Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pencegahan Anemia Dengan Edukasi Konsumsi Tablet Tambah Darah Dan Infused Water Prasetya, Didik; Putri, Ni Luh Nova Dilisca Dwi; Yundari, A.A Istri Dalem Hana; Puspawati, Ni Luh Putu Dewi; Asdiwinata, I Nyoman
Jurnal Abdimas ITEKES Vol 2 No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jai.v2i2.477

Abstract

Permasalahan di bidang kesehatan merupakan masalah yang kompleks dan melibatkan masalah lain. Cara mengatasi masalah kesehatan tersebut tidak hanya berfokus pada kesehatan itu sendiri, akan tetapi pada semua aspek yang mempengaruhi kesehatan. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan salah satu usaha untuk mencapai derajat kesehatan yang baik. Peningkatan PHBS sangat diperlukan pada lingkungan pondok pesantren. Pondok pesantren yang sudah membiasakan pola PHBS memiliki beberapa indikator antara lain terjaganya kebersihan individu, tempat wudhu, air bersih, jamban sehat, kebersihan asrama, ruang belajar serta kepadatan penghuni asrama. Kegiatan ini dilakukan di pondok pesantren Hidayatullah Kota Denpasar yang bertujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan tentang penyakit kulit dan pencegahannya serta PHBS melalui edukasi. Tahapan yang dilakukan adalah ceramah, diskusi, pembagian paket PHBS, dan pengisian pre test dan post test. Hasil Pos test dari 40 santri menunjukkan peningkatan pengetahuan pada kategori baik sebanyak 65%, cukup 35% dan kurang 2%. Setelah dilakukan kegiatan ini para santri mempunyai tambahan pengetahuan tentang penyakit kulit dan pencegahannya serta menerapkan kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan pondok pesantren.   Kata Kunci: Kebersihan lingkungan, kesehatan lingkungan, remaja sehat    
Hubungan Antara Kadar Merkuri Dalam Darah Dengan Jumlah Total Leukosit Pada Komunitas Ibu-Ibu Di Muara Angke Timorensa, Katharina Novika; Prihatiningsih, Diah; Sudarma, Nyoman; Prasetya, Didik
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jrkn.v8i2.540

Abstract

Paparan merkuri merupakan isu kesehatan global yang signifikan, terutama di daerah pesisir seperti Muara Angke, yang terdampak pencemaran akibat aktivitas manusia dan konsumsi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara kadar merkuri dalam darah dan jumlah total leukosit pada komunitas ibu-ibu di Muara Angke. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diambil menggunakan teknik quota sampling, melibatkan 25 responden dari komunitas ibu-ibu PKK RW 01 Muara Angke. Kuota ditetapkan untuk mencerminkan proporsi kelompok dalam populasi. Kadar merkuri diukur dengan metode ICP-MS menggunakan alat Agilent 7700 X, sementara jumlah total leukosit diukur dengan Fluorescence Flow Cytometry menggunakan alat Sysmex XN-550. Uji korelasi Spearman dilakukan untuk analisis data. Hasil menunjukkan rata-rata kadar merkuri dalam darah sebesar 6,36 µg/L (rentang 3,2 hingga 16,7 µg/L) dan rata-rata jumlah total leukosit sebesar 9,24 x 10³/uL (rentang 6,3 hingga 18,5 x 10³/uL). Uji korelasi Spearman menghasilkan koefisien korelasi (r) sebesar 0,233 dengan nilai p = 0,262, yang menunjukkan tidak ada hubungan signifikan secara statistik antara kadar merkuri dan jumlah total leukosit di komunitas tersebut. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman dampak kesehatan paparan merkuri di komunitas lokal dan menekankan pentingnya pemantauan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.   Kata Kunci: Merkuri, Jumlah Total Leukosit, Muara Angke
The Relationship Between Adolescent Social Determinants Factors at the Various Parental Activities on Self-Efficacy for Choosing Healthy Foods Abadi, Moh Fairuz; Wati, Ni Made Nopita; Prasetya, Didik; Prihatiningsih, Diah; Idayani, Sri; Mirayanti, Ni Ketut Ayu; Pamungkas, Mohammad Adreng
Public Health of Indonesia Vol. 10 No. 3 (2024): July - September
Publisher : YCAB Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v10i3.814

Abstract

Background:Adolescent self-efficacy in choosing healthy foods is closely related to the incidence of obesity. According to WHO data, the obesity rate among children and adolescents increased from 18% to 19.3% between 2016 and 2021, and this rising trend is also observed in Indonesia. Understanding the factors that influence adolescents' eating habits is essential for comprehending their behavior in selecting healthy foods and designing effective interventions to promote healthier eating habits among this age group. Objective:This study aimed to determine the level of adolescent self-efficacy in choosing healthy foods and to examine the relationship between various social determinants such as gender, class, age, and parental activities and adolescent self-efficacy in selecting healthy foods. Additionally, this study tested parental activities as a moderating variable for factors significantly influencing adolescent self-efficacy in choosing healthy foods. Methods:A quantitative descriptive design was employed for this study. The population consisted of high school students, with a total of 408 respondents selected through non-probability cluster sampling. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate regression statistical tests. Results:The findings revealed that 57.8% of respondents exhibited a moderate level of self-efficacy in choosing healthy foods, 35.5% showed a strong level of self-efficacy, and 6.6% demonstrated a low level of self-efficacy. Age was the only variable significantly influencing adolescents' ability to choose healthy foods, with a significance level of 0.039 (P < 0.05). Parental activities were not found to significantly moderate the relationship between age and the level of self-efficacy in choosing healthy foods. Conclusion:Age is a significant factor influencing adolescent self-efficacy in choosing healthy foods. However, parental activities do not significantly moderate the relationship between age and adolescent self-efficacy in food selection. Keywords:Adolescent, Feeding Behavior, Meals, Parents, Social Determinants of Health.
Deteksi Jamur Malassezia spp. Penyebab Infeksi Jamur Kulit Pada Santri Pondok Pesantren Kota Denpasar Prasetya, Didik; Abadi, Moh Fairuz
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 8, No 1 (2024): November 2024
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v8i1.1673

Abstract

Islamic boarding schools are educational or non-formal educational institutions to learn more about religion. Boarding school is a place that has the potential to affect skin health. Skin infection is one of the diseases often suffered by students. One of them is a skin infection caused by fungi or better known as Tinea versicolor or tinea versicolor. Factors that can affect skin health include physical factors, chemical factors, and biological factors. This study aims to identify Malassezia spp fungi in the skin scrapings of students and determine the percentage or prevalence of Malassezia spp. fungi causing skin fungal infections in students at Hidayatullah Islamic Boarding School in Denpasar City. This type of research is descriptive with a population of all high school student council members, 17 male students and 23 female students with a total of 40 students. The results obtained from the examination were that there was 1 sample from male students who were positive for Malassezia spp. which causes Pityriasis versicolor or also called panu. Skin diseases can infect easily if you do not maintain personal hygiene.
Comparison of Reticulocyte Examination Results of Supravital Staining Method with Sysmex Xn 1000 Automated Device: Perbandingan Hasil Pemeriksaan Retikulosit Metode Pewarnaan Supravital Dengan Alat Otomatik Sysmex Xn 1000 Miasari, Abrina Rindi Riovika; Prasetya, Didik; Arwidiana, Dewa Putu
Medicra (Journal of Medical Laboratory Science/Technology) Vol. 7 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/medicra.v7i2.1745

Abstract

Retikulosit mengindikasikan produksi sel darah merah oleh sumsum tulang yang dapat digunakan mendiagnosa serta memantau terapi anemia. Pemeriksaan hitung retikulosit dapat dilakukan menggunakan metode supravital dan metode flowcytometri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan retikulosit menggunakan metode manual pewarnaan supravital dengan alat otomatik Sysmex XN 1000 metode flowcitometri. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Klinik Prodia Kelapa Gading Jakarta Utara. Metode penelitian menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan total sampling, dengan jumlah sampel 36 orang. Hasil hitung retikulosit pada kedua metode memiliki rerata yang tidak berbeda jauh. Hasil retikulosit yang ditemukan tinggi dengan metode manual supravital juga ditemukan tinggi dengan metode flowcitometri. Uji normalitas data pada kedua metode tidak berdistribusi normal. Hasil analisis uji beda Wilcoxon signed rank t didapatkan nilai signifikasi 0,277 > α (0,05) maka hipotesa nol diterima, artinya tidak adanya perbedaan yang bermakna dengan jumlah retikulosit metode pewarnaan supravital dengan alat otomatik Sysmex XN 1000. Berdasarkan penelitian, pemeriksaan hitung retikulosit dapat dilakukan dengan menggunakan kedua metode tersebut dengan lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil perhitungan retikulosit.
GAMBARAN SKRINING HASIL PEMERIKSAAN HBsAg PADA PASIEN PRE-HEMODIALISIS DI RSUD WANGAYA TAHUN 2021 Antika, Novia Putri; Prasetya, Didik; Wirawati, Ida Ayu Putri
Bali Medika Jurnal Vol 10 No 1 (2023): Bali Medika Jurnal Vol 10 No 1 Juli 2023
Publisher : Stikes Wira Medika Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36376/bmj.v10i1.330

Abstract

Perhimpunan Nefrologi Indonesia telah mensyaratkan tentang keharusan pemeriksaan yang dilakukan sebelum melakukan hemodialisis salah satunya yaitu pemeriksaan HBsAg. Pasien hemodialisis berisiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis B karena memiliki daya tahan tubuh yang turun dan infeksi virus yang ditularkan melalui darah. Hemodialisis menjadi tindakan yang sangat membantu pasien PGK untuk memperpanjang usia pasien. Tes HBsAg diperlukan untuk memastikan keberadaan virus hepatitis B di dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran hasil skrining pemeriksaan HBsAg pada pasien pre-hemodialisis di RSUD Wangaya tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan data sekunder. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 63 pasien yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil penelitian berdasarkan usia menunjukkan proporsi terbanyak pada pasien dengan usia 20-60 tahun sebanyak 39 (61,9%) dan pasien >60 tahun sebanyak 24 (38,1%). Berdasarkan jenis kelamin menunjukan proporsi laki-laki lebih banyak yaitu sebanyak 38 (60,3%) dan perempuan sebanyak 25 (39,7%). Hasil dari pemeriksaan skrining HBsAg didapatkan pasien negatif HBsAg sebanyak 62 pasien (98,4%) dan positif sebanyak 1 pasien (1,6%). Hasil dari pengelompokan berdasarkan diagnosa yaitu diagnosa terbanyak adalah hipertensi sebanyak 14 pasien (22,2%) dan diagnosa Diabetes melitus sebanyak 13 pasien (20,6%). Skrining hepatitis B perlu dilakukan saat pertama kali hemodialisis agar dapat menjaga keselamatan kerja petugas kesehatan dan mencegah penularan terhadap pasien lainnya. Kata Kunci: Hepatitis B, Hemodialisis, Gagal ginjal kronik
Pemberdayaan kepada Pelaku Pariwisata dalam Memberikan Pertolongan Pertama Korban Tenggelam di Wilayah Pantai Mertasari Sanur AA. Istri Dalem, Hana Yundari; Puspawati, Ni Luh Putu Dewi; Asdiwinata, I Nyoman; Dilisca, Ni Luh Putu Nova; Prasetya, Didik
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada Vol. 7 No. 1 (2025): Juni: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Wahana Usada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan KESDAM IX/Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47859/wuj.v7i1.421

Abstract

Background: Bali Province is a tourist destination which makes Bali have the potential for drowning cases. It is very important to initiate first aid immediately so that the victim can avoid death or more severe disability. Therefore, knowledge regarding techniques for providing basic life support and handling drowning victims. Tourism actors in coastal areas have the first opportunity to help drowning victims. Objective: To determine the knowledge and skills of the community in providing first aid to drowning victims. Method: Lectures and discussions to explain knowledge and techniques in handling or providing first aid to drowning patients. The media used are leaflets and flipcharts. The targets for this community service are tourism actors, namely travel agent employees in the Mertasari Sanur beach area, totaling 50 employees. Results: Before being given education about handling drowning victims, 66.7% of participants had poor knowledge and only 33.3% of participants had good knowledge and 76.7% of participants had very good knowledge and 23.3% had good knowledge after learning about handling drowning victims. Conclusion: There was an increase in participants' knowledge and skills in providing first aid to drowning victims.
Relationship between Knowledge Level and Incidence of Skin Diseases: Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Kejadian Penyakit Kulit Prasetya, Didik; Abadi, Moh Fairuz
Medicra (Journal of Medical Laboratory Science/Technology) Vol. 8 No. 1 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/medicra.v8i1.1785

Abstract

Onychomycosis is a fungal infection of the nail frequently found in tropical regions and may negatively impact community health and quality of life. This study aimed to examine the association between public knowledge and the incidence of onychomycosis in Banjar Dinas Batang, Karangasem Regency. An analytical observational design with a cross-sectional approach was employed. A total of 30 adults were selected using purposive sampling based on inclusion criteria. Knowledge levels were assessed using a closed-ended questionnaire, and laboratory diagnosis was confirmed through culture on Sabouraud Dextrose Agar and microscopic observation with Lactophenol Cotton Blue staining. The results revealed that 60% of participants had nail fungal infections, most commonly in those with low knowledge levels (66.7%). Statistical analysis showed a significant association between knowledge and infection incidence (p = 0.045; PR = 4.25). Identified fungal species included Aspergillus spp., Zygomycetes, and yeasts. These findings suggest that limited knowledge increases the risk of onychomycosis. Community-based health education is essential to promote preventive behavior, especially in moist environments that favor fungal growth. 
Perbedaan Kadar Bilirubin Total Sebelum Dan Sesudah Fototerapi Pada Neonatus Di RSU PRIMA MEDIKA Putri Raweg, Pande Made Arie Santika; Bintari, Ni Wayan Desi; Prasetya, Didik
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jrkn.v9i2.748

Abstract

Abstrak Hiperbilirubinemia pada neonatus merupakan kondisi klinis yang umum terjadi dan memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi neurologis. Fototerapi dikenal sebagai metode yang efektif untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar bilirubin sebelum dan sesudah fototerapi yang diberikan selama 24 jam secara kontinu menggunakan alat fototerapi LED. Subjek dalam penelitian ini melibatkan 44 neonatus yang menjalani fototerapi dari Januari hingga Maret 2025. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS, diawali dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan dilanjutkan dengan uji paired sample t-test. Hasil uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal (p > 0,05). Uji t berpasangan menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kadar bilirubin total sebelum dan sesudah fototerapi (p < 0,001). Rata-rata kadar bilirubin menurun dari 16,24 mg/dL menjadi 9,45 mg/dL, dengan penurunan rata-rata sebesar 6,78 mg/dL. Kesimpulan dari penelitian ini adalah fototerapi terbukti efektif secara statistik dalam menurunkan kadar bilirubin pada neonatus. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan fototerapi sebagai salah satu intervensi utama dalam penanganan hiperbilirubinemia pada neonatus.   Kata kunci : Fototerapi, Hiperbilirubinemia, Neonatus
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis Program Diploma Tiga STIKES Wira Medika Bali Anjaswari, Ni Made Dian; Abadi, Moh. Fairuz; Prasetya, Didik
Jaringan Laboratorium Medis Vol. 7 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlm.v7i2.13197

Abstract

Body Mass Index (BMI) is a simple parameter used to assess a person's nutritional status, whether they are underweight or overweight. Overweight is often associated with the risk of elevated blood glucose levels (hyperglycemia), which can develop into metabolic syndrome. This condition is increasingly found in adolescents and young adults with unhealthy lifestyles. Therefore, this study was conducted to determine the relationship between BMI and random blood glucose levels (RBG) in regular students of the Diploma III Medical Laboratory Technology program at Wira Medika Bali Health College. This study employed an observational analytical method with a cross-sectional approach. A sample of 30 students was selected through purposive sampling based on inclusion criteria: aged 15–24 years, not taking medications that affect blood sugar levels, and willing to participate. BMI data were obtained through weight and height measurements, then categorized into underweight, normal weight, overweight, obesity I, and obesity II. RBG examinations were performed using capillary blood with the aid of a glucometer. Analysis of the relationship between variables used the Spearman Rank Test. The results showed that the BMI distribution of respondents was 13.3% underweight, 40.0% normal weight, 13.3% overweight, 23.4% obesity I, and 10.0% obesity II. All respondents had random blood glucose levels <200 mg/dL, thus remaining within the normal range. Statistical testing showed a p-value of 0.996 (p>0.05), concluding that there was no significant relationship between BMI and GDS in students. The conclusion of this study is that BMI has not been proven to be directly related to random blood glucose levels. However, weight control remains necessary as a long-term preventive measure against metabolic syndrome and other non-communicable diseases associated with obesity.