Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Flourishing Journal

Sleep Paralysis Ditinjau dari Perspektif Neuropsikologi: Kajian Literatur Basa Dewangga Yuda; Gemma Gelvani Putri; Nadhif Ramadhan; Nur Amin Barokah Asfari
Flourishing Journal Vol. 3 No. 6 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i62023p223-226

Abstract

The paralysis that occurs when waking up causes fear and anxiety, called sleep paralysis (SP). SP occurs between the stages of sleep and wakefulness. When SP occurred, the subject felt fully awake but unable to move, perceived with sensations such as chest pressure, shortness of breath, and hallucination of images of scary figures. The muscle paralysis that occurs in REM functions to protect oneself from making dangerous movements while dreaming. Muscle atonia that continues into the next stage causes SP. SP is often identified with folklore related to supernatural phenomena. The hallucinations that arise in SP are associated with creepy creatures in certain cultural contexts. For example, in Indonesia, it is commonly referred to as trance due to the disturbance of spirits. Neurologically, SP can be explained scientifically where during sleep, the CNS remains active, but muscle movement is paralyzed. The shadows seen in SP are influenced by cognitive roles. Several factors are thought to cause SP, including sleep quality, psychological factors such as trauma and anxiety, and stressful environmental factors. AbstrakKelumpuhan yang terjadi ketika bangun tidur menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Secara medis, kondisi ini disebut dengan sleep paralysis (SP) atau kelumpuhan tidur yang terjadi antara tahap tidur dan terjaga. Pada SP, subjek seolah-olah merasa terjaga sempurna, namun tidak mampu bergerak, disertai sensasi berupa dada terasa tertekan, sesak napas, dan muncul bayangan sosok menyeramkan. Kelumpuhan otot gerak yang terjadi REM berfungsi untuk melindungi diri agar tidak melakukan gerakan membahayakan ketika sedang bermimpi. Atonia otot yang berlanjut ke tahap berikutnya menimbulkan SP. SP kerap diidentikkan dengan folklore terkait fenomena supranatural. Halusinasi yang muncul pada SP dikaitkan dengan makhluk menyeramkan di konteks budaya tertentu, misalnya di Indonesia yang familiar disebut “ketindihan” akibat gangguan makhluk halus. Secara neurologis, SP dapat dijelaskan secara ilmiah dimana pada saat tidur CNS tetap aktif namun otot gerak mengalami kelumpuhan. Bayangan yang terlihat pada SP dipengaruhi oleh peran kognitif. Beberapa faktor diduga menjadi penyebab munculnya SP, diantaranya kualitas tidur, faktor psikologis berupa trauma dan kecemasan, serta faktor lingkungan yang penuh tekanan.
Pengembangan Aktualisasi Diri: Kajian Pustaka tentang Faktor Penghambat dan Strategi Pendukung Fahmida Azzahra; Nur Amin Barokah Asfari
Flourishing Journal Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i22024p84-92

Abstract

According to Maslow, every person has five basic needs, one of which is the need for self-actualization, which occupies the highest position in the level of needs. This article aims to determine the importance of self-actualization and the factors that influence self-actualization through a literature review method. The literature was selected based on research articles published in journals over the last five years, which were then analyzed based on aspects of the five levels of human needs according to Abraham Maslow. The analysis results show that the driving factors for self-actualization are motivation, failure, belief or mindset, courage, social relationships, and self-acceptance. There are two inhibiting factors, namely internal factors, which include not knowing one's potential, feelings of doubt and fear, and looking too simply at life, while external factors include community culture, environmental factors, and bullying. Self-actualization can be achieved through strategies such as knowing yourself, building self-confidence and self-compassion, building a growth mindset, maintaining mental health (psychological well-being), being oriented toward others (client-centered), as well as carrying out various positive activities. AbstrakMenurut Maslow, setiap orang memiliki lima kebutuhan dasar, Salah satunya kebutuhan aktualisasi diri, yang menduduki posisi tertinggi dalam tingkatan kebutuhan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya aktualisasi diri beserta faktor-faktor yang memengaruhi aktualisasi diri melalui metode literature review. Pustaka dipilih berdasarkan artikel penelitian yang diterbitkan pada jurnal selama lima tahun terakhir, yang kemudian dianalisis berdasarkan aspek lima tingkat kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pendorong aktualisasi diri adalah motivasi, kegagalan, keyakinan atau mindset, keberanian, hubungan sosial, dan penerimaan diri. Faktor penghambatnya terdapat dua yaitu faktor internal, yang meliputi ketidak-tahuan akan potensi yang dimilikinya, perasaan ragu dan takut, serta terlalu memandang sederhana kehidupan, sedangkan faktor eksternal meliputi budaya masyarakat, faktor lingkungan, dan bullying. Aktualisasi diri dapat dicapai melalui strategi seperti mengenali diri sendiri, membangun kepercayaan diri, mencintai diri (self-compassion), membangun pola pikir yang berkembang (growth mindset), menjaga kesehatan mental (psychological well-being), berorientasi pada orang lain (client centered), serta melakukan berbagai kegiatan positif.
Validitas dan Reliabilitas Skala Kesepian Harwanto, Aditya Putra; Putri, Seilla Selviana; Yulingga, Sevina Dwi; Asfari, Nur Amin Barokah
Flourishing Journal Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i12025p48-57

Abstract

New students often face adaptation challenges that can lead to loneliness, which can affect psychological well-being and academic achievement. This study aims to develop a valid and reliable loneliness measurement scale specific to freshmen, based on the previous theory of loneliness by Russell (1978). The approach used a 5-point Likert scale with participants totaling 99 freshmen selected using a purposive sampling method. The validation process involved content validity testing by experts using Aiken's V and construct validity analysis through Confirmatory Factor Analysis (CFA). The validity test results showed Aiken's V ≥ 0.91 and model fit with indicators of RMSEA = 0.075, CFI = 0.923, and TLI = 0.914. The reliability of the scale calculated using Cronbach Alpha was 0.950, indicating excellent internal consistency. Of the initial 27 items, 20 items were retained after psychometric testing. This instrument contributes to the development of psychological measurement tools to support more targeted interventions to reduce loneliness in freshmen. AbstrakMahasiswa baru acap kali menghadapi tantangan adaptasi yang dapat memunculkan rasa kesepian, kondisi tersebut dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis dan prestasi akademik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan skala pengukuran kesepian yang valid dan reliabel yang spesifik untuk mahasiswa baru, berdasarkan teori kesepian terdahulu oleh Russell (1978). Pendekatan ini menggunakan skala Likert 5 poin dengan partisipan berjumlah 99 mahasiswa baru yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Proses validasi melibatkan uji validitas isi oleh ahli menggunakan Aiken’s V dan analisis validitas konstruk melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil uji validitas menunjukkan Aiken’s V ≥ 0,91 dan model fit dengan indikator RMSEA = 0,075, CFI= 0,923, dan TLI = 0,914. Reliabilitas skala dihitung menggunakan Cronbach Alpha sebesar 0,950, menunjukkan konsistensi internal yang sangat baik. Dari 27 item awal, 20 item dipertahankan setelah uji psikometrik. Instrumen ini berkontribusi pada pengembangan alat ukur psikologi untuk mendukung intervensi yang lebih terarah dalam mengurangi kesepian pada mahasiswa baru.