Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

KONTROVERSI KONTEN VIRAL DAN PEMBENTUKAN OPINI PUBLIK DI MEDIA DIGITAL: STUDI KASUS RESEPSI AUDIENS TERHADAP KASUS GIVEAWAY WILLIE SALIM Natalia Sari Pujiastuti; Jovan Sakti Nilnamuna; Dela Kristiyani; Fazil Miftakhul Hakim; Nadjuwa Aprilia Wansa; Khasana Puja
Indonesian Journal of Social Science and Education (IJOSSE) Vol. 2 No. 2 (2026): Vol 2. No. 2 Edisi Mei 2026
Publisher : JCI Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/ijosse.v2i2.2593

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana opini publik terbentuk di media sosial terkait kontroversi dugaan manipulasi program giveaway yang dilakukan oleh creator TikTok Willie Salim. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Teori Resepsi Encoding/ Decoding dari Stuart Hall untuk melihat bagaimana Masyarakat menafsirkan informasi yang beredar di berbagai platform media sosial. Fokus penelitian diarahkan perbedaan antara citra positif yang ditampilkan dalam video TikTok dengan fakta di balik layar yang kemudian diungkap melalui kanal YouTube Podcast Bang Denny Sumargo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra Willie Salim sebagai kreator dermawan yang aktif membantu masyarakat selama periode 2023–2025 mengalami penurunan kepercayaan setelah muncul dugaan bahwa sebagian konten giveaway dibuat secara terencana atau settingan. Konten-konten tersebut sebelumnya berhasil menarik perhatian publik dengan jutaan penonton dan ratusan ribu likes. Temuan Penelitian juga memperlihatkan bahwa banyak netizen menganggap konten tersebut sebagai bentuk eksploitasi kemiskinan atau poverty porn demi mendapatkan perhatian dan popularitas di media sosial. Reaksi masyarakat kemudian terbagi menjadi beberapa kelompok. Sebagian besar berada pada posisi oposisi, yaitu menolak dan mengkritik tindakan tersebut karena dianggap tidak jujur. Sebagian lainnya berada pada posisi negosiasi, yaitu tetap mengkritik kebohongan dalam konten tetapi masih menghargai adanya bantuan yang diberikan kepada masyarakat. Sementara itu, kelompok yang sepenuhnya mendukung Willie Salim semakin sedikit dan umumnya berasal dari pengikut setia yang tetap percaya pada sang kreator. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terbukanya informasi dari berbagai platform media sosial membuat audiens tidak lagi menjadi penonton pasif, tetapi lebih kritis dalam menilai konten digital. Fenomena ini juga menunjukkan meningkatnya kesadaran masyrakat terhadap pentingnya kejujuran, etika komunikasi, dan tanggung jawab moral dalam dunia media sosial.
Komunikasi Inklusif dalam Pemberdayaan Penyandang Disabilitas di Roemah Difabel Indonesia Natalia Sari Pujiastuti; Suhariyanto Suhariyanto; Agus Edy Laksono; Viro Dharma Saputra
Journal of Social Movements Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Sahabat Akademia Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62491/jsm.v3i1.2026.115

Abstract

This study examines how inclusive communication operates within community based disability empowerment. Specifically, it explores how communication adaptation supports access to participation and relates to role changes among members at Roemah Difabel Indonesia in Semarang, Central Java. Employing a qualitative intrinsic case study approach, data was primarily collected through complete interviews with five key informants deeply involved in organizational management, facilitation, mentoring, and community activities. These interviews, supported by participant observation and organizational documentation, were analyzed thematically. The findings reveal that inclusive communication is effectively practiced through simplified language, repeated explanations, written and visual information, direct demonstrations, gestures, sign language, digital media, and tailored mentoring. These specific adaptations helped members understand information clearly and participate actively in learning, community, and productive activities. Empirical evidence shows a distinct contextual pattern where communication adaptation is strongly associated with expanded participation, increased opportunities to use acquired skills, and greater responsibility for several members. The study concludes that disability empowerment programs must integrate communication accessibility with meaningful participation and pathways for members to assume appropriate social roles. While limited by a single case focus and the lack of longitudinal assessment, the findings strongly recommend future comparative studies.