Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

From ponds to prosperity: Empowering Kalukku Barat Village through participatory resource mapping and aquaculture product development Deril, Virda Evi Yanti; Mahful, Rafid; Sintia, Windy Septi; Syamsiar, Nur Ratika; Lestari, Sri Apriani Puji; Astinawaty, Astinawaty; Saputra, Ade Guna; Zani, Nanda Mutiara
Community Empowerment Vol 10 No 8 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.12400

Abstract

The community engagement team collaborated with the Village Government of Kalukku Barat to optimize the management of the village's potential in the leading fishery sector, aiming for village self-reliance. Generally, this activity was conducted to maximize community participation in accelerating independent and sustainable village development by leveraging local potential and characteristics. The activities included assisting in the participatory mapping of natural resource potential and providing training in developing value-added processed aquaculture products. The outputs of the activity include a map showing the distribution of natural resource potential and the formation of a community business group focused on processing pond fishery products, namely fish floss (abon ikan) and milkfish crackers (ampang bandeng). The results of this activity also provide a clear picture to the local community, as owners and/or managers of the land, regarding how to manage their potential resources to enhance the economy independently and sustainably.
Gaps And Needs of Education Facilities in Majene Regency mukhlis, Jafar; Lestari, Sri Apriani Puji; Asriana, Zul; Munaja, Rahmiyatal; Hariani, Mira Lestira
Journal of Green Science and Technology Vol 8 No 2 (2024): Journal of Green Science and Technology Vol.8 No.2 September 2024
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v8i2.9581

Abstract

Majene Regency is located in West Sulawesi Province and is designated as a provincial education area causing the population to increase, the increase in population is not accompanied by an increase in the number of educational facilities which causes a lack of access to education. This study aims to determine and analyze the gap in educational facilities in Majene Regency and analyze the needs of ideal educational facilities in Majene Regency. This research is descriptive quantitative research, namely research that describes variables as they are supported by data in the form of numbers generated from actual circumstances. The result of this research is that most districts have educational facilities such as kindergarten, elementary school, junior high school, and high school. Only Banggae district and Tubu Sendana district and Ulumanda district do not have high school facilities. The education distribution gap occurs in Majene Regency, Majene Urban Area is most dominant in lacking educational facilities compared to other districts. This is not correlated with the status of the urban center which in fact provides and has more facilities and services than other districts. Efforts are needed to improve and develop educational facilities by adding educational facilities, especially high school education facilities, which have the highest demand. Keyword: facilities, distribution, needs, education.
Identifikasi Lima Elemen Citra Kota Pada Kawasan Perkotaan Majene Zul Asriana; Sri Apriani Puji Lestari; Jafar Mukhlis; Anggit Priadmodjo; Astinawaty Astinawaty; Muh. Alfarezi Erwin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2669

Abstract

Kawasan Perkotaan di Kabupaten Majene merupakan sebuah kawasan yang terbentuk dari dua wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Banggae Timur dan Banggae. Di perkotaan Majene memiliki beberapa spot atau tempat penting, baik yang berkaitan dengan sejarah, pendidikan, wisata ataupun landmark yang membuat pembentukan citra kotanya memiliki karakter. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya penelitian tentang elemen pembentuk citra Kota Majene. Penelitian dilakukan pada elemen-elemen pembentuk citra kota yang ada pada kawasan Kota Majene. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survey primer berupa observasi lapangan, studi pustaka, dan dokumentasi gambar lengkap dan survey sekunder dengan melakukan studi literatur. Materi penelitian menggunakan teori lima elemen citra kota yang dijelaskan oleh Kevin Lynch yaitu  path, edges, nodes, district, landmark. Berdasarkan hasil dan pembahasan kajian konsep elemen citra kota di Perkotaan Majene terdapat beberapa temuan yang dapat dijadikan sebagai kesimpulan. Elemen path berupa jalur pergerakan utama, jalur penghubung pusat kota, dan jalur penghubung internal sebagai akses untuk melakukan segala aktivitas. Elemen edge berupa jalan persimpangan  di mana jalan persimpangan tersebut menjadi batas area pusat kota, selain itu ada juga yang berupa daerah dataran tinggi serta pantai. Elemen district tergambarkan dengan adanya district perdagangan jasa dan pemukiman, perkantoran , pertanian, dan ruang terbuka hijau. Elemen node tergambarkan dengan adanya persimpangan merupakan simpul strategis sekaligus sebagai batas menuju kawasan yang lain. Elemen landmark tergambarkan dengan adanya 5 (lima) penanda yang menonjolkan visual kota dengan ciri khas dari Perkotaan Majene.
PENDAMPINGAN PEYUSUNAN PETA POTENSI DAN MASALAH DESA KARANG BAYAN, KECAMATAN LINGSAR, KABUPATEN LOMBOK BARAT Sri Rahmi Yunianti; Baiq Harly Widayanti; Febrita Susanti; Sri Apriani Puji Lestari
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 4 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i4.1234-1243

Abstract

Desa Karang Bayan merupakan salah satu desa di Pulau Lombok yang memiliki berbagai kekayaan alam dan budaya. Dalam peraturan daerah Kabupaten Lombok Barat Nomor 11 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Lombok Barat menetapkan Desa Karang Bayan sebagai kawasan cagar budaya desa tradisional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai cara pembuatan peta potensi dan masalah desa yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan dan memasarkan potensi yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan metode transek desa, yang mana hasil dari transek ini selanjutnya FGD kan bersama dengan masyarakat. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa terdapat berbagai potensi di Desa Karang Bayan yakni potensi alam (pertanian, hasil perkebunan buah, hutan penyangga dan perikanan), potensi wisata dan budaya, serta potensi ekonomi lokal. Selain itu terdapat beberapa permasalahan terkait lingkungan dan budaya yang semakin terkikis. Dari hasil tersebut, kemudian dilakukan penyusunan peta bersama masyarakat untuk menetapkan titik lokasi masalah dan potensi yang dapat dijadikan wisata desa, hal ini sebagai arahan bagi masyarakat dan perangkat desa untuk mengembangkan Desa Karang Bayan sebagai desa wisata
Penguatan literasi geologi lokal melalui pendekatan partisipatif dan teknologi drone untuk mitigasi bencana Herni Suryani; Sri Apriani Puji Lestari; Arnita Irianti; Nur Okviyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39198

Abstract

AbstrakLiterasi geologi berperan penting dalam mendukung kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana, khususnya di wilayah pesisir yang rentan terhadap bahaya geologi. Namun, pemahaman masyarakat mengenai jenis batuan, bentang alam, dan keterkaitannya dengan potensi bencana masih relatif rendah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat literasi geologi melalui pendekatan partisipatif yang dipadukan dengan pemanfaatan teknologi drone sebagai media edukasi. Kegiatan dilaksanakan di Desa Padang, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, dengan melibatkan sekitar 20 peserta dari Komunitas Pemuda Literasi dan Perjuangan (PULPEN). Metode yang digunakan meliputi studi pendahuluan, penyampaian materi, observasi lapangan, demonstrasi teknologi drone, serta evaluasi melalui pre-test dan exit survey. Hasil pre-test menunjukkan rendahnya pengetahuan awal peserta terkait konsep geologi dan mitigasi bencana. Sementara itu, exit survey menunjukkan respons positif peserta, dengan 94% menyatakan kegiatan bermanfaat, 81% memahami keterkaitan bentang alam dengan potensi bencana geologi, dan 88% memahami pentingnya mitigasi bencana berbasis kondisi geologi setempat. Kegiatan ini juga menghasilkan leaflet dan infografis edukatif yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh mitra. Kata kunci: literasi geologi; bentang alam; mitigasi bencana; pendekatan partisipatif; teknologi drone. AbstractGeological literacy plays an important role in supporting community preparedness for disasters, particularly in coastal areas vulnerable to geological hazards. However, public understanding of rock types, landforms, and their relationship to disaster risks remains limited. This community service program aimed to strengthen geological literacy through a participatory approach combined with drone technology as an educational medium. The program was conducted in Padang Village, Campalagian District, Polewali Mandar Regency, involving approximately 20 participants from the Youth Literacy and Struggle Community (PULPEN). The activities included a preliminary study, educational sessions, field observations, drone technology demonstrations, and evaluation through a pre-test and an exit survey. The pre-test results indicated limited initial knowledge of geological concepts and disaster mitigation among participants. Meanwhile, the exit survey revealed positive responses, with 94% considering the activity beneficial, 81% understanding the relationship between landforms and geological hazards, and 88% recognizing the importance of geology-based disaster mitigation. The program also produced educational leaflets and infographics that can be sustainably utilized by the community partner. Keywords: geological literacy; landscape; disaster mitigation; participatory approach; drone technology.
ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN DESA WISATA KARANG BAYAN Sri Rahmi Yunianti; Sri Apriani Puji Lestari
Jurnal Planoearth Vol 8, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpe.v8i2.6945

Abstract

Abstrak: Desa Karang Bayan merupakan salah satu desa di Pulau Lombok yang memiliki berbagai kekayaan alam dan budaya. Dalam peraturan daerah Kabupaten Lombok Barat Nomor 11 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Lombok Barat menetapkan Desa Karang Bayan sebagai kawasan cagar budaya desa tradisional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengindentifikasi potensi dan masalah di desa Karang Bayan sehingga pengembangan desa sebagai tujuan wisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa terdapat berbagai potensi di Desa Karang Bayan yakni potensi alam (pertanian, hasil perkebunan buah, hutan penyangga dan perikanan), potensi wisata dan budaya, serta potensi ekonomi lokal. Selain itu terdapat beberapa permasalahan terkait lingkungan dan budaya yang semakin terkikis. Dari hasil tersebut, dapat dijadikan sebagai arahan bagi masyarakat dan perangkat desa untuk mengembangkan Desa Karang Bayan sebagai desa wisata.Abstract: Karang Bayan Village is one of the villages on the island of Lombok which has a variety of natural and cultural riches. In the regional regulation of West Lombok Regency Number 11 of 2011 concerning the RTRW of West Lombok Regency, Karang Bayan village is designated as a traditional village cultural heritage area. This research was conducted with the aim of identifying the potential and problems in the village of Karang Bayan so that the development of the village as a tourist destination. The method used in this research is descriptive qualitative using SWOT analysis. The results of this study found that there are various potentials in Karang Bayan Village, namely natural potential (agriculture, fruit plantations, buffer forests and fisheries), tourism and cultural potential, and local economic potential. In addition, there are several problems related to the environment and culture that are increasingly being eroded. From these results, it can be used as a direction for the community and village officials to develop Karang Bayan Village as a tourist village.
Pemberdayaan Masyarakat Lokal: melalui Pelatihan Pembuatan Komposter dan Dampaknya untuk Ekowisata Berkelanjutan di Pamboborang Futri Adriana Aksar; Virda Eviyanti Deril; Sri Apriani Puji Lestari; Nur Okviyani; Sarmila Sarmila
Madani : Indonesian Journal of Civil Society Vol. 8 No. 1 (2026): Madani : Februari 2026
Publisher : Politeknik Negeri Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35970/madani.v8i1.2921

Abstract

Organik waste management is a major challenge in developing ecotourism in Pamboborang Village, Majene Regency, West Sulawesi. This community service activity aimed to empower the local community, particularly the blacksmith group, through training in simple composter construction to support sustainable organik waste management. The applied methods included a one-day intensive workshop, one-month post-training mentoring, and pre-test and post-test evaluations using structured questionnaires. The training involved constructing composters using two lidded buckets, perforated PVC pipes, and a leachate tap. The results indicated a 70% increase in participants’ knowledge, with the highest improvement (40%) in technical aspects of composter making. Post-training monitoring showed that 80% of participants continued to use the composters after three months. This activity provided environmental benefits through a 40% reduction in organik waste and socio-economic benefits by increasing awareness of cleanliness and promoting compost utilization for local agriculture. The novelty of this program lies in its integration of technical training with a community-based mentoring system, which enhances the sustainability of ecotourism development in Pamboborang.