Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular pada Remaja di Daerah Perkotaan: Studi di SMA Muhammadiyah 2 Jakarta Wilda Yunieswati; Anisa Sekar Widhi; Rosyanne Kushargina; Almira Nuraelah
PHARMADEMICA : Jurnal Kefarmasian dan Gizi Vol 5 No 2 (2026): Oktober - Maret
Publisher : LPPM-KI - POLTEKKES PIM (Formerly AKAFARMA-AKFAR PIM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54445/pharmademica.v5i2.98

Abstract

All age groups, including children, teenagers, adults, and the elderly, are at risk for non-communicable diseases (NCDs). One of the places where non-communicable illnesses may become more prevalent is urban areas. Changes in urban lifestyles may contribute to the rising prevalence of non-communicable illnesses. Basic research is necessary to understand the picture of infectious illnesses and associated risk factors, particularly in urban areas, since the growing number of NCD cases is predicted to raise the cost on the government and society. A cross-sectional research approach was employed in this investigation. The research was carried out at SMA Muhammadiyah 2 Jakarta. Eighty-one people were chosen as samples using simple random selection. Body weight, height, blood sugar, and uric acid levels measured directly are examples of primary data. In the meanwhile, questionnaires and interview techniques were used to gather information on respondent characteristics, medical history, and risk factors. The majority of responders reported normal uric acid levels (95.1%) and normal random blood sugar levels (93.8%). Nutritional status, breakfast routines, eating habits, smoking habits, personal and family medical histories, and physical activity are risk factors for non-communicable illnesses. Type 2 diabetes mellitus and uric acid were the non-communicable illnesses examined in this study; the chi-square test revealed no significant correlation between infectious diseases and their risk variables in the participants.
Hubungan antara Asupan Energi dan Asupan Lemak dengan Kejadian Obesitas pada Remaja di SMA Muhammadiyah Al-Kautsar PK Kartasura Kabupaten Sukoharjo Saifa Adiena Nusantoro; Anisa Sekar Widhi
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.968

Abstract

Obesity (>+2 SD) in adolescents due to long-term high energy and fat consumption risks disrupting growth and triggering cardiovascular diseases. This observational analytic study with a cross-sectional design aimed to determine the relationship between energy and fat intake and the incidence of obesity among adolescents at SMA Muhammadiyah Al-Kautsar PK Kartasura. From a population of 78 adolescents, a sample of 65 adolescents aged 16–18 years was selected. Obesity was measured using the BMI-for-age index, while dietary intake data were obtained through interviews using the SQ-FFQ questionnaire over the last 3 months. Data were analyzed using Fisher’s Exact Test. The results showed that 15 adolescents (23.1%) were obese, 15 adolescents (23.1%) had high energy intake, and 17 adolescents (26.2%) had high fat intake. There was a significant relationship between energy intake (p=0.000) and fat intake (p=0.000) with obesity. Adolescents with excessive energy and fat intake were 156 and 219 times more likely to experience obesity.
Edukasi Cegah Balita Gizi Kurang dan Jaga Tumbuh Kembang Anak kepada Ibu Balita Syechilla Alayda Rahcman; Khesya Amelia; Tania Nisrina Putri; Zelda Lola Aurellia Sava; Anisa Sekar Widhi
Jurnal Abdimas Kedokteran dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2024): Jurnal Abdimas Kedokteran dan Kesehatan (JARAS)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jaras.2.2.101-108

Abstract

Gizi kurang (wasting) merupakan kondisi yang menggambarkan individu dengan berat badan yang kurang berdasarkan tinggi badannya. Prevalensi gizi kurang menurut Survey Status Gizi Indonesia tahun 2024 adalah sebesar 6,2% yang terkategori tinggi jika dibandingkan target WHO untuk penurunan gizi kurang dibawah 5%. Tujuan utama dari kegiatan penyuluhan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang pentingnya mencegah gizi kurang melalui pemanfaatan layanan posyandu secara optimal. Metode yang digunakan pada penyuluhan ini ialah ceramah interaktif menggunakan bantuan media visual seperti poster dan leaflet. Materi mencakup pengenalan tentang gizi kurang, tanda dan penyebab, dan dampak terhadap tumbuh kembang anak, serta pencegahan gizi kurang. Hasil pre-post yang telah dilakukan, didapatkan hasil peningkatan skor pengetahuan ibu balita mengenai gizi kurang meningkat dari 18,2% (sangat kurang), menjadi 100% (sangat baik) setelah edukasi dilakukan. Informasi yang diberikan telah berhasil meningkatkan pengetahuan ibu balita dalam mencegah gizi kurang.
Hubungan Asupan Energi dan Zat Gizi Makro dengan Indeks Massa Tubuh pada Mahasiswa Program Studi Gizi Universitas Muhammadiyah Jakarta Anisa Sekar Widhi; Wilda Yunieswati; Umratul Jannah
Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF) Vol. 7 No. 1 (2026): Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mjnf.7.1.1-9

Abstract

Latar Belakang: Masalah gizi pada mahasiswa di Indonesia masih menjadi perhatian. Status gizi merupakan indikator kesehatan yang penting, dan asupan makan adalah salah satu faktor yang memengaruhinya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan energi dan makronutrien dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada mahasiswa Gizi. Metode: Penelitian cross-sectional ini dilakukan pada bulan Januari hingga Mei 2026 di Program Studi Sarjana Gizi, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Jakarta. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan), serta asupan makan yang dinilai menggunakan dua kali recall 24 jam. Sebanyak 76 mahasiswa dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (92,1%). Asupan tidak cukup ditemukan pada energi (73,7%), protein (38,2%), lemak (50,0%), dan karbohidrat (85,5%); sebanyak 51,3% responden mengalami gizi lebih (overweight). Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara asupan energi, protein, lemak, maupun karbohidrat dengan status gizi (p>0,05). Simpulan: Penelitian ini menemukan tidak adanya hubungan yang signifikan antara asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat dengan status gizi, kemungkinan karena data recall jangka pendek tidak dapat menggambarkan keseimbangan energi jangka panjang yang menentukan status gizi. Status gizi tampaknya lebih dipengaruhi oleh faktor gaya hidup yang bersifat kumulatif dibandingkan hanya oleh asupan saat ini.