Claim Missing Document
Check
Articles

Unsur Budaya Maritim Dalam Syair Masamper di Boyongpante: Kajian Etnolinguistik Kandati, Susi Patrisia; Wantasen, Isnawati L.; Ranuntu, Garryn Christian
Poltanesa Vol 23 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : P3KM Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/tanesa.v23i2.1169

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis makna unsur budaya maritim dan bentuk lingual dalam syair masamper di Boyongpante, Kecamatan Sinonsayang, kabupaten Minahasa selatan Sulawesi utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah syair-syair masamper yang bersumber dari beberapa informan asli turunan sangir. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, pencatatan, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan tahapan transkrip ke dalam bentuk tulisan dan diartikan ke dalam bahasa Indonesia dan kemudian diklarifikasi berdasarkan keperluan teks dan menganalisis makna yang terkandung di dalamnya. Hasil Penelitian syair-syair masamper yang ditemukan yaitu unsur-unsur budaya maritim empat unsur budaya yaitu sistem religi/kepercayaan, sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi beserta makna ungkapan doa, permohonan pengampunan dosa, ungkapan makna ucapan bersyukur, dan makna perjumpaan dalam bentuk lomba, dalam syair masamper ini juga, di bagi bentuk satuan lingual pada penelitian ini, bentuk satuan lingual difokuskan terhadap satuan leksikal yang berupa kata dan satuan gramatikal yang berupa kosakata, frasa, kalimat dan wacana, bentuk satuan lingual yang didapatkan yaitu bentuk kata, frasa, dan kalimat beserta makna.
Pemanfaatan Aplikasi Hot Potatoes Pada Guru SD Negeri Kaasar Dan SD Negeri Paslaten Dalam Pemahaman Literasi Digital 4.0 Garryn Christian Ranuntu; Vany Kamu
GUNAVATTA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 1 (2026): Gunavatta : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/gunavatta.v2i1.7115

Abstract

‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ merupakan amanat dari UUD 45 yang harus dijunjung tinggi dalam dunia pendidikan. Tujuan mulia tersebut harus dilakukan dalam setiap tahap pendidikan. Terdapat banyak cara yang dapat ditempuh baik oleh pihak sekolah maupun guru dalam menjalankan amanat UUD 45 tersebut. Salah satu cara yaitu membuat sebuah sistem pengajaran dalam pembuatan soal yang lebih menarik dan atraktif sehingga siswa-siswa tersebut merasa tertarik untuk melakukannya. Covid-19 telah merubah model pembelajaran dalam porsi yang sangat besar. Skenario atau strategi baru harus digunakan selama transformasi pendidikan digital pasca-Covid 19. Kegiatan pembelajaran tradisional terhenti, ruang kelas sekolah dikosongkan dan diganti dengan ruang kelas digital yang disajikan secara virtual. Kelompok Guru pada SD Negeri Kaasar dan SD Negeri Paslaten di Kecamatan Kauditan Minahasa Utara juga menghadapi kesulitan dalam pengajaran yang dapat mempertahankan animo siswa lewat proses pembelajaran. Maka Aplikasi Hot Potaoes yang menyediakan berupa Jcloze, alat untuk mengarang soal atau latihan dalam bentuk paragraph, Jmatch, alat untuk mengarang soal atau latihan dalam bentuk menjodohkan, Jmix, alat untuk mengarang soal atau latihan dalam bentuk menyusun kalimat, Jquiz, alat untuk mengarang soal atau latihan dalam bentuk pilihan ganda dapat membantu para guru dalam menghadapi literasi digital 4.0 dalam proses pembelajaran yang maksimal di pendidikan dasar. Metode pelatihan dan pendampingan diterapkan dalam proses ini sehingga para guru-guru dapat menciptakan contoh-contoh soal yang dapat dipakai dalam ruangan kelas. Setelah pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, para guru-guru di SD Negeri Kaasar dan SD Negeri Paslaten dapat membuat dan menunjukkan semua contoh soal yang dibuat dengan aplikasi dapat dijalankan dengan baik dan benar.
Perbandingan Sistem Reduplikasi dalam Bahasa Jepang dan Bahasa Tombulu: Sebuah Kajian Deskriptif Rottie, Dina Chatrina Magdalena; Ranuntu, Garryn Christian
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 1 (2026): EduTIK : Februari 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa merupakan kemampuan yang dimiliki oleh manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya. Hakikat bahasa merupakan dasar/hakikat sejati dari sistem lambang bunyi. Beberapa peneliti telah melakukan penelitian terhadap Bahasa Indonesia, Bahasa Jepang dan Bahasa Tombulu yang berfokus pada reduplikasi, namun penelitian ini ingin membahas analisis deskriptif tentang Sistem Reduplikasi Kontrastif Bahasa Jepang dan Bahasa Tombulu. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi untuk mendeskripsikan perbedaan persamaan dan dengan studi pustaka data penelitian diambil dan dianalisis dengan studi kontrastif. Proses analisis data ini dilakukan dengan cara menganalisis data yang terkumpul dan membuat simpulan dari hasil analisis pada bagian perbedaan dan persamaan. Hasil penelitian: persamaan reduplikasi Bahasa Jepang dan Bahasa Tombulu; ada yang mengalami perubahan bunyi dan ada yang tidak, serta mengalami reduplikasi lengkap bentuk dasarnya, sedangkan perbedaan reduplikasi terjadi pada afiks kata. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa reduplikasi Bahasa Jepang terbagi menjadi dua bagian, reduplikasi Bahasa Tombulu terbagi menjadi dua bagian; reduplikasi utuh atau lengkap, reduplikasi semua bentuk tunggal.
Fonem dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Gorontalo (Suatu Analisis Kontrastif) Supu, Miladia; Ranuntu, Garryn C.; Sebayang, F. Ari A.
Kajian Linguistik Vol. 11 No. 1 (2026): Kajian Linguistik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35796/kl.11.1.2026.66802

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikas, mengklasifikasikan, dan mendeskripsikan bentuk, distribusi, dan sistem fonotaktik fonem dalam bahasa Inggris dan bahasa Gorontalo. Studi ini juga menganalisis kesamaan dan perbedaan antara system fonemik kedua bahasa tersebut menggunakan pendekatan analisis kontrastif. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Data bahasa Inggris diperoleh dari daftar kosakata Swadesh, sedangkan data bahasa Gorontalo dikumpulkan dari lima penutur asli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Inggris memiliki tiga belas fonem vokal, yaitu /i/, /ɪ/, /e/, /ɛ/, /æ/, /a/, /ɔ/, /o/, /ʊ/, /u/, /ə/, /ʌ/, dan /ɝ/, serta dua puluh empat fonem konsonan, yaitu /p/, /b/, /m/, /f/, /v/, /t/, /d/, /n/, /r/, /θ/, /ð/, /s/, /z/, /ʃ/, /ʒ/, /l/, /tʃ/, /dʒ/, /j/, /k/, /ɡ/, /ŋ/, /w/, dan /h/. Sementara itu, bahasa Gorontalo memiliki lima fonem vokal, yaitu /a/, /i/, /e/, /u/, dan /o/, serta sembilan belas fonem konsonan, yaitu /p/, /t/, /g/, /h/, /n/, /r/, /y/, /j/, /ɲ/, /b/, /d/, /k/, /s/, /m/, /l/, /w/, /c/, /ŋ/, dan /ʔ/. Distribusi fonem dalam kedua bahasa dianalisis berdasarkan kemunculannya pada posisi awal, tengah, dan akhir kata. Temuan menunjukkan bahwa kedua bahasa memiliki kesamaan fonem vokal a/, /e/, /i/, /u/, dan /o/, serta dalam fonem konsonan /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /r/, /s/, /l/, /j/, /k/, /g/, /ŋ/, /w/, dan /h/. Berdasarkan analisis pola fonotaktik, bahasa Inggris memiliki dua belas sistem pola fonotaktik, sedangkan bahasa Gorontalo memiliki tiga sistem
MAKNA DENOTASI DAN KONOTASI DALAM NASKAH FILM THE MENU KARYA MARK MYLOD Pelleng, Jennifer Bianca; Ranuntu, Garryn C.; Sebayang, F. Ari Anggraini
Kajian Linguistik Vol. 11 No. 1 (2026): Kajian Linguistik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35796/kl.11.1.2026.66806

Abstract

This research is entitled “Denotative and Connotative Meanings in the Script of the Film The Menu by Mark Mylod (Semantic Analysis)”. This research examines the denotative and connotative meanings found in the script of the film The Menu by Mark Mylod. The aim of this research is to identify, classify and analyze the meaning of denotation and connotation found in the movie script The Menu by Mark Mylod. The theory used in this research was the theory of Geoffrey Leech (1981). The writer used a qualitative descriptive method to collect data in this research. The writer identified and classified words, phrases and sentences then analyzed the meaning of denotation and connotation. The study finds, there are 33 data, consist of 20(words), 10(phrase) and 3(sentences), which contains denotative and connotative meaning. The connotative meaning contained in the movie script for The Menu by Mark Mylod has an important meaning and message for readers or viewers. The writer finds that the meaning of denotation and connotation is not only found in scripts or films but can also be found in everyday life and in relation to each other.
Can AI Speak Diplomacy? A Head-to-Head Translation Challenge Ranuntu, Garryn Christian; Qarimah, Aryana Nurul
JLT: Jurnal Linguistik Terapan JLT Volume 15 No 2, 2025
Publisher : UPT P2M Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Machine translation (MT) has evolved from simple rule-based systems to advanced neural and large-language-model (LLM) frameworks. This evolution has enabled increasingly human-like translation performance. However, very rare studies were done to evaluate them for diplomatic texts. Adopting mixed-method design, this study compared the ability of three translation models, namely Google Translate, DeepL, and ChatGPT in translating diplomatic text (excerptx from Thailand's governmental address and The Inaugural Address of President Trump).  The quantitative methods included the use of BLUE and TER. The qualitative method employed qualitative discourse analysis and diplomatic register analysis. The quantitative results indicate notable differences in performance across the three machine translation systems. Google Translate obtained a BLEU score of 58.59 and a TER of 22.22%, suggesting that while its translation output retains general meaning and readability, it tends to be more literal and less refined in terms of lexical and syntactic choices. DeepL achieved a higher BLEU score of 64.67 and a lower TER of 18.52%, demonstrating stronger performance in terms of fluency, grammatical accuracy, and lexical precision. ChatGPT, with a BLEU score of 98.00 and TER of 4.00%, shows near-human performance, effectively functioning as the reference baseline. From the qualitative analysis, it was found that ChatGPT best satisfies the linguistic, pragmatic, and rhetorical requirements of diplomatic translation, followed by DeepL as a strong secondary option, and Google Translate as a useful tool for everyday general-purpose translation but not suitable for formal governmental or international contexts.
Co-Authors ,, Jessi ., Natanael Amelia Cindy Mogi Aryana Nurul Qarimah Ayurangga, Egi Ayis Boy Lumoindong Budiman, Eldo Cie, Ochtania Belaristy DADY, KEREN Deeng, Astried Filistea Agustina Djeinnie Imbang Domenic Karema S. Parengkuan F Ari Anggraini Sebayang Golda Tulung Husain, Dedi Iskandar Jansen, Frieda Th. Kandati, Susi Patrisia KODONG, FENTJE Lasut, Theresia M. C. Lasut, Theresia M.C LOTULUNG, DONALD R. Lumampak, Billy Marsel Michael Lumanauw, Fiorentina Nispati Winona MAALUA, ERWIN GRENIER Makasambe, Jeansi Mandolang, Nova Olvie Mangudis, Fadhlillah Sandya MARENTEK, ANDRIYANI Memah, Wine Lisa MOKODOMPIT, PEBRIAN FRANSISCO Mokodompit, Putri Widiya Mulyani, Yayu Naray, Agly Andre Nebuntu, Cowan Nender, Oliver Othniel Ngala, Dorna Volin PAATH, ANGELIKA ANGGREINA PAKASI, JENNY H. PAKASI, JENNY HILDA Palilingan, Kezia Pricilia Patricia PAMANTUNG, RINA P. Pandean, Mariam Lidia Mytty PARENGKUAN, DOMENIC K.S. PELEALU, HETTY Pelleng, Jennifer Bianca Piri, Sendis Elisabeth Pongoh, Julianti Sasmita Rambing, Rosalina RATTU, JULTJE A.J. Rottie, Dina Chatrina Magdalena Ruauw, Wulan Melisa Sabana, Sasmitha Sally, Seyla SAWUWU, HENDRIK SOLEMAN Sebayang, F. Ari A. SIDETE, BEBI SUSANTO SIGARLAKI, STEPHANI J. Siwu, Naftali Ester Sumanti, Peggy Lady Claudia Sumendap, Inggrid Nathalia Supu, Miladia Susi Patrisia Kandati Talib, Alisa Annisa Tallulembang, Romaryo Tomby Thalib, Vidyawati Puteri Topuh, Jaines Ilandi Tulung, Golda Juliet Umboh, Eklesia Saulin Vany Kamu WANTASEN, ISNAWATI Wantasen, Isnawaty L. Watung, Kristia Vanesha WONGKAR, GABRIELA MONICA Wowor, Juan Joshua