Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Menjaga Kadar Kolesterol dan Tekanan Darah Untuk Kesehatan Jantung Dengan Konsumsi Minuman Herbal Teh Hijau Annisa, Rully; Tania, Marta; Kurnia, Dwi
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 2 No 3 (2023): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v2i3.131

Abstract

Latar belakang: Penyakit jantung koroner adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah arteri koroner jantung. Hal ini terjadi karena Tinggi nya kadar kolesterol dapat menyebabkan aterosklerosis pada pembuluh darah Akibat dari penyempitan pembuluh darah tersebut aliran darah ke jantung akan kekurangan oksigen yang dapat menimbulkan gejala nyeri dada yang merupakan gejala khas penyakit jantung koroner. Penyakit kardiovaskuler termasuk penyakit jantung yang dapat menyebabkan kematian tertinggi di dunia. Sebuah riset menunjukkan bahwa konsumsi Teh hijau dapat menurunkan kolesterol total dan kolesterol jahat. Selain itu, Teh hijau juga mengandung asam fenolik, yang dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Tujuan: Program Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang Penyakit jantung koroner dan faktor penyebabnya diantaranya peningkatan kolesterol dan tekanan darah; melakukan pemeriksaan kadar kolesterol dan tekanan darah selanjutnya akan diberikan terapi pemberian teh hijau. Metode: Metode yang digunakan adalah sosialisasi dan intervensi pemberian terapi herbal teh hijau yang dapat diseduh dengan air panas dengan suhu 80-90°C lalu diamkan sejenak sampai teh menjadi hangat dan diminum hingga habis. Teh hijau dapat dikonsumsi sebanyak 3-4 kali sehari dan sebaiknya tidak mencampur dengan bahan lain seperti gula atau susu dan pengukuran kolesterol dan tekanan darah dengan pre-test dan post-test. Selanjutnya  Data dianalisis menggunakan paired T-test. Hasil: Didapatkan perbedaan signifikan perubahan kadar kolesterol dan nilai tekanan darah sebelum dan setelah intervensi (p=0,000). Kesimpulan: Pemberian terapi herbal menggunakan teh hijau dapat menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi. Kata kunci: kolesterol, penyuluhan, teh hijau, tekanan darah tinggi, terapi herbal __________________________________________________________________________________________ Abstract Background: Coronary heart disease is caused by the narrowing of the coronary arteries of the heart. It happens because high cholesterol levels can cause atherosclerosis in blood vessels. The result of the narrowing of these blood vessels, and blood flow to the heart will deprive of oxygen which can cause symptoms of chest pain is a typical symptom of coronary heart disease. Cardiovascular diseases, including heart disease, can cause the highest death in the world. Research shows that consumption of green tea can lower total cholesterol and bad cholesterol. In addition, green tea also contains phenolic acids, which can reduce the risk of coronary heart disease. Objective: This Community Service Program aims to provide knowledge about coronary heart disease and its causative factors, including increased cholesterol and blood pressure; Checking cholesterol levels and blood pressure will then be given green tea therapy. Method: The method used is socialization and intervention in the provision of green tea herbal therapy can brew with hot water at a temperature of 80-90°C, then let stand for a while until the tea becomes warm, and drink it until it runs out. Green tea can be consumed 3-4 times a day and should not mix with other ingredients such as sugar or milk and cholesterol and blood pressure measurements with pre-test and post-test. Furthermore, data were analyzed using paired T-test. Result: Results: There were significant differences in changes in cholesterol levels and blood pressure values before and after the intervention (p=0.000). Conclusion: Giving herbal therapy using green tea can reduce cholesterol levels and high blood pressure. Keywords: cholesterol, counseling, green tea, high blood pressure, herbal therapy
Ethanolic extract of Parkia speciosa Hassk leaves innovation of gastroretentive tablet: standardization and optimization Nurfitriyana, Nurfitriyana; Fitriya, Fitriya; Fithri, Najma Annuria; Putri, Dwi Kurnia; Lestari, Siti Marwah; Waluyo, Dyah Ayuwati; Syarif, Hardiyanti
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 23 No 2 (2025): JIFI
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v23i2.1461

Abstract

Parkia speciosa ethanol leaves extract contains flavonoid, tannin, and terpen as ulcus peptic remedy. These compounds exhibit limited activity in the stomach due to the short gastric residence time following oral administration. The formulation of gastroretentive tablets can overcome this limitation. This research aims to control the prolonged release of drugs in the stomach to increase bioavailability and characterize the ethanol leaves extract. Extraction was carried out by maceration using ethanol, followed by standardization based on specific and non-specific parameters extract. Gastroretentive tablet was formulated with combination of HPMC-K4M and chitosan using factorial design 22. Effects of compositional factors and their interactions on gastroretentive tablet was observed on hardness, friability, floating lag/duration time, swelling index, and mucoadhesive time. Results standardization extract showed that extract met the required criteria for both specific parameters (organoleptic properties and phytochemical screening) and non-specific parameters (moisture content, loss on drying, water/ethanol-soluble extract content). Based on with DX®10 analysis, the optimum formulation was achieved with 20.25% of HPMC-K4M and 10.26% of chitosan. The analysis of the optimum formulation characteristics was as follows: friability (0.22%), hardness (29.53 N), mucoadhesive time (22.86 hours), floating lag/duration time (27.54 minutes; 12 hours), and swelling index (312.82%). Result revealed that gastroretentive tablets formulated with ethanol extract of Parkia speciosa leaves improve gastric residence duration and promote better bioavailability.
Ethanolic extract of Parkia speciosa Hassk leaves innovation of gastroretentive tablet: standardization and optimization Nurfitriyana, Nurfitriyana; Fitriya, Fitriya; Fithri, Najma Annuria; Putri, Dwi Kurnia; Lestari, Siti Marwah; Waluyo, Dyah Ayuwati; Syarif, Hardiyanti
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol. 23 No. 2 (2025): JIFI
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v23i2.1461

Abstract

Parkia speciosa ethanol leaves extract contains flavonoid, tannin, and terpen as ulcus peptic remedy. These compounds exhibit limited activity in the stomach due to the short gastric residence time following oral administration. The formulation of gastroretentive tablets can overcome this limitation. This research aims to control the prolonged release of drugs in the stomach to increase bioavailability and characterize the ethanol leaves extract. Extraction was carried out by maceration using ethanol, followed by standardization based on specific and non-specific parameters extract. Gastroretentive tablet was formulated with combination of HPMC-K4M and chitosan using factorial design 22. Effects of compositional factors and their interactions on gastroretentive tablet was observed on hardness, friability, floating lag/duration time, swelling index, and mucoadhesive time. Results standardization extract showed that extract met the required criteria for both specific parameters (organoleptic properties and phytochemical screening) and non-specific parameters (moisture content, loss on drying, water/ethanol-soluble extract content). Based on with DX®10 analysis, the optimum formulation was achieved with 20.25% of HPMC-K4M and 10.26% of chitosan. The analysis of the optimum formulation characteristics was as follows: friability (0.22%), hardness (29.53 N), mucoadhesive time (22.86 hours), floating lag/duration time (27.54 minutes; 12 hours), and swelling index (312.82%). Result revealed that gastroretentive tablets formulated with ethanol extract of Parkia speciosa leaves improve gastric residence duration and promote better bioavailability.
Studi etnozoologi pemanfaatan hewan yang digunakan oleh penyehat tradisional sebagai pengobatan di Kecamatan Manna Kabupaten Bengkulu Selatan Dewi, Novita Rahma; Putri, Dwi Kurnia; Slamet, Samwilson; Ikhsan, Ikhsan; Handayani, Dian; Rahmawati, Suci
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1992

Abstract

Etnozoologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia, biota dan lingkungan sekitar yang meliputi tentang pengetahuan masyarakat mengenai sumber daya hewan yang dapat dimanfaatkan sebagai hewan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data hewan apa saja yang digunakan oleh penyehat tradisional, bagian yang digunakan, cara pengolahan, cara penggunaan, aturan pakai, penyakit yang dapat diobati dan efek samping dari hewan obat sebagai alternatif pengobatan tradisional yang digunakan oleh penyehat tradisional di Kecamatan Manna Kabupaten Bengkulu Selatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatan observasional deskriptif. Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan terdapat sebanyak 24 jenis hewan obat yang digunakan sebagai pengobatan tradisional di Kecamatan Manna Kabupaten Bengkulu Selatan. Dari 17 orang penyehat tradisional yang ada di Kecamatan Manna Kabupaten Bengkulu Selatan didapatkan bagian-bagian hewan yang digunakan sebagai pengobatan tradisional, yaitu seluruh bagian dari hewan, lendir, air liur, daging, minyak dan juga hati. Cara pengolahannya direbus, dipanggang, disop, dan dimakan langsung. Cara penggunaannya ditempelkan langsung ke kulit, diminum, dimakan secara langsung. Penyakit yang dapat disembuhkan dengan menggunakan hewan obat tersebut meliputi sakit digigit lipan, untuk menyedot darah kotor, sesak nafas, kejang-kejang, malaria, malaria tipes, luka setelah operasi, batuk, batuk menahun, batuk disertai sesak nafas, bisul ditelapak kaki, anak-anak yang masih kencing dalam celana (ngompol), digigit ular, gatal-gatal, angin duduk, sakit mata, kekurangan gizi, kesat (terlambat tumbuh kembang anak), sulit hamil dan asma.
Antioxidant Activity Of Body Lotion Formula Containing Rosella Petal Extract (Hibiscus sabdariffa) And Calamansi Orange Peel Essential Oil (Citrofortunella microcarpa) Suci Rahmawati; Oky Hermansyah; Rose Intan Perma Sari; Yendha Dwi Rolitta; Dwi Kurnia Putri; Tri Danang Kurniawan
Jurnal Pharmacopoeia Vol 5 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jp.v5i1.1262

Abstract

Rosella petals contain anthocyanins, and calamansi orange peel essential oil contains limonene, both of which are antioxidant compounds. Antioxidants capture free radicals, allowing them to serve as active ingredients in preventing premature aging in skincare products such as body lotions. This study was aimed to formulate and test the antioxidant activity of body lotion containing roselle petal extract (Hibiscus sabdariffa L.) and calamansi orange peel essential oil (Citrofortunella microcarpa). Roselle petal extract was obtained through maceration using 96% ethanol solvent and calamansi essential oil was obtained through distillation using aquadest as the solvent. The body lotion was formulated in three variations (F1, F2, and F3) with differing concentrations of roselle extract and calamansi essential oil, respectively: F1 (1% and 3%), F2 (2% and 5%), and F3 (4% and 7%). The formulations were evaluated their physical properties (organoleptic characteristics, homogeneity, pH, spread ability, viscosity, and stability) and also antioxidant activity. The evaluation results were indicated that all formulations met physical standards but were unstable under heat. F1, F2, and F3 were semi-solid, homogeneous, pink in color, and had a distinctive calamansi aroma. The antioxidant evaluation yielded IC₅₀ values of 89.9 ppm, 81.7 ppm, and 69.7 ppm for F1, F2, and F3, respectively. The results was showed that F3 formula had the highest antioxidant activity. This study was demonstrated that increasing the concentration of the combination of roselle petal extract and calamansi essential oil enhanced the antioxidant activity of the body lotion formulations.
Studi Komparatif Kadar Flavonoid Total Makroalga Caulerpa racemosa Asal Pantai Teluk Sepang Melalui Variasi Konsentrasi Pelarut Etanol Ade Apriansyah; Dwi Kurnia Putri; Putri Mulia; Ikhsan; Delia Komala Sari
Jurnal Pharmacopoeia Vol 5 No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jp.v5i1.1281

Abstract

Anggur laut merupakan keluarga alga Caulerpaceae yang memiliki bentuk tubuh berupa talus, yaitu struktur yang bisa membentuk seperti rantai atau dahan, dan memiliki butiran kecil yang menyerupai buah anggur, sehingga dinamakan anggur laut. Selain itu, berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa Caulerpa racemosa mengandung metabolit sekunder penting, terutama senyawa flavonoid. Flavonoid adalah kelompok senyawa fenolik yang ada di hampir semua bagian tumbuhan, terutama di lapisan luar daun dan kulit buah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menetapkan kadar flavonoid total ekstrak etanol 70% dan etanol 96% tumbuhan anggur laut yang ada di Pantai Teluk Sepang, Kota Bengkulu. Metode yang digunakan adalah spektrofotometri UV-Vis dengan pendekatan kolorimetri kompleksasi aluminium klorida (AlCl₃). Teknik ini relatif mudah, cepat, sangat sensitif, dan dapat diterapkan dengan sukses pada berbagai ekstrak yang berasal dari bahan alami, menghasilkan hasil yang dapat diandalkan jika disertai dengan validasi metode. Pengukuran kadar flavonoid menggunakan pembanding kuersetin pada panjang gelombang maksimum 430 nm dan didapatkan persamaan regresi linear y=0,0096x + 0,0535 dan R2=0,9729 diperoleh kadar flavonoid total ekstrak etanol 70% sebesar 12,6±0,16 mg QE/g dan ekstrak etanol 96% sebesar 44,1±0,29 mg QE/g. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 96% memiliki kadar flavonoid lebih besar daripada ektrak etanol 70%. Analisis statistik menggunakan independent sample t-test mengonfirmasi adanya perbedaan signifikan antar kedua perlakuan tersebut (p < 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa etanol 96% merupakan pelarut yang lebih efektif untuk mengekstraksi flavonoid dari C. racemosa, yang diduga dipengaruhi oleh sifat semipolar dari senyawa flavonoid yang terkandung di dalamnya.
Efektivitas Edukasi Berbasis Media PowerPoint dalam Pencegahan Penyalahgunaan Dextromethorphan pada Remaja di SMK Negeri 4 Bengkulu Selatan Fiiska Nur Safitri; Oky Hermansyah; Marisadonna Asteri; Dwi Kurnia Putri; Rezqa Hasanah
SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sehatmas.v5i2.7860

Abstract

The misuse of dextromethorphan among adolescents and young adults has become a health issue that is increasingly receiving global attention. Drug abuse remains a public health problem that requires serious attention in Indonesia. This issue not only involves the misuse of narcotic and psychotropic drugs, but has also expanded to include over-the-counter limited drugs that are easily obtained without a prescription, such as dextromethorphan. Adolescents are the group most vulnerable to drug abuse behavior. Several factors contribute to this problem, including peer influence, lack of knowledge about drugs and their effects, and the ease of obtaining limited over-the-counter medicines. In Bengkulu Province, the Indonesian Food and Drug Authority and Bengkulu Regional Police in 2023 confiscated thousands of bottles of cough medicines such as Samcodin and Komix that were proven to be misused by teenagers, including in South Bengkulu. This study used the accidental sampling method with a single variable. Data were collected through questionnaires before and after educational intervention involving 39 respondents to determine students' level of knowledge about the dangers of dextromethorphan abuse. The results showed that before the educational intervention, 11 respondents had good knowledge, 5 had moderate knowledge, and 23 had poor knowledge. After the intervention, all respondents (39 people or 100%) were categorized as having good knowledge. The Wilcoxon test result showed a p-value of 0.000 (p < 0.05), indicating that the educational intervention significantly improved adolescents' knowledge about the dangers of dextromethorphan abuse.
Formulasi dan Evaluasi Sifat Fisik Gel Ekstrak Etanol Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) Berbasis HPMC Triany, Nesa; Sari, Rose Intan Perma; Rahmawati, Suci; Mulia, Putri; Putri, Dwi Kurnia
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2460

Abstract

Daun cengkeh (Syzygium aromaticum L.) merupakan bagian dari tanaman cengkeh famili Myrtaceae yang mengandung senyawa bioaktif flavonoid dan eugenol dengan aktivitas antioksidan, namun pemanfaatannya masih terbatas dan sering menjadi limbah pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula gel ekstrak etanol 96% daun cengkeh dengan karakteristik fisik paling optimal berdasarkan evaluasi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan uji hedonik. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sediaan gel diformulasikan dalam empat variasi konsentrasi ekstrak, yaitu  F0 (0%), F1 (4%), F2 (8%), F3 (12%) menggunakan basis HPMC. Evaluasi meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan hedonik dengan tiga kali replikasi pengujian. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula berbentuk semi padat, homogen, dan memenuhi standar mutu sediaan gel. Nilai pH berada pada rentang 5,53-6,50, viskositas 29.628-43.534 cPs, serta daya sebar 5,18-5,73 cm. Peningkatan konsentrasi ekstrak menyebabkan viskositas menurun dan daya sebar meningkat. Berdasarkan hasil evaluasi fisik dan uji hedonik, F1 (4%) merupakan formula paling optimal karena memiliki konsistensi yang baik, warna lebih diterima panelis, serta tingkat kesukaan tertinggi.
Formulasi dan Evaluasi Karakteristik Fisik Gel Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) Berbasis HPMC Cantika, Tiara; Sari, Rose Intan Perma; Putri, Dwi Kurnia; Putri, Yona Harianti; Kurniawan, Tri Danang
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2461

Abstract

Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) mengandung senyawa flavonoid, fenolik, dan minyak atsiri yang berpotensi digunakan sebagai bahan aktif sediaan topikal karena memiliki aktivitas antioksidan dan mampu melindungi kulit dari radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak daun kemangi dalam bentuk sediaan gel serta mengevaluasikan karakteristik fisik untuk menentukan formula terbaik. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan menjadi empat formula yaitu F0 (0%), F1 (1%), F2 (4%), dan F3 (7%) dengan menggunakan basis HPMC. Evaluasi fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki bentuk semi padat, homogen, serta warna dan aroma khas daun kemangi. Nilai pH seluruh formula berada pada rentang 5,60-6,50 sehingga sesuai dengan pH kulit. Nilai viskositas seluruh formula memenuhi standar sediaan gel yaitu 3.000-50.000 cPs. Hasil daya sebar pada F1, F2, dan F3 memenuhi standar 5-7 cm, sedangkan seluruh formula memenuhi persyaratan daya lekat yang baik. Berdasarkan hasil evaluasi fisik dan uji hedonik, Formula 1 merupakan formula paling optimal karena memiliki karakteristik fisik yang stabil dan tingkat penerimaan panelis yang baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun kemangi berpotensi dikembangkan sebagai sediaan gel topikal berbahan alam.