Emy Rahmawati
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Analisis Pendapatan Usahatani Kelapa Sawit Rakyat Di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut Ahmad Ripani; Abdullah Dja'far; Emy Rahmawati
Frontier Agribisnis Vol 3, No 4 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i4.1994

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiberapa besarnya biaya, penerimaan, pendapatan dan keuntungan. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan Februari 2018 sampai dengan September 2019 di Desa Kampung Baru. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Responden sebanyak 30 orang petani kelapa sawit rakyat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan petani kelapa sawit rakyat di Desa Kampung Baru, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut pada tanaman umur 12 tahun adalah sebagai berikut: penyusutan eksplisit nilai tanaman sebesar Rp  9.289.874, biaya panen sebesar Rp 3.240.000, penyusutan implisit nilai tanaman sebesar Rp 4.104.462, biaya panen sebesar Rp 8.160.000, penerimaan sebesar Rp 58.800.000, pendapatan sebesar Rp 46.270.126 dan keuntungan sebesar Rp 34.005.664 perusahataninya. Jika dihitung dalam satuan perhektar, maka rata-rata penyusutan eksplisit nilai tanaman sebesar Rp  6.193.249, biaya panen sebesar Rp 2.160.000, penyusutan implisit nilai tanaman sebesar Rp 2.736.308, biaya panen sebesar Rp 5.440.000,  penerimaan sebesar Rp 39.200.000, pendapatan sebesar Rp 30.846.751 dan keuntungan sebesar Rp 22.670.443.Kata kunci: kelapa sawit, penyusutan nilai tanaman, penerimaan, pendapatan, keuntungan
Kontribusi Pendapatan Wanita dari Usahatani Pembibitan Karet Terhadap Pendapatan Total Rumah Tangga di Desa Bentok Darat, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut Riska Aulia Wulandari; Emy Rahmawati; Kamiliah Wilda
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.688

Abstract

Sekarang ini wanita tidak hanya menjadi ibu rumah tangga saja atau bekerja pada sektor formal tetapi wanita juga bisa bekerja disektor pertanian, khususnya menjadi wanita tani. Pada rumah tangga petani, wanita tani sebagai istri dan ibu memiliki peran penting untuk mengatur dan mengendalikan kehidupan rumah tangga. Disamping itu wanita tani juga ikut serta membantu mencari nafkah, wanita tani bekerja dipembibitan karet sebagai pengokulasi karet. Kontribusi wanita tani pembibitan karet dapat diperhitungkan jumlahnya untuk menambah pendapatan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis pendapatan wanita tani, menganalisis pendapatan total rumah tangga petani dan menganalisis besarnya kontribusi pendapatan wanita tani terhadap pendapatan total rumah tangga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus. Dari penelitian ini diperoleh hasil rata-rata pendapatan wanita tani Rp 1.163.700/bulan dengan rata-rata pendapatan total rumah tangga sebesar Rp 3.855.154/bulan dan kontribusi yang diberikan wanita tani terhadap pendapatan total rumah tangga sebesar 30,19%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa wanita tani memberikan kontribusi atau sumbangan yang cukup besar untuk pendapatan rumah tangganya.Kata kunci: kontribusi, wanita tani, pendapatan total, pembibitan karet
Analisis Pemasaran Jeruk Siam Dilahan Pasang Surut Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala Nur Rusdi Utami; Emy Rahmawati; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v5i1.5921

Abstract

Jeruk siam adalah jenis jeruk keprok yang banyak dibudidayakan di Indonesai dan daerah penyebarannya sangat luas salah satunya Kalimantan Selatan sebesar 1.238.449 kuintal. Kabupaten Barito Kuala merupakan penghasil jeruk siam terbesar pertama dibandingkan Kabupaten lainnya yaitu sebesar 915.426 kuintal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui saluran pemasaran, margin, biaya, keuntungan, share harga, dan permasalahan yang dihadapi oleh petani dalam pemasaran. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni 2020. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling yaitu hanya meneliti petani yang memiliki umur tanaman 7-8 tahun sebanyak 26 orang dengan periode analisis pada bulan Februari 2020,  metode Purposive untuk menentukan lokasi peneltian, dan Snowball sampling untuk penarikan contoh pengumpul dan pengecer. Dari hasil penelitian ini, Kecamatan Anjir Pasar memiliki dua saluran yang melibatkan petani, pengumpul, pengecer, dan konsumen. Lembaga tersebut mempunyai berbeda-beda fungsi pemasarannya. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh biaya pemasaran terbesar diantara dua saluran adalah saluran I yaitu sebanyak Rp. 1.017/kg, margin tertinggi pada saluran II Rp. 4.559/kg, keuntungan total tertinggi pada saluran II Rp. 3.779/kg. Adapun farmer share yang diterima petani tertinggi terdapat disaluran I sebesar Rp. 60,75%, share yang diterima oleh lembaga pemasaran terbesar ada pada saluran II yaitu ditingkat pedagang pengecer sebesar 32,20%.
Analisis Saluran Pemasaran Telur Ayam (Gallus sp.) di CV Faradiansyah Farm Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut Fadilla Fitra Astari; Emy Rahmawati; Usamah Hanafie
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.684

Abstract

Sektor peternakan merupakan salah satu sektor yang memiliki peran cukup besar dalam perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia, karena hampir seluruh wilayah Indonesia kita temukan berbagai macam kegiatan peternakan, baik peternakan yang berskala kecil maupun peternakan yang berskala besar.Berdasarkan sumber data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Tanah Laut, di Kecamatan Bati-Bati merupakan kecamatan terbanyak kedua dengan jumlah populasi ayam petelur 1.083.485 ekor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluraan pemasaran, biaya pemasaran, margin pemasaran, keuntungan, share pemasaran, dan permasalahan-permasalahan dalam pemasaran. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Penelitian merupakan studi kasus yaitu di CV Faradiansyah Farm Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut. Metode yang digunakan studi kasus dalam penelitian ini adalah dengan cara pengamatan langsung dan melakukan wawancara dengan responden. Berdasarkan hasil penelitian saluran pemasaran didapat saluran I: peternak-konsumen akhir, saluran II: peternak-pedagang pengecer-konsumen akhir, saluran III: peternak-pedagang pengumpul-pedagang pengecer-konsumen akhir, saluran IV: peternak-pedagang pengumpul-pedagang besar/grosir-pedagang pengecerkonsumen akhir. Total biaya pemasaran tertinggi antara keempat saluran adalah biaya pemasaran pada saluran ke IV yaitu sebesar Rp 2.258,34,- dan biaya terkecil terdapat pada saluran pemasaran ke I yaitu sebesar Rp 160,-. Margin total terbesar yaitu pada saluran pemasaran IV sebesar Rp 4500,-. Sedangkan margin terkecil juga pada saluran pemasaran I ditingkat peternak sebagai pedagang pengecernya. Farmer share tertingggi terdapat pada saluran pertama yaitu saluran I tingkat peternak sebagai pengecer sebesar 100% dan saluran II sebesar 92,59%, aluran III sebesar 87,96%, dan saluran IV yang terendah sebesar 83,92%. Permasalahan yang dihadapi peternak dalam pemasaran telur ayam adalah harga ditingkat peternak lebih rendah dibandingkan dengan ditingkat lembaga pemasaran yang dijual lebih tinggi. Untuk permasalahan pada lembaga pemasaran selain telur ayam mengalami kenaikan harga juga sering mengalami kerusakan.Kata kunci: telur ayam, saluran pemasaran, biaya pemasaran.
ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN INDUSTRI KERIPIK TEMPE (Studi Kasus Kripik Tempe Sagu cap ASA di Kota Banjarbaru) Elianingsih Elianingsih; Kamiliah Wilda; Emy Rahmawati
Frontier Agribisnis Vol 2, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i4.657

Abstract

Industri pengolahan merupakan penyumbang untuk memajukan perekonomian di Indonesia. Keberadaan industri sebagai salah satu motor penggerak yang cukup penting untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia. SalahIsatu industri yang ada di Kota Banjarbaru adalahIindustri keripik tempe yang memiliki potensi yang seharusnya dikembangkan karena memiliki keunggulan dan memiliki prospek yang baik untuk kedepannya. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai tambah yang didapat, strategi pemasaran dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan. Data yangIdigunakan ialahIdataIprimer dan sekunder. Penelitian ini merupakan studi kasus yaitu di keripik tempe sagu cap ASA. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan snowball. Berdasarkan hasil penelitian nilaiItambah yang di dapat dari kedelai menjadi tempe sebesar Rp. 3.296/kg. Sedangkan nilai tambah yang dihasilkan usaha industri keripik tempe sebesar Rp. 44.665/kg. Strategi pemasaran yang harus dilakukan industri di tempat penelitian adalah Strategi Diversifikasi yang lebih fokus pada strategi ST (strength-threaths) yaitu menciptakan strategi yangmenggunakanIkekuatan untuk mengatasi ancaman. Strategi ST (Strength- threaths): Meningkatkan produksi kripik tempe dengan mempertahankan kualitas bahan baku yang suda ada. Mempertahankan kualitas dan merek produk dengan harga yang terjangkau. Mempertahankan pelanggan dengan melalukan pelayanan yang baik supaya produk dapat terus laku di pasaran. Masalah yang dihadapi oleh usaha industri kripik tempe yaitu pemilik yang belum fokus pada usaha, usaha ini hanya sebagai usaha sampingan.Kata kunci: keripik tempe, nilai tambah, strategi pemasaran, SWOT
Analisis Keterpaduan Pasar Buah Lokal dan Buah Impor di Kota Banjarmasin Luki Anjardiani; Emy Rahmawati; Yusuf Azis
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v1i2.20350

Abstract

The purposes of this research are to analyse and compare the channels of the local and imported fruit marketing in Banjarmasin, and to analyse the market integrity in channels of the local and imported fruit marketing in Banjarmasin. The channel of the imported fruit marketing from suppliers was continued to retailers around the consumption centers. Meanwhile, the channel of the local fruit marketing from farmers was continued to middlemen then to distributors. The distributors then distributed the fruits to retailers who sold them to costumers. Based on the market integrity analysis, it was known that retailers in A.Yani street have higher market integration with grocers market of imported apple in short run. On the other hand, retailers in Kuripan market have higher market integration with grocers market of local orange in long run.
Aspek Distribusi pada Ketahanan Pangan Masyarakat di Kabupaten Tapin Emy Rahmawati
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i3.21573

Abstract

The objectives of the research were to find out the distribution channels of the staple food, namely the commodity of rice, and to analyze the cost, margin, and income from each marketing agent related to the rice distribution in Tapin Regency. The data were collected by conducting direct interviews with the players or the marketing agents getting involved in the food distribution. There were six distribution channels of rice, in which the role of LUEP was notably dominant. The biggest margin occurred between wholesalers and local retailers. Likewise, the biggest income was received by local retailers.
Rasio Produksi terhadap Konsumsi Beras di Kota Banjarbaru (Tahun 2002-2012) Grace Natalia; Emy Rahmawati; Dolok Saribu
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v4i1.21915

Abstract

Kota Banjarbaru has agricultural potency to produce rice even though the sector is not the flagship sector. The capability to change from rice deficit in to rice surplus under limited land is very challenging. Therefore, the study describing current condition of rice surplus and deficit is important to give information and to support the agricultural policy making, especially rice production policy. Thus, the study is addressed to describe: (1) rice production; (2) rice consumption; (3) rice surplus and minus; (4) the production-consumption ratio; and (5) the factor influenced rice consumption in Kota Banjarbaru. Ordinary least square (OLSJ were used to estimate F-test, t-test, and determination coefficient (R). During 2002, Kota Banjarbaru needed additional 53.16% of total rice consumption to meet the local demand. The rice production and consumption rati o ranged between 0.24 and 0. 72. Based on regression model, harvested acreage and productivity affect rice production positively. On the consumption model, population gives positive impact on rice consumption. Interestingly, income per capita negatively affects rice consumption. Both factors affect the rice consumption significantly.
Studi Komparatif Usahatani Cabe (Capsicum annum L) dengan dan Tanpa Menggunakan Pupuk Trichokompos di Kelurahan Guntung Manggis Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Gusti Halimatus Sa'diah; Emy Rahmawati; Kamiliah Wilda
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v3i2.21891

Abstract

The study is aimed: (1) to distinguish the large chili cultivation between using and without using tricocompos; (2) to compare the cost, revenue and profit on both large chili cultivation; and (3) to identify the problems encountered by farmer at the study spot. Trichocompos is comprised of natural substance which can be used for fertilizer end pest controller, so it can reduce chemicals substance on the field. The tricocompos users generate profit as much as /DR 7. 42 million per farm, higher compared to non-user which only accounted IDR 5. 76 million per farm. The hindrances encountered on chili cultivation are the high vulnerability of chili from the exposure of pest, disease, and unpredictable extreme weather change. In addition, the tricocompos making is time consuming and require more labor.
Kajian Investasi Petani Lahan Pasang Surut di Kabupaten Banjar Emy Rahmawati
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 2, No 4 (2012)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v2i4.21581

Abstract

The objectives of the research are to find out the sources of farmer’s income, investment capital needed by the farmer, to analyze factors influencing the farmer’s investment, and to identify problems faced by tidal land farmers in investing. The descriptive analysis indicated that the greatest contribution of the income of non surjan tidal land farmers and the irrigated land farmers was derived from the rice farming while the tidal land farmers with surjan system were originated from orange. The biggest capital of farming investment was the investment for land purchase, livestock, and farm equipment. It could be indicated from regression analysis that the off-farm income, the acreage, and the education level significantly and positively influenced the investment while the number of working family members and the age of farmers had negative influence. There were no significant differences in investment spending between farmers in tidal land villages and irrigated villages whereas there were significant differences between the farmers in surjan and non-surjan system villages where the farmers in the village with surjan system had smaller investment in farm equipment but bigger one in education, noneducation, and total investment than the farmers in the village with non-surjan system. The limited wage labor, skill limitation, the lack of awareness and the environmental factors were the constraints in the investment practiced by farmers in tidal land. The limited capital was the separate obstacle to the small farmers.