Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KEJANG DEMAM DAN PENATALAKSANAANNYA PADA IBU-IBU WARGA RW 02 KELURAHAN PAKIS KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA Widianingtyas, Sisilia Indriasari; Widayati, Marselina Rasemi
Jurnal Booth Dharma Medika Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Booth Dharma Medika
Publisher : STIKes William Booth Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47560/pengabmas.v5i2.673

Abstract

Pendahuluan : Kejang demam terjadi akibat adanya peningkatan suhu tubuh pada anak yang mempunyai ambang kejang rendah (mudah mendapatkan kejang). Pada pemeriksaan fisik ditemukan suhu tubuh yang tinggi dan sering ditemukan bukti infeksi saluran pernafasan atas. Serangan kejang dapat dikatakan sederhana bila kurang dari 10 menit dan tidak ada tanda-tanda defisit neurologis yang menetap. Bagaimanapun kejang demam dapat menjadi tanda bahaya dan menunjukkan bahwa ada infeksi yang akhirnya menimbulkan kejang. Hasil survey pendahuluan didapatkan dari 10 ibu yang pernah merawat anaknya dengan kejang demam, disampaikan bahwa kebanyakan ibu takut bila anaknya kejang sehingga tidak ada yang dilakukan dan langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Seringkali bila ditanya apa penyebabnya ibu mengatakan tidak tahu penyebab terjadinya kejang demam. Kejang demam dapat menimbulkan komplikasi serius terhadap perkembangan otak anak Metode : metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan pada ibu-ibu warga RW 02 Kelurahan Pakis tentang manajemen keperawatan pada anak yang mengalami kejang demam. Evaluasi kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan metode pre test dan post test dengan memberikan kuisioner sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil : sebelum dilakukan penyuluhan didapatkan sebanyak 10 orang (34%) mempunyai pengetahuan kurang, dan 20 orang (66%) mempunyai tingkat pengetahuan cukup. Setelah penyuluhan kesehatan sebanyak orang 25 orang (84%) mempunyai tingkat pengetahuan cukup, dan 5 orang (16%) mempunyai pengetahuan baik. Simpulan : maka dapat diartikan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan warga, diharapkan untuk dapat memberikan informasi yang lain yang bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan khususnya di bidang kesehatan.
Pendidikan Kesehatan tentang Batuk dan Cuci Tangan untuk Mencegah Penularan Influenza di TK Hang Tuah 1 Surabaya Widianingtyas, Sisilia Indriasari; Widayati, Marcellina Rasemi; Wahyuni, Lucia Dwi Sri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.17609

Abstract

ABSTRAK Siswa-siswa TK cenderung rentan terhadap penyakit menular seperti flu karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Angka siswa siswi yang batuk di TK Hang Tuah 1 Kelas Surabaya sebanyak 12 anak dari jumlah keseluruhan 28 anak, yang artinya lebih dari setengah anak mengalami batuk. Cuci tangan merupakan salah satu cara pencegahan penyebaran batuk. Di TK Hang Tuah 1 Kelas Surabaya telah menerapkan cuci tangan sebelum dan sesudah makan, akan tetapi Sebagian besar anak belum memahami cara mencuci tangan dengan benar. Dalam arti anak hanya membasahi tangan dan tanpa sabun. Oleh karena itu untuk menghindari batuk hal yang harus dilakukan adalah menerapkan etika batuk yang benar untuk mengurangi penyebaran batuk. Kegiatan pengabdian masyarakat di TK Hang Tuah 1 di laksanakan pada hari : Rabu, 4 Oktober Juni 2023, pukul 09.00-11.00, dan diikuti oleh 23 siswa/siswi TK Hang Tuah 1 Surabaya. Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi 2 sesi. Diawali dengan presentasi materi. Materi pendidikan kesehatan meliputi : pengertian etika batuk, tujuan etika batuk, apa saja penyebab batuk, cara batuk yang salah, etika batuk yang benar. Dilanjutkan dengan memutarkan video cara mencuci tangan dengan benar. Setelah pelatihan maka akan dilaksanakan pendampingan dan evaluasi. Siswa dan siswi yang mengikuti nampak tidak bosan dan mengikuti dengan baik. Setelah dilakukan Pendidikan Kesehatan menunjukan adanya peningkatan pengetahuan. Setelah diberikan pendidikan kesehatan sebanyak 87% memiliki tingkat pengetahuan baik dan sebanyak 13% memiliki tingkat pengetahuan cukup. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian edukasi dengan memanfaatkan media yang menarik seperti video dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman khususnya mengenai cara batuk dan cuci tangan yang benar untuk mencegah penularan penyakit influenza. Kata Kunci: Edukasi, Pencegahan Penyakit  ABSTRACT Kindergarten students tend to be susceptible to infectious diseases such as the flu because their immune systems are still developing. The number of students who cough at Hang Tuah 1 Class Surabaya Kindergarten is 12 out of a total of 28 children, which means that more than half of the children experience coughing. Hand washing is one way to prevent the spread of cough. Hang Tuah 1 Class Surabaya Kindergarten has implemented hand washing before and after meals, but most children do not understand how to wash their hands properly. In the sense that children only wet their hands and without soap. Therefore, to avoid coughing, the thing to do is to apply proper coughing etiquette to reduce the spread of coughing. Community service activities at Hang Tuah 1 Kindergarten were carried out on the day: Wednesday, 4 October June 2023, at 09.00-11.00, and attended by 23 students of Hang Tuah 1 Surabaya Kindergarten. First session: Material exposure, for approximately 45 minutes, health education materials include understanding cough ethics, the purpose of cough ethics, what causes coughing, the wrong way to cough, and the correct cough ethics. Followed by playing a video on how to wash hands properly. After the training, mentoring and evaluation will be carried out. Students who participated were very enthusiastic in participating in health education activities and discussions. The level of health knowledge before being given education, indicated that of the 23 participants obtained before education, there were 15 (65%) who had insufficient knowledge and 8 participants (35%) who had adequate knowledge. After health education, 87% had a high knowledge level and 13% had a good knowledge level. Health education using the demonstration method has a positive effect on improving skills. Health education is expected to be one of the health interventions that can improve the knowledge of students, especially on how to cough and wash hands properly to prevent transmission of influenza. Keywords: Education, Disease Prevention
PELATIHAN SENAM YOGA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR LANSIA POSYANDU PELANGI NUSANTARA KELURAHAN DARMO KECAMATAN WONOKROMO, SURABAYA: YOGA TRAINING TO IMPROVE THE QUALITY OF ELDERLY SLEEPING IN POSYANDU PELANGI NUSANTARA, KELURAHAN DARMO, KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA anastasia; sisilia Indriasari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2019): JPM | September 2019
Publisher : UPPM - STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.377 KB) | DOI: 10.33023/jpm.v5i2.508

Abstract

Kebutuhan vital yang penting agar proses kehidupan berlangsung baik untuk setiap makhluk hidup adalah kebutuhan tidur. Akan tetapi hal tersebut akan mengalami pergeseran saat memasuki lansia. Salah satu faktor penyebab perubahan tidur pada lansia yaitu perubahan pada lobus frontal lansia. Lama tidur normal pada lansia biasanya sekitar 7-8 jam per hari, dan dikatakan mengalami penurunan kualitas tidur apabila tidur lansia mengalami penurunan waktu tidur sekitar 5-6 jam. Hasil surveyyang di lakukan di kelompok lansia yang tinggal di RW 06 Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo didapatkan 8 dari 10 lansia mengalami penurunan kualitas tidur dengan skor PSQI <5, karena sebanyak 75% lansia tersebut jarang melakukan olahraga, hal tersebut juga disebabkan karena kader lansia dan lansia di RW 06 tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai olah raga yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas tidur lansia. Kader lansia juga tidak memiliki panduan pelaksanaan senam serta kurangnya ketrampilan dalam melakukan senam yoga. Puskesmas tidak pernah memberikan pembelajaran khusus bagi kader dan lansia untuk menambah referensi senam bagi lansia. Fasilitas untuk melakukan aktivitas olahraga yang lain juga belum tersedia. Tim pelaksana pengabdian masyarakat telah melaksanakan pendidikan kesehatan, maupun pelatihan senam yoga bagi kader lansia. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut pendidikan kesehatan yang sudah diberikan meliputi : rematik, kolesterol, vertigo, gangguan pendengaran, nutrisi bagi lansia. Kegiatan ini menghasilkan pengetahuan lansia mengenai senam yoga meningkat yaitu sebanyak 25% lansia mempunyai pengetahuan cukup dan 75% mempunyai pengetahuan baik. Sedangkan setelah dilakukan senam yoga secara rutin sebanyak 80% lansia mempunyai kualitas tidur baik dan 25% lansia mempunyai kualitas tidur cukup.
TINGKAT DEPRESI PADA IBU POSTPARTUM DI PUSKESMAS MOROKREMBANGAN SURABAYA Indriasari W, Sisilia
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2017): Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.291 KB)

Abstract

Postpartum depression is an after birth depression lasting for months and sometimes it is anunrealized disease. The birth of a baby should bring in special happiness for mothers. But, theyare not ready due to the unwell sleep and weigh loss. This research identified the description ofpostpartum women’s depression level at Puskesmas. This was a descriptive research withdepression level as the variable. The available research population of was 64 mothers coming toPuskesmas to check themselves and total population was 55 respondents. The data were collectedusing enclosed questionnaire. The results showed that 53 % experienced mild depression, 33 %had no depression, 9% had major depression and 5 % experienced moderate depression, Themothers’ depression level at Puskesmas arranged from moderate to severe. The Mother andChild was expected to provide education on the prevention and treatment of postpartumdepression in pregnant women’s class.
Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan (Tahu) Remaja Mengenai Sleep Hygiene (Penelitian di SMA Katolik Stella Maris Surabaya ) Suhariyanto, Yosi Slamet; Widianingtyas, Sisilia Indriasari; Prastyawati, Irine Yunila
JURNAL NERS LENTERA Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v12i2.5898

Abstract

Sleep hygiene refers to behaviors that can effectively improve the quality of sleep. At SMAK Stella Maris Surabaya, many students experience sleep disturbances at night. This study aimed to analyze the impact of health education on the level of knowledge about sleep hygiene among adolescents at SMAK Stella Maris Surabaya. This research employed a pre-experimental design with a OneGroup Pre-Post Test Design, with the research variable being the level of knowledge. The study population consisted of 11th-grade students, with a sample size of 56 respondents selected through simple random sampling. Data was collected using a questionnaire that assessed the level of knowledge about sleep hygiene. The results showed that before the health education, more than 50% (79%) of the respondents had a low level of knowledge. However, after the health education, it was found that 100% of the respondents had a good level of expertise. The Wilcoxon test showed a p-value of 0.000 with a Z score of 6.798, indicating that p < α. With the post-test results showing a significant improvement, health education positively impacted the adolescents’ knowledge level regarding sleep hygiene. It is recommended that the school provides health education to students who have not yet received information about sleep hygiene. Keywords: health education, knowledge, Sleep Hygiene
Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Konsep Diri Pada Remaja Ronga, Klarisa; Widianingtyas, Sisilia Indriasari; Sinawang, Gabriel Wanda
JURNAL NERS LENTERA Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v13i1.7300

Abstract

Pendahuluan: Pola asuh orang tua dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan konsep diri anak khususnya remaja. Fenomena di SMPK Stella Maris ditemukan beberapa orang tua menerapkan pola asuh yang yang efektif seperti demokratis, namun ada juga orang tua menerapkan pola asuh permisif dan otoriter sehingga beberapa anak memiliki konsep diri rendah. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan pola asuh orang tua dengan konsep diri pada remaja. Metode: Jumlah sampel sebanyak 84 orang yang memenuhi kriteria inklusi, dari 108 orang. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan menggunakan teknik proposional random sampling. Instrument penelitian ini menggunakan kuesioner PAQ (parental authority questionnaire) dan TSCS (tennesse self concept scale). Hasil: Hasil analisis statistik didapatkan sebanyak 66% responden menerima pola asuh demokratis, sebanyak 32% responden menerima pola asuh permisif, dan sebanyak 2% responden menerima pola asuh otoriter. Sebagian besar remaja memiliki konsep diri yang positif. Hasil uji Rank Spearmen menunjukan nilai p=0,001 dengan r =+0,342 berarti menunjukkan kekuatan hubungan antara kedua variabel rendah dengan arah hubungan yang positif. Kesimpulan: Pola asuh orang tua yang efektif atau demokratis pada remaja membantu remaja tersebut dalam perkembangan konsep dirinya yang lebih positif. Oleh karena itu pihak sekolah tetap bekerjasama dengan orang tua dalam membantu mendidik dan mengarahkan remaja, dan tetap menjalankan program sekolah terkait dengan pemberian edukasi dan pengarahan kepada orang tua dalam memberikan pola asuh terhadap anak. Kata Kunci: pola asuh orang tua, konsep diri, remaja  
Dukungan Keluarga pada Lansia Penderita Hipertensi di RW 06 Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo Surabaya Lestari, Kotsasi Cahya; Widianingtyas, Sisilia Indriasari; Sinawang, Gabriel Wanda
JURNAL NERS LENTERA Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL NERS LENTERA
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/ners.v13i2.7668

Abstract

Pendahuluan: Dukungan keluarga dibutuhkan lansia penderita hipertensi dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari sehingga dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan yang dijalani. Namun, fenomena yang terjadi pada lansia penderita hipertensi di RW 06 Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo adalah lansia jarang diantar keluarga ke fasilitas kesehatan ataupun posyandu karena adanya kesibukan dari anggota keluarganya, keluarga membiarkan lansia minum obat sendiri dan jarang diingatkan untuk minum obat. Tujuan Penelitian: mengidentifikasi gambaran dukungan keluarga pada pada lansia penderita hipertensi di RW 06 Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo Surabaya Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan variabel penelitian dukungan keluarga. Populasi pada penelitian ini yaitu lansia sebanyak 38 responden dengan menggunakan Teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah FSS (Family Support Scale). Analisa statistik menggunakan ASDPP. Hasil: sebagian besar 80% (30) lansia mendapatkan dukungan baik. Kesimpulan: Sebagian besar (80%) responden mendapatkan dukungan keluarga yang baik di RW 06 Kelurahan Darmo Kecamatan Wonokromo    
Bimbingan Pijat Jantung dalam Upaya Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan tentang Resusitasi Jantung Paru pada Orang Awam di Balikpapan Lusiani, Etik; W, Sisilia Indriasari; Saputra, Agung Kurniawan
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 6 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v6i1.580

Abstract

Emergency incidents can occur anywhere, this condition requires community participation to help victims before they are found by health workers, which is very important. Cardiopulmonary resuscitation health education for the lay public is the main thing to increase the ability to help life-threatening victims before going to the hospital. Health information about cardiopulmonary resuscitation (CPR) for people aims to increase knowledge and be able to help victims of cardiac arrest. The activities are carried out in 2 methods offline and online which are packaged in the form of questions, answers and direct practice. The number of participants was 30, health education material was delivered and questions and answers were held for ± 30 minutes about RJP, followed by CPR practice for ± 20 minutes. The tools used are small manikins and pillows and there are group divisions and each group is accompanied by a guide. The results before health education and CPR practice were carried out, the level of knowledge of respondents was good, 15 people (50%), 5 people (17%) had sufficient knowledge and 10 people (33%) had less knowledge. After being given health education there was a change in the knowledge category, namely 18 people (60%) had good knowledge, 7 people (23%) had sufficient knowledge and 5 people had less knowledge (17%) about heart attacks and CPR skills. This community service hopes that ordinary people can carry out Cardiopulmonary Resuscitation as basic life support (Basic Cardiac Life Support) and management of cardiac arrest victims outside the hospital
Pelatihan tentang Penanganan Bayi Tersedak pada Warga Legioner Gereja Katolik St. Maria Annuntiata Sidoarjo Widianingtyas, Sisilia Indriasari; Lusiani, Etik; Saputra, Agung Kurniawan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i2.12863

Abstract

ABSTRAK Warga legioner di Gereja Katolik Santa Maria Annuntiata Sidoarjo terdiri dari keluarga dengan variasi usia yang sangat beragam mulai dari keluarga muda sampai dengan lansia juga ada. Ada yang orang tua baru, terutama yang pertama kali memiliki bayi, juga ada yang sebagai kakek atau nenek yang sementara harus mengasuh cucunya selama orang tuanya bekerja. termasuk anggota keluarga lain yang juga perlu memahami teknik pencegahan tersedak untuk memberikan perawatan yang aman bagi bayi. Hasil wawancara dengan warga legioner di di Gereja Katolik Santa Maria Annuntiata, mengatakan bahwa tidak pernah mendapatkan edukasi/penyuluhan dari petugas kesehatan. Mereka melakukan sesuai dengan pemahaman dan persepsi masing-masing seperti memukul bagian punggung anak. Apabila teknik pelaksanaan back blow yang salah, terlalu keras atau tidak tepat, bisa menyebabkan cedera pada bayi. Kegiatan pelatihan di laksanakan pada 4 Juni 2023, pukul 10.00- 12.45, dan diikuti oleh kurang lebih 62 warga legioner Gereja Katolik St. Maria Annuntiata Sidoarjo. Media yang digunakan dalam pendidikan kesehatan LCD, leaflet, Laptop. Kegiatan diawali pretest untuk mengidentifikasi pengetahuan para siswi remaja sebelum dilakukan pendidikan kesehatan. Hasil pretest didapatkan Tingkat pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan, menunjukan bahwa dari 62 peserta didapatkan sebelum diberikan pendidikan terdapat 35 (56%) memiliki pengetahuan kurang dan yang memiliki pengetahuan cukup 27 peserta (44%). Tingkat pengetahuan peserta setelah mendapat pendidikan kesehatan yaitu baik, sebanyak 75% dan cukup sebanyak 25%. Berdasarkan hasi evaluasi pre test dan post test ada peningkatan pengetahuan peserta tentang penanganan tersedak pada bayi/balita dan anak serta mayoritas warga legioner sudah menunjukkan bahwa Tindakan penanganan tersedak dalam kategori baik. Kata Kunci: Pelatihan, Bayi Tersedak, Pengetahuan  ABSTRACT The legionaries at Santa Maria Annuntiata Catholic Church in Sidoarjo consist of families with a wide variety of ages ranging from young to elderly. Some are new parents, especially those having a baby for the first time, and some are grandparents who temporarily care for their grandchildren while their parents work, including other family members who also need to understand choking prevention techniques to provide safe care for infants. The results of interviews with legionnaires at Santa Maria Annuntiata Catholic Church, said that they had never received education/counseling from health workers. They do according to their own understanding and perception such as hitting the child's back. If the technique of implementing a back blow is wrong, too hard, or inappropriate, it can cause injury to the baby. The training activity was held on June 4, 2023, at 10:00-12:45, and was attended by approximately 62 legionaries of St. Maria Annuntiata Catholic Church Sidoarjo. Media used in health education LCD, leaflet, laptop. The activity began with a pretest to identify the knowledge of teenage girls before health education was carried out. The results of the pretest obtained the level of knowledge before being given health education, showed that of the 62 participants obtained before being given education, there were 35 (56%) who had insufficient knowledge and 27 participants (44%) who had sufficient knowledge. The level of knowledge of participants after receiving health education is good, as much as 75% and as much as 25%. Based on the pre-test and post-test evaluation results, there was an increase in participants' knowledge about choking management in infants/toddlers and children and the majority of legionnaires have shown that choking management actions are in the good category.   Keywords: Training, Infant Choking, Knowledge
Pelatihan tentang Pemberdayaan Komunitas Sekolah sebagai Mitigasi Kekerasan dengan Metode Inisiasi Satgas Anti-Bullying dan Kekerasan Seksual di SDK Santo Yusup, Tropodo, Sidoarjo Silalahi, Veronica; Widianingtyas, Sisilia Indriasari; Dwianto, Ignatius Heri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i12.23352

Abstract

ABSTRAK  Kasus perundungan/bullying di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Santo Yusup, Trapodo, Sidoarjo masih terjadi hingga saat ini, berdasarkan hasil wawancara dalam 3 bulan terakhir tercatat terdapat beberapa laporan ditemukan kasus bullying verbal seperti ejekan, menggoda teman, menyampaikan komentar buruk. Selain itu, didapati agrevitas sosial seperti pengucilan antarsiswa, tidak mengajak teman bermain atau berkelompok. Serta tindakan agrevitas fisik seperti memukul, mencubit dan menarik rambut. Hal ini terjadi karena beberapa siswa kurang memahami bentuk dari tindakan bullying maupun kekerasan, guru belum pernah mendapat pelatihan terkait perlindungan anak dan pihak sekolah belum memiliki struktur formal dan diagram alir (Satuan Operasional Prosedur) dalam pelaporan mengenai adanya tindak perundungan maupun kekerasan yang terjadi di sekolah. Sedangkan orang tua juga belum mendapatkan pemahaman pentingnya pengawasan perilaku anak di luar sekolah. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan pemahaman peserta, khususnya komunitas sekolah serta orang tua dalam pencegahan kekerasan melalui pemberdayaan serta inisiasi pembentukan Satgas Anti-Bullying dan Kekerasan Seksual. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari di SDK Santo Yusup Tropodo dengan sasaran siswa, guru, dan orang tua. Total peserta terdiri atas ±400 siswa serta 75 guru dan orang tua. Pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan ini ialah participatory learning and action (PLA), yang dilaksanakan melalui serangkaian tahapan seperti sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan serta upaya menjaga keberlanjutan program, dengan media berupa video edukatif, buku saku, poster, serta instrumen evaluasi pre-test dan post-test. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 82,27% menjadi 94,13% (kenaikan 11,86%). Peserta menunjukkan peningkatan pemahaman, keaktifan, serta komitmen untuk membentuk Satgas sekolah. Peningkatan ini menunjukkan keefektivitasan pelatihan partisipatif dalam memberdayakan komunitas sekolah sebagai langkah awal mitigasi bullying dan kekerasan di lingkungan pendidikan dasar. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan pemberdayaan pemula dapat menjadi strategi berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak. Kata Kunci: Pelatihan, Pemberdayaan Sekolah, Komunitas Sekolah, Bullying, Kekerasan Seksual, Satgas. ABSTRACT Bullying still occurs at Santo Yusup Catholic Elementary School (SDK), Trapodo, Sidoarjo. In the past three months, interviews revealed cases of verbal bullying, such as taunting, teasing, and negative comments. Social aggression, including ostracism and exclusion from play or groups, was noted alongside physical aggression, such as hitting, pinching, and hair-pulling. Some students do not recognize forms of bullying and violence, teachers lack child protection training, and the school does not have Standard Operating Procedures for reporting bullying. Parents have not been informed about monitoring children’s behavior outside school. This training aimed to enhance the knowledge and involvement of the school community and parents in preventing violence by empowering them and initiating an Anti-Bullying and Sexual Violence Task Force. The activity lasted three days at SDK Santo Yusup Tropodo and involved approximately 400 students, 75 teachers and parents. The Participatory Learning and Action (PLA) method was used, involving socialization, training, technology application, mentoring, evaluation, and program sustainability. Media included educational videos, pocketbooks, posters, and pre or post-evaluation tools. Pre-test and post-test results showed an average score increase from 82.27% to 94.13% (an 11.86% rise). Participants demonstrated improved understanding, engagement, and commitment to forming a school Task Force. This increase indicates the effectiveness of participatory training in empowering the school community to help prevent bullying and violence at the basic education level. The activity shows that introductory empowerment training can be a sustainable way to create a safe, child-friendly learning environment. Keywords: Training. School Empowerment, School Community, Bullying, Sexual Violence, Task Force.