubungan yang baik dengan masyarakat lainnya. Cinta kasih memunculkan kedamaian.Buddha memandang semua makhluk, baik yang besar maupun kecil, dari serangga hingga hewan raksasa, sebagai sederajat. Setiap makhluk memiliki hak yang sama untuk merasakan kebahagiaan, sama seperti manusia. Buddhisme mengajarkan pengembangan cinta kasih melalui praktik meditasi metta (meditasi cinta kasih). Buddha menyatakan bahwa politik yang maju dan beradab adalah politik yang "tanpa membunuh, tanpa melukai, tanpa menjajah, tanpa menyebabkan kesedihan, dan mengikuti dhamma atau ajaran kebenaran" (Samyutta Nikaya).
Zikir dalam Perspektif Buddha dan Islam Tri Anggraini; Poniman Poniman; Tejo Ismoyo; Widiyanto Widiyanto
Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan Vol. 18 No. 2 (2022): Akademika: Jurnal Keagamaan dan Pendidikan | Desember 2022
Publisher : STAIN Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56633/jkp.v18i2.390

Abstract

Zikir is one of the methods used by sufi scholars to be able to revive the heart from death because a heart that does not remember the majesty of Allah is considered dead by the sufis. However, the perspective of zikir in Buddhism is still little known by the public. This lack of understanding shows that the term zikir in Buddhism is still a bit foreign so that many people, especially Buddhists, do not understand the perspective of zikir itself. The purpose of writing this article is to find out about zikir from a Buddhist and Islam perspective. This study used a descriptive qualitative method. Based on the data analysis carried out, it was concluded that zikir is reciting the name of Allah and praying with concentration or ritual verbal worship, which is not tied to time, place or circumstances, and if humans are busy doing it, zikir produces knowledge and vision in themselves, because zikir in its basic context is included in the verbal category. The perspective of zikir in Buddhism (Theravada) is similar to that of sufi meditation in Islamic religion. The difference is only in the form activity and the naming of the training terms. The difference between the two lies in the prescribed meditation subject.