Claim Missing Document
Check
Articles

REFORMASI HUKUM TANAH DESA: REDEFINISI DAN PENGUATAN KEDUDUKAN Ayon Diniyanto
Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional Vol 8, No 3 (2019): Desember 2019
Publisher : Badan Pembinaan Hukum Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.374 KB) | DOI: 10.33331/rechtsvinding.v8i3.331

Abstract

Desa di Indonesia merupakan kesatuan masyarakat yang dilindungi oleh konstitusi. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18B ayat (2) secara tidak langsung memuat kedudukan desa. Perlindungan dari konstitusi bukan merupakan jaminan desa terlepas dari permasalahan. Salah satu permasalahan yang ada di desa yaitu terkait dengan tanah desa. Tanah desa dilihat dari segi regulasi mempunyai problem. Problem terkait dengan tanah desa yaitu tentang definisi, jenis, dan kedudukan. Tidak ada kejelasan terkait dengan definisi, jenis, dan kedudukan tanah desa. Bahkan problem yang lebih krusial terjadi kerancuan pengertian antara tanah desa dengan tanah kas desa. Peraturan perundang-undangan tidak konsisten dalam menerapkan materi muatan tentang tanah desa. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk memecahkan problem tersebut. Penelitian ini menggunakan yuridis normatif dengan pendekatan undang-undang. Permasalahan terkait dengan regulasi tanah desa dapat diselesaikan dengan reformasi hukum tanah desa yang salah satunya meliputi redefinisi. Penguatan kedudukan tanah desa juga perlu dilakukan dalam rangka menjamin dan melindungi keberlanjutan tanah desa sebagai warisan leluhur. Diperlukan peran dari berbagai pihak seperti pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, Pemerintah Desa, Masyarakat dan pihak-pihak lain agar reformasi hukum tanah desa dapat terealisasi.
STRENGTHENING THE ROLE OF CORPORATE CARRIER IN THE DEVELOPMENT OF CORPORATE STUDENTS AT THE CHILDREN'S SPECIAL DEVELOPMENT INSTITUTION Iqbal Kamalludin; Apriliani Kusumawati; Ratna Kumala Sari; Ayon Diniyanto; Bunga Desyana Pratami
CREPIDO Vol 3, No 2 (2021): Jurnal Crepido November 2021
Publisher : Bagian Dasar-Dasar Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/crepido.3.2.61-75

Abstract

The rehabilitation approach has not become a priority for coaching so that it is difficult to change Andikpas' behavior for the better. This paper aims to describe the idea of strengthening the role of Correctional Caregivers in fostering Correctional Students at the Special Child Guidance Institution. The research method of this paper uses normative juridical with a qualitative approach.  Harmonizing  regulations in the correctional system is needed through legal rules in the form of special guidelines. In addition to increasing knowledge and understanding related to child protection, it is also necessary to strengthen the capacity of counseling techniques. Considering that counseling is one method that can help Andikpas to express various feelings, including the negative thoughts he feels.
Pengawasan Pemilihan Umum di Era Post-Truth: Problem, Tantangan, dan Strategi Ayon Diniyanto; Wahyudi Sutrisno
Jurnal Adhyasta Pemilu Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Adhyasta Pemilu
Publisher : Badan Pengawas Pemilihan Umum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55108/jap.v5i1.79

Abstract

The 2024 election related with a post-truth era. This makes the potential for problems and challenges that must be faced and resolved. This study formulates problems (1) what are problems and challenges of supervising General Election in the post-truth era? and (2) what is the general election monitoring strategy in the post-truth era? The purpose of this research is to find the problems and challenges of general election supervision in the post-truth era; and (2) formulating a strategy for monitoring the General Elections in the post-truth era. The research method used in this study is a qualitative approach and the type of juridical normative research. The results of the study show that there are problems that will or have occurred in the post-truth election, such as (1) low digital literacy; (2) limited human resources related to election supervision in the digital realm; and (3) the lack of regulation on election law enforcement in the post-truth era. Potential challenges exist for example (1) large internet users in Indonesia; (2) the potential for intervention by other countries through digital; and (3) the effect of the division of society as a result of the election. The strategy that must be carried out is by using two approaches, namely prevention and action.
Dinamika dan Masa Depan Qanun dalam Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat Aceh Ayon Diniyanto; Dani Muhtada
Bestuurskunde: Journal of Governmental Studies Vol 2 No 1 (2022): Two Decades of Dynamics of the Implementation of Special Autonomy for Papua and A
Publisher : Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53013/bestuurskunde.2.1.31-42

Abstract

After two decades of implementation of the special autonomy in Aceh, with Islamic Sharia becoming part of its legal system, some of Aceh's problems prevailed, especially those related to people's welfare. Whether the special autonomy granted to Aceh can improve the welfare of the people remains questionable. As a legal instrument in Aceh, the Qanun seemed to be unable to improve the people's welfare. Despite having enacted Qanun Number 11 of 2013 on Social Welfare, Aceh is still one of the ten poorest regions in Indonesia. This raises questions about the effectiveness of the Qanun in improving the welfare of the people. As such, this study is important to be carried out to find out the relevance of Qanun in improving the welfare of the people in Aceh. This study aimed to answer these questions: (1) What are the roles of Qanun in Aceh's special autonomy era? (2) What is the future of Qanun in creating welfare in Aceh? The purpose of this study was to (1) describe the role of Qanun in Aceh’s special autonomy era, and (2) predict the future of Qanun in creating welfare in Aceh, as well as provide recommendations to solve problems related to the ineffective implementation of Qanun. This study used a qualitative approach, and the type of this research was normative-juridical. The focus of the study was the special autonomy in Aceh and the role of Qanun in improving the people's welfare. Data were taken from primary and secondary legal materials using literature reviews. A triangulation was used to check the validity of the data, and the interactive model was used to analyze the data. This study found that Aceh already has several Qanuns regulating matters related to the welfare of the people. However, to attain a prosperous future for the people of Aceh, more Qanuns regulating various aspects of the economy are needed.
Menyelamatkan Korban dari Jerat UU ITE: Studi Kasus Baiq Nuril Maknun dan Relevansinya Bagi Penguatan Peran Pemerintah Melindungi Pelapor Tindak Asusila Ayon Diniyanto; Iqbal Kamalludin Kamalludin
Supremasi Hukum: Jurnal Kajian Ilmu Hukum Vol 10, No 1 (2021): Supremasi Hukum
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/sh.v10i1.2341

Abstract

Permasalahan yang terjadi pada Baiq Nuril Maknun (BNM) mendapat respon yang kuat dab beragam dari masyarakat. Satu sisi menganggap permasalahan BNM adalah pelanggaran terhadap UU ITE. Disisi lain, permasalahan yang dihadapi oleh BNM adalah korban pelecehan seksual. Artikel ini merupakan studi kasus pada BNM. Paper ini fokus pada peran pemerintah dalam melindungi secara hukum pelapor dan korban tindak asusila sehingga korban terlindungi dan terhindar dari kriminalisasi. Penelitian yurisdis normatif ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaku  tindak pidana asusila memanfaatkan celah hukum UU ITE sehingga justru membuat BNM menjadi bersalah sesuai konteks hukum formal, meskipun dalam hal ini sebenarnya BNM dapat tidak terjerat UU ITE apabila ada peran pemerintah dalam membangun norma hukum dalam UU ITE. Peran pemerintah yang lebih kuat tersebut yaitu dengan membuat mekanisme pelaporan yang mudah dan efektif. Pemerintah juga harus membuat pedoman mekanisme pelaporan yang tersosialisasi menyeluruh, mudah diakses, dan mudah dipahami. Lebih penting lagi, pemerintah harus melindungi pelapor selama kedudukan pelapor masih menjadi pelapor, saksi, atau korban.
Penundaan Pemilihan Umum di Negara Hukum: Kajian Demokrasi Konstitusional (General Elections Postponement in Rule of Law: A Study of Constitutional Democracy) Ayon Diniyanto
Jurnal Negara Hukum: Membangun Hukum Untuk Keadilan Vol 13, No 2 (2022): JNH VOL 13 NO 2 NOVEMBER 2022
Publisher : Pusat Penelitian Badan Keahlian Setjen DPR RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22212/jnh.v13i2.3365

Abstract

The issue of postponing the general election has become a public debate. This raises the question; can the postponement of the general election be realized in Indonesia? The question arises because the constitution does not regulate the postponement of the general election. This is a problem for Indonesia as a constitutional democracy and a state with the rule of law. The research problem in this study are: (1) what are the chances of postponing the general election in a state with the rule of law? (2) how does constitutional democracy view the postponement of the general election? and (3) what is the formulation of a constitutional and comprehensive postponement of the general election? This study uses doctrinal research with a legal approach, a concept approach, and a case approach. The results of the discussion state that the possibility of postponing the general election in a state with the rule of law can be held constitutionally and non-constitutionally. It is constitutionally carried out with constitutional amendments. Non-constitutionally, it is held by issuing decrees and establishing constitutional conventions. If the postponement of general elections is carried out in Indonesia at this time, it would be contrary to constitutional democracy. For this reason, it is necessary to formulate norms in the constitution which regulate the postponement of general elections and constitutional deadlocks. The conclusion of this study states that the possibility of postponing the general election in a state with the rule of law can be done by constitutional and non-constitutional means; postponement of general elections in Indonesia is contrary to constitutional democracy, and there is a need to have a formulation of norms that resolve the constitutional deadlock in the constitution. For this reason, the MPR is advised to amend the constitution in order to prevent constitutional deadlock. AbstrakIsu penundaan Pemilu menjadi perdebatan di ruang publik. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah penundaan Pemilu dapat diwujudkan di Indonesia? Pertanyaan tersebut muncul karena konstitusi tidak mengatur penundaan Pemilu. Ini menjadi problem bagi Indonesia sebagai negara demokrasi konstitusional dan negara hukum. Oleh karena itu, rumusan masalah penelitian ini, yaitu: (1) bagaimana peluang terjadinya penundaan Pemilu di negara hukum?; (2) bagaimana penundaan Pemilu dalam kacamata demokrasi konstitusional?; dan (3) bagaimana formulasi penundaan Pemilu yang konstitusional dan komprehensif? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian doktrinal, dengan pendekatan hukum, pendekatan konsep, dan pendekatan kasus. Hasil pembahasan menyatakan bahwa peluang penundaan Pemilu di negara hukum dapat dilakukan secara konstitusional dan non-konstitusional. Secara konstitusional dilakukan dengan amandemen konstitusi. Secara non-konstitusional dilakukan dengan mengeluarkan dekrit dan membangun konvensi ketatanegaraan. Jika penundaan Pemilu dilakukan di Indonesia saat ini, akan bertentangan dengan demokrasi konstitusional. Untuk itu, perlu ada formulasi norma dalam konstitusi yang mengatur mengenai penundaan Pemilu dan constitutional deadlock. Simpulan artikel ini menyatakan bahwa peluang penundaan Pemilu di negara hukum dapat dilakukan dengan cara konstitusional dan non-konstitusional; penundaan Pemilu di Indonesia bertentangan dengan demokrasi konstitusional; dan perlu ada formulasi norma yang menyelesaikan constitutional deadlock dalam konstitusi. Untuk itu, MPR disarankan melakukan amandemen konstitusi dalam rangka mencegah constitutional deadlock.
Bertahan dan Menang Melawan Pandemi Covid-19 dengan Semangat Pancasila Ayon Diniyanto
Jurnal Lemhannas RI Vol 9 No 4 (2021)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v9i4.412

Abstract

Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia telah memberikan dampak negatif pada berbagai sektor seperti kesehatan, ekonomi, dan lain-lain. Perlu ada solusi strategis untuk bertahan dan menang melawan pandemi Covid-19. Pancasila sebagai dasar negara merupakan solusi untuk bertahan dan menang melawan pandemi Covid-19 di Indonesia. Tulisan dalam artikel ini membahas terkait dengan (1) bagaimana cara bertahan dan menang malawan pandemi Covid-19 dengan Pancasila? dan (2) bagaimana cara menerapkan semangat Pancasila agar menang melawan pandemi Covid-19? Pancasila yang merupakan dasar negara harus dijadikan sebagai pedoman untuk bertahan dan menang melawan pandemi Covid-19. Cara bertahan dan menang melawan pandemi Covid-19 dilakukan dengan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila di kehidupan berbangsa dan bernegara. Disaat ini maka nilai itu harus diterapkan terutama dalam rangka bertahan dan menang melawan pandemi Covid-19. Kemudian juga diperlukan kerjasama dan komitmen antara masyarakat dengan pemerintah untuk bersama-sama menerapkan nilai-nilai dalam Pancasila. Jika hal tersebut dilakukan, maka negara dan bangsa Indonesia akan bertahan dan menang melawan pandemi Covid-19.
RELASI POLITIK PDI P DENGAN PKS DALAM DEMOKRASI LOKAL Diniyanto, Ayon
Jurnal Demokrasi dan Politik Lokal Vol 5 No 1 (2023): Edisi April
Publisher : Jurusan Ilmu Politik, FISIP, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jdpl.5.1.18-35.2023

Abstract

Konstelasi partai politik di pusat dengan di daerah tidak selamanya sama. Hal yang terjadi pada PDI P dengan PKS di Pilkada Kabupaten Purbalingga. Dua partai politik tersebut secara asas/karakter mempunyai perbedaan, kenyataannya dua partai tersebut menemukan titik temu dan menjalin relasi di Pilkada Kabupaten Purbalingga. Titik temu tersebut salah satunya dapat diduga dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten Purbalingga 2005-2025. Penelitian ini merumuskan masalah: (1) bagaimana latar belakang lahirnya relasi politik PDI P dengan PKS di Kabupaten Purbalingga? (2) bagaimana demokrasi lokal memfasilitasi relasi politik PDI P dengan PKS di Kabupaten Purbalingga? dan (3) bagaimana politik hukum RPJP Kabupaten Purbalingga menjadi titik temu relasi politik antara PDI P dengan PKS? Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan menemukan pertanyaan dalam rumusan masalah. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan studi dokumen, serta analisis data dengan interactive model. Penelitian ini berhasil menemukan latar belakang lahirnya relasi politik PDI P dengan PKS di Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini juga menganalisis bahwa demokrasi lokal mampu memfasilitasi relasi serta menemukan politik hukum RPJP sebagai titik temu relasi politik PDI P dengan PKS. Simpulan dalam penelitian ini yaitu menjawab rumusan masalah. Disarankan kepada partai politik untuk lebih mementingkan keinginan masyarakat luas.
Perbandingan Judicial Review di Negara Indonesia dengan Uruguay Ramadani, Sabira; Diniyanto, Ayon
Manabia: Journal of Constitutional Law Vol 3 No 01 (2023): Dinamika Penegakan Hukum di Indonesia
Publisher : Sharia Faculty, Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/manabia.v3i01.965

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang perbandingan judicial review antara Negara Indonesia dengan Uruguay. Fokus penelitian ini adalah selain membahas perbandingan dan akibat hukumnya dari adanya perbadingan kedua negara tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetaui perbandingan antara judicial review Indonesia dan Uruguay. Penelitian ini termasuk jenis penelitian yuridis-normatif dan menggunakan teknik analisis preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan judicial review antara negara Indonesia dengan Uruguay adalah sistem pengujiannya, ruang lingkup yang diuji, legal standing upaya hukum dan pengajuan permohonan. Sedangkan perbedaan judicial review antara negara Indoensia dengan Uruguay adalah pada kewenangan lembaga yang melaksanakan judicial review dan sifat putusan dari perkara judicial review. Persamaan akibat hukum judicial review berakibat inkonstitusional jika pengujian judicial review sudah terbukti tidak sesuai, kemudian persamaan akibat hukum yang ditimbulkan bahwa peraturan antara yang satu dengan yang lain ataupun peraturan perundang-undanga yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi tidak boleh saling bertentangan. Akibat persamaan upaya hukum adalah tidak dapat mengajukan pembelaan atau mengajukan banding. Akibat persamaan legal standing adalah hak konstitusional warga negara terjamin dalam hal kepastian hukum yaitu berkaitan dengan judicial review supaya terciptanya harmonisasi hukum.
Perbedaan Penafsiran Putusan Mahkamah Konstitusi oleh Lembaga Penyelenggara Pemilu Mukarromah, Izzatul; Diniyanto, Ayon
Manabia: Journal of Constitutional Law Vol 3 No 02 (2023): Dinamika Ketatanegaraan: Hak Asasi Manusia dan Pelayanan Publik
Publisher : Sharia Faculty, Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/manabia.v3i02.1414

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 56/PUU-XVII/2019 membatasi hak dipilih seorang mantan narapidana dalam keikutsertaannya pada penyelenggaraan pilkada. Setelah dinyatakan bahwa yang tercantum dalam Pasal 7 Ayat (2) Huruf g Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota bertentangan dengan UUD 1945, serta tidak memiliki kekuatan hukum mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai telah melewati jangka waktu tunggu selama 5 (lima) tahun setelah mantan narapidana selesai menjalani pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, atas dasar tersebut penyelenggara pemilu wajib mematuhi dan menjalankannya dalam pelaksanaan pilkada di Indonesia. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian ini adalah bahwa dalam perwujudan mematuhi putusan tersebut, diantara penyelenggara pemilu memiliki pemahaman konteks yang berbeda sehingga muncul perbedaan tafsir dalam pelaksanaan putusan. Perbedaan penafsiran yang timbul menyebabkan lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penyelenggara pemilu.