Claim Missing Document
Check
Articles

MUTU NUGGET TEMPE HASIL FORMULASI TEMPE DAN DAGING AYAM Pujilestari, Shanti; Sari, Fifi Anggia; Sabrina, Nindy
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 2 No 2 (2020): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v2i2.515

Abstract

Abstrak: Nugget merupakan makanan popular yang mudah disiapkan dan disukai anak-anak. Bahan utama nuget umumnya adalah daging ayam, kelemahan nugget ayam adalah kurangnya serat serta tingginya lemak. Tempe merupakan salah satu bahan baku yang potensial dapat mensubsitusi daging ayam. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mutu nuget hasil formulasi tempe dan berapa formulasi tempe dan daging ayam terpilih. Metodologi dalam penelitian ini adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 5 (lima) taraf x 3 (tiga) ulangan. Uji yang dilakukan pada adalah uji fisik (kerenyahan) dan uji kimia (kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan serat). Uji organoleptik dilakukan pada mutu hedonik dan hedonik warna, aroma, rasa, kekenyalan, dan rangking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter mutu nugget tempe dipengaruhi oleh formulasi tempe dan daging ayam yang berbeda (α=0.01). Formulasi tempe dan daging ayam terpilih adalah 25:25 pada formulasi nugget tempe dengan nilai rangking tertinggi. Karakteristik mutu nugget tempe terpilih adalah nilai kekenyalan 662,76 gf, kadar air 56.53%, kadar abu 1.73%, kadar protein 15.23%, kadar lemak 11.84%, kadar karbohidrat 8.78% dan kadar serat 2.11%. Mutu organoleptik nugget tempe terpilih adalah warna kuning (2.8), aroma nugget kuat (4.2), rasa gurih (4.4), dan tekstur sangat kenyal (4.6). Berdasarkan SNI 01-6683-2002, maka nugget tempe dengan formulasi tempe dan daging ayam 25:25 pada formulasi telah memenuhi syarat mutu nugget ayam yaitu pada kadar air, protein, lemak dan karbohidrat. Nugget tempe terpilih dapat memenuhi  kebutuhan serat sebanyak 8.44% untuk wanita dewasa, 5.55% untuk pria dewasa dan 23.44% untuk anak-anak.ABSTRACT: Nuggets are a popular dish that is easy to prepare and kids preferred. The main ingredient of nuggets is generally chicken meat, the lack of chicken nuggets is the lack of fiber and high fat. Tempe is one of the raw materials that can potentially substitute for chicken meat. The purpose of this study was to determine the quality of the nugget produced by the tempe formulation and the selected tempe and chicken meat formulations. The methodology in this study is an experiment using a one-factor Completely Randomized Design (CRD) with 5 (five) levels x 3 (three) replications. The tests carried out were physical tests (elasticity) and tests (moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, and fiber content). Organoleptic tests were carried out on sensory of color, aroma, taste, elasticity, and ranking. The results showed that all quality parameters of tempe nuggets were influenced by different formulations of tempeh and chicken meat (α=0.01). The selected tempe and chicken meat formulations were 25:25 in the tempe nugget formulation with the highest-ranking value. The quality characteristics of selected tempe were the 662.76-gram force of elasticity, 56.53% of water content, 1.73% of ash content, 15.23% of protein content, 11.84% of fat content, 8.78% of carbohydrate content, and 2.11% of fiber content. The selected organoleptic tempe nuggets were yellow color (2.8), strong nugget aroma (4.2), savory taste (4.4), and very chewy texture (4.6). Based on SNI 01-6683-2002, the tempe nugget with the formulation of tempe and chicken meat 25:25 formulation has met the quality requirements of chicken nuggets, namely in water, protein, fat and carbohydrate content. The selected tempe nuggets can fulfill the fiber needs of 8.44% for adult women, 5.55% for adult men, and 23.44% for children.
PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TEROLAH MINIMAL Hapsari, Afrilia Ratna; Azni, Intan Nurul; Giyatmi, Giyatmi; Pujilestari, Shanti
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 2 No 2 (2020): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v2i2.516

Abstract

ABSTRAK: Buah naga terolah minimal merupakan produk siap saji yang terbuat dari buah segar yang dikupas dan diiris. Karena terbuat dari buah segar, maka produk ini cepat rusak dan memiliki umur simpan yang pendek sehingga menurunkan daya terima konsumen. Pada penelitian ini dilakukan penambahan konsentrasi kitosan sebagai pengawet alami dan variasi lama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan acak Lengkap Faktorial (RALF) dengan dua faktor. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan 2 faktor, yaitu konsentrasi kitosan (A) 0.0%; 1.0%; 1.5%, dam 2.0% dengan lama penyimpanan (B) 0, 1, 2, 3, dan 4 hari dengan dua pengulangan. Kualitas buah naga merah olahan minimalis ditentukan melalui uji organoleptik (uji hedonik dan mutu hedonik terhadap parameter warna, tekstur, aroma, dan rasa), uji kimia sebagai uji penunjang (pH dan aktivitas antioksidan). Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi kitosan dan lama penyimpanan terhadap buah naga merah olahan minimalis berpengaruh secara nyata terhadap parameter uji hedonik dan mutu hedonik parameter warna, tekstur, aroma dan rasa. Sedangkan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter uji mikrobiologi untuk E-coli dan Salmonella sp. Buah naga merah olahan minimalis dengan mutu yang masih baik, yaitu buah naga merah olahan minimalis dengan konsentrasi kitosan 1.0% dan lama penyimpanan 2 hari memiliki mutu yang masih baik dengan nilai mutu hedonik terhadap warna (nilai 2.9), tekstur (nilai 2.9), aroma (nilai 2.9) dan rasa (nilai 2.9), nilai pH 5.83, dan aktivitas antioksidan 75.14 ppm. ABSTRACT: The minimalis processed red dragon fruit is one of the ready to eat food products made from fresh fruits that have been peeled or cut into pieces. Because it is made from fresh ingredients, red dragon fruit tends to be easily damaged and has a short shelf life that will reduce consumer acceptance. This research was conducted to study the effect of chitosan concentration on minimal processed red dragon fruit during storage. This study used a factorial complete randomized design with 2 factors, namely chitosan concentration (A) 0,0%; 1,0%; 1,5% and 2,0% with storage duration (B) 0, 1, 2, 3 and 4 days. The parameters tested were organoleptic test (hedonic test and hedonic quality of the parameters of color, texture, odor and taste), chemical test asa a supporting test (pH and antioxidant activity). The results showed that those who had significantly different value (α< (0,05)) were organoleptic (color, texture, odor and taste), while the value is not significantly different (α > (0,05)) is the microbiology test (E-coli and Salmonella sp.). the quality of processed minimalist red dragon fruit with the addition of chitosan with a concentration of 1% and 2 days storage time is still of good quality with a hedonic quality value of color (2,9), texture (2,9), odor (2,9) and taste (2,9), pH value 5,83 and antioxidant activity 75,14 ppm.
PENGARUH FORMULASI TEPUNG BERAS (ORYZAE SATIVA) DAN TEPUNG KACANG MERAH (PHASEOLUS VULGARIS L.) TERHADAP MUTU KUE KEMBANG GOYANG Pujilestari, Shanti; Fajri, Septika; Sabrina, Nindy
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Mei
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i1.531

Abstract

ABSTRAK. Kue kembang goyang merupakan kue tradisional dari Betawi. Bahan baku kue kembang goyang adalah tepung beras. Kelemahan produk ini adalah rendah kandungan protein. Penambahan sumber protein nabati dapat menurunkan kerenyahan. Oleh karena itu dilakukan formulasi dengan tepung kacang merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi beras dan tepung kacang merah terhadap mutu kembang goyang (100:0, 90:10, 80:20, 70:30 dan 60:40), berapa formulasi terpilih.  Metodologi dalam penelitian ini adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 5 (lima) taraf x 3 (tiga) ulangan. Uji yang dilakukan pada sampel kue kembang goyang adalah uji fisik (kerenyahan) dan uji kimia (kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan kadar serat). Uji organoleptik dilakukan pada mutu hedonik dan hedonik warna, aroma, rasa, tekstur, serta kesukaan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter mutu kue kembang goyang dipengaruhi oleh formulasi tepung beras dan tepung kacang merah yang berbeda (α=0.05 dan α=0.01). Formulasi tepung beras dan kacang tanah terpilih adalah 60:40 dengan kesukaan secara umum sama dengan suka. Karakteristik kue kembang goyang terpilih adalah nilai kerenyahan 15,73 g/mm², kadar air 2,45%, abu 2,53%, protein 10,66%, lemak 17,21%, karbohidrat 58,3%, serat kasar 5,17%, warna coklat (2,7), aroma agak langu (3,3), rasa manis (3,9), dan tekstur renyah (3,7). Kadar air  dan kadar protein kue kembang goyang memenuhi persyaratan kue kering SNI 2973-2011.ABSTRACT: The kembang goyang cake is a traditional cake from Betawi. The raw material for the kembang goyang cake is rice flour. The lack of this product is the low protein content. The addition of vegetable protein sources can reduce the crunchiness. Therefore, it was formulated with red bean flour. The purpose of this study was to determine the formulation of rice and red bean flour on the quality of the kembang goyang cake (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, and 60:40), how many formulations were selected. The methodology in this study is an experiment using a one-factor Completely Randomized Design (CRD) with 5 (five) levels x 3 (three) replications. The tests carried out on the samples of the cakes were physical (crisp) and chemical tests (moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, and fiber content). Organoleptic tests were carried out on the hedonic and hedonic qualities of color, aroma, taste, texture, and general preference. The results showed that all the quality parameters of the kembang goyang cake were influenced by different formulations of rice flour and red bean flour (α=0.05 and =0.01). The selected formulation of rice and peanut flour is 60:40 with general preference equal to liking. Characteristics of the selected cakes are crunchy value 15.73 g/mm², water content 2.45%, ash 2.53%, protein 10.66%, fat 17.21%, carbohydrates 58.3%, crude fiber 5, 17%, brown color (2.7), slightly unpleasant aroma (3.3), sweet taste (3.9), and crunchy texture (3.7). Moisture content and protein content of the kembang goyang cakes fulfilled the requirements of SNI 2973-2011 cookies.
KARAKTERISASI FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK MINUMAN SARI TEMPE DENGAN PENAMBAHAN JERUK NIPIS (Citrus aurentifolia) Hamidatun, Hamidatun; Haniza, Thifani; Pujilestari, Shanti
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v5i2.1884

Abstract

ABSTRAK: Minuman sari tempe merupakan salah satu produk diversifikasi tempe. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan konsentrasi jeruk nipis dan gula terhadap sifat fisik, kimia dan organoleptik minuman sari tempe. Total 9 formulasi minuman sari tempe dibuat dengan variasi penambahan jeruk nipis dan gula pasir. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor yaitu konsentrasi jeruk nipis dan gula. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan uji DMRT taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan jeruk nipis dan gula berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap viskositas namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pH dan total padatan terlarut. Minuman sari tempe memiliki nilai pH 5,04-5,69, total padatan terlarut 11-12,3°Brix dan viskositas 10,4-13,7 cP. Hasil uji hedonik minuman sari tempe menunjukkan penambahan jeruk nipis dan gula berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap rasa, namuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap warna, aroma, dan kekentalan. Total 25 orang dipilih menjadi panelis tidak terlatih diberikan pilihan skala 1- 5 (sangat tidak suka sampai sangat suka). Minuman sari tempe dengan penambahan jeruk nipis terbaik secara karakteristik fisikokimia dan organoleptik pada perlakuan A2B2 (jeruk nipis 30% : gula 6%) dengan nilai pH 5,37, total padatan terlarut 11,2°Brix, dan viskositas 12,2 cP serta tingkat penerimaan uji hedonik diperoleh warna  3,58, aroma 3,65, rasa 3,19, dan kekentalan 3,29
TEKNOLOGI PANGAN CERDAS: OPTIMASI E-NOSE UNTUK DETEKSI MUTU KOPI Pujilestari, Shanti; Bayuadji, Handono
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v4i2.2808

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem deteksi mutu kopi berbasis Electronic Nose (E-Nose) dengan optimasi konfigurasi sensor dan penerapan algoritma kecerdasan buatan (AI). Evaluasi mutu kopi melalui pengujian organoleptik (penilaian sensori) bersifat subyektif, tergantung pada persepsi panelis, serta memakan waktu, yang dapat menghasilkan penilaian yang tidak konsisten. Teknologi sensor elektronik akan digunakan untuk memberikan evaluasi yang lebih objektif dan konsisten. Delapan sensor gas (SP-12A, SP-31, TGS-813, TGS-842, SP-AQ3, TGS-823, ST-31, dan TGS-800) digunakan untuk mendeteksi mutu kopi. Empat algoritma AI, yaitu Random Forest, Neural Network, Decision Tree, dan Naive Bayes, diterapkan untuk menilai akurasi prediksi mutu kopi berdasarkan data sensor.  Selain itu, konfigurasi sensor ekonomis seperti seri MQ juga dievaluasi untuk mengatasi keterbatasan biaya dan ketersediaan sensor di pasar lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma Random Forest memberikan akurasi tertinggi, yaitu 99,48% dengan penggunaan semua sensor. Namun, penggunaan sensor TGS secara eksklusif menurunkan akurasi hingga 88,74%. Penelitian ini juga menemukan bahwa kombinasi sensor TGS dan seri MQ memberikan solusi lebih ekonomis dengan performa yang tetap optimal. Optimasi sensor elektronik dan algoritma AI dapat menghasilkan sistem deteksi mutu kopi yang handal dan terjangkau. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan teknologi evaluasi mutu pangan yang lebih efisien, khususnya pada industri kopi lokal.
PENGARUH KOMBINASI KARAGENAN DAN AGAR TERHADAP MUTU MINUMAN JELI SARI KEDELAI Cindy Octaviana; Shanti Pujilestari
Seminar Nasional Pariwisata dan Kewirausahaan (SNPK) Vol. 3 (2024): APRIL
Publisher : Sahid University Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/snpk.vol3.2024.294

Abstract

Minuman jeli sari kedelai adalah salah satu produk diversifikasi dari kacang kedelai yang berbentuk gel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kombinasi karagenan dan agar yang tepat untuk minuman jeli ditinjau dari karakteristik fisik, kimia, dan organoleptik. Jenis penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian eksperimental dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yaitu kombinasi karagenan dan agar dengan 5 perlakuan (50:50, 45:55. 40:60, 35:65, 30:70) dan 3 kali ulangan. Data yang diperoleh dilakukan analisis dengan ANOVA, jika dihasilkan perbedaan nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi karagenan dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap viskositas, sineresis, pH, total padatan terlarut, hedonik (daya sedot dan tekstur), dan mutu hedonik (daya sedot dan tekstur). Perlakuan terbaik didapatkan pada kombinasi karagenan dan agar 30:70 dengan nilai viskositas yaitu 371,07 cP, sineresis sebesar 1,36%, pH sebesar 6,93, total padatan terlarut sebesar 11,10°Brix, kadar air senilai 86,99%, uji hedonik (warna, aroma, rasa, daya sedot, tekstur) menunjukkan suka, uji mutu hedonik dihasilkan warna putih agak kecokelatan, aroma agak tidak langu, rasa manis, agak mudah disedot, tekstur agak kenyal, dan nilai aktivitas antioksidan sebesar 2.570 µg/mL.
KARAKTERISTIK PENYEDAP RASA ALAMI JAMUR TIRAM DAN KEPALA UDANG VANAME DENGAN METODE FOAM MAT DRYING Nur Jihan Maulidia; Shanti Pujilestari
Seminar Nasional Pariwisata dan Kewirausahaan (SNPK) Vol. 4 (2025): APRIL
Publisher : Sahid University Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/snpk.vol4.2025.441

Abstract

Pembuatan penyedap rasa alami berbahan dasar jamur tiram dapat menjadi alternatif penggunaan MSG. Jamur tiram memiliki tingkat kegurihan yang rendah, dibandingkan penyedap rasa dari jamur merang yang sudah banyak digunakan. Sehingga perlu ditambahkan bahan lain untuk menambah cita rasa gurih, yaitu dengan kepala udang vaname. Kepala udang vaname mengandung asam glutamat sebesar 15,46 mg/g. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh formulasi jamur tiram dan kepala udang vaname yang berbeda terhadap karakteristik penyedap rasa. Formulasi jamur tiram dan kepala udang vaname yang digunakan yaitu 90:10; 85:15; 80:20; 75:25 dan 70:30. Analisis data menggunakan ANOVA dan dilakukan uji lanjut Duncan. Proses pembuatan penyedap rasa menggunakan metode foam mat drying. Hasil menunjukan bahwa formulasi jamur tiram dan kepala udang vaname yang berbeda berpengaruh nyata terhadap waktu larut, kadar air, kadar protein, hedonik dan skor mutu (α<0,05). Perlakuan terbaik adalah formulasi 70:30 dengan waktu larut 86,04 detik, kadar air 7,33%, kadar protein 27,54%, hedonik warna 4,0 (suka), hedonik aroma 3,9 (agak suka), hedonik rasa 4,1 (suka), hedonik tekstur 4,2 (suka), skor mutu warna 3,5 (putih kekuningan), skor mutu aroma 3,7 (cukup kuat), skor mutu rasa 4,1 (gurih), skor mutu tekstur 4,1 (halus), kadar lemak 0,59% dan kadar asam glutamat 3,30%. Kadar protein penyedap rasa memenuhi SNI 01-4273.1996 tentang penyedap rasa.
PELATIHAN PEMBUATAN PELLET DARI JEROAN IKAN SEBAGAI PAKAN IKAN DI KELURAHAN DUREN JAYA BEKASI Siti Aminatu Zuhria; Ekaterina Setyawat; Shanti Pujilestari
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i1.42926

Abstract

Kegiatan pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan dasar dari pemanfaatan limbah jeroan ikan bertujuan untuk memanfatkan limbah jeroan ikan menjadi produk yang lebih bernilai tambah seperti pakan ikan. Pakan ikan merupakan faktor penting dalam pembudidayaan ikan yang berpengaruh dalam menentukan jumlah dan waktu produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi pemanfaatan jeroan ikan, yang selama ini seringkali menjadi limbah, sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan pellet ikan. Jeroan ikan kaya akan protein dan nutrisi penting lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan. Pemanfaatan jeroan ikan sebagai bahan baku pellet tidak hanya mengurangi masalah limbah, tetapi juga dapat menekan biaya produksi pakan dan mendukung budidaya perikanan yang lebih berkelanjutan. Metode pelaksanaan pelatihan terdiri dari pemaparan materi mengenai proses pembuatan pellet dan praktek pembuatan pellet. Kegiatan pelatihan diakhiri dengan evaluasi berupa sesi diskusi dan pembagian kuisioner. Berdasrkan hasil evaluasi didapatkan bahwa 55,5% peserta sudah mengetahui pellet pakan ikan dari jeroan ikan, namun 44,5% peserta pelatihan belum mengetahui cara pembuatan pellet dari jeroan ikan yang dihasilkan. Setelah mengikuti pelatihan ini hampr 100 % peserta mengalami peningakatan pengatahuan dan pemahaman pembuatan pellet dari jeroan ikan dibandikan sebelum mengikuti sosialisasi dan pelatihan.
Sintesis Nanopartikel ZnO dan Aplikasinya sebagai Edible Coating Berbasis Pektin untuk Memperpanjang Umur Simpan Buah Belimbing Muhammad Fajri Romadhan; Shanti Pujilestari
JURNAL AGROINDUSTRI HALAL Vol. 5 No. 1 (2019): Jurnal Agroindustri Halal
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jah.v5i1.1712

Abstract

ABSTRAKNanopartikel ZnO (NP-ZnO) merupakan partikel yang mempunyai aktivitas antimikroba cukup luas yaitu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram negatif, Gram positif, khamir dan kapang. Nanopartikel ZnO dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk memperbaiki sifat mekanik dan fungsional dari edible coating yang berbasis pektin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh edible coating pektin+NP-ZnO terhadap masa simpan buah belimbing. Nanopartikel disintesis dengan metode presipitasi menggunakan tiga suhu pemanasan yang berbeda yaitu 60, 80 dan 100°C selama 2 jam dan ditanur pada suhu 500°C selama 5 jam. Nanopartikel yang terbentuk dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR), Particle Size  Analyzer (PSA) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa nanopartikel ZnO telah terbentuk dengan adanya puncak pada panjang gelombang 474 cm-1. Suhu sintesis nanopartikel ZnO terbaik adalah 800C dengan ukuran partikel rata-rata 43.1 nm. Hasil analisis SEM memperlihatkan bahwa nanopartikel yang terbentuk mempunyai morfologi bulat. Hasil uji antimikroba dengan metode Total Plate Count (TPC) memperlihatkan nanopartikel ZnO dapat menghambat pertumbuhan bakteri Bacillus cereus, Escherichia Coli dan kapang Penicillium Sp. Aplikasi edible coating pektin+ Nanopartikel ZnO 1% pada buah belimbing memperlihatkan penurunan susut bobot,  menjaga warna buah lebih stabil dan mencegah kerusakan buah yang ditimbulkan kapang selama delapan hari penyimpanan. Kata kunci: nanopartikel ZnO, edible coating, antimikroba, umur simpan, belimbing
MULTI-COMMODITY INVENTORY MODEL FOR FREE NUTRITIOUS FOOD PROGRAMS BASED ON ECONOMIC ORDER QUANTITY, JUST-IN-TIME, AND REORDER POINT: A CASE STUDY OF GUNUNG SINDUR DISTRICT Shanti Pujilestari; Siti Aminatu Zuhria; Handono Bayuadji
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 2 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.18464274

Abstract

The Free Nutritious Meal Program (MBG) requires efficient inventory management due to its routine distribution schedule and the involvement of food commodities with different shelf lives. This study evaluates MBG inventory management at the Nutrition Fulfillment Service Unit (SPPG) level in Gunung Sindur District using a multi-commodity framework based on Economic Order Quantity (EOQ), Just-in-Time (JIT), Reorder Point (ROP), and Safety Stock (SS), including an assessment of cold storage for vegetable commodities. A deterministic quantitative approach is applied, assuming a daily demand of 42,467 meal portions over 240 operational days per year. Rice and eggs are managed using EOQ with ROP and SS, while vegetables are analyzed under JIT and EOQ with cold storage. The results show annual distribution costs of IDR 399 million for rice and IDR 153 million for eggs. JIT-based vegetable distribution incurs the highest cost at IDR 720 million per year. Although cold storage reduces vegetable distribution costs to IDR 480 million per year, additional cold storage costs of IDR 529.2 million increase total system costs from IDR 1.272 billion (without cold storage) to IDR 1.561 billion (with cold storage). As of January 2026, only six of eight SPPG units are operational, serving 21,575 beneficiaries, indicating that at least 12 SPPG units are required to meet full MBG demand.