Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Estetika Sastra Kidung Bima Swarga Wicaksana, I Dewa Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 2 (2016): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (20109.441 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i2.125

Abstract

Tulisan ini mengkaji Estetika Sastra Kidung Bima Swarga yang mengisahkan tentang Bima pergi ke Kawah (nerakaloka) membebaskan ayahnya (Pandu) serta ibu tirinya (Madri) dari siksaan Yamadipati, dan dinaikkan kedua orang tuanya ke sorga (swargaloka). Untuk kepentingan penulisan ini naskah-naskah yang dijadikan sebagai obyek kajian adalah hanya 2 (dua) naskah yang berbentuk puisi (tembang), atas dasar; pertama, teks kidung  Bima Swara (karya tulis Sri Reshi Ananda Kusuma) sudah diterbitkan dan yang satu lagi didokumentasikan (alih aksara) oleh Disbud Bali (1995), namun keduanya belum diterjemahkan, sehingga sulit dimengerti; kedua, secara dramatikal, alur ceritanya merupakan satu kesatuan yang utuh (bulat) sehingga mudah diketahui dan dipahami; ketiga, teks dalam bentuk metrum (pupuh)  disusun berdasarkan aturan­ aturan tertentu sehingga memungkinkan diedesi secara kritis berdasarkan aturan-aturan tersebut; keempat, naskah  tersebut  dalam  konteksnya  sering  dijadikan  pedoman  atau  rujukan  oleh  seniman-seniman (khususnya dalang) untuk dijadikan sumber lakon dalam melakukan aktivitasnya 'ngwayang'; dan kelima, naskah tersebut juga digunakan sebagai media ungkap oleh masyarakat Bali ketika ada orang yang meninggal, dengan resitasi (menembangkan) lewat aktivitas 'mabebasan'. Perspektif hermeneutik dan semiotik, jenis kidung Bima Swarga membentuk struktur global yang mempunyai fungsi dan makna bagi penghayatan dan pengkajian budaya Bali (Indonesia) sebagai sumber inspirasi garapan tema dan amanat. Tema lakon ini adalah 'rna/utang'dengan amanatuya hutang seorang anak kepada orang tuannya karena ia dilahirkan dan dibesarkan, maka ia harus berkewajiban membayar dengan cara bhakti baik secara fisik (mengupacarai) maupun spiritual dengan mencakupkan tangan 'nyumbah'. Nilai­ nilai budaya yang terkandung dalam kidung Bima Swarga meliputi, nilai ajaran dharma  (kewajiban dan kebajikan); nilai yajnya (korban suci dan ketulusan); dan nilai kesetiaan (satya wacana dan suputra). Visi estetiknya, kidung Bima Swarga tercermin lewat keabsahan fungsinya sebagai seni ritual (pitrayadnya), karena mengandung nilai penyerahan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), sehingga muncul rasa tenang, tentram, damai, dan nyaman, terutama bagi masyarakat pendukungnya.
Konsep Teo-Estetika Teks Dharma Pawayangan Pada Pertunjukan Wayang Kulit Bali Wicaksana, I Dewa Ketut
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Seni Indonesia Denpasar Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2113.228 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.355

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk memberikan penyadaran khususnya kepada dalang-dalang muda di Bali, bahwa penguasai Dharma Pawayangan sangatlah penting. Lontar Dharma Pawayangan adalah pustaka khusus yang isinya memuat petunjuk yang membimbing para dalang dalam melaksanakan dharma/kewajibannya sebagai dalang, serta `rambu-rambu` yang mengikat dalang untuk tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran agama Hindu dan etika. Teks lontar tersebut menyinggung hal-hal yang bersifat praktis/estetik, teologi, dan metafisik, yakni berkaitan langsung dengan pertunjukan wayang, dan aspek teologi Hindu yakni aspek satyam/kebenaran, siwam /kesucian, dan sundaram/ keindahan, serta metafisik, yakni memposisikan dalang dan wayang pada alam makrokosmos dan mikrokosmos (bhuwana agung lan bhuwana alit). Akhir-akhir ini ditemukan gejala di masyarakat Pedalangan, adanya kecendrungan untuk tidak memperhatikan lagi petunjuk-petunjuk Dharma Pawayangan. Adanya rasa enggan dihati mereka untuk mempelajari isi pustaka Dharma Pawayangan yang berbahasa Jawa Kuna (Kawi), bahasa Bali bahkan sebagian berbahasa Sanskerta dengan pengertian dan pemahaman yang sangat kompleks. Pengertian dan pemahaman akan Lontar Dharma Pawayangan di masa lampau kemudian teramati saat ini sungguh jauh berbeda, karena berbeda cara pandang serta model pembelajarannya. Orientasi dalang saat ini mempelajari pedalangan/pewayangan lebih ke hal-hal teknis, sehingga aspek teo-estetikanya terabaikan. Atas dasar penelitian dan penelusuran yang mendalam, diharapkan dapat membuka tabir rahasia dibalik arti dan maknanya, mengingat teks Dharma Pawayangan sarat dengan konsep teologis, estetik, filosofis, pendidikan dan nilai-nilai kemanusiaan, sangat potensial sebagai media informasi, edukasi, ritualisasi, hiburan serta pembinaan watak dan kepribadiaan. Penelitian ini mengambil lokasi di Bali, karena diyakini hampir semua dalang-dalang di Bali memiliki Lontar Dharma Pawayangan, termasuk juga di Museum Gedong Kirtya (Singaraja), Pusdok Provinsi Bali, dan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Bali. Pada proses pengumpulan data, peneliti dibantu oleh mahasiswa Program Studi Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar sebagai pencatat dan mengambil data foto. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berada dalam wilayah ilmu agama dan seni/estetika. Hal ini sesuai dengan ide pokok penelitian, yaitu untuk mengungkap hal-hal tersembunyi yang tidak menjadi kepedulian, memampukan suatu kesadaran yang lebih kaya terhadap aktualitas teks Dharma Pawayangan melalui pencerahan ilmiah. Mengguna-kan paradigma kritis sebagai landasan berpikir dan hermeneutika sebagai teori kunci, bentuk kajian dilakukan dengan mengembangkan paradoks-paradoks penafsiran makna dan membuka ruang kesadaran baru dalam memahami gejala estetika religius. Paradigma hermeneutika merupakan tradisi intelektual yang mendasarkan diri pada sesuatu yang berada di balik sesuatu yang faktual, yang nyata atau yang terlihat. Pluralitas presfektif dalam memberi interpretasi/penafsiran pada gilirannya memberikan kekayaan makna dalam suatu karya sastra, akan menambah kualitas estetika, etika dan logika.The long-term goal of this study is to provide awareness, especially to the young masterminds in Bali, that the Dharma Pawayangan master is very important. Lontar Dharma Pawayangan is a special literature whose contents contain guides that guide the dalangs in performing their dharma/dalang duties, as well as `signs' that bind the dalang not to deviate from the principles of the teachings of Hinduism and ethics. The lontar text deals with practical/aesthetic, theological, and metaphysical matters, which are directly related to wayang performances, related to aspects of Hindu theology of satyam/truth, siwam/sakura, and sundaram/beauty aspects. as well as metaphysical, ie positioning puppeteers and puppets on macrocosmic and microcosmic realms (bhuwana agung lan bhuwana alit). Recently found symptom in Pedalangan society, the tendency to pay no attention to the instructions of Dharma Pawayangan. The reluctance of their hearts to learn the contents of Dharma Pawayangan libraries that speak Old Javanese (Kawi), Balinese language even some speak Sanskrit with understanding and understanding is very complex. Understanding and understanding of Lontar Dharma Pawayangan in the past then observed at this time is very much different, because different way of view and model of learning. The current puppeteer's orientation is to learn puppetry more to technical matters, so the theo-aesthetic aspect is neglected. On the basis of deep research and investigation, it is hoped to unveil the secrets behind its meaning and meaning, since the Dharma Pawayangan text is loaded with theological, philosophical, educational and humanitarian meanings, potential for information, education, ritualization, entertainment and character building and personality. This research takes place in Bali, because it is believed that almost all dalang-dalang in Bali have Lontar Dharma Pawayangan, including also in Gedong Kirtya Museum (Singaraja), Pusdok Bali Province, and Library of Higher Education in Bali. In the process of collecting data, the researcher is assisted by students of Pedalangan Art Studies Program, Faculty of Performing Arts, ISI Denpasar as a recorder and taking photo data. Technique of data retrieval is done by observation, interview and documentation. This research is a qualitative research residing in the area of religion science and art/aesthetics. This is in accordance with the main idea of research, namely to reveal the hidden things that are not a concern, enabling a richer awareness of the actuality of Dharma Pawayangan text through scientific enlightenment. Using a critical paradigm as the basis for thinking and hermeneutics as a key theory, the form of study is done by developing the paradoxes of meaning interpretation and opening up a new awareness space in understanding religious aesthetic phenomena. The hermeneutic paradigm is an intellectual tradition that bases itself on something that is behind something factual, real or visible. The perspective plurality of interpretation in turn provides a wealth of meaning in a literary work, adding to the aesthetic, ethical and logical qualities.
Konsep Teo-Estetika Teks Dharma Pawayangan Pada Pertunjukan Wayang Kulit Bali I Dewa Ketut Wicaksana
Segara Widya : Jurnal Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2018): Maret
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2138.543 KB) | DOI: 10.31091/sw.v6i1.355

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk memberikan penyadaran khususnya kepada dalang-dalang muda di Bali, bahwa penguasai Dharma Pawayangan sangatlah penting. Lontar Dharma Pawayangan adalah pustaka khusus yang isinya memuat petunjuk yang membimbing para dalang dalam melaksanakan dharma/kewajibannya sebagai dalang, serta `rambu-rambu` yang mengikat dalang untuk tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran agama Hindu dan etika. Teks lontar tersebut menyinggung hal-hal yang bersifat praktis/estetik, teologi, dan metafisik, yakni berkaitan langsung dengan pertunjukan wayang, dan aspek teologi Hindu yakni aspek satyam/kebenaran, siwam /kesucian, dan sundaram/ keindahan, serta metafisik, yakni memposisikan dalang dan wayang pada alam makrokosmos dan mikrokosmos (bhuwana agung lan bhuwana alit). Akhir-akhir ini ditemukan gejala di masyarakat Pedalangan, adanya kecendrungan untuk tidak memperhatikan lagi petunjuk-petunjuk Dharma Pawayangan. Adanya rasa enggan dihati mereka untuk mempelajari isi pustaka Dharma Pawayangan yang berbahasa Jawa Kuna (Kawi), bahasa Bali bahkan sebagian berbahasa Sanskerta dengan pengertian dan pemahaman yang sangat kompleks. Pengertian dan pemahaman akan Lontar Dharma Pawayangan di masa lampau kemudian teramati saat ini sungguh jauh berbeda, karena berbeda cara pandang serta model pembelajarannya. Orientasi dalang saat ini mempelajari pedalangan/pewayangan lebih ke hal-hal teknis, sehingga aspek teo-estetikanya terabaikan. Atas dasar penelitian dan penelusuran yang mendalam, diharapkan dapat membuka tabir rahasia dibalik arti dan maknanya, mengingat teks Dharma Pawayangan sarat dengan konsep teologis, estetik, filosofis, pendidikan dan nilai-nilai kemanusiaan, sangat potensial sebagai media informasi, edukasi, ritualisasi, hiburan serta pembinaan watak dan kepribadiaan. Penelitian ini mengambil lokasi di Bali, karena diyakini hampir semua dalang-dalang di Bali memiliki Lontar Dharma Pawayangan, termasuk juga di Museum Gedong Kirtya (Singaraja), Pusdok Provinsi Bali, dan Perpustakaan Perguruan Tinggi di Bali. Pada proses pengumpulan data, peneliti dibantu oleh mahasiswa Program Studi Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar sebagai pencatat dan mengambil data foto. Teknik pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang berada dalam wilayah ilmu agama dan seni/estetika. Hal ini sesuai dengan ide pokok penelitian, yaitu untuk mengungkap hal-hal tersembunyi yang tidak menjadi kepedulian, memampukan suatu kesadaran yang lebih kaya terhadap aktualitas teks Dharma Pawayangan melalui pencerahan ilmiah. Mengguna-kan paradigma kritis sebagai landasan berpikir dan hermeneutika sebagai teori kunci, bentuk kajian dilakukan dengan mengembangkan paradoks-paradoks penafsiran makna dan membuka ruang kesadaran baru dalam memahami gejala estetika religius. Paradigma hermeneutika merupakan tradisi intelektual yang mendasarkan diri pada sesuatu yang berada di balik sesuatu yang faktual, yang nyata atau yang terlihat. Pluralitas presfektif dalam memberi interpretasi/penafsiran pada gilirannya memberikan kekayaan makna dalam suatu karya sastra, akan menambah kualitas estetika, etika dan logika.The long-term goal of this study is to provide awareness, especially to the young masterminds in Bali, that the Dharma Pawayangan master is very important. Lontar Dharma Pawayangan is a special literature whose contents contain guides that guide the dalangs in performing their dharma/dalang duties, as well as `signs' that bind the dalang not to deviate from the principles of the teachings of Hinduism and ethics. The lontar text deals with practical/aesthetic, theological, and metaphysical matters, which are directly related to wayang performances, related to aspects of Hindu theology of satyam/truth, siwam/sakura, and sundaram/beauty aspects. as well as metaphysical, ie positioning puppeteers and puppets on macrocosmic and microcosmic realms (bhuwana agung lan bhuwana alit). Recently found symptom in Pedalangan society, the tendency to pay no attention to the instructions of Dharma Pawayangan. The reluctance of their hearts to learn the contents of Dharma Pawayangan libraries that speak Old Javanese (Kawi), Balinese language even some speak Sanskrit with understanding and understanding is very complex. Understanding and understanding of Lontar Dharma Pawayangan in the past then observed at this time is very much different, because different way of view and model of learning. The current puppeteer's orientation is to learn puppetry more to technical matters, so the theo-aesthetic aspect is neglected. On the basis of deep research and investigation, it is hoped to unveil the secrets behind its meaning and meaning, since the Dharma Pawayangan text is loaded with theological, philosophical, educational and humanitarian meanings, potential for information, education, ritualization, entertainment and character building and personality. This research takes place in Bali, because it is believed that almost all dalang-dalang in Bali have Lontar Dharma Pawayangan, including also in Gedong Kirtya Museum (Singaraja), Pusdok Bali Province, and Library of Higher Education in Bali. In the process of collecting data, the researcher is assisted by students of Pedalangan Art Studies Program, Faculty of Performing Arts, ISI Denpasar as a recorder and taking photo data. Technique of data retrieval is done by observation, interview and documentation. This research is a qualitative research residing in the area of religion science and art/aesthetics. This is in accordance with the main idea of research, namely to reveal the hidden things that are not a concern, enabling a richer awareness of the actuality of Dharma Pawayangan text through scientific enlightenment. Using a critical paradigm as the basis for thinking and hermeneutics as a key theory, the form of study is done by developing the paradoxes of meaning interpretation and opening up a new awareness space in understanding religious aesthetic phenomena. The hermeneutic paradigm is an intellectual tradition that bases itself on something that is behind something factual, real or visible. The perspective plurality of interpretation in turn provides a wealth of meaning in a literary work, adding to the aesthetic, ethical and logical qualities.
Peningkatan Skill Perfomatif Tari Cak Dalam Rangka Dharma Shanti Parisadha Hindu Dharma Indonseia (Phdi) Provinsi Papua Agustina Marwati; I Dewa Ketut Wicaksana
IKONIK : Jurnal Seni dan Desain Vol 5, No 2 (2023): JULI 2023
Publisher : LPPM Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/ijsd.v5i2.14326

Abstract

Tulisan ini menggambarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan skill performatif tari Cak dengan nuansa Hindu Bali dan budaya Papua. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara PHDI Provinsi Papua, PHDI Kota Jayapura, Kepolisian Daerah Papua, umat Hindu Kota Jayapura, dan ISBI Tanah Papua. Proses pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai tahap, termasuk pelatihan tari, pelatihan drama tari Topeng Bondres, dan pelatihan musik iringan tari dengan menggunakan alat musik gamelan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan keterampilan dan performa tari para penari Cak. Selain itu, melalui pelatihan tari fauna, para penari juga mampu menguasai teknik tari Burung dan Kijang yang kemudian diimplementasikan dalam dramatari Cak. Pelatihan drama tari Topeng Bondres juga menghasilkan sepasang penari yang kompak menguasai alur cerita dan mampu menghidupkan suasana pentas. Dalam pelatihan musik iringan tari, para pemain gamelan berhasil menguasai musik tari di setiap bagian pertunjukan dan mampu menampilkan transisi musik dengan halus dan lancar. Seluruh proses dan luaran dari kegiatan ini kemudian diwujudkan dalam sebuah pementasan dramatari Cak yang bernuansa Hindu Bali dengan Budaya Papua. Kegiatan ini memberikan manfaat yang signifikan, antara lain peningkatan keterampilan dan pemahaman seni budaya, pelestarian warisan budaya, pengembangan kolaborasi antarbudaya, dan peningkatan apresiasi terhadap seni dan budaya.
Peningkatan Skill Perfomatif Tari Cak Dalam Rangka Dharma Shanti Parisadha Hindu Dharma Indonseia (Phdi) Provinsi Papua Kadek Indra Wijaya; I Dewa Ketut Wicaksana
IKONIK : Jurnal Seni dan Desain Vol. 5 No. 2 (2023): JULI 2023
Publisher : LPPM Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/ijsd.v5i2.14326

Abstract

Tulisan ini menggambarkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan skill performatif tari Cak dengan nuansa Hindu Bali dan budaya Papua. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara PHDI Provinsi Papua, PHDI Kota Jayapura, Kepolisian Daerah Papua, umat Hindu Kota Jayapura, dan ISBI Tanah Papua. Proses pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai tahap, termasuk pelatihan tari, pelatihan drama tari Topeng Bondres, dan pelatihan musik iringan tari dengan menggunakan alat musik gamelan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan keterampilan dan performa tari para penari Cak. Selain itu, melalui pelatihan tari fauna, para penari juga mampu menguasai teknik tari Burung dan Kijang yang kemudian diimplementasikan dalam dramatari Cak. Pelatihan drama tari Topeng Bondres juga menghasilkan sepasang penari yang kompak menguasai alur cerita dan mampu menghidupkan suasana pentas. Dalam pelatihan musik iringan tari, para pemain gamelan berhasil menguasai musik tari di setiap bagian pertunjukan dan mampu menampilkan transisi musik dengan halus dan lancar. Seluruh proses dan luaran dari kegiatan ini kemudian diwujudkan dalam sebuah pementasan dramatari Cak yang bernuansa Hindu Bali dengan Budaya Papua. Kegiatan ini memberikan manfaat yang signifikan, antara lain peningkatan keterampilan dan pemahaman seni budaya, pelestarian warisan budaya, pengembangan kolaborasi antarbudaya, dan peningkatan apresiasi terhadap seni dan budaya.
METAFORA SAMUDRA DALAM CERITA DEWA RUCI, MAKNA SUGESTI BIMA MEMBENTUK JATI DIRI Wicaksana, I Dewa Ketut; Wicaksandita, I Dewa Ketut
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bima adalah salah satu tokoh Pandawa, yang berkat sugesti samudra ia mampu mengafirmasi diri memperoleh kemanunggalanya. Lakon Dewa Ruci menggambarkan upaya Bima (manusia) mencapai kebenaran (sadhu), melalui medium lautan/samudra (sindhu) sebagai perenungan/ penyucian diri sampai ia bertemu Dewa Ruci, energi spritual (taksu) dalam dirinya. Tergambarlah ‘hukum ketertarikan’ (law of attraction) sebagai efek interaksi Bima yang merupakan subjek tersugesti dan samudra sebagai objek penyugesti. Penelitian ini bertujuan menelaah secara estetik-filosofis metafora lautan dan samudra dalam kisah Dewa Ruci; menganalisis signifikansi makna dan sugesti atas afirmasi diri Bima sebagai refleksi generasi muda menempa jati diri. Riset kualitatif berpendekatan studi kasus dipergunakan sebagai metode penelitian ini, dengan analisis teori estetika (significant form), teori sastra (semiotika-strukturalisme) dan teori pisikologi (low of attraction & kognitif). Temuan kunci penelitian ini: Relevansi metafor tematik, sebagai alternatif proses kognitif ‘berfikir ke dalam’ (think inside) bagi generasi muda mengenali dan meningkatkan kualitas etika dan moralnya, di tengah ketumpangtindihan informasi. Pertama, lautan/samudra merupakan metafora kompleksitas alam fikir dan raga manusia seluas batas kemampuan mengekplorasi filosofi makna spiritual atas pengalamanya; Naga melambangkan tantangan, dan konflik pengalaman internal-eksternal yang memengaruhi perkembangan jiwa dan raga; Dewa Ruci, merupakan batas jangkauan jati diri yang bersifat dinamis. Kedua, Signifikansinya, bahwa proses kognitif Bima memahami kemanunggalan memiliki pola yang sama seperti generasi muda mempelajari jati dirinya. Bima haruslah tersesat untuk memasuki ruang yang tidak ia pernah pahami. Disinilah samudra berperan menuntun Bima melampaui objek itu sendiri, sehingga Bima berkeputusan menceburkan diri ke laut yang bermakna menyelam ke dalam alam fikirnya agar mampu mengenali versi sempurna dirinya yaitu Dewa Ruci.
Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali: Studi Kasus Internalisasi Jana kertih Melalui Karakter Tokoh Pandawa, Sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul Wicaksandita, I Dewa Ketut; Santika, Sang Nyoman Gede Adhi; Wicaksana, I Dewa Ketut; Putra, I Gusti Made Darma
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 1 (2024): April
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i1.3744

Abstract

Nilai-Nilai Estetika Hindu Wayang Kulit Bali:Studi Kasus Internalisasi Jana kertih Melalui Karakter Tokoh Pandawa,Sebagai Media Representasi Ideal Manusia Unggul
Gugurnya Bhisma Oleh Srikandi: Studi Mengenai Refleksi Konsep Karma-Phala Melalui Cerita Mahabharata Mejaya, I Dewa Gede Jana; Wicaksana, I Dewa Ketut; Sidia, I Made
JURNAL DAMAR PEDALANGAN Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/dmr.v4i2.4386

Abstract

Mahabharata samapai saat ini termasyur dan memperoleh apresiasi serta direpresentasikan dalam berbagai ekspresi yang merefleksikan makna-makna kehidupan yang relevan bagi perseptornya. Bhisma sebagai putra mahkota kerajaan Kuru dikenal memiliki kemuliaan, keagungan, dan jiwa besar seorang kesatria, namun demikian Bhisma tidak terlepas dari ikatan sebab-akibat yang membuatnya harus berpihak pada sisi yang salah dan gugur dihadapan Srikandi. Tujuan penelitian ini, pertama, mengungkap kronologi detail gugurnya Bhisma dalam cerita Mahabharata dan menganalisis bagaimana cerita tersebut merefleksikan nilai Karma-Phala sebagai pembelajaran bagi peningkatan kualitas pengetahuan sosio-religius manusia. Metode yang digunakan adalah analisis teks dengan pendekatan hermeneutika untuk menafsirkan makna moral dan spiritual, dalam konteks karya sastra dan seni pertunjukan sebagai medium refelektor. Hasil penelitian menunjukkan, pertama gugurnya Bhisma terjadi setelah ia menerima serangan panah dari Srikandi, yang dipengaruhi oleh nasib dan karma masa lalu Bhisma yang dinilai menyakiti Srikandi di masa lalunya sebagai Dewi Amba. Kedua, Peristiwa ini merefleksikan konsep Karma-Phala dengan jelas, yang mana tindakan masa lalu Bhisma berkontribusi pada takdirnya. Cerita ini memberikan pembelajaran tentang pentingnya menjalani kehidupan dengan kebajikan untuk mencapai hasil positif di masa depan. Terdapat makna moral yang kuat tentang pengorbanan dan ketulusan dalam cerita tersebut. Aspek spiritual dari gugurnya Bhisma juga mengajarkan tentang penerimaan terhadap hukum alam yang tak terhindarkan. Relevansi cerita ini dalam kehidupan modern menegaskan bahwa hukum Karma-Phala tetap menjadi panduan penting dalam menjalani kehidupan manusia, mengingatkan kita bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada.
Wayang Sapuh Leger: Sarana Upacara Ruwatan di Bali Wicaksana, I Dewa Ketut; Wicaksandita, I Dewa Ketut
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 7 No 1 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.285 KB) | DOI: 10.37329/jpah.v7i1.2126

Abstract

Until now, Balinese people believe that someone who is born in the wuku wayang should doing ruwatan sapuh leger. It is suspected that this belief manifests itself on the basis of mythology in literature, along with its practical meaning and function. This study aims to find out about Wayang Sapuh Leger and its sources Sang Mpu Leger as dalang ruwat, function and the meaning of Wayang Sapuh Leger. Qualitative analysis methods based on observation research, interviews and literature, are used in support of philological theory, the theory of princple of unity, and the theory of meaning to obtain research results. The results of the analysis concluded, the lukatan nyapuleger ceremony is a ceremony for purifying children born in the span of the tumpek wayang week. It is believed that this time is under the power of Bhatara Kala, and must be purified (lukat) through sesaji (banten) and holy water (tirta panglukatan/tirta sudamala), and first perform shadow puppets from a special story (the play Dewa Kala). The nyapuh-leger ceremony in Bali is thought to have originated from the manuscript of Tantu Panggelaran, in the XV or XVI centuries. When it is manifested, a puppeteer is called sang mpu leger in addition to being an artist: (a) the puppeteer as (the) communicator of the niskala realms (virtual world) and sekala (real world); (b) the puppeteers as (mpu) educators, instructors, and preachers; and (c) the puppeteers (sapuh leger) priests/philosophers and spiritualists. The function of Wayang Sapuh Leger for the life of the Balinese people is as a communication tool to strengthen beliefs, values, norms that live in society. Wayang Sapuh Leger as a form of sacred art has an important meaning and significance in the social order of the Balinese people, this is still believed and adhered to in the Balinese social structure.
Alih Aksara dan Analisis Ragam Bahasa Lontar Dharma Pawayangan Koleksi Dalang I Made Sidja Wicaksana, I Dewa Ketut; Wicaksandita, I Dewa Ketut
Jurnal Penelitian Agama Hindu Special Issue Budaya dan Pendidikan
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.506 KB)

Abstract

Dharma Pawayangan is a holy book of puppeteers in Bali which is dynamic. The significance of this lontar is that its content is considered to contain structured and contextual knowledge of the theo-cultural activities of the Balinese puppeteers. However, the existing Lontar Dharma Pawayangan is still written in Balinese script and is in a condition that has not been digitized so that it is prone to damage and is often difficult to read. The purpose of this research is to translate one of I Made Sidja's lontar samples which is considered to have a tendency to signify complete content and to analyze the variety of languages that appear in it. Coding methods and literary studies are used to support linguistic theory and a hermeneutical approach to the analysis of this sacred literature. The results of the study found, first, the transliteration of one of I Made Sidja's Dharma Pawayangan palm manuscript samples with significance lies in part II of the manuscript entitled “Tatikas Sapratingkahing Sang Amangku Dalang” consisting of 9 (nine) sheets with coding consisting of numbering (1a) to (9b) showing the contents of various subject and object phrases vocabulary in the context of Balinese traditional wayang kulit performances. The phrases that appear are the names of the gods in Balinese Hindu mythology; spells; the pattern of the puppeteer's actions when he is about to start the performance; various names of wayang accompaniment percussion; variety of wayang performance apparatus; wayang names; stage technique; the ritual of making holy water (tirta) and means of wayang rituals. Second, there are 3 (three) types of language used in the Dharma Pawayangan text, such as; Old Javanese, Sanskrit, and Balinese.