Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pelabuhan Boom Batu Jambi: Perjalanan Dari Pelabuhan Bersejarah Menuju Destinasi Komersial Moderen Khasanah, Uswatun; Siregar, Isrina
FLORESIENSIS Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/floresiensis.v4i1.19512

Abstract

This article discusses the journey of Boom Batu Port in Jambi from a historical port to a modern commercial destination, focusing on the impact of the World Trade Center (WTC) mall construction, which led to the loss of part of this cultural heritage site. Using historical research methods and library-based data collection techniques, this study aims to uncover the role of Boom Batu Port in the social, economic, and cultural aspects of Jambi's community, as well as how modernization threatens the preservation of this historical site. Data were collected through a literature review, referencing historical documents, records, and other relevant literature. The findings reveal that although commercial development brings positive economic impacts, the loss of Boom Batu Port’s heritage value diminishes Jambi's historical significance and cultural identity. This study hopes to provide a critical perspective on the importance of balancing modernization with the preservation of historical heritage amid economic growth.
Makna Ornamen Gorga Rumah Bolon Di Desa Siallagan Samosir Nainggolan, Melisa Cefcuty; Siregar, Isrina; Purnomo, Budi
FLORESIENSIS Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/floresiensis.v2i1.21423

Abstract

Tujuan penelitian ini mengetahui makna ornamen yang ada pada Rumah Bolon. Metode yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini Rumah Bolon sebagai tempat tinggal bagi keluarga besar suku Batak Toba, pada awalnya Rumah Bolon dibangun pada masa pemerintahan Raja Laga Siallagan. Adapun bentuk-bentuk Rumah Bolon yaitu memiliki dua atap runcing, pintu berukuran kecil dan memiliki anak tangga ganjil dan terdapat ornamen pada Rumah Bolon yaitu Gorga Ulu Paung yang melambangkan perlindungan, Gorga Mata Ni Ari yang melambangkan kehidupan dan energi, Gorga Dila Paung yang melambangkan permohonan agar dikaruniakan anak yang pandai terutama dalam berbicara, Gorga Singa-singa yang dipercayai dapat menjaga rumah dari roh-roh jahat, Gorga Gajah Dompak mengajarkan nilai-nilai kebenaran, Gorga Payudara melambangkan kesuburan dan Gorga Boraspati melambangkan kemampuan suku Batak Toba bisa hidup dan beradaptasi di berbagai tempat dan situasi.
Pengukuhan Gelar Adat Acara Kenduri Sko Wianda, Fajar Fitra; Siregar, Isrina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.12819

Abstract

Kenduri sko ialah sebuah atau rangkaian acara adat yang terdapat di kabupaten kerinci yang dimana di lakukan secara turun temurun oleh Masyarakat di sana .biasa nya di dalam acara kenduri sko ini terdapat suatu kegiatan pembersihan benda pusaka peninggalan dari leluhur (ninik mamak) dan pengukuhan ninik mamak atau anggota adat yang baru .metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi dan wawancara yang di lakukan oleh penulis terhadap orang yang akan menerima gelar adat .yang di mana aspek kebudayaan di nilai dari hal yang berkaitan secara spesifik(detail).dari hasil analisis terdapat 4 nilai karakter yang terdapat dalam kegiatan kenduri sko nilai tanggung jawab,pemeliharaan benda pusaka,kecintaan pada tanah kelahiran serta budaya nya dan social .tujuan penulis mengangkat judul pengukuhan gelar adat ialah untuk mengetahui dan mendeskripsikan kegiatan atau langkah langkah dalam pemberian gelar adat dalam acara kenduri sko.
Peran Pelabuhan Rempah-Rempah dalam Jaringan Perdagangan Global Abad ke-16 Wianda, Fajar Fitra; Siregar, Isrina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa awal perdagangan global, rempah-rempah merupakan komoditas berharga yang mendorong eksplorasi maritim dan pembentukan jalur perdagangan baru. Pelabuhan rempah-rempah di wilayah seperti Maluku dan Nusantara menjadi pusat distribusi utama yang menghubungkan produsen lokal dengan pedagang dari Eropa, Timur Tengah, dan Asia lainnya. Perdagangan ini tidak hanya membawa keuntungan ekonomi tetapi juga mempengaruhi dinamika politik dan budaya global. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis. Data dikumpulkan melalui studi literatur, analisis dokumen sejarah, serta penelitian arsip dari berbagai sumber primer dan sekunder. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam peran dan pengaruh pelabuhan rempah-rempah dalam jaringan perdagangan global pada abad ke-16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelabuhan rempah-rempah seperti Maluku memainkan peran kunci dalam jaringan perdagangan global. Mereka tidak hanya sebagai titik distribusi tetapi juga sebagai pusat pertukaran budaya dan teknologi. Keuntungan ekonomi dari perdagangan rempah-rempah mendorong pengembangan infrastruktur pelabuhan dan peningkatan kemakmuran lokal. Selain itu, interaksi perdagangan memicu aliansi politik baru dan konflik yang mengubah peta kekuasaan di wilayah tersebut. Penelitian ini menegaskan bahwa peran pelabuhan rempah-rempah dalam perdagangan global abad ke-16 sangat signifikan, membentuk dasar bagi dinamika perdagangan dan politik internasional di masa berikutnya.
Analysis of Function of Tact Maxim in the Event of Marhata Sinamot Speech of Batak Toba Traditional Weddings Nasution, Muhammad Muslim; Fahlevi, Sahrizal; Siregar, Isrina; Izar, Julisah
International Journal of English and Applied Linguistics (IJEAL) Vol. 4 No. 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 Desember 2024
Publisher : ITScience (Information Technology and Science)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/ijeal.v4i3.4668

Abstract

This research aimed to describe the tact maxim in the event of Marhata sinamot of Batak Toba tradition that reviewed its function namely assertive, directive, commissive, expressive and declarative. This research used a qualitative descriptive approach; the data collection technique involved interviewing and recording, while the analysis data was described, and conclusions were made. The result showed that the tact maxim is one of the principles of politeness whose form of speech prioritizes the benefits of others and reduces/maximizes one's own benefits. From the results obtained, there are (2) assertive utterances, (10) directive utterances, (1) commissive utterances, (3) expressive utterances, and (1) declarative utterances. The dominant tact maxim based on its function was found in the directive speech act.
Soekarno-Hatta in the Conflict of Indonesian Political Policies 1945-1956 Minarwati, Elly; Siregar, Isrina
Swarnadwipa Vol 9, No 2 (2025): SWARNADWIPA
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sd.v9i2.3439

Abstract

Soekarno-Hatta was a proclaimer figure who had an important role in the struggle for Indonesian independence. In national and state life, the two figures were involved in conflicting opinions. After the Vice Presidential Decree No. Differences in cultural background, education and environment when born are also factors in the emergence of conflict. The aim of this research is to understand Indonesian political policy from 1945-1956, the beginning of political policy conflict between Soekarno and Hatta, and the impact of conflicting political policy on the Indonesian government system. This research uses historical methods consisting of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results of this research show that after Indonesia's independence, Indonesia's political identity had not yet been formed, but after the PPKI session, Indonesia's political identity began to form, Indonesia's post-independence political policy was more directed towards diplomacy, followed by the emergence of political parties and a change in the system from presidential democracy to parliamentary democracy. Soekarno-Hatta began to engage in polemics in 1932-1933, then during the colonial period the two figures clashed regarding tactics and strategy of struggle.
Pelestarian Lacak sebagai Warisan Budaya Melayu Jambi di Desa Teluk, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari Jambi Fatonah, Fatonah; Hudaya, Padhil; Defrianti, Denny; Rahman, Abd; Siregar, Isrina; Resiyani, Wulan; Bahri, Zainul
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 5, No 6 (2025): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v5i6.2178

Abstract

Lacak is one of the unique cultural heritages of the Malay people of Jambi, possessing high historical and philosophical value. Its existence is not only a symbol of regional pride, but also reflects the identity of the Malay people, who uphold the values of honor and wisdom. However, amid the tide of modernization and changing lifestyles among the younger generation, interest in learning about and preserving traditional cultures such as lacak is declining. Based on these issues, a team of lecturers from the University of Jambi carried out a community service activity with the theme “Preservation of Lacak as a Cultural Heritage of the Malay People of Jambi” which was held on October 4, 2025, in Teluk Village, Pemayung District, Batanghari Regency. This activity included training in making lacak, guided by Jambi cultural expert Zainul Bahri, and attended by local school children and teenagers. In addition to the training, a cultural quiz was held on lacak and historical figures of Jambi, such as Sultan Thaha Saifuddin and Raden Mattaher. The results of the activity showed an increase in participants' knowledge about the meaning and form of lacak, as well as a growing enthusiasm for preserving local culture. This activity successfully served as an educational and recreational means of strengthening the cultural identity of the Teluk Village community.ABSTRAKLacak merupakan salah satu warisan budaya khas Melayu Jambi yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi. Keberadaannya tidak hanya menjadi simbol kebanggaan identitas daerah, tetapi juga mencerminkan jati diri masyarakat Melayu yang menjunjung tinggi nilai kehormatan dan kebijaksanaan. Namun, di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, minat untuk mengenal dan melestarikan budaya tradisional seperti lacak semakin menurun. Berdasarkan permasalahan tersebut, tim dosen dari Universitas Jambi melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema “Pelestarian Lacak sebagai Warisan Budaya Melayu Jambi” yang dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2025 di Desa Teluk, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari. Kegiatan ini meliputi pelatihan pembuatan lacak yang dipandu oleh budayawan Jambi, Zainul Bahri, serta diikuti oleh anak-anak sekolah dan remaja setempat. Selain pelatihan, juga diselenggarakan kuis budaya mengenai lacak dan tokoh sejarah Jambi seperti Sultan Thaha Saifuddin dan Raden Mattaher. Hasil kegiatan menunjukkan meningkatnya pengetahuan peserta tentang makna dan bentuk lacak, serta tumbuhnya semangat pelestarian budaya lokal. Kegiatan ini berhasil menjadi sarana edukatif dan rekreatif dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Desa Teluk.