Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Penyuluhan dan Demonstrasi PHBS pada Warga Binaan Lapas Jombang Ifa Nofalia; Suhendra Agung Wibowo; Endang Yuswatiningsih; Agustina Maunaturrohmah; Dwi Prasetyaningati; Hindyah Ike Suhariyati; Inayatur Rosyidah; Anita Rahmawati; Iva Milia Hani Rahmawati
Bhakti Patrika Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Pubfine Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64408/bp.2025.1119

Abstract

Pendahuluan: Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Lapas Jombang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental warga binaan dengan mengatasi masalah kebersihan, pola makan, dan terbatasnya fasilitas kesehatan. Metode: Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif, dengan melibatkan warga binaan dalam pelaksanaan program edukasi mengenai kebersihan tubuh dan lingkungan, pola makan sehat, serta aktivitas fisik. Hasil: Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam kebiasaan mencuci tangan (80%), pemeliharaan kebersihan lingkungan (70%), serta partisipasi dalam olahraga (60%). Meskipun demikian, tantangan utama tetap pada keterbatasan bahan makanan bergizi yang tersedia dan fasilitas olahraga yang terbatas. Program ini juga berhasil meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, dengan sebagian besar warga binaan menunjukkan perubahan positif dalam kebiasaan sehat mereka. Kesimpulan: Kesimpulannya, program PHBS di Lapas Jombang efektif dalam meningkatkan kualitas hidup warga binaan, namun perlu adanya peningkatan akses terhadap makanan bergizi, fasilitas olahraga, dan dukungan kesehatan mental untuk memastikan keberlanjutan program. Evaluasi berkala dan partisipasi warga binaan dalam pengelolaan program menjadi kunci untuk mencapai dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Edukasi Anti-Bullying sebagai Upaya Promotif Kesehatan Jiwa Remaja dalam Keperawatan Jiwa Komunitas Zulvana; Iva Milia Hani Rahmawati; Ratna Feti Wulandari; Suryono
Bhakti Patrika Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Pubfine Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64408/bp.2026.22168

Abstract

Pendahuluan: Bullying merupakan masalah kesehatan jiwa pada remaja yang berdampak pada kecemasan, depresi, dan penurunan harga diri. Tingginya prevalensi bullying menuntut adanya upaya promotif melalui edukasi kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan deskriptif pada 120 siswa usia 12–15 tahun di MTs Zainul Hasan Kediri. Intervensi berupa edukasi anti-bullying melalui ceramah, diskusi interaktif, dan media audiovisual. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test serta observasi partisipasi peserta. Hasil: Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 66,4 menjadi 85,7 setelah intervensi. Peserta menunjukkan partisipasi aktif selama kegiatan serta peningkatan pemahaman terkait jenis, dampak, dan pencegahan bullying. Selain itu, terjadi perubahan sikap positif, seperti meningkatnya kesadaran untuk tidak melakukan bullying dan komitmen menciptakan lingkungan yang aman. Kesimpulan: Edukasi anti-bullying efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja sebagai upaya promotif kesehatan jiwa. Program ini berpotensi dikembangkan secara berkelanjutan untuk mendukung lingkungan sekolah yang bebas bullying.
PENGELOLAAN KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PHUBBING & SMOMBIE PADA SISWA SEKOLAH DASAR (PRA-REMAJA USIA 10-12 TAHUN) DI MI MUHAMMADIYAH 1 PARE-KEDIRI: EMOTIONAL INTELLIGENCE MANAGEMENT AS AN EFFORTS TO PREVENT PHUBBING & SMOMBIE IN ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS (PRE-TEENS AGED 10-12 YEARS) AT MI MUHAMMADIYAH 1 PARE-KEDIRI Iva Milia Hani Rahmawati; Zulvana; Fresty Africia; Asrina Pitayanti
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.469

Abstract

Pendahuluan : Di era digital ini, remaja rentan terhadap perilaku phubbing (mengabaikan orang lain demi ponsel) dan menjadi smombie (berjalan tanpa memperhatikan sekitar karena fokus pada ponsel). Phubbing dapat membuat seseorang tidak dapat mengontrol emosinya. Perilaku ini merusak hubungan sosial, mengurangi interaksi tatap muka, dan meningkatkan risiko kecelakaan. Rendahnya kecerdasan emosional dianatranya (Mengenali dan memahami emosi diri sendiri, memotivasi, dan membangun hubungan sosial yg sehat) diduga menjadi salah satu faktor penyebabnya, karena remaja kesulitan mengelola perasaan dan berempati terhadap orang lain. Tujuan : Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan phubbing & smombie pada siswa sekolah dasar (pra-remaja usia 10-12) di MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. Metode : metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif, dengan melibatkan siswa kelas 3, 4 dan 5 dalam pelaksanaan program pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan phubbing dan smombie. Hasil : Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelum diberikan edukasi dan latihan pengelolaan kecerdasan emosional,  pengelolaan kecerdasan emosional pada siswa kelas 3, 4 dan 5 adalah (25%). Sedangkan setelah diberikan edukasi dan pelatihan tentang pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan pubbing & smombie meningkat sejumlah (70%). Hal ini mengindikasikan bahwa edukasi dan pelatihan pengelolaan kecerdasan emosional yang diberikan efektif dalam pengelolaan kecerdasan emosional dan pencegahan perilaku pubbing dan smombie di MI Muhammadiyah 1 Pare-kediri. Kesimpulan : Pengelolaan kecerdasan emosional terbukti efektif sebagai upaya pencegahan pubbing dan smombie. Saran : Disarankan untuk mengembangkan program edukasi dan pelatihan serupa dengan cakupan yang lebih luas dan metode yang lebih variatif. Abstract Introduction: In this digital era, adolescents are vulnerable to "phubbing" (ignoring others in favor of a mobile phone) and becoming "smombies" (walking without paying attention to surroundings due to phone focus). Phubbing can impair emotional control. Such behavior damages social relationships, reduces face-to-face interaction, and increases accident risks. Low emotional intelligence—specifically regarding recognizing and understanding one's own emotions, self-motivation, and building healthy social relationships—is suspected to be a contributing factor, as adolescents struggle to manage feelings and empathize with others. Objective: This community service initiative aimed to analyze the effectiveness of emotional intelligence management in preventing phubbing and smombie behaviors among elementary school students (pre-adolescents aged 10–12) at MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. Method: A participatory approach was employed, involving students from grades 3, 4, and 5 in a program designed to foster emotional intelligence as a preventive measure against phubbing and smombie behaviors. Results: Significant improvements were observed. Prior to the education and training on emotional intelligence, the level of emotional intelligence among students in grades 3, 4, and 5 stood at 25%. Following the intervention—which focused on emotional intelligence to prevent phubbing and smombie behaviors—this figure rose to 70%. These results indicate that the provided education and training were effective in fostering emotional intelligence and preventing phubbing and smombie behaviors at MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. Conclusion: Emotional intelligence management proved effective as a preventive measure against phubbing and smombie behaviors. Recommendation: It is recommended to develop similar education and training programs with a broader scope and more varied methods
PELATIHAN KADER LANSIA PUSKESMAS PARE KEDIRI BERBASIS SIMULASI DALAM PERTOLONGAN DAN RUJUKAN KEGAWATDARURATAN : SIMULATION-BASED TRAINING OF ELDERLY CADRES AT COMMUNITY HEALTH CENTER (PUSKESMAS) PARE KEDIRI IN EMERGENCY AID AND REFERRAL Bambang Wiseno; Iva Milia Hani Rahmawati; Pratiwi Yuliansari
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.473

Abstract

Abstrak Kegawatdaruratan pada lansia merupakan kondisi yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi, kecacatan, hingga kematian. Keterbatasan akses layanan kesehatan serta rendahnya pengetahuan masyarakat, khususnya kader kesehatan, menjadi salah satu faktor penghambat dalam penanganan awal kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kader lansia di Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri dalam melakukan pertolongan pertama dan rujukan kegawatdaruratan. Metode yang digunakan adalah pelatihan berbasis teori dan praktik yang meliputi materi identifikasi kondisi gawat darurat pada lansia, prinsip pertolongan pertama, sistem rujukan, serta simulasi kasus. Peserta pelatihan adalah kader lansia yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pare. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta observasi keterampilan selama praktik. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader dalam penanganan awal kegawatdaruratan lansia. Rata-rata nilai post-test (56,40) mengalami peningkatan dibandingkan pre-test (78,90) yang menunjukkan efektivitas pelatihan. Didapatkan peningkatan keterampilan dan kemampuan dalam tujukan kasus kegawatdaruratan dengan  mampu melakukan identifikasi dini kondisi gawat darurat dan memahami alur rujukan yang tepat. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan kader lansia efektif dalam meningkatkan kapasitas kader dalam pertolongan dan rujukan kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Diharapkan kegiatan ini dapat berkontribusi dalam menurunkan risiko keterlambatan penanganan kegawatdaruratan pada lansia serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Abstract Elderly emergencies require prompt and appropriate treatment to prevent complications, disability, and even death. Limited access to healthcare services and low public knowledge, particularly among health workers, are among the inhibiting factors in initial emergency management at the community level. This community service activity aims to improve the competency of elderly health workers at the Pare Community Health Center in Kediri Regency in providing first aid and emergency referrals. The method used was theory-based and practical training, covering topics on identifying emergency conditions in the elderly, first aid principles, referral systems, and case simulations. The training participants were elderly health workers within the Pare Community Health Center's work area. Evaluation was conducted through pre- and post-tests to measure knowledge gains and skills observations during the practice. The results of the activity showed a significant increase in the knowledge and skills of cadres in initial emergency management for the elderly. The average post-test score (56.40) increased compared to the pre-test (78.90), demonstrating the effectiveness of the training. Improved skills and abilities in addressing emergency cases were observed, including the ability to identify emergency conditions early and understand the appropriate referral pathway. The conclusion of this activity is that the training of elderly cadres is effective in increasing their capacity to provide emergency care and referrals at the community level. It is hoped that this activity will contribute to reducing the risk of delayed emergency care for the elderly and improving the quality of community-based health services.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SELF-CONTROL AND PHUBBING & SMOMBIE BEHAVIOR IN ADOLESCENTS Iva Milia Hani Rahmawati; Zulvana Zulvana; Didik Susetiyo Atmojo; Inayatur Rosyidah; Muhammad Taukhid
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol. 13 No. 2 (2026): JURNAL KEPERAWATAN SRIWIJAYA : JULI 2026
Publisher : Bagian Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/jks.v10i1.431

Abstract

Aim:  Phubbing" and "smombie" behaviors are consequences of the inability to use technology wisely—specifically, the excessive use of smartphones. Self-control is a crucial aspect to consider regarding phubbing and smombie behaviors; poor self-control often manifests most visibly during social interactions. This study aims to analyze the relationship between self-control and phubbing/smombie behaviors among adolescents at MTsN 1 Kediri. Methods: This is a quantitative study employing a correlational analytic design with a cross-sectional approach, involving a sample of 236 7th and 8th-grade students at MTsN 1 Kediri. Purposive sampling was used as the sampling technique. The Self-Control Scale (SCS) was used to measure self-control, while the Phubbing & Smombie Scale (PS) was used to measure phubbing and smombie behaviors. Data were analyzed using Spearman’s non-parametric correlation test. Results: The study yielded a correlation coefficient (r) of -0.238 with a significance value (p) of 0.278. Since p > 0.05, the null hypothesis (H0) was accepted. This indicates no statistically significant relationship between adolescent self-control and phubbing/smombie behaviors among students at MTsN 1 Kediri. The results reveal a research gap compared to previous studies; while earlier literature suggests a link between self-control and phubbing/smombie behaviors, this study found no significant relationship. The findings suggest that the behavior is driven not by weak self-control, but by factors such as the need for group conformity (fear of appearing unsupportive if one does not check their phone during gatherings) and the requirements of group tasks that necessitate intensive phone use. Conclusion: There is no relationship between self-control and phubbing/smombie behaviors among adolescents at MTsN 1 Kediri.