Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Hubungan pola asuh dengan perilaku bullying pada anak sekolah dasar Iva Milia Hani Rahmawati; Inayatur Rosyidah; Hartatik Hartatik
Jurnal Keperawatan Vol 20 No 2 (2022): Edisi Khusus Jurnal Keperawatan
Publisher : STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jkp.v20i2.1040

Abstract

Perilaku bullying merupakan perilaku seseorang khususnya lebih kuat menyakiti baik fisik maupun secara verbal terhadap orang yang lemah. Salah satu faktor penyebab seorang anak melakukan perilaku bullying adalah pola asuh orang tua. Pola asuh yang tepat dalam mengasuh dan mendidik anak sangat dibutuhkan, karena pola asuh akan mempengaruhi kondisi psikologis anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola asuh orang tua, perilaku bullying pada anak sekolah dasar serta menganalisis hubungan pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada anak sekolah dasar di Sekolah Dasar Negeri Carangrejo 02, Kesamben, Jombang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 48 responden terdiri dari siswa Sekolah dasar dan orang tua/wali dengan menggunakan purposive sampling. Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross sectional dan Analisa data yang digunakan untuk mengetahui hubungannya adalah uji Chi Square. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying pada siswa sekolah dasar SDN Carangrejo 02, Kesamben, Jombang. Saran dapat diadakan kegiatan parenting dengan tema penguatan pola asuh dan bullying serta penanggulanganya.
PENERAPAN BRAIN GYM SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI FUNGSI KOGNITIF DAN KESEHATAN JIWA LANSIA DI KOMUNITAS: APPLICATION OF BRAIN GYM TO ENHANCE COGNITIVE AND MENTAL HEALTH AMONG OLDER ADULTS IN COMMUNITY SETTINGS Zulvana; Rahmawati, Iva Milia Hani; Wiseno, Bambang
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v3i2.337

Abstract

Abstrak  Perubahan struktur demografis global menunjukkan peningkatan signifikan pada populasi lansia, termasuk di Indonesia. Lansia kerap menghadapi berbagai tantangan psikososial seperti penurunan fungsi kognitif, kecemasan, stres, dan kehilangan peran sosial. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang holistik, murah, dan mudah diimplementasikan di komunitas. Brain Gym atau senam otak merupakan pendekatan non-farmakologis berbasis gerakan sederhana yang terbukti dapat mengoptimalkan fungsi otak dan kesehatan mental. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia dalam mempraktikkan gerakan Brain Gym. Kegiatan dilakukan pada 25 lansia di Posyandu Dusun Ngemplak, Kediri, melalui metode edukasi dan pelatihan partisipatif. Lansia dikenalkan dengan lima gerakan utama Brain Gym: Cross Crawl, Hook-Ups, Brain Buttons, Lazy 8s, dan Positive Points. Hasil pre-test menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan awal berada pada angka rata-rata 25%, dan meningkat menjadi 86% pada post-test. Pada aspek praktik, hanya 12% lansia yang mampu melakukan seluruh gerakan dengan benar sebelum pelatihan, sedangkan setelah pelatihan, 84% peserta mampu melakukannya secara mandiri dan percaya diri. Intervensi ini terbukti meningkatkan pemahaman dan kemampuan lansia dalam menjaga kesehatan otak dan jiwa melalui aktivitas fisik ringan. Brain Gym sangat potensial untuk diterapkan secara berkelanjutan di komunitas lansia sebagai strategi promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan masyarakat.  Kata kunci: lansia, kesehatan jiwa, fungsi kognitif, Brain Gym, pengabdian masyarakat Abstract  The global demographic shift indicates a significant increase in the elderly population, including in Indonesia. Older adults often face various psychosocial challenges such as cognitive decline, anxiety, stress, and loss of social roles. Therefore, a holistic, low-cost, and community-friendly intervention is urgently needed. Brain Gym, or educational kinesiology, is a non-pharmacological approach involving simple body movements proven to optimize brain function and mental well-being. This community service activity aimed to improve the knowledge and practical skills of older adults in performing Brain Gym exercises. The program was conducted for 25 elderly participants at Posyandu Dusun Ngemplak, Kediri, using participatory education and training methods. The participants were introduced to five basic Brain Gym movements: Cross Crawl, Hook-Ups, Brain Buttons, Lazy 8s, and Positive Points. Pre-test results showed an initial average knowledge level of 25%, which increased to 86% after the session. In terms of practice, only 12% of participants could perform all movements correctly before the training, while 84% succeeded in doing them independently and confidently after the intervention. This program proved effective in enhancing both understanding and ability of the elderly in maintaining cognitive and emotional health through simple physical activities. Brain Gym has strong potential to be implemented sustainably in community settings as a promotive and preventive strategy within public health services.  Keywords: elderly, mental health, cognitive function, Brain Gym, community engagement
EFEKTIFITAS EDUKASI PENCEGAHAN PERILAKU SELF HARM TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN PENCEGAHAN PERILAKU SELF HARM PADA MASYARAKAT DI DESA PELEM : EFFECTIVENESS OF SELF-HARM BEHAVIOR PREVENTION EDUCATION ON INCREASING KNOWLEDGE OF SELF-HARM BEHAVIOR PREVENTION IN THE COMMUNITY IN PELEM VILLAGE Rahmawati, Iva Milia Hani; Zulvana; Wiseno, Bambang
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v3i2.345

Abstract

Abstrak   Pendahuluan : Perilaku self-harm menjadi isu kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan di berbagai kalangan masyarakat, termasuk di tingkat desa. Kurangnya pemahaman dan informasi yang memadai mengenai self-harm dapat menghambat upaya pencegahan dan penanganan dini. Oleh karena itu, intervensi edukasi yang efektif diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat. Tujuan : Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas edukasi pencegahan perilaku self-harm terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat di Desa Pelem. Metode : Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif, dengan melibatkan warga desa Pelam yang tergabung dalam posyandu Dahlia dalam pelaksanaan program edukasi mengenai definisi, faktor risiko, dampak, dan cara pencegahan perilaku self-harm di masyarakat. Hasil : Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelum diberikan edukasi pengetahuan dan pencegahan tentang self harm pada masyarakat desa pelem adalah 20%. Sedangkan setelah diberikan edukasi tentang pencegahan perilaku self harm meningkat sejumlah 80%. Hal ini mengindikasikan bahwa edukasi yang diberikan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Pelem tentang pencegahan perilaku self-harm. Kesimpulan : Edukasi pencegahan perilaku self-harm terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat di Desa Pelem. Peningkatan pengetahuan ini diharapkan dapat berkontribusi pada upaya deteksi dini, pencegahan, dan penanganan yang lebih baik terhadap isu self-harm di tingkat komunitas. Saran : Disarankan untuk mengembangkan program edukasi serupa dengan cakupan yang lebih luas dan metode yang lebih variatif. Kata kunci : Self Harm, Pengetahuan, Masyarakat Abstract Introduction: Self-harm behavior is an increasingly worrying mental health issue in various communities, including at the village level. Lack of understanding and adequate information about self-harm can hinder prevention and early treatment efforts. Therefore, effective educational interventions are needed to improve community knowledge. Objective: This community service aims to analyze the effectiveness of education on preventing self-harm behavior on improving community knowledge in Pelem Village. Method: The method used in this service is a participatory approach, involving Pelam villagers who are members of the Dahlia integrated health post in implementing an education program on the definition, risk factors, impacts, and how to prevent self-harm behavior in the community. Results: The results showed a significant increase. Before being given education, knowledge and prevention about self-harm in the Pelem village community was 20%. While after being given education about preventing self-harm behavior, it increased by 80%. This indicates that the education provided is effective in increasing the knowledge of the Pelem Village community about preventing self-harm behavior. Conclusion: Education on preventing self-harm behavior has proven effective in increasing community knowledge in Pelem Village. This increase in knowledge is expected to contribute to early detection, prevention, and better handling of self-harm issues at the community level. Suggestion: It is recommended to develop similar educational programs with wider coverage and more varied methods Keywords: Self Harm, Knowledge, Society
SELF-ACCEPTANCE AND SOCIAL ANXIETY IN ADOLESCENTS: A CORRELATIONAL STUDY Zulvana; Didik Susetiyanto Atmojo; Iva Milia Hani Rahmawati; Erni Rahmawati
Nursing Sciences Journal Vol 9 No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/nsj.v9i1.6544

Abstract

Social anxiety is a psychological disorder commonly experienced by adolescents, especially during the transition to adulthood. Self-acceptance is believed to influence the level of social anxiety in adolescents. This study aims to identify the relationship between self-acceptance and social anxiety in seventh-grade students at SMP Negeri 2 Plemahan. The type of research is a quantitative approach with a descriptive-analytic design and a cross-sectional approach was used. The sample consisted of 69 students selected through purposive sampling. The instruments used included the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) and Berger’s Self-Acceptance Scale. Data were analyzed using Chi-Square tests. The results showed that the majority of respondents were female and aged 13. Most respondents exhibited moderate levels of both social anxiety and self-acceptance. A significant relationship was found between self-acceptance and social anxiety with a moderate relationship strength. Conclusion and suggestions in this research is increasing self-acceptance can be an effective strategy to reduce social anxiety in adolescents. It is recommended that schools develop counseling programs to support the enhancement of students' self-acceptance.
MENTAL EMOTIONAL CHANGES WITH EATING DISORDERS IN ADOLESCENTS AGED 13-17 YEARS Iva Milia Hani Rahmawati; Inayatur Rosyidah; Zulvana; Anin Wijayanti
Nursing Sciences Journal Vol 9 No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/nsj.v9i1.6551

Abstract

Eating disorders are eating disorders that are often experienced by adolescents. Most adolescents consume unhealthy foods causing disturbed eating patterns. Adolescence is a transition period from childhood to adulthood, the transition includes many aspects, one of which is emotional mentality, which triggers deviant eating behavior known as eating disorders. This study aims to analyze the relationship between emotional mental changes and eating disorders in adolescents aged 13-17 years in Tegalsari Village, Tulungrejo, Pare-Kediri. This type of research is quantitative with a cross-sectional approach design. The population of adolescents with emotional mentality and eating disorders was taken by simple random sampling, a sample of 45 respondents was obtained. The independent variable in this study is emotional mentality which is measured using a questionnaire and the dependent variable in this study is eating disorders which are measured using a questionnaire with data processing using the Spearman rank test analysis. The results showed that of the 45 respondents, most of them experienced bad emotional mentality. and most of them had eating disorders with bad categories. based on the Spearman rank test, the p value = 0.012 was obtained, so H1 was accepted. The conclusion is that there is a close relationship between emotional mental changes and eating disorders in adolescents aged 13-17 years. Suggestion It is hoped that teenagers can maintain good mental health and eating patterns so that they can grow and develop according to their age.
DETEKSI DINI KADAR GLUKOSA DARAH SEWAKTU DAN TEKANAN DARAH DI MASYARAKAT DESA CARANG WULUNG KECAMATAN WONOSALAM KABUPATEN JOMBANG Ifa Nofalia; Suhendra Agung Wibowo; Endang Yuswatiningsih; Dwi Prasetyaningati; Iva Milia Hani Rahmawati; Hindyah Ike Suhariati
JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT KESEHATAN (ABDIMAKES) Vol 4 No 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55316/amk.v4i1.1017

Abstract

Insufficient knowledge and minimal public awareness of the importance of health checks are the main problems that must be addressed immediately. Diabetes mellitus and blood pressure are the two non-communicable diseases that most people suffer from. So the target of implementing the community service program is to provide education by means of health education and early detection of instantaneous blood glucose levels and blood pressure in the community with the aim of increasing community knowledge about disease and increasing awareness of the importance of early screening in the community of Carang Wulung Village, Wonosalam District. , Jombang Regency. The result was that almost half of the people who took blood sugar checks experienced hyperglycemia, 37 people (49.3%) and the majority of people who took blood pressure checks experienced hypertension, 44 people (58.7%). Regarding knowledge before health education was carried out, the majority of people still had insufficient knowledge about diabetes mellitus and hypertension with a total of 52 people (69.3%). After health education was carried out, almost all people had good knowledge about diabetes mellitus and hypertension with a total of 69 people (92%). In conclusion, the service activities that have been carried out run smoothly and receive support from all parties, so it is hoped that the public will better understand the importance of early prevention so that more serious health problems do not occur
Hubungan Kontrol Diri dengan Perilaku Seksual Remaja Sekolah Menengah Kejuruan Rosyidah, Inayatur; Rahmawati, Iva Milia Hani; Lufitasari, Ardea Threzza
Jurnal Keperawatan Vol 23 No 2 (2025): Jurnal Keperawatan September 2025
Publisher : STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jkp.v23i2.1502

Abstract

Pendahuluan: perilaku seksual merupakan salah satu proses tahapan perkembangan yang dialami remaja. Perilaku seksual yang dialami remaja di indonesia cukup menghawatirkan yang semakin tahun semakin meningkat yang dikarenakan oleh faktor biologis dari remaja dan perkembangan dari teknologi yang membuat remaja meniru perilaku yang diaksesnya. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan kontrol diri dengan perilaku seksual pada remaja sekolah menengah kejuruan di SMK PGRI 1 Jombang. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi seluruh siswa kelas X manajemen perkantoran, akuntansi 1 dan akuntansi 2 sejumlah 120 siswa., didapatkan sampel sejumlah 92 siswa dengan metode propotional random sampling. Variabel independent adalah kontrol diri dan variabel dependent adalah perilaku seksual. Pengumpulan data menggunakan alat ukur kuesioner kontrol diri dengan 3 indikator dan kuesioner perilaku seksual dengan 4 indikator. Analisis data dengan editing, coding, scoring, dan tabulating. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden memiliki kontrol diri dengan kategori tinggi sebanyak 11 siswa (12,0%), sedang 61 siswa (66,3%) dan rendah 20 siswa (21,7%). Hasil perilaku seksual sebagian besar responden memiliki kategori baik sebanyak 12 siswa (13,0%), cukup 65 siswa (65,2%) dan buruk 20 siswa (21,7%). Hasil uji statistik rank spearmen didapatkan nilai signifikan 0,000 atau < 0,05 maka H1 diterima. Kesimpulan: Ada Hubungan kontrol diri dengan perilaku seksual pada remaja sekolah menengah kejuruan di SMK PGRI 1 jombang, Sehingga disarankan utuk pihak guru untuk menyediakan kegiatan pengembangan diri dan bahaya perilaku seksual seperti kissing, necking, petting dan sexual intercouse
Pengaruh Permainan Puzzle terhadap Perkembangan Motorik Halus pada Anak Usia Prasekolah Rosyidah, Inayatur; Rahmawati, Iva Milia Hani; Damayanti, Alfina
Jurnal Keperawatan Vol 23 No 1 (2025): Jurnal Keperawatan Maret 2025
Publisher : STIKES Insan Cendekia Medika Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jkp.v23i1.1456

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan motorik halus pada anak memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Perkembangan motorik halus yang buruk pada anak jika tidak diatasi akan mempengaruhi proses perkembangan anak. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh permainan puzzle terhadap perkembanagan motorik halus pada anak usia prasekolah di TK Muslimat 6 Tarbiyatul Athfal Sambong Dukuh, Jombang. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Desain penelitian menggunakan pra eksperimen dengan pendekatan one pre-post test design. Populasinya seluruh anak usia prasekolah di TK Muslimat 6 Tarbiyatul Athfal Sambong Dukuh, Jombang yang berjumlah 50 anak usia prasekolah menggunakan metode proposional random sampling dan didapatkan sampel 44 anak usia prasekolah. Variabel independent adalah permainan puzzle dan variable dependen adalah perkembanagan motorik halus. Pengumpulan data menggunakan SOP dan pengukuran DDST II pada aspek motorik halus. Pengolahan data meliputi editing, coding dan scoring. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan motorik halus anak sebelum diberikan permainan puzzle adalah normal 16 anak (36,4%), suspect 21 anak (47,7%), untestable 7 anak (15,9%). Perkembangan motorik halus anak sesudah diberikan permainan puzzle adalah normal 34 anak (77,3%), suspect 10 anak (22,7%), untestable (0). Hasil uji Wilcoxon didapatkan p (0,000) lebih rendah dari ɑ (0,05) atau (p<ɑ), maka H₁ diterima. Kesimpulan: ada pengaruh permainan puzzle terhadap perkembangan motorik halus anak usia prasekolah di TK Muslimat 6 Tarbiyatul Athfal Sambong Dukuh, Jombang.
EFEKTIVITAS PSIKOEDUKASI SI-CBT TERHADAP PENERIMAAN DIRI DAN KECEMASAN SOSIAL PADA REMAJA Zulvana, Zulvana; Atmojo, Didik Susetiyanto; Rahmawati, Iva Milia Hani
coba Vol 14 No 1 (2025): November 2025
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32831/jik.v14i1.925

Abstract

Pendahuluan: Masa remaja merupakan fase perkembangan yang rentan terhadap masalah psikologis, termasuk kecemasan sosial yang dapat memengaruhi hubungan interpersonal dan prestasi akademik. Penerimaan diri berperan sebagai faktor protektif penting dalam mengurangi kecemasan sosial. Spiritual Integrated Cognitive Behavioral Therapy (SI-CBT) dikembangkan dengan memadukan prinsip CBT dan nilai spiritual yang sesuai dengan budaya Indonesia. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas psikoedukasi berbasis SI-CBT dalam meningkatkan penerimaan diri dan menurunkan kecemasan sosial pada remaja. Metodologi: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pretest–posttest control group. Sebanyak 60 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Plemahan dipilih melalui purposive sampling dan dibagi dalam kelompok intervensi (n=30) dan kontrol (n=30). Instrumen yang digunakan adalah Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) dan Berger’s Self-Acceptance Scale. Psikoedukasi SI-CBT diberikan dalam enam sesi selama tiga minggu. Analisis data dilakukan menggunakan paired t-test dan independent t-test/ANCOVA. Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan peningkatan penerimaan diri dan penurunan kecemasan sosial yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Diskusi: Psikoedukasi berbasis SI-CBT terbukti efektif dalam meningkatkan penerimaan diri dan menurunkan kecemasan sosial pada remaja, sehingga berpotensi diterapkan sebagai intervensi psikososial keperawatan jiwa di lingkungan sekolah untuk mendukung upaya promotif dan preventif kesehatan mental. Kata Kunci: Psikoedukasi, SI-CBT, penerimaan diri, kecemasan sosial, remaja.
UPAYA PENATALAKSANAAN DEPRESI DENGAN SCREENING DAN COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA: DEPRESSION MANAGEMENT EFFORTS WITH SCREENING AND COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY TO ELDERLY IN TRESNA WERDHA SOCIAL ASSOCIATES Yektiningsih, Erwin; Khosasih , M.Ikhwan; Africia, Fresty; Hani Rahmawati, Iva Milia; Satriya, Moch.Gandung
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i1.411

Abstract

Abstrak   Kelompok usia lanjut yang tinggal terpisah dari keluarga yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha kecenderunagan rentan mengalami gangguan mental depresi dengan perasaan sedih, ketidakberdayaan, dan pesimis, sehingga mengurangi kualitas hidup lansia. Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani dapat terjadi masalah kegawatdarutan mental resiko bunuh diri yang rentan mengalami kematian. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk mencegah serta penatalaksanaan depresi pada lansia, supaya tercapainya kesejahteraan mental selama tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha. Kegiatan PKM ini digunakan tiga tahapan metode yaitu pertama perencanaan meliputi survey lokasi, proposal, perijinan, menyusun media screening Beck Deppression Inventory (BDI). Kedua  implementasi dilakukan screening BDI kepada semua lansia, kemudian tindakan cognitive behavior therapy (CBT) kepada lansia yang mengalami depresi. Ketiga tahap evaluasi pada keseluruhan proses kegiatan sekaligus pemberian intervensi  CBT pada lansia depresi dengan  menganalisa perubahan score BDI pada pre dan post intervensi CBT. Hasil kegiatan ini menunjukkan hasil screening BDI pada lansia depresi  menjadi menurun menjadi normal sebanyak 62.5%. Maka tindakan screening BDI dan CBT pada lansia direkomendasikan sebagai upaya screening depresi sekaligus CBT kuratif untuk membantu mengurangi masalah depresi pada lansia yang tinggal di lingkungan khusus di panti sosial dengan kolaborasi sinergis antara pihak Panti Sosial Tresna Werdha, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam menciptakan lingkungan aman yang mendukung peningkatan  kesehatan mental lansia supaya tetap aktif serta  produktif secara fisik dan sosial. Abstract   Elderly living separately from their families in the social care facility are prone to experiencing mental disorders such as depression, feelings of sadness, helplessness, and pessimism, which can reduce their quality of life. If condition is not addressed immediately, it can lead to mental emergencies suicide risk, which can lead to death. The purpose this community service was  prevented  and manage depression to elderly, in order to achieve mental well-being while living in the Tresna Werdha social care facility. This PKM activity used three methods stages: first, planning, including location surveys, proposals, permits, and compiling Beck Depression Inventory (BDI) screening media. Second, implementation involves BDI screening for all elderly, followed by specific cognitive behavioral therapy (CBT) measures for elderly with depression. Third, evaluation was carried out on  entire activity process, as well as providing CBT interventions for depressed elderly by analyzing changes in BDI scores pre- and post-CBT intervention. The results this activity indicate that the BDI screening results for depressed elderly people have decreased to normal by 62.5%. Therefore, BDI screening and CBT for the elderly  will recommend as a preventive BDI and curative CBT approach to help reduce depression to elderly residents living in special social care settings. This synergistic collaboration between the Tresna Werdha Social Care Center, families, and healthcare professionals creates a safe environment that supports mental health to elderly, allowing them to remain physically and socially active and productive.