Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Health Seeking Behavior Pengobatan Akupuntur Pasien Penyakit Degeneratif Berbasis Health Belief Model Theory Abdullah, Ikhwan; Diana, Sulis; Anggreni, Dhonna
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i5.17435

Abstract

ABSTRACT Degenerative diseases are currently becoming a global problem, including in Indonesia. The results interviews at 5 patients with degenerative diseases that 3 people (60%) had positive health seeking behavior (HSB) by seeking treatment directly to health workers, combining non-pharmacological acupuncture; 2 people (40%) had HSB negative without seeking treatment to health provider, buying various types of drugs at pharmacies. To determine the HSB of Acupuncture Treatment for Patients with Degenerative Diseases Based on the Theory of the HBM. Observational with a cross sectional, the population were all degenerative patients who came to Balai Kesehatan Tradisional Sehat Harmoni Indonesia Malang City with an estimated 3-month of 145 people, sample were 107 people, consecutive sampling, questionnaire instruments, patient medical records, observation sheets, multiple logistic regression data analysis with SPSS. Socioeconomic, knowledge level have an indirect effect on the HSB pattern. through threat beliefs, benefit beliefs; the level of knowledge affects threat beliefs 4.131 times and socioeconomic 0.236 times; knowledge level affected 2,641 times of benefit beliefs, the benefit beliefs affected the compliance of the HSB pattern of acupuncture 8,118 times, and the self-efficacy 7,033 times. Cues to action in the form of professionalism of therapists, where health services have a good image 3,132 times the opportunity to influence HSB compliance with acupuncture treatment. Socioeconomic status and knowledge level only affects threat and benefit beliefs, and health seeking behavior patterns are only influenced by benefit beliefs, self-efficacy and cues to action. Keywords: Health Belief Model Theory, Health Seeking Behavior, Acupuncture, Degenerative Disease  ABSTRAK Penyakit degeneratif saat ini sedang menjadi permasalahan global termasuk di Indonesia. Hasil wawancara 5 orang pasien penderita penyakit degeneratif bahwa 3 orang (60%) memiliki health seeking behavior (HSB) positif dengan mencari pengobatan langsung ke petugas kesehatan, mengkombinasi non farmakologi akupunktur; 2 orang (40%) memiliki HSB  negatif tanpa melakukan tindakan pencarian pengobatan ke tenaga medis, membeli berbagai jenis obat di apotik.  Mengetahui Health Seeking Behavior Pengobatan Akupunktur Pasien Penyakit Degeneratif Berbasis Teori Health Belief Model. Observasional dengan pendekatan cross sectional, populasi seluruh pasien degeneratif yang datang ke Balai Kesehatan Tradisional Sehat Harmoni Indonesia Kota Malang dengan estimasi pasien 3 bulan yaitu 145 orang, sampel 107 orang, teknik consecutive sampling, instrument kuesioner, rekam medis pasien, lembar observasi, analisis data regresi logistik berganda dengan SPSS. Status sosial ekonomi dan tingkat pengetahuan berpengaruh secara tidak langsung terhadap pola HSB. melalui keyakinan ancaman dan keyakinan manfaat, Tingkat pengetahuan mempengaruhi keyakinan ancaman 4,131 kali dan status sosial ekonomi 0,236 kali; tingkat pengetahuan mempengaruhi 2,641 kali keyakinan manfaat, keyakinan manfaat responden mempengaruhi kepatuhan pola HSBakupuntur 8,118 kali, self efficacy sebesar 7,033 kali. Cues to action berupa professionalisme petugas terapis, tempat pelayanan kesehatan memiliki image yang baik dengan peluang sebanyak 3,132 kali mempengaruhi kepatuhan HSB pengobatan akupunktur pasien penyakit degeneratif. Status sosial ekonomi dan tingkat pengetahuan hanya mempengaruhi keyakinan ancaman dan manfaat, dan pola health seeking behavior hanya dipengaruhi oleh keyakinan manfaat, self efficacy dan cues to action. Kata Kunci: Health Belief Model Theory, Health Seeking Behavior, Akupuntur, Penyakit Degeneratif
Asuhan Akupunktur pada Pasien Pasca-Stroke dengan Kesulitan Bicara: Studi Kasus Indah Indrianingtyas; Ikhwan Abdullah; Chantika Mahadini
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2512

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kecacatan yang sering mengakibatkan gangguan fungsi berbicara atau afasia, sehingga berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien. Di Rumah Sehat Indah Pandaan, ditemukan banyak kasus pasca-stroke dengan kesulitan berbicara yang memerlukan intervensi efektif dan holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur pada penderita pasca-stroke yang mengalami kesulitan berbicara di Rumah Sehat Indah Pandaan Kabupaten Pasuruan. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada satu partisipan (Ny. W, 42 tahun) yang mengalami afasia. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi selama enam sesi terapi dengan frekuensi dua kali seminggu menggunakan titik utama Ren-23 (Lianquan), LI-4 (Hegu), GB-20 (Fengchi), ST-40 (Fenglong), DU-15 (Yamen), HT-5 (Tongli), SP-6 (Sanyinjiao), dan KI-3 (Taixi). Hasil penelitian menunjukkan perbaikan signifikan pada kemampuan bicara partisipan yang ditandai dengan artikulasi suara lebih jelas, volume suara meningkat, serta keluhan wajah kebas yang teratasi sepenuhnya. Kemiringan pada bibir dan lidah juga berkurang hingga tampak hampir simetris, serta keluhan penyerta seperti pusing dan pandangan mata berkabut berhasil diatasi. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan studi ini dengan populasi partisipan yang lebih luas dan durasi penelitian yang lebih panjang untuk melihat efektivitas jangka panjang akupunktur pada kasus afasia kronis
Asuhan Akupunktur dalam Menangani Nyeri Leher: Studi Kasus Erlinawati; Chantika Mahadini; Ikhwan Abdullah
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2513

Abstract

ABSTRAK Nyeri leher merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering dijumpai dan dapat memengaruhi aktivitas serta kualitas hidup penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan akupunktur pada pasien dengan nyeri leher. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus terhadap satu partisipan laki-laki berusia 52 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui empat metode pemeriksaan, yaitu pengamatan, pendengaran dan penciuman, wawancara, serta perabaan, dengan validitas data diuji menggunakan triangulasi. Intervensi akupunktur diberikan sebanyak enam sesi terapi selama tiga minggu sesuai prinsip penatalaksanaan nyeri leher. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan keluhan nyeri leher yang dirasakan partisipan. Rentang gerak leher membaik, kekakuan berkurang, dan kualitas tidur meningkat. Perbaikan kondisi umum juga terlihat pada ekspresi wajah, serta temuan lidah dan nadi yang lebih seimbang. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah partisipan yang lebih besar guna memperkuat temuan terkait asuhan akupunktur pada nyeri leher.
Efektivitas Asuhan Akupunktur dalam Mengurangi Nyeri dan Kekakuan pada Kasus Trigger Finger Indrawati Setyono; Mayang Wulandari; Ikhwan Abdullah
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2533

Abstract

Trigger Finger merupakan gangguan muskuloskeletal yang ditandai oleh nyeri dan sensasi mengunci (locking) yang dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Akupunktur adalah terapi komplementer yang relatif aman untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi gerak pada kasus gangguan muskuloskeletal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur pada penderita Trigger Finger di Klinik Aura Akupunktur Jakarta Barat. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode studi kasus dengan sampel satu orang partisipan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode Wang, Wen, Wen, dan Qie. Intervensi dilaksanakan sebanyak enam kali sesi terapi menggunakan titik lokal Ashi (A1 pulley) serta titik distal LI-4, SJ-5, dan SI-3 dengan metode reduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah enam kali terapi, nyeri tajam (stabbing pain) pada jari tangan ke-3 kiri hilang sepenuhnya. Kekakuan, sensasi terkunci, serta bengkak dan nyeri tekan pada area A1 pulley mengalami perbaikan signifikan hingga kembali normal. Penjaruman pada titik-titik tersebut terbukti melancarkan aliran Qi dan darah sehingga memperbaiki fungsi gerak jari. Hasil penelitian ini disarankan menjadi bahan pertimbangan bagi akupunktur terapis dalam memberikan asuhan yang tepat dan aman bagi penderita Trigger Finger.
Efektivitas Akupunktur pada Kasus Xigai Tong (Nyeri Lutut) Widajati; Ikhwan Abdullah; Puspo Wardoyo
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2535

Abstract

Xigai Tong (Nyeri lutut) merupakan keluhan muskuloskeletal yang sering dijumpai dan dapat disertai gejala sistemik menurut kerangka Chinese Medicine, sehingga memerlukan penatalaksanaan yang komprehensif dan individual. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan akupunktur pada penderita Xigai Tong di Griya Sehat Sejati Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan satu klien sebagai subjek penelitian. Asuhan akupunktur diberikan selama enam sesi berdasarkan hasil diagnosis sindrom Chinese Medicine, khususnya Defisiensi Yang Ginjal. Data dikumpulkan melalui observasi klinis dan wawancara terkait keluhan utama dan penyerta sebelum dan setelah terapi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan kondisi klinis klien sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan klinis berupa hilangnya nyeri lutut, berkurangnya rasa dingin pada lutut dan punggung bawah, menurunnya frekuensi buang air kecil pada malam hari, jarangnya keluhan tinnitus, serta membaiknya kualitas tidur klien setelah enam sesi terapi. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar asuhan akupunktur berbasis sindrom Chinese Medicine dipertimbangkan sebagai salah satu pendekatan terapi pada kasus Xigai Tong.
Efektivitas Asuhan Akupunktur dalam Menurunkan Intensitas Nyeri Kepala: Studi Kasus Siti Permas; Ikhwan Abdullah; Leny Candra Kurniawan
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2537

Abstract

Nyeri kepala merupakan keluhan umum yang sering dipengaruhi oleh faktor emosional berkepanjangan, yang dapat menurunkan kualitas hidup dan fungsi harian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil asuhan akupunktur pada kasus nyeri kepala yang berkaitan dengan faktor emosi di Rumah Sehat Wellagree Bogor. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan satu subjek yang menerima enam sesi terapi akupunktur. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik, termasuk evaluasi titik akupunktur dan karakteristik nadi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan, ditandai dengan hilangnya nyeri kepala, membaiknya kualitas tidur, berkurangnya konstipasi, penurunan ketegangan emosional, serta ekspresi wajah dan refleks gerak yang lebih normal. Titik-titik akupunktur yang sebelumnya nyeri menjadi tidak sensitif, dan karakter nadi tampak lebih harmonis. Temuan ini menegaskan peran akupunktur tidak hanya dalam meredakan nyeri, tetapi juga dalam mendukung regulasi psikoemosional dan keseimbangan tubuh secara holistik. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar praktik akupunktur mempertimbangkan aspek emosional sebagai faktor penting dalam penatalaksanaan nyeri kepala.
Implementasi Asuhan Akupunktur untuk Mengurangi Frekuensi Kekambuhan Asma: Studi Kasus Yekti Andriani; Amal Prihatono; Ikhwan Abdullah
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2538

Abstract

Asma merupakan gangguan pernapasan kronis yang dapat menurunkan kualitas hidup dan sering dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk paparan cuaca dingin. Pendekatan Chinese Medicine memandang asma sebagai kondisi kegagalan Qi Paru untuk turun akibat akumulasi dahak dingin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil Asuhan Akupunktur pada penderita Asma. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada satu klien perempuan berusia 44 tahun yang menjalani enam sesi terapi akupunktur selama tiga minggu di Klinik Bhakti Husada Bekasi. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan akupunktur empat cara, wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kualitatif melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan induktif. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan intensitas sesak napas, berkurangnya rasa tertekan di dada, serta pernapasan yang dirasakan lebih lega. Batuk dan produksi dahak masih ditemukan, namun jumlahnya berkurang dan lebih mudah dikeluarkan, disertai peningkatan kekuatan suara dan berkurangnya frekuensi sighing. Pemeriksaan lidah menunjukkan selaput yang semakin tipis dan tidak lengket, sedangkan nyeri tekan pada titik Zhongfu (LU 1) menurun. Berdasarkan temuan tersebut, Asuhan Akupunktur disarankan sebagai terapi pendukung dalam penatalaksanaan Asma dengan Sindrom Dahak Dingin.
Efektivitas Asuhan Akupunktur terhadap Penurunan Intensitas Vertigo: Studi Kasus Edison; Puspo Wardoyo; Ikhwan Abdullah
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2541

Abstract

Vertigo merupakan gangguan keseimbangan yang dapat menurunkan kualitas hidup dan sering disertai keluhan penyerta seperti gangguan tidur, ketidakstabilan emosional, serta keluhan gastrointestinal. Pendekatan akupunktur dalam kerangka Chinese Medicine dipandang relevan karena menekankan keseimbangan Qi, Darah, serta harmonisasi Yin dan Yang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas asuhan akupunktur dalam menurunkan intensitas vertigo. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan satu partisipan penderita vertigo yang menjalani enam sesi terapi akupunktur. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan akupunktur yang meliputi pengamatan (Wang), pendengaran dan penciuman (Wen), wawancara (Wen), serta perabaan (Qie). Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan kondisi klinis sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah enam sesi terapi terjadi penurunan frekuensi vertigo hingga jarang muncul, perbaikan kualitas tidur, berkurangnya keluhan overthinking, serta hilangnya nyeri ulu hati. Selain itu, ditemukan perbaikan pada tanda objektif berupa perubahan kondisi lidah, kualitas suara, serta kekuatan nadi. Berdasarkan temuan tersebut, asuhan akupunktur disarankan untuk dipertimbangkan sebagai pendekatan terapeutik dalam penatalaksanaan vertigo secara komprehensif.
Acupuncture Care For Gastritis Sufferers At Griya Bimaristan Qisthi Banda Aceh Habeib, Rinaldi; Abdullah, Ikhwan; Mahadini, Chantika; Wulandari, Mayang
International Journal of Science and Environment (IJSE) Vol. 6 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : CV. Inara in Colaboration with www.stie-sampit.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijse.v6i1.343

Abstract

Gastritis is a common digestive disorder in adults with irregular lifestyles and eating patterns. This qualitative case study collected data through four traditional examination methods: observation (Wang), hearing and smell (Wen), interviews (Wen), and palpation (Qie), complemented by documentation. The participant, a 31-year-old male with heartburn, received six sessions of acupuncture therapy. Based on the examination results, a diagnosis of Deficient Spleen and Cold Stomach Syndrome was made. The evaluation showed positive progress, with a significant reduction in heartburn, accompanied by an improvement in appetite, and the elimination of bloating and nausea. This case study is expected to provide additional material to enrich the knowledge of acupuncture students. For future researchers, this report can serve as a reference for treating stomach pain with an acupuncture approach. For the wider community, these findings reinforce acupuncture as an effective and safe therapeutic modality for functional stomach disorders, in addition to available conventional treatment options.
Asuhan Akupunktur pada Penderita Kecemasan di Rumah Sehat Alam Borneo Sangatta Wahyudi, Deddy Eko; Wulandari, Mayang; Abdullah, Ikhwan; Candra, Leny
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/-.v8i2.446

Abstract

Gangguan kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang berdampak kompleks pada aspek fisik dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan asuhan akupunktur pada penderita kecemasan di Rumah Sehat Alam Borneo Sangatta, propinsi Kalimantan Timur. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada seorang partisipan laki-laki berusia 51 tahun yang mengalami kecemasan berat dan insomnia. Berdasarkan pemeriksaan Traditional Chinese Medicine (TCM), partisipan didiagnosis mengalami sindrom Stagnasi Qi Hati disertai Defisiensi Qi Limpa. Intervensi dilakukan sebanyak enam sesi selama empat minggu pada Desember 2025 menggunakan titik utama Taichong (LR3), Neiguan (PC6), Shenmen (HT7), Zusanli (ST36), Sanyinjiao (SP6), dan Baihui (GV20). Hasil penelitian menunjukkan perbaikan signifikan baik secara subjektif maupun objektif. Keluhan cemas menurun, kualitas tidur membaik dari sulit tidur menjadi 5–6 jam per malam, serta keluhan penyerta seperti gangguan pencernaan dan kelelahan teratasi. Secara objektif, kondisi Shen menjadi segar, selaput lidah menipis, dan nadi menjadi stabil. Disimpulkan bahwa terapi akupunktur efektif dalam menangani gangguan kecemasan dengan prinsip menenangkan Shen, melancarkan aliran Qi, dan menguatkan Limpa.