Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pelatihan Pelacakan Dan Pemasangan Tanda Batas Persil Tanah Masyarakat Desa Tanjung Batu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara Arifin, Dawamul; Kurniadin, Nia; Suryalfihra, Shabri Indra; Wumu, Romansah; Insanu, Radik Khairil; Fadlin, Feri; Prasetya, F. V. Astrolabe Sian
Sewagati Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i2.2486

Abstract

Pelatihan Pelacakan dan Pemasangan Tanda Batas Persil Tanah di Desa Tanjung Batu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya tanda batas tanah dan cara pelacakannya. Kegiatan ini melibatkan metode sosialisasi, pelatihan, dan praktik langsung menggunakan alat GNSS Geodetik serta aplikasi berbasis Android. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta dalam pelacakan, pengukuran, dan pemasangan tanda batas. Diskusi dua arah mengidentifikasi kebutuhan mendesak akan informasi legalitas tanah. Post-test mengindikasikan kepuasan peserta terhadap pelatihan, yang berdampak pada persiapan masyarakat menyambut program PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap). Pelatihan ini juga menjadi media aplikatif bagi mahasiswa dalam implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Analisis Karakteristik Morfometri Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk Mendukung Kajian Risiko Banjir di Kota Bontang Kalimantan Timur Najma Nur Mawaddah; Feri Fadlin; Andi Baso Sofyan
geoedusains: Jurnal Pendidikan Geografi Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/geoedusains.v6i1.4831

Abstract

Penelitian ini mengkaji karakteristik morfometri Daerah Aliran Sungai (DAS) Bontang, Kalimantan Timur, yang sangat penting untuk memahami dinamika hidrologi dan risiko banjir di kawasan tersebut. DAS Bontang dengan luas 57,03 km² dan panjang 23,25 km memiliki kemiringan basin yang sangat landai sebesar 0,18%, serta bentuk basin yang cenderung memanjang dengan rasio elongasi 0,37 dan circularity ratio 0,21. Metode analisis menggunakan perangkat lunak HEC-HMS versi 4.11 untuk memodelkan parameter morfometri dan simulasi hidrologi secara terintegrasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa kombinasi topografi landai, bentuk basin memanjang, dan kerapatan sungai sedang (0,29 km/km²) mempengaruhi perilaku aliran permukaan dengan potensi genangan serta waktu respon hidrologi yang moderat. Karakteristik ini berimplikasi pada peningkatan risiko banjir terutama saat hujan deras tiba-tiba. Studi ini merekomendasikan optimalisasi sistem drainase serta integrasi data morfometri dan pemodelan hidrologi untuk memberikan basis ilmiah yang kuat untuk
Pemetaan Sebaran Nilai Koefisien Aliran Permukaan Soil Conservation Services Curve Number Pada Daerah Aliran Sungai Karangmumus Kota Samarinda Fadlin, Feri; Mawaddah, Najma Nur
geoedusains: Jurnal Pendidikan Geografi Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/geoedusains.v5i2.4950

Abstract

Penelitian ini bertujuan memetakan dan menganalisis nilai Soil Conservation Service Curve Number (SCS-CN) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Karangmumus untuk menilai potensi limpasan permukaan dan risiko banjir. Data litologi, tutupan lahan, dan karakteristik tanah diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menghasilkan peta sebaran nilai CN. Hasil menunjukkan nilai rata-rata CN sebesar 73,88, mengindikasikan potensi limpasan permukaan yang cukup tinggi, terutama di area dengan tanah bertekstur halus dan tutupan lahan terdegradasi akibat aktivitas manusia. Variasi spasial nilai CN dipengaruhi oleh heterogenitas litologi dan penggunaan lahan, yang berdampak pada infiltrasi dan erosi. Rekomendasi konservasi meliputi penerapan teknologi bioengineering, pembangunan sumur resapan, dan pengembangan agroforestri untuk mengurangi limpasan dan risiko banjir. Monitoring dan evaluasi berkala dengan teknologi penginderaan jauh disarankan untuk mendukung pengelolaan DAS yang berkelanjutan. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bagi pengelolaan sumber daya air dan mitigasi bencana di DAS Karangmumus.
Analisis Data DEM untuk Hidroponik Presisi: Menemukan Lokasi Penyinaran Matahari yang Optimal (Studi Kasus: Rooftop di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda) Prasetya, F. V. Astrolabe Sian; Kurniadin, Nia; Fadlin, Feri
GEOID Vol. 19 No. 2 (2024)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v19i2.1209

Abstract

Pertumbuhan penduduk Kalimantan Timur yang sangat cepat dan juga pelaksanaan kegiatan pertanian di Kalimantan Timur yang relatif rendah menimbulkan permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di Kalimantan Timur. Dalam usaha meningkatkan pelaksanaan kegiatan pertanian di Kalimantan Timur, perlu dilakukan pertanian skala mikro, yaitu dengan melakukan pertanian hidroponik dengan memanfaatkan lahan kosong di atas gedung (rooftop). Untuk meningkatkan keberhasilan dalam pertanian mikro tersebut, perlu memperhatikan lama penyinaran matahari pada lokasi pertanian tersebut. Dengan berkembangnya teknologi GIS dan Remote Sensing, hal ini dapat memungkinkan untuk dilakukan kajian penentuan lokasi yang optimal untuk pertanian pintar (smart farming) hidroponik, khususnya pada parameter lama penyinaran matahari di lingkungan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Salah satu data spasial yang dapat digunakan dalam kajian ini adalah data Digital Elevation Model (DEM) dari pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV). Berbagai metode analisis spasial dapat diterapkan untuk dapat mengekstraksi nilai lama penyinaran matahari pada suatu lokasi, salah satunya adalah penentuan area bayangan sinar matahari (Hillshade) dan teknik penjumlahan dengan pembobotan (Weighted Sum). Hasil Dari penelitian ini didapatkan bahwa ada 3 Gedung yang memiliki kriteria cocok sebagai rencana lokasi hidroponik, yaitu antara lain: a) Gedung I, dengan luas 172.5 m2 dan lama penyinaran maksimal 12 jam/hari; b) antara GedungG dan H, dengan luas 130 m2 dan lama penyinaran maksimal 12 jam/hari; serta Gedung E, dengan luas 737,49 m2 dan lama penyinaran maksimal 12 jam/hari. Dari hasil kajian dimana didapatkan area yang sesuai dan memiliki lama penyinaran matahari yang optimal di lingkungan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, memberikan gambaran bagi pelaku pertanian, baik dosen maupun mahasiswa, dapat mengembangkan pertanian pintar hidroponik pada lokasi rooftop tersebut. Selain itu penelitian ini dapat tingkatkan lebih lanjut untuk mengkaji lokasi yang optimal untuk produksi daya mandiri (Panel Surya) sebagai supply daya pada kebutuhan pertanian pintar hidroponik selanjutnya.
Studi Pemodelan Pola Arus dan Kedalaman Sungai Mahakam di Bawah Jembatan Mahakam Kembar Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Keselamatan Pelayaran Kurniadin, Nia; Insanu, Radik Khairil; Fadlin, Feri; Sutaji, Ahmad Aris Mundir
GEOID Vol. 19 No. 2 (2024)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v19i2.1257

Abstract

Survei Batimetri adalah kegiatan survei lapangan untuk mendapatkan kondisi topografi dasar perairan, data kedalaman, data pasang surut, maupun lokasi obyek yang membahayakan pelayaran. Survei batimetri pada penelitian ini berlokasi di Sungai Mahakam untuk mengetahui kondisi topografi dasar perairan dan data hidrografi lainnya. Kecelakaan sering terjadi di jalur lalu lintas sungai Mahakam (di bawah jembatan Mahakam Kembar). Selama tahun 2019 sampai 2021, kapal tongkang menabrak jembatan Mahakam Samarinda sebanyak 4 kali di pilar sisi jembatan Mahakam yang lama. Permasalahan tersebut melatarbelakangi penelitian ini untuk mengetahui kedalaman dan arus sungai sebagai salah satu faktor penyebab kecelakaan. Metode yang digunakan adalah metode lapangan dan permodelan arus sungai. Metode lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer berupa data kedalaman, pasang surut serta data arus yang dibutuhkan untuk membuat permodelan pola arus sungai. Permodelan arus sungai menggunakan software HEC-RAS dengan menggabungkan data debit rata-rata, kondisi topografi dan objek jembatan yang berpengaruh. Asumsi aliran sungai Mahakam adalah aliran sungai tak tunak (unsteady flow) dengan debit hulu dan debit hilir sama. Hasil dari penelitian ini, kedalaman di sekitar bawah jembatan berkisar antara -42 sampai -10 m. Hasil pemodelan pola arus melingkar di bawah jembatan dengan kecepatan 0,330 - 0,420 m/s. Kecepatan dan debit rata-rata dari sungai Mahakam berkisar 0,339 m/s dengan debit sebesar 1070,84 m3/s. Hasil simulasi permodelan menunjukkan di pondasi tengah jembatan Mahakam lama dan jembatan Mahakam baru memiliki nilai kecepatan arus yang lebih tinggi daripada sekitarnya. Kecepatan arus ini yang dapat menyebabkan kapal hilang haluan. Pada tiang pondasi tengah jembatan Mahakam lama, daerah dekat fender pengaman jembatan, tersimulasikan arus yang memutar. Pada kasus kecelakaan kapal, pondasi jembatan yang ditabrak berada disisi pengaman fender dan pondasi tengah. Kejadian tersebut bisa disebabkan karena arus memutar tersebut.
Pemetaan Daerah Rawan Banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Suli Kabupaten Luwu Insanu, Radik Khairil; Fadlin, Feri; Prasetya, F.V. Astrolabe Sian
Poltanesa Vol 23 No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : P3KM Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/tanesa.v23i1.1001

Abstract

Bencana banjir merupakan salah satu masalah klasik yang sangat sering melanda Indonesia, khususnya di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS). Salah satu aspek yang menjadi bagian dari kajian kebencanaan banjir adalah unsur kerawanan/ ancaman/ bahaya (hazard). Komponen kerawanan/ bahaya dapat didefinisikan sebagai sebuah ancaman yang memiliki potensi menyebabkan kerugian pada manusia baik kerugian materil maupun jiwa. Penelitian ini mengkaji aspek kerawanan bencana banjir pada DAS Suli Kabupaten Luwu. Ruang lingkup substansial dari penelitian ini mencakup penyusunan dan pembuatan peta topografi, perhitungan debit banjir rencana dan data historis kejadian banjir, serta penyusunan peta daerah rawan banjir pada DAS Suli Kabupaten Luwu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hidrologi dan hidrolika serta memetakan daerah rawan banjir DAS Suli Kabupaten Luwu. Metode yang digunakan penelitian ini adalah survei pengumpulan data ketinggian banjir historis dan simulasi numerik 2D Hec-Ras. Hasil analisis debit banjir rencana menunjukkan bahwa, banjir yang terjadi di DAS Suli Kabupaten Luwu termasuk dalam kejadian kala ulang 50 tahun, sedangkan kapasitas tampung maksimum sungai suli adalah pada debit kala ulang 5 tahun. Pemetaan daerah rawan banjir dilakukan dengan mengkombinasikan hasil simulasi numerik 2 dimensi hec ras dengan data primer hasil survei dan pengukuran elevasi banjir historis pada DAS Suli. Hasil analisis menunjukkan korelasi yang kuat antara data kedalaman banjir hasil simulasi dengan kedalaman banjir historis dengan nilai korelasi 96,03%. Hasil pemetaan daerah rawan banjir menunjukkan bahwa kelurahan Suli Kecamatan Suli sebagai daerah dengan luas wilayah terbesar terkena banjir. luas genangan untuk klasifikasi tingkat bahaya banjir rendah (<0.76m) adalah 172,96 Ha, Tingkat bahaya banjir sedang (0.76m – 1.5m) adalah 84,70 Ha, dan Tingkat bahaya banjir tinggi (>1.5m) adalah 87,09 Ha.
ANALISIS TINGKAT KERAWANAN KEKRITISAN LINGKUNGAN MENGGUNAKAN METODE ENVIRONMENTAL CRITICALITY INDEX (ECI) DI KOTA BANJARBARU Sofyan A. P., Andi Baso; Fadlin, Feri; Insanu, Radik Khairil; Suriani, Lili; Maulana S., Fuad Agung
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i3.270-283

Abstract

 AbstrakPeningkatan jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan di Kota Banjarbaru diprediksi akan terus meningkat. Oleh karena itu, penelitian mengenai monitoring perubahan kondisi dan tingkat kerawanan kekritisan lingkungan sangat penting dilakukan di wilayah ini untuk memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan yang diperlukan dalam perencanaan dan pengelolaan pembangunan utamanya di wilayah perkotaan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan memetakan perubahan kondisi berbagai parameter serta tingkat kerawanan kekritisan lingkungan di Kota Banjarbaru dengan metode Environmental Criticality Index (ECI). Analisis kekritisan lingkungan dengan metode ECI melalui pengolahan data citra penginderaan jauh Landsat 8-9 OLI/ TIRS untuk menghasilkan kondisi berbagai parameter kerawanan kekritisan lingkungan meliputi suhu permukaan wilayah, indeks kerapatan vegetasi, indeks kerapatan bangunan, dan indeks perairan. Di mana berdasarkan penelusuran penulis, kajian kekritisan lingkungan dengan metode ECI memanfaatkan citra Landsat-9 sebagai seri landsat terbaru belum pernah dilakukan utamanya di Kota Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukkan berbagai parameter kekritisan lingkungan tersebut mengalami perubahan yang cukup dinamis sejak tahun 2014 hingga tahun 2023. Sementara itu, hasil analisis data menggunakan metode ECI menunjukkan luas wilayah dengan tingkat kerawanan rendah mengalami kekritisan lingkungan pada tahun 2023 di Kota Banjarbaru yakni 19.512,5 hektar. Luas wilayah dengan tingkat kerawanan sedang yakni 12.044,2 hektar. Sementara luas wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi mengalami kekritisan lingkungan mencapai 1.365,7 hektar.Kata kunci: Kekritisan lingkungan, metode ECI, Kota Banjarbaru.AbstractThe increase in population and developmental activities in Banjarbaru City is anticipated to continue to rise. Therefore, conducting research on monitoring environmental condition changes and vulnerability levels is crucial in this area to provide essential environmental information necessary for urban development planning and management. The primary aim of this research is to analyze and map changes in various parameters conditions and the level of environmental criticality in Banjarbaru City using the Environmental Criticality Index (ECI) method. The environmental criticality analysis with the ECI method involves processing Landsat 8-9 OLI/ TIRS remote sensing image data to generate different parameters vulnerability levels, including surface temperature, vegetation density index, building density index, and water index. The author notes that environmental criticality studies utilizing Landsat-9 imagery, as the latest Landsat series, have not been primarily conducted in Banjarbaru City before. The research findings indicate dynamic changes in various environmental criticality parameters from 2014 to 2023. Moreover, the analysis results using the ECI method reveal the extent of low vulnerability areas experiencing environmental criticality in 2023 in Banjarbaru City, totaling 19,512.5 hectares. Areas with moderate vulnerability cover 12,044.2 hectares, while those with high vulnerability cover 1,365.7 hectares.Keywords: Environmental criticality, ECI method, Banjarbaru City.
Assessment of Local Communities' Climate Vulnerability in Lampung: Case Study on Buffering Villages at Way Kambas National Park Nuzula Elfa Rahma; Erna Rositah; Suparjo; F.V. Astrolabe Sian Prasetya; Feri Fadlin; Yulma; Joko Triyono
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 5 No. 1 (2026): AQUACOSTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v5i1.24963

Abstract

Communities in Lampung province, Indonesia, are at the forefront of climate change impacts. Hence, this study aims to determine the climatic vulnerability of Lampung local communities. The study encompasses multifaceted aspects of climate exposure and its impact on the local communities of three resorts (Kuala Penet, Susukan Baru, Cabang). The analysis consists of examining historical climate patterns and how they correspond to the community's climate vulnerability. The analysis covers historical climate data from the period of 2004 to 2024, which includes the daily temperature (maximum, minimum, and average value) and daily precipitation. Furthermore, interviews and Focus Group Discsussions are conducted to obtain information from the communities. The data is then interpreted by using the DPSIR framework. It reveals that inland and coastal communities differ regarding these aspects: risk exposure, sensitivity, and adaptive capabilities. When it comes to exposure, inland agricultural communities face risks from drought, soil degradation, and unpredictable rainfall. Meanwhile, coastal communities are affected by rising temperatures, rising sea levels, tidal floods, coastal erosion, and the depletion of fish stocks. Sensitivity is measured by means of livelihood, socioeconomic status, and access to healthcare. Marginalized groups, particularly the poor and elderly, face compounded risks due to limited healthcare access and displacement threats, with the most vulnerable being the coastal communities of Cabang Resort. Furthermore, when it comes to adaptive capabilities, both terrestrial and coastal communities in Lampung have very limited capacities to anticipate most of the climate change impacts. Strengthening climate resilience will require targeted interventions, including improvement of infrastructure, access to healthcare and disaster readiness programs.
Assessment of Local Communities' Climate Vulnerability in Lampung: Case Study on Buffering Villages at Way Kambas National Park Nuzula Elfa Rahma; Erna Rositah; Suparjo; F.V. Astrolabe Sian Prasetya; Feri Fadlin; Yulma; Joko Triyono
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 5 No. 1 (2026): AQUACOSTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v5i1.24963

Abstract

Communities in Lampung province, Indonesia, are at the forefront of climate change impacts. Hence, this study aims to determine the climatic vulnerability of Lampung local communities. The study encompasses multifaceted aspects of climate exposure and its impact on the local communities of three resorts (Kuala Penet, Susukan Baru, Cabang). The analysis consists of examining historical climate patterns and how they correspond to the community's climate vulnerability. The analysis covers historical climate data from the period of 2004 to 2024, which includes the daily temperature (maximum, minimum, and average value) and daily precipitation. Furthermore, interviews and Focus Group Discsussions are conducted to obtain information from the communities. The data is then interpreted by using the DPSIR framework. It reveals that inland and coastal communities differ regarding these aspects: risk exposure, sensitivity, and adaptive capabilities. When it comes to exposure, inland agricultural communities face risks from drought, soil degradation, and unpredictable rainfall. Meanwhile, coastal communities are affected by rising temperatures, rising sea levels, tidal floods, coastal erosion, and the depletion of fish stocks. Sensitivity is measured by means of livelihood, socioeconomic status, and access to healthcare. Marginalized groups, particularly the poor and elderly, face compounded risks due to limited healthcare access and displacement threats, with the most vulnerable being the coastal communities of Cabang Resort. Furthermore, when it comes to adaptive capabilities, both terrestrial and coastal communities in Lampung have very limited capacities to anticipate most of the climate change impacts. Strengthening climate resilience will require targeted interventions, including improvement of infrastructure, access to healthcare and disaster readiness programs.
Identifikasi Perubahan Penggunaan Lahan pada Sub DAS Karang Mumus Provinsi Kalimantan Timur Miftahul Jannah; Feri Fadlin; Dyah Widyasasi; Suparjo Suparjo
Journal of Geomatics Engineering, Technology, and Science Vol. 2 No. 1 (2023): September 2023
Publisher : Geomatics Technology Study Program, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/gets.v2i1.33

Abstract

This research is motivated by the growth of population and its activities. The increasing population and the more intensive activities of people in a place have an impact on changes in land use. One thing shown is changes in the Karang Mumus River Watershed (DAS) sub-area in Samarinda. Samarinda is one of the cities that is developing with a population that is increasing every day and has a variety of urban activities which are not small, causing the need for space is also not small. This research aims to identify land use and land use changes in the Karang Mumus sub-watershed. The method used in this research is the Geographic Information System (GIS) method, to process and analyze data so as to obtain information, types of land cover, area and changes in land use in the Karang Mumus sub-watershed in 1990, 2000, 2011 and 2020. Results from this research, over the past three decades, there has been a significant decrease in the area of dry land forests, while residential areas and the mining sector have seen rapid growth. The loss of dry land forests potentially disrupts ecological functions, including carbon absorption and serving as habitats for various species, which can impact ecosystem health and biodiversity. The expansion of residential areas and mining without proper management and planning poses environmental risks, including erosion, pollution, and potential degradation of water resources and air quality.