Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Strategi Pengembangan Wilayah Pesisir Berbasis Ekominawisata di Desa Penyaring Kabupaten Sumbawa Sri Apriani Puji Lestari; Virda Evi Yanti Deril; Astinawaty; Nur Ratika Syamsiar; Ade Guna Saputra; Nanda Mutiara Zani; Yusril
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6919

Abstract

Abstrak. Penyaring merupakan salah satu desa di Kabupaten Sumbawa yang terletak di kawasan pesisir. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan wilayah pesisir berbasis ekominawisata di Desa Penyaring, Sumbawa. Menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik analisis deskriptif dan SWOT. Hasil identifikasi kondisi eksisting wilayah pesisir Desa Penyaring berdasarkan komponen ekominawisata, terdapat beberapa potensi dan masalah pada aspek lingkungan, pariwisata, fisik, dan ekonomi. Secara garis besar, terdapat beberapa perumusan strategi pengembangan wilayah pesisir Desa Penyaring berbasis ekominawisata, yaitu: mengembangkan paket wisata pesisir (pantai, mangrove, terumbu karang, pacuan kuda) dengan konsep pelestarian lingkungan dan budaya masyarakat lokal serta pendekatan edukasi; peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pelibatan berbagai pihak dalam pengelolaan potensi wisata dan pengolahan produk; optimalisasi produk unggulan melalui digitalisasi; pembangunan fasilitas sebagai upaya kesiapsiagaan bencana untuk menghadapi risiko lingkungan. Seluruh strategi ini bertujuan menciptakan Desa Penyaring sebagai destinasi ekominawisata unggulan yang adaptif, inkusif, dan berdaya saing.   Abstract. Penyaring is a village in Sumbawa Regency located in a coastal area. This research aims to formulate a strategy for ecotourism-based coastal area development in Penyaring Village, Sumbawa. It uses a qualitative approach with descriptive and SWOT analysis techniques. The identification of the existing conditions of Penyaring Village's coastal area, based on ecotourism components, reveals several potentials and issues across environmental, tourism, physical, and economic aspects. Broadly, the formulation of ecotourism-based coastal area development strategies for Penyaring Village includes: Developing coastal tourism packages (beach, mangrove, coral reefs, horse racing) with a focus on environmental preservation, local culture, and an educational approach. Increasing human resource capacity and involving various stakeholders in tourism potential management and product processing. Optimizing superior products through digitalization. Constructing facilities as a disaster preparedness effort to address environmental risks. All these strategies aim to establish Penyaring Village as a leading ecotourism destination that is adaptive, inclusive, and competitive.
Identifikasi Lima Elemen Citra Kota Pada Kawasan Perkotaan Majene Zul Asriana, S.T.,M.Si; Sri Apriani Puji Lestari, S.T., M.T; Jafar Mukhlis, S.T., M; Anggit Priadmodjo, M.Sc; Astinawaty, S.T., M.T.; Muh. Alfarezi Erwin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Perkotaan di Kabupaten Majene merupakan sebuah kawasan yang terbentuk dari dua wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Banggae Timur dan Banggae. Di perkotaan Majene memiliki beberapa spot atau tempat penting, baik yang berkaitan dengan sejarah, pendidikan, wisata ataupun landmark yang membuat pembentukan citra kotanya memiliki karakter. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya penelitian tentang elemen pembentuk citra Kota Majene. Penelitian dilakukan pada elemen-elemen pembentuk citra kota yang ada pada kawasan Kota Majene. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survey primer berupa observasi lapangan, studi pustaka, dan dokumentasi gambar lengkap dan survey sekunder dengan melakukan studi literatur. Materi penelitian menggunakan teori lima elemen citra kota yang dijelaskan oleh Kevin Lynch yaitu path, edges, nodes, district, landmark. Berdasarkan hasil dan pembahasan kajian konsep elemen citra kota di Perkotaan Majene terdapat beberapa temuan yang dapat dijadikan sebagai kesimpulan. Elemen path berupa jalur pergerakan utama, jalur penghubung pusat kota, dan jalur penghubung internal sebagai akses untuk melakukan segala aktivitas. Elemen edge berupa jalan persimpangan di mana jalan persimpangan tersebut menjadi batas area pusat kota, selain itu ada juga yang berupa daerah dataran tinggi serta pantai. Elemen district tergambarkan dengan adanya district perdagangan jasa dan pemukiman, perkantoran , pertanian, dan ruang terbuka hijau. Elemen node tergambarkan dengan adanya persimpangan merupakan simpul strategis sekaligus sebagai batas menuju kawasan yang lain. Elemen landmark tergambarkan dengan adanya 5 (lima) penanda yang menonjolkan visual kota dengan ciri khas dari Perkotaan Majene.
From ponds to prosperity: Empowering Kalukku Barat Village through participatory resource mapping and aquaculture product development Deril, Virda Evi Yanti; Mahful, Rafid; Sintia, Windy Septi; Syamsiar, Nur Ratika; Lestari, Sri Apriani Puji; Astinawaty, Astinawaty; Saputra, Ade Guna; Zani, Nanda Mutiara
Community Empowerment Vol 10 No 8 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ce.12400

Abstract

The community engagement team collaborated with the Village Government of Kalukku Barat to optimize the management of the village's potential in the leading fishery sector, aiming for village self-reliance. Generally, this activity was conducted to maximize community participation in accelerating independent and sustainable village development by leveraging local potential and characteristics. The activities included assisting in the participatory mapping of natural resource potential and providing training in developing value-added processed aquaculture products. The outputs of the activity include a map showing the distribution of natural resource potential and the formation of a community business group focused on processing pond fishery products, namely fish floss (abon ikan) and milkfish crackers (ampang bandeng). The results of this activity also provide a clear picture to the local community, as owners and/or managers of the land, regarding how to manage their potential resources to enhance the economy independently and sustainably.
Gaps And Needs of Education Facilities in Majene Regency mukhlis, Jafar; Lestari, Sri Apriani Puji; Asriana, Zul; Munaja, Rahmiyatal; Hariani, Mira Lestira
Journal of Green Science and Technology Vol 8 No 2 (2024): Journal of Green Science and Technology Vol.8 No.2 September 2024
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jgst.v8i2.9581

Abstract

Majene Regency is located in West Sulawesi Province and is designated as a provincial education area causing the population to increase, the increase in population is not accompanied by an increase in the number of educational facilities which causes a lack of access to education. This study aims to determine and analyze the gap in educational facilities in Majene Regency and analyze the needs of ideal educational facilities in Majene Regency. This research is descriptive quantitative research, namely research that describes variables as they are supported by data in the form of numbers generated from actual circumstances. The result of this research is that most districts have educational facilities such as kindergarten, elementary school, junior high school, and high school. Only Banggae district and Tubu Sendana district and Ulumanda district do not have high school facilities. The education distribution gap occurs in Majene Regency, Majene Urban Area is most dominant in lacking educational facilities compared to other districts. This is not correlated with the status of the urban center which in fact provides and has more facilities and services than other districts. Efforts are needed to improve and develop educational facilities by adding educational facilities, especially high school education facilities, which have the highest demand. Keyword: facilities, distribution, needs, education.
PENDAMPINGAN PEYUSUNAN PETA POTENSI DAN MASALAH DESA KARANG BAYAN, KECAMATAN LINGSAR, KABUPATEN LOMBOK BARAT Rahmi Yunianti, Sri; Harly Widayanti, Baiq; Susanti, Febrita; Apriani Puji Lestari, Sri
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 4 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i4.1234-1243

Abstract

Desa Karang Bayan merupakan salah satu desa di Pulau Lombok yang memiliki berbagai kekayaan alam dan budaya. Dalam peraturan daerah Kabupaten Lombok Barat Nomor 11 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Lombok Barat menetapkan Desa Karang Bayan sebagai kawasan cagar budaya desa tradisional. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai cara pembuatan peta potensi dan masalah desa yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengembangkan dan memasarkan potensi yang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan metode transek desa, yang mana hasil dari transek ini selanjutnya FGD kan bersama dengan masyarakat. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa terdapat berbagai potensi di Desa Karang Bayan yakni potensi alam (pertanian, hasil perkebunan buah, hutan penyangga dan perikanan), potensi wisata dan budaya, serta potensi ekonomi lokal. Selain itu terdapat beberapa permasalahan terkait lingkungan dan budaya yang semakin terkikis. Dari hasil tersebut, kemudian dilakukan penyusunan peta bersama masyarakat untuk menetapkan titik lokasi masalah dan potensi yang dapat dijadikan wisata desa, hal ini sebagai arahan bagi masyarakat dan perangkat desa untuk mengembangkan Desa Karang Bayan sebagai desa wisata