Tejo Ismoyo, Tejo
Buddhist Education Department, STIAB Jinarakkhita, Lampung, Indonesia

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Implementation of Learning Communication System: A Case Study on Buddhist Religious Teachers in State Elementary School Edi Sumarwan; Tejo Ismoyo; Susanto; Juni Suryanadi; Janita Dewi
Journal of Education, Religious, and Instructions (JoERI) Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM STIAB JINARAKKHITA LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60046/joeri.v1i1.31

Abstract

This study aims to analyze and describe the implementation of online learning of Buddhist religious education teachers at State Elementary School 01 Sripendowo. This research uses a case study method with a qualitative approach. Data were obtained using observation, interview, and documentation methods. Furthermore, the data obtained were analyzed using the Miles and Huberman model. The existence of learning problems during the co-19 pandemic made researchers interested in conducting research related to the online learning communication system. The results showed that teachers used communication elements following the model given by Laswel. In addition, the findings also explain that the teacher takes seven practical strategic steps in carrying out the online learning communication system. This study also found five common barriers experienced by teachers during the implementation of online learning.
PERAN MAJELIS BUDDHAYANA INDONESIA (MBI) TERHADAP PENANAMAN NILAI INTERSEKTARIAN PADA MASYARAKAT BUDDHA DI LAMPUNG Tejo Ismoyo; Rapiadi Rapiadi; Susanto Susanto
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 3 No. 1 (2021): Juni
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v3i1.12

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan bagaimanakah nilai intersektarian berkembang pada masyarakat Buddha di Lampung dan bagaimanakah peran Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) terhadap penanaman nilai intersektarian pada masyarakat Buddha di Lampung tahun 2018. Belum meratanya penanaman nilai intersektarian pada masyarakat Buddha di Lampung, hal ini terlihat pada saat melaksanakan puja bakti. Umat Buddha di Lampung masih cenderung puja bakti mengunakan paritta (tradisi Theravada). Penanaman nilai intersektarian di provinsi lampung yang belum merata menyebabkan pelaksanakan puja bakti masih difokuskan pada tradisi Theravada. Walaupun masih didominan pada tradisi Theravada, akan tetapi masih ada beberapa masyarakat melaksanakan puja bakti secara khusus menggunakan tradisi Mahayana dan Tantrayana. Nilai intersektarianpun masih belum sepenuhnya diterapkan sehingga terjadi dominasi pengunaan satu mahzab saja yang diangap paling baik, dan terjadi kesenjangan dalam bentuk kurang hormatnya terhadap mahzab lain. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Tempat dilaksanakan penelitian di Provinsi Lampung, waktu yang digunakan adalah 6 bulan, dimulai dari Juli sampai Desember 2018. Adapun Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik deskriptif dengan membuat gambaran yang dilakukan dengan cara (1) reduksi data atau penyederhanaan (data reduction), (2) paparan/sajian data (data display), dan (3) penarikan kesimpulan. Provinsi Lampung terdiri dari 164 wihara yang berada di bawah naungan Sangha Agung Indonesia (SAGIN). Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) sebagai pembatu tugas Sangha Agung Indonesia (SAGIN) membimbing Umat Buddha dalam menanamkan nilai intersektarian agar berkembang pada masyarakat Buddha di Lampung. Nilai intersektarian berkembang pada masyarakat Buddha di Lampung, tidak terlepas dari peran Sangha Agung Indonesia (SAGIN) dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI). Berkembangnya nilai intersektarian di Provinsi Lampung Melalui Tokoh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), Melalui Ceramah Dhamma dan Melalui Kunjungan Sangha. Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) memiliki peran penting dalam menanamkan nilai intersektarian dalam perkembangan agama Buddha di Provinsi Lampung. Berikut peran penting Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dalam menanamkan nilai intersektarian: Membina Melalui Ceramah Dhamma, Pelayanan Puja Bhakti Keliling, Kunjungan Kasih, dan Pelatihan Pandeta.
PAÑCA-SĪLA BUDDHIS Lisniasari Lisniasari; Tejo Ismoyo
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 2 No. 1 (2020): Juni
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v2i1.16

Abstract

Pengetahuan mengenai Pañca-sīla buddhis sebagai landasan hidup bagi setiap umat Buddha sangatlah penting. Oleh karena itu, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengkaji Pañca-sīla buddhis dari segi kepustakaan. Penelitian mengenai Pañca-sīla buddhis diteliti secara kualitatif dengan menggunak studi kepustakaan yang mengandalkan buku, artikel, jurnal maupun literatur terkait untuk mengetahui fakta-fakta ilmiah mengenai variabel penelitian terkait. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa Pañca-sīla buddhis merupakan dasar moral utama Buddhis terdiri dari (1) bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup (Pānātippātā Veramani Sikkhāpadam Samā-diyāmi); (2) Bertekad melatih diri menghindari pencurian atau mengambil barang yang tidak diberikan (Adinādānā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi); (3) Bertekad melatih diri menghindari dari perbuatan asusila (Kāmesumicchācārā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi); (4) Bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar atau berbohong (Musāvādā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi); (5) bertekad menghindari minuman yang menyebabkan lemahnya kesadaran (Surāmerayamajjhapamādatthānā veramaņĩ sikkhāpadaņ samādiyāmi). Praktek pañca-sīla buddhis mengarah pada peningkatan pengendalian diri dan kekuatan kepribadian. Tujuan pelaksanaan pañca-sīla buddhis sebagai landasan moral bagi umat Buddha, memuat dua tujuan; Pertama, memungkinkan manusia untuk hidup bersama dalam komunitas beradab dengan saling percaya dan menghormati. Kedua, merupakan titik awal perkembangan spiritual menuju pembebasan. Buddha mengemukakan manfaat dari pelaksanaan pañca-sīla buddhis di dalam Māhaparinībbānā-suttā kepada para perumah tangga antara lain: membuat orang bertambah kaya, mendatangkan nama baik, menimbulkan percaya diri dalam pergaulan dengan berbagai golongan manusia, memberi ketenangan disaat menghadapi kematian, setelah meninggal dunia, akan terlahir kembali dialam surga. Penelitian ini kemudian mempunyai kontribusi terhadap ketekunan dan kegiatan umat Buddha dalam melaksanakan Pañca-sīla buddhis sekaligus untuk memperkaya kajian Buddha Dharma di Indonesia.
KONSEP PENDIDIKAN DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA Tejo Ismoyo
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 2 No. 1 (2020): Juni
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v2i1.19

Abstract

Kebutuhan manusia bukanlah hanya sandang, pangan dan papan melainkan pendidikan juga merupakan kebutuhan pokok setiap orang. Hal ini dimungkinkan untuk mewujudkan manusia yang memiliki pengetahuan yang baik, sehingga pembangunan mental manusia akan tetap berjalan dengan baik meskipun perkembangan zaman terus melaju pesat seiring berjalannya waktu. Tujuan penelitian ini kemudian adalah untuk mendukung pembangunan moral dalam pendidikan karakter melalui pendidikan agama. Metodologi penelitian yang kemudian digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan buku, jurnal maupun literatur terkait lainnya, yakni studi kepustakaan (library research). Berdasarkan hasil pengumpulan dan analisis data, diketahui bahwa agama Buddha merupakan salah satu agama yang memandang bahwa pendidikan perlu ditanamkan pada setiap manusia sebagai upaya untuk melindunginya dari tindakan kejahatan atau perbuatan yang salah dan mengakibatkan penderitaan. Buddhism memandang pentingnya pendidikan untuk membantu manusia mewujudkan kebahagiaan. Pertama, seseorang harus mempelajari pengetahuan atau mengembangkan teori, selanjutnya seseorang harus bijaksana untuk mempraktikkan dengan sebaik-baiknya pengetahuan yang diperolehnya, dengan demikian seseorang akan mendapatkan hasil sesuai pengetahuan dan praktik yang telah dikembangkan. Adapun implikasi atau kontribusi daripada penelitian ini adalah pembentukan konsep pendidikan dalam pandangan agama Buddha, serta memperkaya wawasan Buddha Dharma bagi umat Buddha Nusantara.
KONSEP DIRI DALAM KEHIDUPAN PABBAJITA Esli Esli; Taridi Taridi; Tejo Ismoyo
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 2 No. 2 (2020): Desember
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v2i2.20

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh dan seberapa besar pengaruh kehidupan pabbajita terhadap konsep diri monastik. Penelitian ini dilakukan di Wihara Virya Paramita Bandar Lampung. Permasalahan yang terjadi pada monastik Wihara Virya Paramita yaitu sebagian individumasih kurang mampu dalam mengendalikan diri sehingga mudah tersinggung, kurang mampu dalam memotivasi diri, kurang percaya diri, dan kuarng mampu menilai diri dengan baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Subjek penelitian ini Monastik Wihara Virya Paramita yang berjumlah 32 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket dengan skala Likert. Data dianalisis denga nmenggunakan regresi linier sederhana dengan menggunakan program SPSS 16.0 dan dilanjutkan dengan uji t. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan regresi linier sederhana diperoleh nilai t hitung sebesar 7,994 dengan taraf signifikansi 0,000, sedangkan t tabel dengan n = 32 dan a = 0,05 sebesar 1,697. Hal ini dapat diasumsikan bahwa t hitung > t tabel (7,994>1,697), maka Ha diterimadan Ho ditolak. Sedangkan R square pada penelitian ini adalah 0,681 yang berarti bahwa kehidupan pabbajita berpengaruh terhadap konsep diri sebesar 68,1%. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa ada pengaruh kehidupan pabbajita terhadap konsep diri monastik Wihara Virya Paramita Bandar Lampung. Besar pengaruh tersebut adalah 68,1%, sedangkan 31,9% konsep diri monastic dipengaruh oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
PERAN ILMU PENGETAHUAN AGAMA BUDDHA DALAM KONSTRUKSI ETIKA SOSIAL DAN SPIRTUAL MASYARAKAT Tejo Ismoyo; Lisniasari Lisniasari; Boniran Boniran
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 3 No. 2 (2021): Desember
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v3i2.48

Abstract

Agama mengajarkan dan membimbing pemeluknya dalam melakukan prosesi atau upacara keagamaan, khususnya dalam menghormati jiwa dan hati manusia dalam rangka mengenal Tuhan, suatu proses yang sering dikaitkan dengan proses pembentukan spiritual. Spiritualitas, spiritualitas, dan spiritualisme sendiri mengacu pada kata Spirit atau Spirius yang berarti nafas. Nilai dari spritualitas adalah keyakinan, norma dan etika yang dihormati. Transendensi dan sebuah pengalaman, kesadaran dan kesadaran akan dimensi transenden kehidupan tentang diri sendiri.Menghubungkan berarti membangkitkan kesadaran akan hubungan antara diri kita dengan orang lain dan antara Tuhan dan jiwa manusianya. Setiap agama memberikan doktrin kebenaran yang tidak dapat diubah oleh manusia. Agama menganggap wahyu itu mutlak, tetapi bisa dimaknai. Oleh karena itu, ketika agama bersinggungan dengan etika, tidak mungkin mengubah ajaran agama secara absolut, tetapi secara absolut, etika memiliki peran melindungi pelaku, bukan untuk bias. Dengan rasionalitas etis, agama dapat dipahami dalam konteks (Teichman, 2003: 3) Etika tidak dapat menggantikan agama.Agama adalah hal yang tepat untuk memberikan bimbingan moral. Religius menemukan orientasi fundamental kehidupan dalam agamanya. Religius mengharapkan ajaran agamanya rasional. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dari sumber literatur yang mendukung data penulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama Buddha menerapkan berbagai ajaran untuk membentuk konstruksi etika sosial spiritualitas bagi masyarakat.
UPAYA PENGUATAN KARAKTER MELALUI PENDIDIKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN PADA PESERTA DIDIK Eko Pramono; Lamirin Lamirin; Tejo Ismoyo; Susanto Susanto; Komang Sutawan
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 4 No. 1 (2022): Juni
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v4i1.60

Abstract

Apa Itu Vipassana Bhavana? Harianto, Agus; Poniman, Poniman; Ismoyo, Tejo
Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/abip.v8i1.479

Abstract

Penelitian ini berawal dari suatu masalah terutama dalam pengetahuan mengenai meditasi yang diangkat karena masih ada orang-orang yang belum memahami perihal meditasi dalam Agama Buddha terutama meditasi Vipassana. Hal ini juga dipengaruhi oleh banyak orang sehat secara jasmani namun rohani dan batin mereka sedang sakit. Kita saksikan saja dalam media massa sering kita mendengar kasus pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, dan tindak kejahatan yang lain. Padahal mereka mengerti perbuatan-perbuatan itu dilarang oleh agama namun tetap saja mereka lakukan. Oleh karena itu perlunya pemahaman lebih mengenai meditasi yang dapat menjadi suatu obat bagi batin orang-orang yang sedang sakit. Abstract This research started from a problem, especially in the knowledge of meditation that was raised because there are still people who do not understand the subject of meditation in Buddhism, especially Vipassana meditation. It is also influenced by many people being physically healthy but spiritually and mentally ill. We just witness in the mass media that we often hear cases of murder, rape, corruption, and other crimes. Even though they understood the deeds were forbidden by religion but they still did. Therefore, there is a need for more understanding of meditation which can be a remedy for the mentality of people who are sick.
Seks Dalam Perspektif Agama Buddha Priono, Priono; Ismoyo, Tejo; Pramono, Eko; Poniman, Poniman
Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/abip.v8i1.482

Abstract

This study aims to explain the view of sex in the perspective of Buddhism. This research is a descriptive study with a literature review approach using the data obtained in the form of concepts from various general literature on sex that are relevant to the topics discussed. Although sex is genuine based on the natural instincts of all living things. There are different perspectives on sex in every religion. Buddhism also has its own perspective on sex, such as gender and sexual orientation. The results of the research obtained are how a monk and a nun view having sex as something that is considered to violate the rules of monkhood. A Pabbajita is prohibited from having sexual relations because it will result in being expelled from the monkhood.
HARMONI PANCASILA BUDDHA: TRANSFORMASI DIRI MENUJU KUALITAS UNGGUL Listiyaningsih, Listiyaningsih; Ismoyo, Tejo; Kasrah, Rini; Lisniasari, Lisniasari
JURNAL PENDIDIKAN BUDDHA DAN ISU SOSIAL KONTEMPORER (JPBISK) Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : LPPM STAB Bodhi Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56325/jpbisk.v5i2.110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai dampak penerapan Pancasila Buddha terhadap peningkatan kualitas diri individu. Metodologi yang digunakan merupakan gabungan antara studi literatur dan penelitian lapangan yang dilaksanakan di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Jinarakkhita. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Pancasila Buddha, yang terdiri atas lima prinsip moral, berfungsi sebagai panduan bagi individu untuk mengembangkan perilaku yang baik dalam konteks kehidupan beragama Buddha. Pancasila Buddha berperan penting dalam membentuk kualitas pribadi dan mental seseorang, seperti yang diuraikan dalam Tripitaka. Tripitaka mencatat sejarah pembentukan Pancasila melalui proses meditasi Siddhartha Gautama, yang juga mencakup aspek-aspek yang relevan dengan Pancasila Republik Indonesia sebagai fondasi hukum negara.