Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Konsep Pendidikan Multikultural dalam Pandangan Banks Mo’tasim, Mo’tasim; Mollah, Moh. Kalam; Nurhayati, Ifa
FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol. 11 No. 1 (2022): FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jf.v15i01.5863

Abstract

This article aims to discuss multicultural education in James Bank's view. This study uses a qualitative research approach with library research using Banks' views as the main reference and several other scientific journal documents as comparison data for the analysis of Banks' views. The research found that James A. Banks, the first black professor to be employed by the College of Education, will retire in January after teaching at UW for half a century. Known worldwide for his pioneering scholarship in the field of multicultural education, According to Banks the dimension of multicultural education. there are 5 dimensions of multicultural education that must exist in multicultural education. The first is the integration of multicultural education in the curriculum, the second is the construction of science. Third, the reduction of prejudice, fourth. An equity pedagogy, the fifth is the empowerment of school culture and social structure. The bank with five dimensions opens a bright way in answering the western debate about disparity and grouping an ethnicity and culture. Bank-style multicultural education is very suitable to be applied to the spirit of national education
TRANSFORMATIVE PEDAGOGY IN BUILDING EQUITABLE ACCESS TO NATIONAL EDUCATION Nurhayati, Ifa; Mo’tasim, Mo’tasim; Mustafa, Sahidi; Tazali, Imam
Jurnal Konseling Pendidikan Islam Vol. 6 No. 3 (2025): Jurnal Konseling Pendidikan Islam
Publisher : LP2M IAI Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jkpi.v6i3.1175

Abstract

This research aims to analyze the role of transformative pedagogy in building equitable access to national education in Indonesia. Transformative pedagogy, rooted in the thought of Paulo Freire, emphasizes education as a liberatory process that fosters critical consciousness and social justice. This research uses a qualitative approach with a descriptive-analytical design, through document analysis of national education policies, in-depth interviews with teachers, principals and education office officials, and triangulation of data from various sources. The data were analyzed using thematic analysis techniques with reference to Critical Pedagogy theory (Freire, 1970) and Social Justice Theory (Rawls, 1971). The results show that national policies such as Merdeka Belajar have reflected the spirit of inclusiveness, but have not fully realized the transformation of social awareness in educational practice. Teachers have not played an optimal role as agents of change because the education system is still hierarchical and oriented towards academic achievement. This research concludes that equal access to education can only be realized through the synergy between social justice policy reform and the application of liberating transformative pedagogy. The integration of the two is an important foundation for an inclusive, humanist and transformative national education.
Moderasi Beragama dan Kohesi Sosial di Perguruan Tinggi: Kerangka Strategis untuk Mengembangkan Sikap Sosio-Religius pada Mahasiswa Mo'tasim, Mo'tasim; Alfiatin, Yuliana
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 14 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54180/elbanat.2024.14.2.241-261

Abstract

The rise of intolerance and fanaticism that has occurred recently, especially in public universities, demands the importance of implementing religious moderation as a solution in creating a peaceful and violence-free religious life. Religious moderation is a strategic approach to deal with the rise of radicalism and intolerance among university students, who are vulnerable to the influence of extreme ideologies. This study aims to explore the implementation of religious moderation in building a harmonious learning atmosphere at Institut Teknologi Adi Tama Surabaya (ITATS), a campus with students from diverse religious and cultural backgrounds. Using a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The results showed that religious moderation at ITATS centers on the application of the concept of tawassuth (the middle way), which is integrated into the curriculum and other campus activities. The program is effective in improving tolerance and socio-religious attitudes, minimizing potential conflicts, and strengthening social cohesion among students. The findings confirm the importance of religious moderation education as a strategy to strengthen national awareness and develop inclusiveness in a multicultural academic environment
Tuhfah Al Mawdud bi Ahkam al Mawlud: Seni Mendidik Anak ala Ibn Qayyim al Jauziyah AR, Zaini Tamin; Mollah, Moch. Kalam; Mo'tasim, Mo'tasim
JOIES (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 7 No. 2 (2022): December
Publisher : Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam dan Program Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/joies.2022.7.2.143-158

Abstract

“Seni mendidik anak”, sebagai sebuah istilah, mewakili urgensi pendidikan di lingkungan keluarga yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak. Terbukti bahwa dalam lingkungan keluarga, anak memang memperoleh berbagai pengetahuan, pengalaman, aktivitas dan mendapatkan pengasuhan dari orang tua. Dalam tulisan ini akan dianalisis seni mendidik anak dalam pandangan Ibn al Qayyim al Jauziyah yang masih relevan dengan kehidupan saat ini. Penelitian pustaka ini menemukan bahwa, menurut Ibn al Qayyim, mendidik anak harus sejak dini, dimulai dengan memahami fitrah anak, pemberian ASI eksklusif, melatih berbicara, mengatur pola makan, hingga menanamkan pendidikan akhlak. Dari pendapat tersebut, dapat disarikan bahwa terdapat tiga pendekatan dalam mendidik anak: pertama, biologis, dilakukan dengan memandang anak sebagai untuk entitas yang tumbuh. Sehingga beberapa upaya dilakukan untuk menopang pertumbuhannya. Kedua, psikologis, meniscayakan bahwa anak adalah manusia yang berkembang. Itu sebabnya anak harus diberikan stimulus positif untuk perkembangannya. Ketiga, pendekatan teologis, yang merupakan pangkal dari dua pendekatan sebelumnya. Melalui pendekatan ini, setiap anak harus dikenalkan dengan tauhid, disinari dengan ajaran agama dan diajarkan nilai-nilai akhlak. Maka, mendidik anak tidaklah mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Ia membutuhkan proses yang harus dilalui secara bertahap, sinergis dan berkelanjutan.
PEMBINAAN KAMPUNG MODERASI BERAGAMA DI DESA TOKERBUY PAMEKASAN MADURA Fahruddin, Ahmad Hanif; Mo’tasim, Mo’tasim; Ifa Nurhayati; Rasyidin, Rasyidin; Rahman, Mufiqur
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 5 (2024): Vol. 5 No. 5 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i5.34283

Abstract

Potensi kampung moderasi di Kabupaten Pamekasan sangat kuat apabila dilakukan pengenaan dan pembinaan kampung moderasi beragama pada masyarakat. Kajian ini menyimpulkan bahwa masyarakat Pamekasan Madura tidak seluruhnya mengetahui tetang kampung moderasi beragama. Walaupun masyarakatnya memiliki tingkat religious yang tinggi jumlah muslim mayoritas, anehnya konflik atas nama agama di Madura sering terjadi. Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk ikut serta mengedukasi masyarakat tentang moderasi beragama dengan kampung moderasi. Dengan pendekatan PAR (participatory action research) pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan pendekatan kepada masyarakat melalui sosialisasi secara langsung kepada tokoh masyarakat, kepala desa dan dilakukan sosialiasi melalui media social tentang kampung moderasi beragama. Disampaikan dalam sosialiasi tentang penguatan moderasi beragama dengan meningkatkan kometmen kebangsaan, toleransi dan menghindari kekerasan serta cinta kepada budaya lokal. Kegiatan lainnya adalah penguatan moderasi beragama melalui kegiatan keagamaan yang ada di masayarakat desa seperti kegiatan perkumpulan malam jumatan. Dalam momentum kegiatan perkumpulan ini disampaiakan dengan ceramah agama tentang moderasi beragama.