Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Zonasi Sekolah Dalam Upaya Pemerataan Akses Pendidikan : Analisis Keruangan Pada Sebaran Sekolah Menengah Atas di Kota Parepare Taufiq, Muh; Manaf, Murshal; Alimuddin, Ilham
Urban and Regional Studies Journal Vol. 6 No. 1 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v6i1.3810

Abstract

Dengan menggunakan pendekatan keruangan (spatial approach) lengkap: 1) Spastial Pattern Analisyst dengan metode Complete Spatial Randomness (CSR) dari tolls Analisyst Nearest network (ANN), 2) Voronoi Analisyst, 3) Breaking Point Analisyst, 4) Service  Area Analisyst, dan 5) Location-Allocation Models, untuk menganalisis kontribusi penerapan sistem zonasi sekolah terhadap pemerataan akses pendidikan secara spasial di Kota Parepare, model spasial zonasi sekolah untuk pemerataan akses pendidikan di Kota Parepare, dan kontribusi zonasi sekolah terhadap pembentukan struktur ruang di Kota Parepare. Sistim Zonasi sekolah berkontribusi positif dalam mendistribusikan responden peserta didik pada wilayah administratifnya dan liputan zonanya masing-masing. Pola random dari distribusi sekolah SMA Negeri di Parepare dengan rerata jarak 1.794,89 meter, pola cluster dari distribsi spasial untuk cluster pemukiman dengan jarak rata-rata 345.7139 Meter, dan pola cluster dari distribusi responden peserta didik SMA dengan jarak rata-rata 113.9075 Meter, menunjukkan adanya equalitas dan opportunitas spasial yang baik, diperkuat dengan mayoritas objek berada pada jangkauan dibawah 3000 Meter dari pusat zona. Secara demografis dan Angka Partisipasi Sekolah, Kota Parepare membutuhkan 2 hingga 4 buah sekolah SMA untuk mengakomodir 12,847 jiwa penduduk usia 15-19 tahun dari data penduduk tahun 2021, sementara kenyataannya Kota Parepare memiliki 31 buah SMA/SMK sederajat, sehingga banyak diantaranya kekurangan peserta didik dan akhirnya tutup. Sementara itu deliniasi zona dengan pertimbangan spatial analisyst complit  dengan Voronoi Analisyst, Breaking Point Analisyst, Service Area Analisyst, dan Location-Alocation model menghasilkan distribusi liputan zona  seluas 1.883.177 M2  untuk zona UPT SMAN 1 Parepare, 46.829.400 M2 untuk zona UPT N 2 Parepare, 31.960.090 M2 untuk zona UPT SMAN 3 Parepare, dan 16.196.590 M2 untuk Zona UPT N 4 Parepare. Sistim zonasi juga berperan terhadap pembentukan struktur ruang di Kota Parepare pada fungsi kegiatan kota terutama pada karakteristtik struktur layanan fasilitas pendidikannya dengan cakupan layanan fasilitas yang terdiri dari 4 pusat zona SMA Negeri yang melayani 13 SMP Negeri, dan 95 sekolah dasar dalam hirarki layanannya. Dalam menghubungkan pusat-pusat layanan dan cluster pemukiman menuju ke pusat zona, struktur jaringan transportasinya menghasilkan 10 koridor rute transportasi untuk perencanaan jaringan transportasi penunjang mobilitas harian pelajar dalam mendukung sistim zonasi sekolah SMA Negeri di Kota Parepare. By using a complete spatial approach: 1) Spatial Pattern Analysis with Complete Spatial Randomness (CSR) method from tolls Analyst Nearest network (ANN), 2) Voronoi Analyst, 3) Breaking Point Analyst, 4) Service Area Analyst, and 5) Location-Allocation Models, to analyze the contribution of the application of the school zoning system to spatial distribution of access to education in Parepare City, school zoning spatial model for equal distribution of access to education in Parepare City, and the contribution of school zoning to the formation of spatial structure in Parepare City. The school zoning system contributes positively in distributing student respondents in their respective administrative area and zoning coverage. The random pattern of the distribution of public senior high school in Parepare with an average distance of 1,794.89 meters, the cluster pattern of spatial distribution for residential clusters with an average distance of 345, 7139 meters, and the cluster pattern of the distribution of respondent to high school student with an average distance of 113, 9075 meters. It indicates the existance of good spatial equality and opportunism, It is reinforced with the majority of objects located at ranges below to 3000 meters from the center of the zone. Demographically and school enrollment rates, Parepare needs 2 to 4 high school to accommodate 12.847 people aged 15 to 19 years from the average population in 2021, while in reality the city of Parepare has 31 senior high school and vocational high school, so that many of them lack students and eventually close. Meanwhile, the delineation of zones with consideration of spatial analysis is complete with Voronoi analysis. Breaking Point Analysis, Service Area Analysis, and Location-Allocation model resulted in a zone coverage distribution of 1,883,177 M2 for the UPT SMAN 1 Parepare zone, 46,829,400 M2 for the UPT N zone 2 Parepare, 31,960,090 M2 for the UPT SMAN 3 Parepare zone, and 16,196,590 M2 for the UPT N 4 Parepare zone. Zoning system also plays a role in the formation of spatial structure in the city of Parepare on the function of urban activity especially in the characteristics of its education facility service structure with a facility service coverage consisting of 4 senior high school zone centers serving 13 public junior high school, and 95 primary school  in the service hierarchy. In connecting service centers and residential cluster to the zone center, the transportation network structure produces 10 transportation route corridors for transportation networking planning to support student’s daily mobility in supporting the zoning system of the senior high school in the city of Parepare
Studi Mitigasi Bencana Tanah Longsor Pada Kawasan TWA Malino Akhsan, Mohammad; Alimuddin, Ilham; Syafri, Syafri
Urban and Regional Studies Journal Vol. 6 No. 1 (2023): Urban and Regional Studies Journal, Desember 2023
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v6i1.3950

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis menganalisis tingkat risiko bencana tanah longsor dan merumuskan arahan upaya mitigasi bencana berdasarkan tingkat risiko bencana tanah longsor pada kawasan Taman Wisata Alam Malino, Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis yang digunakan adalah analisis Overlay dengan metode skoring dan analisis deksriptif kuatatif. Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa terdapat tiga kelas tingkat risiko bencana yang terdapat di dalam Kawasan TWA Malino, yaitu (i) Kawasan dengan tingkat risiko bencana longsor rendah dengan luas sebesar 2.638,42 Ha dan tersebar di seluruh Kawasan TWA Malino dimana dominasi sebarannya terdapat di Kelurahan Pattapang dengan luas mencapai 1,139.18 Ha, (ii) Kawasan dengan tingkat risiko bencana longsor sedang dengan luas sebesar 2.079,46 Ha dan tersebar di seluruh Kawasan TWA Malino dimana dominasi sebaran terbesarnya terdapat di Kelurahan Pattapang dengan luas mencapai 999,37.18 Ha, (iii) Kawasan dengan tingkat risiko bencana longsor tinggi dengan luas sebesar 782,42 Ha  dan tersebar di empat wilayah Kelurahan/Desa, yaitu Kelurahan Bonto Leung dengan luas 13,88 Ha,  Kelurahan Buluttana dengan luas 2,54 Ha, Kelurahan Malino sebesar 670,40 Ha, dan Desa Pattapang sebesar 95,59 Ha. Adapun bentuk-bentuk upaya mitigasi yang dapat dilakukan mencakup tiga rangkaian upaya kegiatan, yakni pada saat pra-bencana, saat terjadi bencana dan pasca bencana yang dimana ketiga rangkaian upaya tersebut secara spesifik dapat digolongkan dalam dua bentuk upaya mitigasi, yakni mitigasi secara struktural dan mitigasi secara non struktural yang disesuaikan dengan karakteristik tingkat risiko bencanya. This study aims to analyze, analyze the risk level of landslide disasters and formulate directions for disaster mitigation efforts based on the risk level of landslides in the Malino Nature Park area, Gowa Regency. This research uses a quantitative descriptive approach with the analysis techniques used are Overlay analysis with scoring methods and quaternative descriptive analysis. From the research that has been conducted, it was found that there are three classes of disaster risk levels contained in the TWA Malino Area, namely (i) Areas with a low landslide risk level with an area of 2,638.42 Ha and spread throughout the TWA Malino Area where the dominance of distribution is in Pattapang Village with an area of 1,139.18 Ha, (ii) Areas with a medium landslide risk level with an area of 2,079.46 Ha and spread throughout the Region TWA Malino where the largest distribution dominance is in Pattapang Village with an area of 999.37.18 Ha, (iii) Areas with a high landslide risk level with an area of 782.42 Ha and spread across four Kelurahan/Village areas, namely Bonto Leung Village with an area of 13.88 Ha, Buluttana Village with an area of 2.54 Ha, Malino Village with an area of 670.40 Ha, and Pattapang Village of 95.59 Ha. The forms of mitigation efforts that can be carried out include three series of activities, namely during pre-disaster, during disaster and post-disaster where the three series of efforts can specifically be classified into two forms of mitigation efforts, namely structural mitigation and non-structural mitigation in accordance with the characteristics of the risk level
Tingkat Kerawanan, Mitigasi dan Adaptasi Banjir di Kota Malili Kabupaten Luwu Timur Mappatarai, Mappatarai; Manaf, Murshal; Alimuddin, Ilham
Urban and Regional Studies Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2024
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v6i2.4500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerawanan dan mengkaji upaya mitigasi dan Adaptasi bencana banjir di Kota Malili Kabupaten Luwu Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang di dalamnya mencakup penelitian survei berupa data dari hasil temuan berupa observasi lapangan. Teknik analisis yang digunakan yakni overlay terhadap data atribut yaitu kemiringan lereng, curah hujan, jenis tanah, buffer sungai, dan penggunaan lahan untuk menganalisis tingkat kerawanan banjir, serta dilakukan analisis deskriptif kualitatif untuk mengkaji upaya mitigasi dan adatasi bencana banjir. Hasil penelitian menunjukkan wilayah Kota Malili memiliki tingkat kerawanan banjir yang beragam: 84,52% wilayah dengan risiko rendah, 14,37% dengan risiko sedang, dan 1,11% dengan risiko tinggi. Faktor-faktor seperti kemiringan lereng, jenis tanah, jarak dari sungai dan penggunaan lahan yang penentu tingkat kerawanan banjir yang terjadi. Sedangkan upaya mitigasi dan adaptasi dilakukan melalui pendekatan terintegrasi, termasuk normalisasi sungai, zonasi area rawan bencana, dan sosialisasi. Strategi mitigasi disesuaikan dengan tingkat kerawanan dan melibatkan pengelolaan kawasan sungai, sistem drainase, desain arsitektur, evakuasi, peringatan dini, regulasi zonasi, dan kesadaran masyarakat. Keberhasilan bergantung pada kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan stakeholder This study aims to analyze the vulnerability level and examine the efforts of mitigation and adaptation for flood disasters in Malili City, East Luwu Regency. This research employs a qualitative descriptive method, encompassing survey research that includes data from field observations. The analysis technique used is an overlay on attribute data, such as slope gradient, rainfall, soil type, river buffer, and land use, to analyze the level of flood vulnerability. Additionally, a qualitative descriptive analysis is conducted to study the efforts of mitigation and adaptation for flood disasters. The results show that the Malili City area has varying levels of flood vulnerability: 84.52% of the area with low risk, 14.37% with medium risk, and 1.11% with high risk. Factors such as slope gradient, soil type, distance from the river, and land use determine the level of flood vulnerability. Mitigation and adaptation efforts are implemented through an integrated approach, including river normalization, zoning of disaster-prone areas, and socialization. Mitigation strategies are tailored to the level of vulnerability and involve the management of river areas, drainage systems, architectural design, evacuation, early warning, zoning regulations, and community awareness. The success depends on the cooperation between the government, the community, and stakeholders.
Analisis Tingkat Kerawanan Dan Mitigasi Bencana Longsor Pada Obyek Wisata Dante Pine Dan Sekitarnya Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang Anugrah H, Eza; Alimuddin, Ilham; Aksa, Kamran
Urban and Regional Studies Journal Vol. 6 No. 2 (2024): Urban and Regional Studies Journal, Juni 2024
Publisher : Postgraduate Bosowa University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35965/ursj.v6i2.4527

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerawanan bencana tanah longsor di Objek Wisata Dante Pine dan Sekitanya Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang dan mengetahui arahan mitigasi bencana di Objek Wisata Dante Pine Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Variabel yang digunakan terdiri dari 5 (Lima) variabel diantaranya (1) Jenis Tanah, (2) Intensitas Curah Hujan, (3) Kondisi Geologi (4) Penggunaan Lahan, (5). Analisis yang digunakan pembobotan dan overlay peta kelas kerawanan longsor di Objek Wisata Dante Pine dan Sekitarnya Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang, menggunakan data hasil pembobotan lalu menggunakan teknik skoring. Hasil overlay peta menghasilkan peta kerawanan longsor secara relatif berdasarkan data bobot dengan tiga kelas kerawanan yaitu: rendah, sedang, dan tinggi. Arahan mitigasi berdasarkan tipologi kawasan dan tingkat kerawanan longsor di Objek Wisata Dante Pine dan Sekitarnya Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang dilakukan pengaturan penggunaan lahan, pemanfaatan daerah rawan longsor dapat dilakukan dengan cara vegetatif dengan menanam jenis tanaman berakar dalam, dapat menembus lapisan kedap air. This research aims to analyze the vulnerability of landslides at the Dante Pine Tourist Attraction and its Surroundings, Anggeraja District, Enrekang Regency and to find out directions for disaster mitigation at the Dante Pine Tourist Attraction, Anggeraja District, Enrekang Regency. The variables used consist of 5 (five) variables including (1) Soil Type, (2) Rainfall Intensity, (3) Geological Conditions (4) Land Use, (5). The analysis used weighting and overlaying maps of landslide susceptibility classes at the Dante Pine Tourist Attraction and Surroundings, Anggeraja District, Enrekang Regency, using weighted data and then using scoring techniques. The map overlay results produce a relative landslide susceptibility map based on weighted data with three vulnerability classes, namely: low, medium and high. Mitigation directions based on the typology of the area and the level of landslide susceptibility in the Dante Pine Tourist Attraction and its surroundings, Anggeraja District, Enrekang Regency, are to regulate land use. The use of landslide-prone areas can be done in a vegetative way by planting deep-rooted types of plants that can penetrate the waterproof layer.
PENGEMBANGAN PARIWISATA KAMPUNG PENYU DESA BARUGAIA TERINTEGRASI DAN BERKELANJUTAN Muhajir, Humaidid; Tassakka, Asmi Citra Malina A.R.; Assir, Andi; Mandala, Satria; Alimuddin, Ilham; Marmin, Hidayat; Annas, Aswar; Indrayuni, Armi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38274

Abstract

Kampung Penyu Desa Barugaia salah satu tempat wisata yang menaik dan menjadi ikon pariwisata di Kabupaten Kepuluan Selayar. Ragam permasalahan yang terjadi di tempat wisata Kampung Penyu meliputi. Kondisi pantai yang kotor akibat sampah, pesisir pantai terdampak abrasi, prasarana dan sarana pantai wisata rusak, belum tersedianya mapping wilayah dan peta wisata yang terstruktur, belum tersedianya media promosi, kemampuan sumberdaya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terkait sapta pesona masih minim, dan rusaknya penangkaran penyu yang mengancam kepunahan penyu diwilayah ini, dari uraian permasalahan ini sehingga pengembangan pariwisata berkelanjutan sangat perlu dilakukan. Metode pengabdian yang dilakukan menggunakan model. Pertama sosialisasi kegiatan kepada masyarakat, Kedua pelatihan dan penyuluhan terkait teknologi tepat guna yang diberikan, Ketiga penerapan teknologi inovasi yang diberikan, dan Kempat melakukan pendampingan dan evaluasi keberhasilan kegiatan. Hasil penerapan teknologi inovasi pemilah sampah dan pengeruk sampah memanimalisir volume sampah di wilayah pesisir, penataan kelembagaan Pokdarwis yang baik terkait pengelolaan wisata dan sapta pesona, tersedianya inovasi akun promosi dan peta wisata, dan terealisasinya pelestarian penyu yang dilakukan oleh Pokdarwis. Pentingnya hasil pengabdian ini untuk mengembalikan Kampung Penyu sebagai tempat wisata yang terintegrasi dan berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Selayar