Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Ketahanan Keluarga Pada Pasangan Long Distance Relationship (Studi Kasus Desa Brangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan) Stiawan, Thoat; Farisi, Salman Al; Prihatini, Novia Astri
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqsd.v11i2.16064

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model ketahanan keluarga pada pasangan Long Distance Relationship (LDR) di desa Bangsri, Kec. Laren, Kab. Lamongan. Ketahanan keluarga merupakan kondisi dinamis suatu kelurga yang mempunyai ketangguhan dan keuletan, serta mengandung kemampuan dari segi fisik material dan psikis mental spiritual untuk meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarga untuk hidup harmoni serta meningkatkan kesejahteraan dari lahir dan batin. Dalam kehidupan berkeluarga terdapat kondisi pernikahan yang terjalin secara long distance relationship atau menjalani kehidupan keluarga secara terpisah atau tidak dapat bertemu secara langsusng sebab terhalang oleh jarak, waktu dan tempat namun mereka tetap saling berkomitmen kepada pasangannya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian field research dengan analisis data penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi pada pasangan LDR dan Stakeholder terkait.
Perspective of Islamic Criminal Law on Acquittal and Punishment of Paedophile: A Study Based on Islamic Criminal Law Ramadhani, Yunisa; Aldi, Satria; Salma, Salma; Nur Hasanah, Asra; Hidayat, Rahmat; Stiawan, Thoat
Jurnal Elsyakhshi Vol. 3 No. 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Solok Nan Indah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69637/jelsy.v3i1.522

Abstract

Cases of paedophile are becoming increasingly prevalent in Indonesia, with data from the Indonesian Child Protection Commission showing a consistent annual rise, particularly in child sexual abuse cases. This study aims to analyze a court verdict that acquitted a paedophile offender, identify appropriate legal sanctions, and examine the Islamic legal (fiqh jinayah) perspective on chemical castration as a form of punishment. Using a qualitative method with a content analysis approach, the study examines legal documents, including Decision No. 36/Pid.Sus/2023/PN.LBB, Law No. 35 of 2014 on Child Protection, and Law No. 17 of 2016, as well as secondary sources such as scholarly journals, articles, and books. The analysis reveals that: (1) the acquittal was primarily based on conflicting witness testimonies, which weakened the evidence; (2) appropriate sanctions should be based on Articles 81(1) and 82(2) of the Child Protection Law in conjunction with the Indonesian Criminal Code, including chemical castration as regulated in Law No. 17 of 2016; and (3) from a fiqh jinayah perspective, chemical castration is considered permissible to safeguard public welfare. These findings offer insights for further legal and Islamic jurisprudential discussions on effective responses to sexual crimes against children.
Analysis of the Use of Technology from the Perspective of Islamic Family Law in Era 4.0 Daharis, Ade; Rizal, Deri; Stiawan, Thoat; Iskandar, M. Yakub
Jurnal Elsyakhshi Vol. 1 No. 1 (2023): December
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Solok Nan Indah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69637/jelsy.v1i1.31

Abstract

Industrial revolution 4.0. causing a shift in lifestyle from a social, religious pattern to a materialistic and secular individual pattern. Apart from that, the cultural sector has been disrupted due to the development of social media which has reconstructed the cultural structure of society. Social relations between communities are now more closely established in the virtual world, so that relationships in the real world have become relative. This results in a lack of direct communication with family members because they focus on seeking their own pleasure. In the era of the industrial revolution 4.0, parents have also given gadgets to their children aged around 4-6 years. This research uses a social approach method and structural functionalism as its theory. The results of the research are that families do not reject revolution and use technology to help their daily lives. Apart from that, there are implications of structural functionalism theory with the occurrence of disruption in the era of the industrial revolution, especially in the social and cultural fields of society. The Industrial Revolution Era 4.0 is an era where various things in life are filled with sophisticated technology. Several families that the author studied have used technology produced by the industrial revolution 4.0. They use it in their daily lives so that it is felt as a need and urgency. As a result, there is a shift in perspective and lifestyle in society in various areas of life, one of which is social and cultural, resulting in disruption. The disruption process has gone through a process of externalization, objectification and internalization as per the theory of structural functionalism so that both are relevant.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN INOVASI PRODUK SYIRKAH PADA KOPERASI WANITA 'AMANAH' DI PIMPINAN RANTING 'AISYIYAH TLOGOAGUNG, BOJONEGORO Huda, Fatkur; Setiyowati, Arin; Stiawan, Thoat; Nadid, Erdin
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 11 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i11.4600-4607

Abstract

Koperasi Wanita "Amanah" di Desa Tlogoagung, Bojonegoro, menghadapi berbagai tantangan dalam meningkatkan produktivitas dan inovasi produk syirkah. Program pendampingan inovasi produk syirkah di koperasi ini bertujuan untuk mengatasi masalah akses informasi pasar dan teknologi serta kapasitas sumber daya manusia. Program ini melibatkan anggota koperasi dalam riset pasar, pelatihan keterampilan, pengembangan ide kreatif, dan optimalisasi media digital untuk pemasaran. Implikasi dari pendampingan ini mencakup peningkatan daya saing koperasi dan peningkatan kapasitas SDM. Dengan inovasi dan pengelolaan yang lebih baik, koperasi tidak hanya memperkuat posisinya di pasar tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi anggotanya dan masyarakat sekitar. Program ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif anggota dan penggunaan teknologi modern dapat mendorong pertumbuhan koperasi syariah secara berkelanjutan.
NISTA MARRIAGE PRACTICES AT THE LOWEST MARRIAGE LEVEL URF PERSPECTIVE IN PEGAYAMAN SUKASADA VILLAGE, BULELENG, BALI Tarik, Atika Agustina; Stiawan, Thoat; Ikhwanuddin, Mohammad
istinbath Vol. 23 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ijhi.v23i1.708

Abstract

The research method used in this research is qualitative research, a descriptive study type. The researcher uses qualitative research methods to obtain, study, and understand the phenomenon through in-depth data regarding the community's perspective on the practice of nista marriages in Pegayaman Village, Sukasada, Buleleng, Bali. This type of research uses descriptive research to explain and examine the phenomenon of nista marriages in Pegayaman Village from an 'Urf perspective. The researcher's data collection techniques are observation, documentation and interviews with informants from three categories, including other key informants from local community leaders, primary informants who are residents, and complementary informants who are migrants who live in the village and work in the village office. People in Bali use levels as identities according to their position, especially the Hindu population, which starts from the highest Brahmana, Ksatria, Waisya, and Sudra, the lowest caste. In contrast to the community in Pegayaman, where the majority of the population is Muslim, the level is implemented within the scope of marriage. Local traditions, empowerment, and community perceptions regarding nista marriages are the benchmarks for researchers analysing ancestral heritage from an Urf perspective. Binary opposition is used to explore the relationship between Islamic teachings and ancestral cultural heritage. The existence of 'Urf about Islamic teachings is the basis for the empirical facts of nista marriages in Pegayaman village. In studying the data obtained by researchers regarding slanderous marriages from the perspective of 'urf, it is limited to 'urf fasid, namely in nista marriages as the lowest level of marriage, which is contrary to the law and enriches the elements of family formation.
Ta’aruf dan Khitbah Sebelum Perkawinan Stiawan, Thoat
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 10 No. 1 (2021)
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqsd.v10i1.12991

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya  calon pasangan suami isteri yang tidak melakukan proses Ta’aruf sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu masih adanya orang tua yang cenderung menjadikan faktor ekonomi dan adat ketimbang faktor agama. Dalam praktek khitbah, masih terdapat aturan-aturan adat yang mempersulit sehingga berakibat tercegahnya perkawinan.Tujuan penelitan ini adalah untuk menggali informasi dari Al-Qur’an bagaimana konsep Ta’aruf dan Khitbah yang sesuai dengan ajaran Islam. Adapun metode dalam penelitian ini adalah bercorak penelitian kepustakaan (library research), dengan mengumpulkan, membaca, dan menelaah buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan ini. Sumber primer berupa Al-Qur’an dan Tafsir yang berkaitan dengan konsep Ta’aruf dan Khitbah..Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan bahwasanya konsep Ta’aruf dalam Al-Qur’an  maksudnya adalah saling mengenal kepribadian, latarbelakang sosial, budaya, pendidikan, keluarga, maupun agama.  Adapun khitbah dalam Al-Qur’an, itu dilakukan setelah calon suami isteri sudah merasakan adanya kecocokan melalui proses ta’aruf. Khitbah (peminangan) bisa disampaikan dengan sindiran atau dengan ungkapan yang jelas. Pinangan secara sindiran disampaikan kepada janda yang masih dalam masa iddah. Sedangkan pinangan dengan ungkapan terang-terangan disampaikan kepada janda yang habis masa iddah dan kepada perawan. Ta’aruf   dan  khitbah dalam Al-Qur’an menganjurkan untuk mendahulukan aspek agama dibandingkan faktor yang lainnya. Karena hanya agama lah yang akan mampu melanggengkan perkawinan. Sementara kekayaan, keturunan, kedudukan, kecantikan, ketampanan akan pudar dan suatu saat akan hilang. Aturan Al-Qur’an mengenai Ta’aruf dan Khitbah tidak memperbolehkan khalwat (menyendiri).Kata kunci : Ta’aruf, Khitbah dan Perkawinan
Nusyuz dan Penyelesaiannya di dalam Al-Qur'an (Kajian Nilai-Nilai Maslahah pada Tafsir Al-Mishbah dalam Perspektif Gender) Stiawan, Thoat
Maqasid: Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 10 No. 2 (2021)
Publisher : Muhammadiyah University of Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/mqsd.v10i2.12992

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh istilah nusyuz (ketidak harmonisan antara suami-istri) dan cara penyelesaiannya yang difahami secara bias gender dan telah berkembang di Indonesia. Dilakukannnya penelitian ini dalam rangka memberikan pemahaman yang utuh pada masyarakat tentang nusyuz dan penyelesaiannya, sehingga tidak difahami sebagai istilah yang  tidak berpihak kepada perempuan karena keras dan menyakitinya. Sebaliknya jangan sampai dianggap berpihak kepada lelaki karena lunak dan ramah terhadapnya. Penelitian ini bersifat kepustakaan murni, sebagai sumber data primernya adalah kitab tafsir al-Mishbah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis dengan pendekatan tafsir-hermeneutis dan teologis-filosofis. Dari penelitian ini diketahui nusyuz juga berlaku bagi suami, ketika suami bersikap angkuh pada istri, meremehkannya, termasuk juga ketika suami tidak ramah terhadap istri dalam percakapan atau bersebadan. Sedangkan nilai-nilai maslahah yang digunakan dalam menyelesaikan nusyuznya istri, al-Mishbah masih menggunakan langkah penyelesaian yang bias gender. Bias gendernya terdapat pada diperbolehkannya memukul istri ketika nusyuz. Tetapi catatannya adalah langkah ini hanya dilakukan jika diyakini akan membawa istri yang nusyuz menjadi sadar, juga dalam upaya menjaga keutuhan sebuah rumah tangga. Tetapi jika suami melewati batas dalam memukul istri, al-Mishbah membenarkan pemerintah untuk menindaknya berdasarkan hukum yang berlaku.Kata Kunci: Nusyuz, penyelesaian nusyuz, nusyuz dan gender.
CHILD PROTECTION IN THE FATWA OF MUHAMMADIYAH COUNCIL FOR RELIGIOUS OPINION AND TAJDID IN 2024 AND LAW NO. 35 OF 2014 Efendy, Imam Nur; Ikhwanuddin, Mohammad; Al Farisi, Salman; Stiawan, Thoat; Berkah, Dian
istinbath Vol. 24 No. 2 (2025): December
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ijhi.v24i2.978

Abstract

This study analyzes the protection of children's rights from a comparative perspective between the Fatwa of the Muhammadiyah Tarjih and Tajdid Council Number 54/KEP/I.0/B/2024 concerning Child Protection Jurisprudence (Fiqh) and the Law of the Republic of Indonesia Number 35 of 2014 concerning Child Protection. The research problem focuses on the similarities and differences in the legal substance between the aforementioned Fatwa and the Child Protection Law in terms of guaranteeing children's rights. Both legal sources share four main similarities: the right to life and development, the right to education, the right to custody (hadanah), and the right to express an opinion. However, there are three main differences: (1) the legal sources used, where the Fatwa is derived from Islamic teachings, while the law is based on state law; (2) the Fatwa does not directly address the rights of children with disabilities, although attention to this issue is contained in a separate Fiqh for Disabilities; and (3) (Assumption: Insert the third explicit difference if available in the original text, or focus on implications). This research used a qualitative method with a juridical-normative approach, analyzing relevant documents and literature. The results indicate that significant issues remain to require attention, such as the lack of clear regulations for child protection in the digital age, the continued occurrence of child marriage despite its prohibition, and the limited space for children to express their opinions due to authoritarian family cultures. This research recommends the importance of incorporating religious values into state policy and the need for further study on the protection of children with disabilities and children in the digital world from an Islamic perspective.